
Candra terlonjak dari pemikiran yang sedang bergelut di otaknya. Diremasnya rambut bagian depan dengan mata terpejam. Ia berusaha berpikir apa yang harus dilakukannya, mengingat Salma saat ini sedang bersama seorang laki-laki kenalannya.
"Aku ke kamar dulu--" Candra menepuk bahu Suci sambil berlalu meninggalkan sang adik seorang diri.
Suci menggedikkan bahunya. Aneh dengan sikap abangnya yang tiba-tiba gusar. Usai menutup pintu balkon dan menguncinya, Suci menuruni anak tangga menuju ruang keluarga dimana Nico dan Umi serta Rahma sedang berkumpul.
"Kalian abis bahas apa? Kayak ada hal serius gitu." Umi menyambut kedatangan Suci dengan rasa penasaran.
"Itu, Umi. Aku abis nanyain hasil kunjungannya ke Tasik. Aku kira nanti bakal dikenalkan ke kita sebagai calon istri tapi ternyata mereka bertemu untuk berpisah."
Dan Suci pun menceritakan apa yang didengarnya dari Candra. Tak perlu ada yang perlu disembunyikan, karena yang berkumpul adalah keluarga. Akan lebih baik jika terbuka, agar bisa saling mendukung juga mengingatkan.
Konsentrasi perbincangan terusik dengan suara bel pintu.
"Biar aku aja yang buka." Nico bergegas menuju pintu untuk melihat tamu siapa yang datang.
"Kamu? Bukannya lagi di Bandung?" Nico bersidekap tangan di dada saat tahu siapa tamunya.
"Ini baru datang. Dari Bandung langsung ke sini."
Rupanya sang tamu adalah Malik. Ia tampak celingak celinguk mencuri pandang ke dalam yang terhalang oleh Nico yamg berdiri di ambang pintu.
"Oh kirain ke sini mau mencari aku, rupanya--" Nico meledek temannya itu yang jauh-jauh dari Bandung datang untuk menemui Rahma.
"Ck. Ngapain nyari kamu, bosen liatnya juga. Bro, Rahma suruh keluar dong!"
Bugh.
Satu tonjokkan di perut, membuat Malik mengaduh dan mendelik dengan dahi mengkerut. "Salah gue apa?" ujarnya sambil mengusap-ngusap perutnya yang lumayan nyelekit.
"Gak ada sopan santunnya jadi cowok. Masuk dulu, temui Umi. Bawa oleh-oleh lebih bagus. Jangan seenaknya butuh sama anaknya aja." Nico berkacak pinggang tampak sebal dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Ah! Untung kamu ngingetin. Oleh-olehnya ketinggalan di mobil." Malik nyengir kuda. Ia segera balik badan menuju mobilnya yang terparkir di luar pagar.
Di kamar atas.
Candra berinisiatif menelpon Salma untuk memastikan posisinya di mana. Bunyi tut lama terdengar belum juga diangkat oleh si empunya ponsel. Candra membuat panggilan ulang, berharap panggilan kedua diangkat oleh Salma.
__ADS_1
Terdengar ucap salam dari sebrang sana, membuat Candra tersenyum lega sambil menjawab salamnya.
"Sal, lagi di mana?"
Tak sabar Candra langsung menanyakan pada intinya.
"Aku di kosan, Bang. Maaf telat angkat telponnya, baru selesai mandi. Ada apa, Bang?"
Suara riang ciri khas sang gadis di sebrang sana membuat Candra kembali menarik sudut bibirnya lebih lebar. Ia merasa plong, ternyata Salma sudah pulang.
"Eh, gak papa. Cuma mastiin aja. Takutnya kamu diculik sama itu cowok. Syukurlah kalau dah pulang."
Terdengar suara tawa ringan dari sebrang sana.
"Woles, Bang. Aku gak akan temuin lagi tuh cowok. Gak cocok dengan hati. Besok ganti lagi ketemuan sama cowok yang kerja di Bank. Eh ternyata tempat kerjanya deket. Itu lho, Bank yang di samping kantor terhalang 1 ruko."
Curhatan Salma yang bercerita tanpa beban malah membuat Candra merasa kesal. Raut wajah yang tadinya cerah berubah menjadi masam.
"Hallo, Bang. He he maaf ya kok aku malah curhat. Soalnya Bang Can anggap aku adek ya aku manfaatin buat jadi teman curhat aja. Kan lumayan ha ha--"
"Ya kamu bebas mau curhat apapun juga, aku siap dengerin. By the way, kenapa harus dating lagi sih? Memangnya mau cari kriteria seperti apa? Dulu kamu bilang naksir sama seseorang. Kenapa gak kamu kejar lagi cowok itu, siapa tahu sekarang luluh."
Candra mulai memancing, mengorek keterangan untuk meyakinkan kebenaran yang dikatakan sang adik.
"Oalah, Bang...satu-satu dong pertanyannya. Aku jadi bingung jawab yang mana dulu." Protes dari sebrang sana.
Candra jadi tersenyum sendiri. Tentu saja yang di sebrang sana tidak tahu.
"Gini ya, Bang. Soal kriteria cowok, gak ada kriteria khusus sih. Yang penting kesan pertamanya, hati merasa nyaman. Syukur-syukur ada serrr yang membuat jantung berdebar kencang kayak aku kalau lagi dekat sama pangeran impian. Makanya besok mau dating sama cowok kedua. Siapa tahu cocok."
"Kenapa tidak dikejar lagi pangeran impianmu itu?"
Candra berdiri, dengan satu tangan merogoh saku, ia berjalan-jalan di dalam kamarnya. Tangan kanannya tak lepas dari memegang ponsel yang rapat di telinganya. Pembahasan dengan sang sekretaris di tempat yang berbeda mulai terasa seru.
"Maksudnya, si BODOH?"
Candra mendengar suara air yang dikucurkan ke gelas. Sepertinya Salma sedang mengambil minum.
__ADS_1
"Kok si bodoh?" Candra yang kini bingung dengan perkataan Salma. Ia mengalihkan ponsel ke telinga kirinya, menunggu jawaban kelanjutan dari sebrang.
"Bang Can pernah bilang, hanya laki-laki bodoh yang menolak perempuan baik seperti aku. Ingat tidak? Ah, sudahlah jangan bahas orang itu, jantungku jadi berdebar lagi nih. Dia udah punya calon istri. Dan aku sekarang ini lagi belajar MOVE ON." Salma terdengar malas saat berkata. Sampai dirinya membuat penekanan di kalimat akhir.
Lain halnya Candra. Ia makin bersemangat mengorek-ngorek isi hati sekretarisnya itu.
"Oh iya, aku ingat. Memangnya sejak kapan kamu suka sama 'si bodoh'?"
"Udahlah Bang, jangan bahas dia. Sudah dulu ya teleponnya, mau chatingan dulu sama kenalan baruku."
"Eh, jangan dulu! Kan saat ini aku ini sebagai abangmu. Jadi kamu.harus terbuka. Came on--"
Candra menahan Salma untuk mau terus bicara dengannya. Terdengar suara hembusan nafas berat dari sebrang sana. Sudah 20 detik masih hening. Salma belum juga bicara.
"Hallo, Sal. Kamu tidak ketiduran kan?" kelakar Candra, memecah keheningan komunikasi.
"Ishh, Bang Can mah siapa yang tidur. Aku tuh lagi mulai mengubur perasaan untuknya. Tapi baiklah kalau Abang penasaran. Aku menyukainya, mengagumi 'si bodoh' itu sejak 1 tahun lebih. Tapi hanya bisa mencintainya dalam hati saja, karena dia tak pernah menganggapku lebih. Cukup sekian ah. Aku mau chat dulu sama kenalanku. Bye! Assalamualaikum!"
Tut. Salma langsung memutus sambungannya.
"Hei--" Percuma Candra memanggilnya lagi karena Salma sudah mengakhiri teleponnya.
Dengan smartphone yang masih digenggamnya, Candra duduk di tepi ranjang.
Jadi benar si bodoh itu aku.
Candra menghela nafas. Selama ini dirinya tak menyadari jika sang sekretaris menyukainya.
*Selama ini a*ku menyukai Salma karena dia enerjik, menyenangkan sebagai partner kerja, sering membuatku tertawa. Aku selalu mengantarnya pulang saat lembur, karena khawatir dengan keselamatannya. Apakah itu hanya kekaguman biasa atau perasaan cinta yang tidak aku sadari?
Candra terus bergelut dengan pemikiran dan perasaannya. Mencoba meraba hati.
...-----...
Yang gregetan mohon sabarrrrr. Babang Candra masih ngararasakeun. Apakah ada rasa cinta untuk Salma?
Lanjut besok ya 😍
__ADS_1