MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Bersamamu


__ADS_3

Ting Tong


Bel pertama belum ada tanda-tanda pintu dibuka. Salma mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman. Ia menghampiri jajaran pot bunga aster di depan teras yang sebagian sudah kering bunganya.


Hm, sayang banget gak terawat. Ini harusnya bunga-bunga keringnya dipotong, biar cepat tumbuh bunga baru.


Salma menilik lagi jajaran pot di sudut teras sebelah kiri. Masih jenis yang sama, aster. Di sana lebih banyak kuncup yang baru mekar daripada bunga yang sudah keringnya. Salma menghirup bunga aster putih yang ukurannya lebih besar daripada warna yang lainnya. Segar.


Karena pintu belum juga dibuka, Salma kembali menekan bel yang terletak di samping pintu, untuk kedua kalinya.


Tak lama, pintu dibuka dari dalam. Tampak sesosok pria dengan rambut setengah basah dan kemeja yang belum terkancing sempurna.


"Pagi Pak Candra, maaf aku kepagian datangnya ya?" Salma jadi merasa tidak enak karena Candra sepertinya baru selesai mandi dan dirinya datang 15 menit lebih awal.


"Ga papa, Salma. Aku baru selesai mandi waktu dengar bunyi bel," jawab Candra sambil menggulung lengan kemejanya sampai siku.


Salma memalingkan pandangannya ke tanaman bunga aster karena malu dan jantungnya berdebar kencang. Matanya tak sengaja menatap dada bidang yang berbulu dari balik kemeja yang dua kancing atasnya masih terbuka.


"Ah, aku lupa belum pakai kaos dalam. Tunggu sebentar ya!" Candra menyuruh Salma untuk duduk di kursi teras.


"Pak, sekalian pinjam gunting ya! Aku mau potongin bunga aster yang sudah kering. Sayang lho bunganya cantik-cantik, jangan sampai mati."


"Ah iya. Itu bunga kesayangan Suci. Setelah dia pindah ke rumah Nico, tidak ada yang merawatnya. Aku cuma siram aja tiap sore, gak ngerti perawatannya."


Salma hanya menanggapi dengan tersenyum. Candra mengambilkan gunting terlebih dulu, lalu masuk lagi untuk merapihkan penampilannya.


Ya iyalah, merawat bunga mah identik dengan urusan perempuan. Aku juga siap untuk merawatmu dengan cinta, Bang.


Salma berjongkok di depan jajaran pot bunga aster, mulai menggunting bunga layu dan kering, membuangnya. Dengan seulas senyum tipis tersungging di bibirnya, karena otaknya mendadak berimajinasi, tidak hanya bisa merawat bunga, ia juga siap merawat sang boss. Apalagi tadi tanpa sengaja melihat dada berbulu pria pujaannya itu. Seksi.


Di kamarnya, Candra membuka kembali kemeja. Memasang kaos dalam yang sudah disiapkan di atas kasur. Sebagai pria single, dirinya sudah terbiasa mandiri. Menyiapkan segala sesuatu sendiri.


Kenapa aku terbayang Salma


Candra mengerutkan keningnya sambil berkaca merapihkan penampilannya. Wajah Salma tiba-tiba melintas di pikirannya.


Ia sempat terpesona saat tadi membuka pintu. Salma berdiri dengan memakai setelan warna senada, blazer dan celana panjang dusty pink dengan dalaman kemeja hitam. Rambut panjang hitam berkilau dibiarkan terurai dengan dua jepit sebagai pemanis. Cantik.


Candra buru-buru menepiskan pikirannya, mengerjapkan mata, untik mengusir bayangan Salma. Berhasil.


Candra menuruni anak tangga dengan cepat. Menenteng tas kerja berisi laptop dan berkas penting yang akan dibawa ke pabrik.

__ADS_1


"Maaf menunggu lama." Candra menghampiri Salma yang duduk di kursi teras.


"Nggak kok. Pak Candra sudah sarapan?"


"Belum. Gak ada Suci jadi gak ada yang masakin. Nanti beli di jalan aja."


"Cepetan punya istri Pak. Biar ada yang melayani luar dalam hehe." Salma mengangkat dua jarinya karena sudah berani menggoda bossnya itu.


"Semoga." balas Candra dengan senyum.


Aish, kenapa jawabannya ambigu, Bang. Kirain bakal tanya 'kamu mau gak jadi istriku?''


Salma menepuk jidatnya dengan ponsel yang sedang dipegangnya. Apakah karena efek semangat di senin pagi ini, otaknya dari tadi korslet terus, pikirnya.


"Salma, semua berkas sudah dibawa?" tanya Candra setelah keduanya duduk dengan memasang safety belt.


"Sudah, Pak."


"Dokumen yang ditanda tangani Pak Direktur tidak ketinggalan?"


"Tidak, Pak. Semua sudah aku cek, semua berkas lengkap tidak ada yang terlupa." Salma mengacungkan tas kerja yang dibawanya.


Disaat bekerja, wibawa serta jiwa kepemimpinan seorang Candra sangat kentara. Ia begitu teliti dalam urusan tugas dan tanggung jawabnya sebagai manajer produksi. Tak salah, loyalitasnya terhadap perusahaan mendapat apresiasi dari Ayah Hendro dan mendapat kepercayaan untuk membuat kebijakan sendiri untuk kemajuan prabik.


****


Mobil yang dikendari Candr berhenti di sebuah warung nasi sederhana. Warung dengan luas 3x3 meter itu tampak bersih dan nyaman. Pagi hari sudah banyak pembeli yang antri membungkus nasi kuning, ada juga beberapa orang yang makan di tempat.


"Aku tunggu di mobil aja ya, Pak. Aku sudah sarapan roti." Salma menolak dengan sopan ajakan Candra untuk turun, ikut sarapan nasi kuning.


"Sarapan roti mana kenyang. Kita akan keliling lapangan jadi stamina harus on. Ayok!"


Ajakan Candra tidak bisa dibantah. Salma akhirnya ikut turun menuju ke dalam warung nasi.


"Bu, biasa ya!" Ujar Candra kepada Ibu Sugih, penjual nasi kuning langganannya. Tak perlu menjabarkan, ibu itu sudah tahu apa yang diinginkan Candra.


"Inggih, Mas. Wah, saiki bawa bojo toh--" Ibu Sugih tampak senang dengan kedatangan Candra membawa perempuan yang dikira istrinya.


Candra hanya tersenyum. Lain halnya Salma, dalam hati mengaminkan berulang-ulang.


Beruntung masih ada satu meja yang kosong di posisi paling belakang. Keduanya duduk berhadapan.

__ADS_1


"Monggo, Mas Mbak. Wah, benar-benar pasangan serasi, ganteng dan ayu--" ujar ibu Sugih ceria, sambil meletakkan dua piring nasi kuning beserta dua gelas teh tawar hangat.


Entah kenapa Candra tak ada keinginan untuk menyanggahnya, kembali hanya membalas dengan tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum ibu sepuh itu berlalu.


Dua kali.


Dan bagi Salma, ucapan si ibu itu adalah sebuah doa. Dalam hatinya kembali mengaminkan berulang-ulang.


Amiin Ya Allah. Sing dicatet ku Malaikat


(Semoga dicatat oleh malaikat)


"Salma, maaf ya kamu jadi ngikutin seleraku. Biar si ibunya gak bingung, maklum sudah tua." Candra mulai menyendok nasi kuning yang hangat, harum rempah-rempah tercium, membuat cacing-cacing di perut berdisko. Minta segera diisi.


Nasi kuning kebiasaan Candra adalah tanpa sambal terasi dan kerupuk. Karena makan kedua jenis itu di pagi hari, akan membuat perutnya mulas.


"Woles aja Pak Candra. Aku sih makan nasi putih doang juga masuk, dicampur sate 5 tusuk."


Candra terkekeh dengan jawaban lempeng Salma. Sikapnya yang santai seolah tak punya beban, dan suka ngebanyol, membuatnya merasa nyaman menjadi partner kerjanya.


Keduanya punya kebiasaan makan dengan cepat. Tanpa disadari mereka selesai dengan menangkupkan sendok garpu bersamaan.


"Sudah?"


Salma.menganggukkan kepalanya. Ia bersiap menyelempangkan tasnya yang ditaruh di kursi sampingnya.


"Tunggu, Sal. Itu ada noda lipstik." Candra menunjuk dengan dagunya.


"Hah?" Salma yang bingung, meraba-raba luar bibirnya dengan hati-hati. Ia membuka tasnya untuk mengambil tempat bedaknya.


"Sini, biar aku bantu!" Candra mengambil tisu dari kotaknya. Tangannya terulur ke sudut bibir sebelah kanan. Menghapus noda red cherry yang kontras dengan kulit mulus kuning langsat itu.


"Sudah." Candra menaruh tisu bekasnya di samping piring.


Sumpah demi apa. Sentuhan Candra, meski hanya tisu yang menyentuh kulitnya, membuat Salma mematung sesaat karena merasa ada sengatan listrik memgaliri tubuhnya.


"Ayo kita jalan!"


Bukan suara Candra yang membuat Salma tersadar dari keterpakuannya. Tapi dari suara decitan kursi saat Candra mendorongnya ke belakang hendak bangkit.


Perjalanan baru dimulai. Dengan mengucap doa, Candra melajukan mobilnya menuju pabrik Bekasi. Mereka akan bekerja di kantor pabrik selama tiga hari ke depan. Karena akan mengawal dan mengawasi kinerja semua level. Tiga hari lagi deadline ekspor ke Jepang.

__ADS_1


__ADS_2