MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Bertahap Dong


__ADS_3

Bagi seorang Nico yang pernah tinggal bertahun-tahun di luar negeri, lingkungan bebas pernah mempengaruhinya. Meski tak sampai terjerumus terlalu jauh, tapi aktifitas party and kissing pernah dialaminya. Masa lalu, biarlah masa lalu, yang penting tidak mengulanginya. Masa lalu ada untuk kita jadikan pelajaran berharga.


Nico merasakan balasan ciuman Suci yang kaku. Cukup mengisyaratkan bahwa istrinya itu tak berpengalaman melakukannya. Bagaimana Nico tak terjatuh lebih dalam lagi mencintai Sucita. Sesuai dengan namanya, ia masih suci, begitu murni. Bagaikan mutiara di dasar laut yang baru ia temukan.


Dengan lembut, Nico mencumbu sang istri. Membimbingnya bagaimana cara membalas pagutan yang dilakukannya. Melihat Suci yang memejamkan matanya, dengan lenguhan yang tanpa sadar keluar dari mulutnya membuat hasrat Nico semakin naik. Tangannya mulai tak bisa dikondisikan, menyasar titik-titik sensitif sang istri.


Kumandang adzan magrib membuat Suci lebih dulu tersadar dari buaian yang memabukkan.


"Mas Nico, sudah adzan." Suci melepas pagutan dengan nafas tersengal, suaranya ikut serak.


"Hm."


Nico mengusap bibir Suci yang basah dan sedikit bengkak karena ulahnya. Memeluk kembali dengan erat menyalurkan segenap rasa yang membuncah di dada. "I love you, sayang." Nico mengecup kening sang istri penuh perasaan.


Nico meninggalkan kamar dengan sarung yang ia belitkan di leher. Keluar dari rumah, ia bergabung dengan warga yang juga menuju masjid. Saling menyapa dengan ramah dan obrolan ringan sampai tiba di masjid yang berjarak 6 rumah dari rumah Umi.


Masjid dengan model bangunan lama yang kondisinya sudah ada bocor di sana sini menjadi perhatian Nico. Ia berempati dengan banyaknya warga yang berjamaah ke masjid meski kondisi masjid mulai rusak, sudah layak di renovasi.


Usai sholat sunah bada magrib, Nico tak langsung pulang. Ia memilih duduk menunggu isya sambil berdzikir.


"Mas Nico, bisakah kita ngobrol sebentar?" seorang pria yang ia kenal sebagai Pak RT, menyapanya.


Lalu ikut bergabung pula pria sepuh yang bertindak sebagai imam sholat tadi, yang diperkenalkan Pak RT sebagai ketua DKM. Ia duduk sila di samping Pak RT sehingga menjadi posisi melingkar.


Nico diam menunggu salah seorang diantara mereka bicara. Ada raut kebingungan di wajah keduanya, seolah sungkan untuk diicapkan.


"Ada apa ya Pak RT? Bilang saja, jangan sungkan." Nico berinisiatif untuk memulai obrolan.


"Begini Mas Nico, tapi maaf-maaf sebelumnya, jangan tersinggung ataupun marah ya." Pak RT menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dengan pandangan gelisah, ia menoleh ka sampingnya seolah meminta dukungan. Sang ketua DKM pun menganggukkan kepalanya.


"Perihal pernikahan Mas Nico dan Suci yang mendadak, ada sebagian warga yang mengghibah jika kalian menikah karena Suci hamil duluan," dengan hati-hati Pak RT menceritakan aduan yang sampai ke telinganya.


"Astagfirullah Hal'adziim." Tentu saja Nico terkejut. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Tak menyangka sampai ada orang yang berpikiran ke sana.


"Kami terus terang tak percaya, Mas Nico. Umi Afifah disini sangat dihormati, juga sebagai ustadzah. Nggak mungkin salah mendidik anaknya. Makanya, kami ingin mendengar langsung dari Mas Nico sendiri, agar kami punya kekuatan untuk membantahnya." lanjut Pak RT.

__ADS_1


Nico menghembuskan nafas keras. Tak habis fikir dengan orang yang sudah memfitnah.


"Pak RT dan Pak DKM, Demi Allah Demi Rasulullah dan masjid ini sebagai saksinya. Kami tidak melakukan zinah. Apa yang dituduhkan itu tidak benar. Kami buru-buru menikah agar bisa berpacaran halal. Mengingat kami tinggal di Jakarta yang banyak godaannya. Maka, menikah menjadi solusinya." Dengan tenang dan tegas, Nico menjelaskan.


Pak RT dan Pak DKM tampak puas dengan penjelasan Nico. Ia berjanji akan mendatangi orang-orang yang terlanjur kena hasut agar tidak terus disebarkan.


"Nak Nico harap sabar ya. Kita memang tidak bisa mencegah orang menahan lisannya. Jadi sebaiknya kita yang menahan diri untuk tidak membalasnya dengan keburukan juga." Pak DKM berkata dengan bijak agar Nico tidak terpancing untuk marah.


Nico mengangguk, membenarkan ucapan ketua DKM. Ia juga meminta agar fitnah itu jangan dibicarakan lagi ke Umi. Cukup ditutup saat ini juga.


"Nah, sekalian saja saya mau sampaikan. Kalau boleh, saya berniat untuk merenovasi masjid ini menjadi gaya masjid modern. Untuk biaya dan gambarnya InsyaAllah saya yang akan tanggung. Apakah diijinkan, Pak?" Nico menatap satu-satu pria berpengaruh itu.


"Alhamdulillah. Jazakallah khair sebelumnya. Tentu saja kami sangat senang, Nak Nico" Pak DKM mengusap wajahnya tanda syukur ada Aghniya yang akan merenovasi masjid ini.


"Besok saya dan Suci akan kembalu ke Jakarta. Nanti selanjutnya saya akan komunikasikan dengan Om Badru."


Obrolan terhenti ketika muadzin bersiap mengumandangkan adzan isya. Ketiganya membubarkan diri bersiap untuk sholat.


****


Hatcii hatcii


Suci bersin dua kali saat merasa atmosfer kamarnya menjadi dingin. Ia membenamkan tubuhnya dibalik selimut sampai kepalanya.


"Hei sayang, jangan seperti itu. Nanti sesak nafas." Nico melorotkan selimut sampai ke leher. Mereka baru saja selesai sholat sunah 2 rakaat. Dengan tergesa Suci melipat mukenanya agar bisa bergelung dengan selimut untuk mengusir hawa dingin.


"Kamu alergi dingin ya?" Nico memeriksa kulit lengan Suci. Namun tidak melihat adanya ruam seperti umumnya gejala alergi dingin.


"Nggak tau termasuk alergi atau bukan. Hanya setiap kedinginan aku suka bersin-bersin dan menggigil. Obatnya cukup bergelung di selimut," jelas Suci.


Nico menyunggingkan senyumnya. Senyum kemenangan sebelum berperang. Alam begitu berpihak padanya.


"Mulai saat ini dan seterusnya, aku yang akan menjadi obatnya. Kamu tak akan lagi kedinginan meski tanpa selimut." Nico membuka kaosnya. Ia menyingkap selimut, ikut masuk ke dalamnya. Satu per satu kancing piyama Suci dibukanya.


Suci faham apa yang akan dilakukan Nico. Ia tidak akan menolak karena dirinya sudah menjadi hak suaminya. "Mas, pelan-pelan ya, aku takut. Katanya pertama kali itu sakit."

__ADS_1


"Iya, cantik. Aku akan pelan-pelan."


Sentuhan skin to skin benar-benar efektif memberi kehangatan, mengalirkan hawa panas seolah merambat mengikuti aliran darah untuk dua sejoli yang mulai mereguk manisnya madu.


Suara kodok dan jangkrik di luar sana yang memecah kesunyian malam, berhasil menyamarkan suara lenguhan dan desahan dari dalam kamar, dari balik selimut.


"Aww. Sakit Mas." Suci menahan tubuh bawah Nico agar jangan lagi menekannya.


"Oke. Istirahat dulu ya sayang." Nico menjedanya, dengan posisi masih di atas sang istri. Dengan bertumpu pada kedua lengannya.


Nico kembali mencobanya. Si kecil berusaha mencari-cari celah di jalan yang sempit. Berusaha memaksa menerobos, terasa seperti ada sesuatu yang terkoyak. Namun kali ini membuat Suci menangis dan mencengkram kuat bahu Nico.


"Mas, sudah dulu. Aku nggak kuat." Suci memelas sambi terisak, membuat Nico tidak tega untuk melanjutkannya. Ia harus mengalah, supaya sang istri tidak trauma.


...00000000...


Tinggalakn jejak cintah utk othor ya, readers tersayank.


Mamas, sabar dulu ya. Tidak semua pasangan bisa goal di MP.


.


.


.


.


.


.


.


Termasuk othor dulu. Ups malah curhat 😄 SKIP, SKIP. JANGAN DIBACA!

__ADS_1


__ADS_2