MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
S2- Bidadari Surgaku


__ADS_3

Hari belum terlalu malam saat Suci dan Nico tiba di rumah. Keduanya baru pulang dari acara makan malam di restoran Arab yang ditraktir Malik. Nico merangkum bahu sang istri, melangkah memasuki rumah yang masih menyala terang. Menandakan penghuni rumah belum pada tidur.


Anggaplah ini syukuran kecil sebagai langkah berani Malik membuat keputusan penting dalam hidupnya. Keputusan menikahi Rahma dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi bersama. Karena mereka akan menikah tanpa restu juga tanpa memberi kabar mama Indah.


"Kok baru pulang, kemana dulu?" Bunda bertanya penuh keheranan usai anak dan menantunya itu duduk bergabung di ruang keluarga.


Ayah Hendro tampak anteng menatap layar televisi. Menonton tayangan berita yang lagi trending, mengenai operasi tangkap tangan oleh petugas KPK.


"Malik mentraktir kita makan malam. Bang Candra dan Salma juga ikut." Nico menjawab sambil mencomot kacang mede dari toples kecil yang tersaji di meja.


"Dia sudah bulat dengan keputusannya. Urusan tante Indah belakangan," lanjut Nico. Dengan cuek ia menyuapi Suci sebutir kacang mede. Meski Suci menggeleng, Nico tetap memaksanya.


Bunda hanya mesem. Terlihat jelas menantunya itu malu dengan perlakuan Nico. "Sudah ada keputusan tanggalnya?"


"Belum, Bunda. Besok katanya Malik mau menghubungi orangtua Rahma dulu. Mungkin besok keputusan waktunya."


"Kalau bisa masih di bulan ini. Mumpung tidak ada pekerjaan ke luar kota." Ayah ikut menimpali. Ternyata meski indera penglihatannya fokus menatap layar televsi, tapi telinganya tetap menyimak obrolan istri dan anaknya itu.


Belum sempat Nico menjawab ucapan sang Ayah karena mami Dewi yang sedari tadi memainkan ponselnya, ikut mengomentari.


"Kenapa kita yang jadi repot sih. Anak bukan, keluarga bukan."


"Malik teman baik aku, mami. Dia teman sejak kecil. Dia pula yang membantuku sampai bisa mendapatkan istri cantik dan baik ini." Nico menoleh kepada sang istri yang duduk di sisinya. Ia meringis karena Suci yang merona malu tiba-tiba mencubit pinggangnya.


"Malik sudah seperti keluarga sendiri, mbak. Kasihan selama ini dia hidup sendiri sejak punya ayah tiri." Bunda membela Malik karena memang dia sangat dekat dengan pemuda itu yang dulunya sering menginap sekamar dengan Nico.


"Harusnya ibunya bijaksana, bisa menerima pilihan anaknya." Bunda menarik nafas dalam-dalam. "Seperti halnya dulu Indah bersikeras menikah dengan Teo. Padahal Malik terang-terangan menentangnya."


Suci manggut-manggut. Ia baru tahu tentang latar belakang keluarga Malik.


Mami Dewi tak lagi berkomentar setelah mendapat penjelasan bunda. Ia memperhatikan Nico yang beranjak pergi. Ia mendengar Nico pamit kepada Suci untuk ke dapur.


"Nico, mami ada perlu sebentar!" Mami Dewi tergopoh-gopoh menghampiri Nico yang sedang mengambil minuman dingin dari kulkas.


"Ada apa, mami?" Nico mengernyit heran. Ia masih berdiri di depan pintu kulkas dua pintu karena jalannya dihalangi mami Dewi.


"Hmm gini--" Mami melihat dulu ke belakang seolah takut ada orang lain yang mendengarkan.


"Mami mau pinjem uang lagi 2 juta. Sony biasanya ngirim akhir bulan jadi mundur. Katanya minggu depan, pas tanggal 2. Mami kan butuh buat jajan." Mami Dewi memasang wajah sedihnya dengan tatapan memelas.


"Mami bicaranya sama Suci jangan sama aku. Urusan keuangan, Suci yang pegang."


Giliran Mami Dewi yang mengerutkan keningnya. "Pakai kartu yang di dompetmu aja. Transfer ke mami!"


Nico menggeleng. "Semua kartu aku serahkan ke Suci. Di dompet hanya ada SIM dan KTP. Uang cash buat pegangan. Itu juga aku mintanya ke Suci tiap berangkat kerja."


"Kayak anak SD. Minta uang tiap mau berangkat sekolah." Mami Dewi menggeleng tidak percaya.


"Emang benar, mam. Nostalgia masa SD." Nico terkekeh. Sejak Suci hamil, ia jadi memiliki ide seperti itu karena ingin bermanja sama istri.


"Mami nggak percaya! Masa seorang wakil direktur nggak ada kartu di dompetnya." Mami kembali menggeleng.


Nico menyimpan minumannya di meja samping kulkas. Ia merogoh dompet di saku belakang celananya.


"Nih kalau gak percaya." Nico membuka dompetnya. Terlihat hanya ada SIM, KTP, dan lembaran uang berwarna merah.

__ADS_1


"Aku akan minta kartu kalau keluar kota atau ke luar negeri."


"Apa kamu gak gengsi?" Mami menatap keponakannya itu dengan menyipit. "Biasanya orang akan bangga dengan berjejernya kartu di dompet. Kalau mendadak pengen beli barang branded gimana? Di dompet paling muat 2 atau 3 juta."


"Ngapain gengsi." Nico mengangkat kedua bahunya. "Yang penting kenyataannya mampu. Orang ngejejerin kartu belum tentu juga ada isinya."


"Aku kalau pengen beli sesuatu tinggal bilang ke Suci. Kita pergi belanja berdua, sambil pacaran, mam."


Mami mendecih. "Ribet amat."


"Hati-hati lho! Keenakan pegang semua kartumu, dia bisa boros."


Nico mengangkat kedua alisnya. "Aku sudah mengenal sifat istriku dengan baik, mam. Makanya aku percayakan sepenuhnya menjadi menteri keuangan."


Nico mencabut lima lembar merah dari dompetnya. "Ini buat mami. Aku kasih bukan pinjam." Ia meraih tangan halus yang sedikit berkeriput. Mengepalkan uang ke telapak tangannya.


"Mami mau jajan apa sih. Di rumah banyak makanan sehat tersedia. Kita harus bersyukur, keluarga lain belum tentu memiliki seperti apa yang kita punya." Nico berkata lembut mencoba menyadarkannya agar merubah perilaku gila shopping.


Nico menggeleng. Mami Dewi bukannya menjawab malah meninggalkannya usai mengucapkan terima kasih sambil mengipas-ngipas uang pemberiannya.


Suci sedang mengaji saat Nico memasuki kamar. Lantunan surat Luqman terdengar mengalun lembut dari bibir wanita cantik bsrparas indo arab itu. Nico duduk di sisinya, menikmati suara sang istri yang membaca Al Quran dengan tartil.


"Shodaqollohul 'adzim--" Suci menutup Al Qurannya. Menyimpannya di meja samping sofa yang didudukinya.


"Anak kita pengen mendengar papa mengaji nih." Suci menatap sang suami sambil mengusap perutnya perlahan.


Nico malah menjatuhkan kepalanya ke bahu Suci. Satu tangannya terulur mengusap lembut perut sang istri penuh sayang.


"Papa mengajinya besok ya. Kan udah sama mama. Papa mau nengok baby aja." Nico tersenyum menyeringai karena jawabannya membuat Suci memencet hidungnya.


Mereka berpindah ke ranjang. Nico menempatkan kaki Suci ke pangkuannya, memijat kaki mulus itu dengan lembut.


"Yang 5 juta juga belum dibayar lho, mas. Janjinya seminggu kini sudah sebulan." Suci menjawab dengan mata terpejam menikmati pijatan sang suami yang membuatnya merem melek.


Nico mengernyit kaget. Dia mengira urusan itu sudah selesai.


"Mami gak bisa dipercaya." Nico mendecak. "Sudah ah, jangan bahas lagi mami."


"Eh mau apa?" Suci menahan tangan Nico yang bergerak menyingkap daster pendek yang dikenakannya.


"Sstt, cantik. Kamu diam aja. Aku mau nengok anak kita--"


"Kirain mijitnya ikhlas. Ternyata harus ada upah." Suci mengerucutkamn bibirnya. Ia lupa, hal itu malah menjadi umpan untuk Nico mulai melahapnya.


****


Candra


Ia memilih menyelesaikan pekerjaannya di rumah daripada lembur di kantor. Ia harus merinci tugas untuk para stafnya juga mengirim email file purchase order kepada manager pabrik yang harus diambil alih selama dirinya mengambil cuti 3 hari.


Pernikahan Malik dan Rahma akan berlangsung lusa, minggu. Hal ini menjadi kesempatannya untuk membawa Salma ke kampung halamannya sekaligus liburan.


"Sudah beres packing, bang. Aku sudah gak sabar nunggu besok pagi." Salma tampak riang memberikan laporan.


Ia tersenyum melihat sang istri yang begitu bersemangat ingin mengunjungi kampung halamannya.

__ADS_1


"Pokoknya nanti aku pengen ke Museum Tsunami Aceh ya, bang!"


"Hmm."


"Aku juga pengen ke Masjid Raya Baiturrahman. Selfie di sana....ughh impian banget." Salma memutar tubuhnya dengan rambut panjang terurai mengayun indah.


Ia mendongak sejenak dari fokusnya menggerakkan jemari pada tuts keyboard laptop mendengar suara riang sang istri. Ia terkekeh melihat kelakuan Salma yang berputar-putar di samping mejanya.


"Segitu senengnya, neng." Ia menarik tangan Salma dan mendudukkannya di pangkuan.


"Iya dong. Aku kan pengen sekali ke Aceh. Tapi abangnya sibuk terus." telunjuk Salma menusuk-nusuk dadanya dengan lembut. "Beruntung Rahma nikah jadi kesempatan deh ke sana."


Senyum Salma yang mengembang membuatnya ikut mengulas senyum. Rumah tangga yang baru hitungan bulan membuatnya terus belajar bagaimana cara membahagiakan istri.


"Maafin abang ya." Ia mencium pipi Salma penuh sayang. "Maafin baru sekarang bisa penuhi keinginan kamu." Ia lalu membelai rambut Salma yang kemudian mengeratkan pegangan tangan di lehernya.


"Woles aja, bang. Aku juga faham kok kesibukan abang. Ya udah, aku turun ya! Nanti gak selesai-selesai kerjaannya."


Meski masih betah memeluk tubuh Salma, ia merelakan sang istri turun dari pangkuannya.


Suci dan Umi sudah berangkat lebih dulu kemarin bersama Rahma. Ia baru bisa menyusul besok pagi. Bahkan Nico dan orangtuanya yang paling akhir berangkat, besok siang.


"Abang mau dibikinin apa? Aku mau ke dapur." Salma memutar tubuhnya saat sudah di ambang pintu kamar.


Ia mendongak dan terpaku melihat Salma yang menggelung rambutnya hingga menampilkan lehernya yang kuning langsat. Meski tidak jenjang namun penampilannya itu sungguh menggoda junior terbangun dan meronta.


"Idih abang malah bengong."


Suara Salma berhasil menyadarkannya dari fantasi yang tercipta di dalam otaknya.


"Bikin susu jahe ya, neng!"


"Makanannya apa?"


"Mau makan kamu aja!"


Ia tertawa begitu melihat Salma memeletkan lidahnya sebelum akhirnya menghilang menuju lantai bawah.


Mp3 yang ia stel di laptopnya, kini berganti lagu Uje - Bidadari Surga. Ia mengulas senyum lebar, seolah lagu itu pas dengan hatinya.


Tiada yang memahami s'gala kekuranganku


Kecuali kamu, bidadariku


Maafkanlah aku dengan kebodohanku


Yang tak bisa membimbing dirimu


Hatimu tempat berlindungku


Dari kejahatan syahwatku


Tuhanku merestui itu


Dijadikan engkau istriku

__ADS_1


Engkaulah bidadari surgaku


...Bersambung...


__ADS_2