
Suci
Belum sempat mbak Nita memulai bercerita, terdengar suara teriakan dari dalam kamar. Itu suara Jimmy memanggil-manggil Anita berkali-kali tanpa jeda. Ia pun mengernyit karena suara Jimmy terdengar berat dan...
"Ups." Ia spontan mengatupkan bibir dengan jemarinya. "Mas Jimmy mabuk?" Ia spontan bertanya, menatap Anita yang tampak terpejam sambil mengurut pelipis.
Anita mengangguk. Gurat beban kini tergambar jelas di wajah cantiknya.
"Suci, jangan bilang Ayah Bunda." Anita menatapnya dengan sorot permohonan. "Nico juga," lanjutnya.
Ia termangu sesaat. Bagaimana bisa Anita begitu rapih menutupi keburukan suaminya di mata keluarga selama bertahun-tahun. Salut.
Ia bisa untuk menutup mulut kepada mertuanya. Tapi kepada Nico? Ia tidak bisa janji. Apalagi kemarin gestur Jimmy membuatnya was-was. Dan kini makin terang, bagaimana kelakuan iparnya itu.
Anita sudah pergi menuju kamarnya. Ia masih duduk di kursinya dan menjadi takut dengan situasi saat ini. Nico hari ini lembur, mertuanya pergi ke luar kota.
Ia mengunci pintu kamarnya. Takut. Namanya orang mabuk, dia bisa melakukan hal diluar kesadarannya. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Ya Allah, lindungi kami.
"Tante, Manda bobok terus. Kan aku jadi bosen bicara sendiri." Naura mendekatinya dengan memberengut. Boneka panda tak lepas dari dekapannya yang sedari tadi diajak berbicara dekat baby Manda.
Ia tersenyum ditengah rasa takutnya. Dan meraih Naura duduk di dekatnya. "Masih bayi memang hobinya bobo. Itu cara agar cepat tumbuh besar." Ia merapihkan anak rambut bocah cantik itu yang tampak kusut.
"Gitu ya?" Naura berbinar menatapnya. "Yes, nanti Naura bisa ngajak Manda main salon-salonan." Gadis kecil itu berjingkrak girang.
Ia tersenyum miris menatap bocah periang itu.
"Suci, tolong ya. Jangan sampai Naura turun. Sampai sekarang dia tidak tahu kelakuan jelek Papinya. Aku selalu menutupinya."
Dibalik ceria dan tawa saat sedang berkumpul keluarga, sepertinya mbak Nita memendam masalah rumah tangganya sendiri. Sungguh tak menyangka. Kalau tidak melihat langsung saat tadi kakak iparnya itu menangis, ia menganggap kehidupan rumah tangga kakaknya Nico itu baik-baik saja.
Sampai siang hari, ia berhasil menahan Naura tidak keluar dari kamar dan kini tertidur di samping baby Manda yang diletakkan di ranjang utama.
Jam 1 lewat. Sekarang perutnya yang keroncongan. Ia menimang-nimang untuk turun atau tidak ke bawah. Mau minta tolong Sri mengantarkan makanan ke kamarnya rasanya merepotkan toh dirinya tidak sakit.
Mumpung Naura dan Manda sedang tidur, ia memutuskan turun. Seumur tinggal di rumah besar itu, baru sekarang ia merasa takut. Padahal ditinggal Ayah dan Bunda pergi ke luar kota sudah biasa. Namun sekarang situasinya beda.
"Sri, kemana Bi? Ia menghampiri Bi Narti yang sedang menyapu teras depan. Rencananya ia akan meminta Sri menemaninya makan.
"Sri lagi ke apotek, Neng. Beli obat sakit gigi katanya."
Ia mengangguk-ngangguk.
"Bi, temani aku makan yuk. Gak enak makan sendiri."
"Bibi sudah makan tadi jam 12, Neng." Sahut asisten rumah tangga yang sudah mengabdi 10 tahun lamanya itu.
Ia menghembuskan nafas panjang. Ia tidak bisa membujuk Bi Narti yang sepertinya sungkan duduk bersama satu meja.
Bismillah.
Ia menggelengkan kepala. Mencoba menghempaskan pikiran buruk. Ipar adalah maut. Ia pernah mendengar keterangan itu. Keterangan untuk kewaspadaan agar tidak berdua-duaan dengan ipar karena tentu saja bukan mahram dan bisa mendekatkan pada zina.
Kamarnya Mbak Nita tertutup rapat saat ia melintas menuju ruang makan. Hatinya sedikit lega.
__ADS_1
Ia memilih menyelesaikan makan dalam suapan besar dan cepat-cepat. Biarlah terasa kurang nikmat yang penting perut kenyang.
Namun saat akan kembali ke kamar, langkahnya terhenti d bawah tangga. Karena seseorang melesat dan menjegal jalannya di tangga pertama.
Ia terkesiap dengan muka pias.
"Aku sangat menantikan saat berdua seperti ini, Suci." Jimmy yang mengenakan kaos santai dan celana pendek berkata lembut sambil tersenyum. Matanya yang sedikit memerah tampak berkilat gairah.
"Mas Jimmy, ma-mau apa?" Ia tergagap karena takut dan spontan mundur tiga langkah ke belakang karena Jimmy melangkah mendekat.
"Mbak Nita." Teriaknya dengan pandangan mengarah ke segala arah, berharap ada orang. Rumah ini benar-benar sepi.
"Nita lagi keluar rumah." Jimmy menjawab dengan santai.
"Bi Narti....Bi Narti!" Ia berteriak lebih keras dan menatap pintu rumah yang tertutup padahl.saat tadi keluar, pintunya terbuka lebar. Ia.berharap Bi Narti masih ada di teras.
"Bibi menemani Anita, baru saja berangkat. Aku sengaja menyuruh Anita beli baju untuk undangan pesta besok."
"Jangan takut Suci. Aku selalu bermain lembut. Kamu pasti menyukainya." Jimmy terus mendekat dengan senyum menyeringai dan lidah yang menjilat bibir.
Ia terus mundur dengan tangan yang bergetar memegang piring yang tadinya akan ia bawa untuk makan siang Naura di atas. Takut dan tegang melebur menjadi satu.
Pos security cukup jauh jaraknya, berada di samping pintu gerbang. Security tidak akan mendengar teriakannya. Sementara intercom adanya di ruang keluarga. Hanya doa yang ia panjatkan dalam ketakutan.
"Istighfar, Mas Jimmy. Aku ini istrinya Mas Nico. Jangan sentuh aku!" Ia sudah tersudut di tembok. Matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya menjerit memanggil nama suaminya.
"Sstt, jangan berisik." Jimmy menempelkan telunjuknya di bibir. "Kamu sudah ada dalam fantasi liarku. Huft, cantik, bibir ranum menggoda, body bohay....hmm." Jimmy kembali menyeringai sambil meliukkan dua tangannya menggambarkan siluet tubuh dan bersiul.
Komplikasi. Rasa takut dan tegangnya kini bercampur kaget. Bisa-bisanya Jimmy mengetahui hal itu. Ia makin tersudut rapat di tembok.
"Ayolah, Suci. Jangan buang-buang waktu. Keburu orang datang." Jimmy menyentuh bahunya namun ia tepis sehingga piring yang dipegangnya jatuh.
Prang.
Sekuat tenaga, ia mendorong tubuh Jimmy hingga terhuyung karena masih dalam pengaruh alkohol. Namun Jimmy menarik jilbabnya hingga terlepas.
"Tolong...." Ia berlari menuju pintu keluar. Nahas, pintu terkunci.
"Tolong...."
"Tolong..."
"Bu Suci...." terdengar suara Sri di balik pintu.
Asanya naik. Ia merasa senang mendengar suara Sri, lalu menggedor-gedor pintu sekuat tenaga. "Sri, tolong buka....aaaaaaaahhhhh."
****
Nico
Ia dan Malik selesai melaksanakan meeting sekaligus makan siang bersama dengan perwakilan perusahaan Jepang disebuah hotel berbintang. Ini adalah follow up dari dua kali pertemuan yang membahas perpanjangan kontrak order. Ayah Hendro mewakilkan padanya untuk bisa melobi Ceo dari perusahaan brands olahraga terkenal di Jepang itu.
Ia dan Malik balas membungkukkan badan saat dua kliennya itu mengakhiri pertemuan dan pamit terlebih dulu meninggalkan restoran.
__ADS_1
Senyumnya merekah. Ia dan Malik melakukan tos tangan, karena berhasil meyakinkan klien sehingga konntrak kerjasama berlanjut untuk masa 2 tahun ke depan.
"Bro, ke rumah dulu ngambil flashdisk. Tadi pagi ketinggalan."
Malik mengangguk.
Ia segera beranjak dari duduknya. Melangkah ke luar restoran. Sebelum kembali ke kantor, ia akan pulang ke rumah sebentar. Data evaluasi yang ia susun semalam tersimpan dalam flashdisk. Dan sore ini akan dibahas dalam rapat internal bersama divisi produksi.
"Bagaimana kabar tante Indah? Apa dia meneror istrimu?" Ia melirik Malik yang mengemudikan mobilnya membelah kepadatan jalan raya ibukota.
"Sampai detik ini aman. Aku udah mengakses cctv toko juga nyuruh orang mengawasi dari luar. Semoga aja Mama tidak berulah." Jelas Malik dengan tetap fokus menatap jalanan.
Ia manggut-manggut.
Spontan ia memegang dadanya yang tiba-tiba jantungnya berdetak tak beraturan. Hal itu tak luput dari perhatian Malik. "Kenapa?"
"Tak tahu. Tiba-tiba jantungku tidak nyaman begini."
Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Suci yang tiba-tiba melintas di pelupuk matanya. Sampai tiga kali dihubungi namun tak juga diangkat.
"Ngebut, Malik! Perasaanku tidak enak. Suci tidak.menjawab teleponku." Ia menatap Malik dengan gusar yang hanya menjawab dengan anggukan.
Dengan tapis dan tenang Malik menambah kecepatan, menyalip kendaraan di depannya yang melaju ramai lancar. Saat mobil memasuki komplek perumahan elit itu, Malik makin menambah kecepatan karena jalanan komplek lengang.
"Bang Surya, tolong....tolong...."
Ia melihat Sri berlari sambil berteriak memanggil sang keamanan yang sedang membukakan pintu gerbang untuknya.
Ia yang duduk di kursi penumpang, setengah loncat turun dari mobil melihat asisten rumah tangganya yang panik.
"Sri, kenapa? Tanyanya, bersamaan dengan Surya yang ikut menghampiri dengan dahi mengkerut.
"Pak Nico.....Bu Suci.......tolong...Bu Suci..." Sri terbata-bata. Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah rumah dengan nafas tersengal.
Ia buru-buru berlari. Disusul Surya dan Malik di belakangnya.
Pintu berbahan jati itu jelas terkunci. Berkali-kali digedor pun pintu tetap kokoh. Tak mungkin bisa didobrak, butuh waktu lama.
"Ikut aku!" Ia berlari dengan langkah lebar ke arah belakang melewati taman samping.
Pintu belakang pun terkunci.
"Ambil kursi!" Ia memerintahkan Malik meraih kursi dekat kolam renang.
Prang.
Salah satu jendela yang berjajar dengan berkaca tinggi itu pecah terburai hanya dalam satu kali timpukkan kaki kursi yang terbuat dari besi.
Ia berlari bak kesetanan menuju suara yang sangat dikenalnya. Suara yang lemah minta tolong bercampur isak tangisan.
"Bangsaaat....bajingan.....kamu Jimmy...."
Bugh.
__ADS_1