MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Malam Aksi


__ADS_3

Nico memasuki mobil hitam yang terparkir di depan gerbang. Duduk di kursi depan, di samping pengemudi yang berdecak kesal karena 15 menit menunggunya.


"Sorry. Aku kasih Suci pil tidur dulu, biar dia nyenyak tidur." Tanpa menunggu ditanya, Nico langsung meminta maaf karena sudah terlambat.


Start stop engine mobil SUV nya sudah ditekan, menghasilkan suara mesin yang halus. Malik menoleh dengan kening mengkerut. "Memangnya dia insomnia? Sampai harus minum pil tidur segala."


"Sudahlah, ayo jalan! Jomlo mana faham." Nico memgibaskan tangannya, dengan senyum tipis terulas.


Meski berharap mendapat penjelasan, Malik tidak bisa protes. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalan komplek perumahan elit menuju keramian jalan raya ibukota yang tidak pernah tidur.


"Tujuan kita ke mana?" Pandangan Malik tetap fokus mengawasi jalan yamg ramai lancar.


"Lebih baik kita stay di kosan. Kita akan menyaksikan drama yang terjadi. Aku sudah kirim pesan ke Siska, si nyonya angkuh itu. Urusan asisten Pras, sudah ada polisi yang mengintainya." Nico mengeluarkan kartu perdana dari ponsel lain yang digenggamnya. Ia menggunakan kartu itu sekali pakai, mematahkannya, dan membuangnya ke jalan. Anak buah Malik sudah memberi info valid jika Pras baru saja masuk ke kosan mahasiswi simpanannya itu.


"Cewek itu masih kuliah semester 4. Ia datang dari kampung." Malik memberikan imformasi tambahan tentang daun muda milik Pras. Yang bahkan lebih muda umurnya dari Winda, anaknya Pras.


"Aku malah kasihan sama orangtua cewek itu, sebentar lagi akan menerima kenyataan pahit. Pasti awalnya penuh kebanggaan, anaknya bisa kuliah di kota besar. Mungkin besok pagi, berita skandal Pras akan viral di berbagai media."


Nico merebahkan punggungnya di sandaran jok kulit yang nyaman. Pandangannya menerawang, langkahnya sudah sejauh ini mengorek kebusukan seseorang. Ya, salah sendiri. Sudah mengusik seorang Nico. Seolah membangunkan Harimau yang sedang tidur.


****


Subuah pesan diterima Nyonya Siska yang sedang selonjoran di sofa, dipijat kakinya oleh Wati, salah satu asisten rumah tangganya. Ia memang sedang memainkan ponsel canggih berlogo apel digigit, saat pesan dari nomer yang tak dikenal masuk.


Nyonya Siska, datanglah sekarang juga ke kosan Boulevard no kamar 13. Suami Anda ada di sana.


Nyonya Siska mengerutkan kening, heran dan tak percaya dengan isi pesan yang mencantumkan shareloc alamat kosan itu. Ia beberapa kali menghubungi nomer pengirim, namun gagal karena nomer tersebut tidak aktif.


"Sudah Wati. Kamu boleh keluar!" Nyonya Siska menarik kakinya dari pangkuan Wati, mengibaskan tangannya agar asisten rumah tangganya itu segera keluar dari kamar mewahnya.

__ADS_1


Rasa penasaran menggelitik hati dan pikiran, karena nama suaminya disebut dalam pesan itu. Padahal suaminya tadi pagi bilang, akan ke luar kota dua hari.


Apa yang dilakukan Papi di kosan ?


Nyonya Siska berjalan gelisah bolak balik di dalam kamarnya yang luas. Kemungkinan buruk terlintas di kepalnya kalau-kalau suaminya berselingkuh.


Ah tidak!


Nyonya Siska menggelengkan kepalanya. Ia kembali berpikir positif. Pria tampan pada masanya, yang ia cintai dan percayai untuk memimpin perusahaan warisan orangtuanya, hingga berkembang sebesar sekarang, tak mungkin mengkhianati. Begitulah pikiran positif yang ia bangun saat ini.


"Mami tunggu!" Winda memanggil dari tangga atas. Menahan maminya yang tergesa menuju pintu keluar.


"Mami mau ke mana? Ini kan udah malam." Winda menatap sang mami yang berdandan rapi dengan menenteng tas branded.


"Mami ada urusan mendadak, ketemu teman. Kamu tunggu di rumah ya!" Nyonya Siska tampak gelisah saat memberikan alasan. Ia tidak ingin anak semata wayangnya tahu akan tujuan perginya.


"Kenapa harus malam-malam, Mam? Kan bisa besok pagi atau siang." Winda merasa janggal dengan alasan yang dibuat maminya. Winda lhirnya memaksa untuk ikut. Daripada waktu terus terbuang, terpaksa Nyonya Siska menurutinya.


"Jangan dulu marah-marah. Pesan ini belum tentu benar." Nyonya Siska menghibur anaknya yang sebenarnya juga menenangkan dirinya sendiri.


Mobil tiba di depan gerbang tinggi sebuah kos kosan berlantai 2 yang bangunannya cukup bagus. Tergesa-gesa Nyonya Siska dan Winda keluar dari mobil, menuju pos jaga. Ada seorang security yang duduk sedang bermain game dengan ponselnya.


"Pak, saya mau masuk. Buka pintunya!


Petugaa security mendongak, saat mendengar suara ketus seorang perempuan.


"Maaf Bu, lewat jam 9 malam dilarang menerima tamu." Petugas security itu menjawab dengan ramah dan sopan.


"Panggilkan saja pemiliknya, cepat! Bilang padanya, ada Nyonya besar ingin bertemu."

__ADS_1


Memangnya dia siapa sih. Pakai menyebut Nyonya besar segala.


Meski penuh tanda tanya, petugas mau saja menghubungi pemilik yang tinggal di dalam, satu komplek. Karena melihat penampilan tamunya sangat meyakinkan kalau dia seorang nyonya kaya.


Seorang pria kulit putih bermata sipit kisaran usia 40 tahun, keluar dari pintu gerbang.


"Ada yang bisa saya bantu, Ibu eh Nyonya?" sapa pria itu memanggil nama sesuai yang disampaikan security.


"Saya minta diantar ke kamar 13. Katanya suami saya ada di sana." To the point, Nyonya Siska menyampaikan maksudnya.


"Kamar nomer 13 pemiliknya mahasiswi, bukan laki-laki." Ada sedikit keterkejutan kentara di wajah pria keturunan itu. Karena kosan mahal ini memang bebas di huni laki-laki atau perempuan dan bebas membawa tamu masuk kamar.


"Saya malas basa basi. Cepat ambil kuncinya dan antarkan kami ke sana!" Nyonya Siska mengeluarkan 15 lembaran merah, dikepalkan ke tangan pria pemilik kosan itu.


Apa boleh buat, pemilik kosan mengalah dengan sogokan yang ada di genggamannya. Ia memberikan jalan untuk dua tamunya memasuki pintu gerbang yang jerujinya tertutup fiber, hingga orang luar tidak bisa mengintip ke dalam.


Nyonya Siska.dan Winda terkejut bukan main, saling tatap. Mobil sedan mewah Pras nyata terparkir.


"Ini benar, suami saya ada di sini." Tak sabar, Nyonya Siska meminta pemilik kos cepat-cepat mengambil kunci cadangan.


"Tapi Nyonya tidak boleh membuat keributan di sini, jangan sampai membangunkan penghuni kos yang lain. Kalau mau ngamuk-ngamuk nanti saja di rumah." Selangkah lagi menuju kamar yang berada di lantai bawah paling ujung, pemilik kos meminta kedua tamu berjanji.


Dengan jantung yang berdebar kencang, Winda memegang erat lengan maminya. Perasaan keduanya campur aduk menatap daun pintu dengan kunci yang sudah diputar.


Pintu terbuka lebar, dengan suasana lampu temaram. Ketiga orang memandang sekeliling ruangan, tidak ada orang. Hanya terlihat sofa letter L menghadap TV yang terpajang di meja minimalis, dan sebuah kulkas berada di pojok tembok.


Suara gaduh dari arah kamar membuat nafas Nyonya Siska dan Winda merasa tercekat di kerongkongan. Rintihan itu paduan dari suara pria dan wanita. Dengan lutut yang sudah gemetar, Nyonya Siska memberanikan diri memegang handle pintu.


Brak

__ADS_1


Pintu pun terbuka lebar.


__ADS_2