MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
S2 - Tentang Istri


__ADS_3

Nico menuruni anak tangga dengan langkah ringan. Seringan hati yang lapang karena beban rindu pada sang istri telah terobati. Hanya di dalam kamar melihat Suci tidur, membuatnya tak tahan membendung hasrat. Namun melihat wajah pucat dan lelah istrinya itu, terbit rasa tidak tega. Ia tak boleh egois.


Maka dari itu, Nico memutuskan keluar kamar. Ia menuju Bunda yang ternyata ada di ruang makan.


Bunda menoleh melihat kedatangan putra bungsunya itu yang langsung menarik kursi di sisinya. Ada sepiring buah potong tersaji di atas meja.


"Suci mana?"


"Tidur. Ngantuk katanya. Begitu nyentuh bantal, eh langsung pulas." Nico menyuapkan potongan melon dengan garpu kecil ke mulutnya.


"Tidur lagi?" Bunda mengernyit dan tampak berpikir keras.


"Memang kapan Suci tidur?" Giliran Nico yang mengernyit mendengar respon Bunda.


"Selama di pesawat Suci tidur. Katanya ngantuk berat karena bangun jam 3 melek sampai subuh. Tapi di mobil juga sama, sempat ketiduran."


"Wajahnya pucat gak?" Bunda ingin memastikan praduganya.


"Iya. Pucat dan kelihatan lelah," jawab Nico sesuai yang dilihatnya saat di kamar.


"Hmm...jangan-jangan--" Bunda menggantung ucapannya sembari menatap Nico.


Ting.


Suara keras garpu jatuh menimpa piring membuat Bunda terlonjak. Itu karena ulah spontan Nico yang merasa horor dengan kalimat menggantung ibunya itu.


"Bun, jangan bilang kalau Suci sakit berat," ujar Nico dengan raut panik.


"Dasar jadi suami tidak pekak." Bunda mendelik sebal dan gemas dengan asumsi anak bungsunya itu.


"Maksud Bunda?" Nico mengkerutkan keningnya sembari menatap sang ibu yang sedang mengunyah potongan buah kiwi.


"Jangan-jangan istrimu itu hamil. Coba tanya kapan terakhir haid. Kalau udah telat, beli testpack ke apotek."


Senyum Nico merekah sempurna. Meski baru praduga tapi membuatnya senang bukan kepalang.


"Bun, aku akan jadi Papa!!" Nico berseru riang sambil meninjukan tangannya ke udara.


"Jangan senang dulu. Itu kan baru dugaan--"


"Akan aku pastikan." Nico memundurkan kursinya. Setengah berlari, ia meninggalkan ruang makan dan menaiki tangga dengan cepat untuk segera menuju kamarnya.


"Dasar!" Bunda menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd anaknya itu.


Dengan pelan Nico membuka pintu kamar. Ia mengernyit heran, istrinya tidak lagi nampak di atas ranjang.

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka. Suci keluar dengan hanya memakai handuk dan rambut basah yang digulung handuk kecil.


"Sayang, kok sebentar tidurnya." Nico menghambur memeluk sang istri yang tampil menggoda dan kembali membuat hasratnya bangkit.


"Cukup 30 menit juga. Itu namanya tidur berkualitas. Lepas ih aku mau pakai baju." Suci meronta dari pelukan suaminya itu.


"Arghhh!"


Suci memekik kaget. Tiba-tiba tubuhnya melayang karena Nico membopongnya. Membawanya ke atas ranjang. Simpul handuk yang dipakainya terlepas karena ulah suaminya itu.


"Mas, sebentar lagi ashar lho. Yakin mau sekarang?" Suci mengusap kepala Nico yang sedang mengecupi ceruk lehernya. Ia faham dengan gestur sang suami yang menginginkannya.


Nico mendongak. Hasratnya memang menggebu. Namun ia ingat percakapannya sengan Bunda tadi


di bawah. Nico menjatuhkan tubuhnya ke samping. Ia harus sabar menahan diri untuk saat ini.


"Sayang, kapan terakhir haid?"


Suci terdiam. Keningnya mengkerut pertanda sedang mengingat-ngingat.


"Ya Allah, Mas." Suci terkejut seakan baru tersadar. Ia bangun dari tidurnya, namun tangan kokoh sang suami menahannya.


"Mau ke mana?"


"Aku mau ambil hp. Catatan masa haid aku save di aplikasi. Lepas dulu dong!" Suci merajuk karena pelukan suaminya itu begitu kuat tak bisa digoyahkan.


Dalam posisi duduk bersandar di kepala ranjang, Suci membuka ponselnya. Nico ikut menempel di sisinya, mendongakkan kepalanya melihat tampilan layar calender periode yang tidak dipahaminya.


Suci menolehkan wajahnya menatap sang suami dengan binar ceria dan senyum manis terkembang.


"Mas, aku udah telat 20 hari."


"Jadi, hamil?" Nico menatap lekat wajah cantik istrinya itu dengan pandangan antusias.


"Masih gambling, Mas. Untuk memastikan harus beli tespek dulu ke apotek." Suci memutuskan untuk membeli 3 tespek via ojol dengan merk berbeda.


"Aku udah pesan. Kita tunggu di bawah yuk!" Suci beringsut turun untuk memakai baju yang sudah disiapkannya.


Kok aku jadi deg degan.


Nico menerawang dalam posisil tidur telentang sambil menunggu sang istri selesai berpakaian.


****


Salma

__ADS_1


Kini ia menempati rumah di Jakarta bersama sang suami juga Umi usai pulang dari bulan madu. Kosan tempatnya tinggal selama bekerja, kini menjadi kenangan. Ia sudah berpamitan kepada pemilik kos juga teman-temannya di sana usai resign dari pekerjaannya dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga.


Tidak ada larangan dari sang suami untuk membuat kesibukan dengan berwira usaha asal jangan lagi bekerja di bawah tangan orang lain. Dengan maksud agar tidak sama-sama sibuk hingga berkurang quality time berdua. Itu komitmen awal yang sudah disepakati keduanya.


Namun untuk saat ini ia memilih menikmati status barunya sebagai istri, Nyonya Candra. Sambil membenahi diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan belajar kepada suami dan Umi sang mertua. Karena bujukan Candra, akhirnya Umi mau tinggal bersama kembali di Jakarta.


Malam menjelang tidur. Salma dan Candra duduk berhadapan di bawah ranjang beralaskan karpet lembut. Untuk pertama kalinya, ia dipinta sang suami untuk mengaji di hadapannya.


Tentu saja, rasa tegang, malu dan keringat mengembun di keningnya. Ia sudah lupa kapan terakhir kali rutin mengaji. SMP kah atau SMA? Benar-benar lupa. Paling banter mengaji Yasin jika ada tetangga yang menggelar tahlil.


"Jangan tegang dong, Neng. Kayak pertama kali mau interview aja." Candra mengulum senyum melihat dan mendengar Salma mengucap Bismillah dengan suara bergetar.


"Aku malu, Bang. Udah lama gak mengaji." Salma menutup mukanya yang merona.


"Gak papa. Kan mulai sekarang bisa dibiasakan lagi. Ayo, Abang mau dengar ya!" Ucapan lembut Candra berhasil membuat Salma sedikit rileks.


Surat An Naba' dipilih Candra untuk dibaca oleh sang istri.


Salma kembali mengulang Bismillah...


'Amma yatasaaa 'aluun


Ia mulai mengaji, suaranya tak lagi bergetar namun terbata-bata. Begitulah, jika sekian lama lidah tidak dibiasakan untuk mengaji akan terasa kaku hinga terbata-bata.


Candra fokus mendengarkan. Dan dengan sabar mengoreksi bacaan yang salah tanpa melihat lembar Al Qur'an karena ia sudah hafal Juz Amma di dalam kepalanya.


Salma menarik nafas lega usai menyelesaikan 40 ayat pendek dengan tubuh berkeringat.


"Bacaanku banyak salah ya, Bang?" Salma tersenyum meringis saat beradu tatap dengan sang suami.


"Gak papa. Nanti jika sering mengaji, lama-lama bacaannya akan baik."


Candra memang suami yang baik. Salma tahu kesalahannya dalam pengucapan makhraj dan tajwid hampir di semua ayat. Namun suaminya itu tidak jengkel malah memotivasinya.


Candra menutup Al Qur'an dan menyimpannya di atas meja.


"Sini, sayang."


Salma menggeser duduknya saat Candra memanggilnya. Ia merebahkan kepalanya usai membuka jilbab, di atas paha sesuai permintaan suaminya itu. Sungguh, hatinya merasa damai dan bahagia. Candra begitu tulus menyayanginya, menerima apa adanya. Kasih sayang suaminya itu terefleksi dari belaian tangan di rambutnya yang tergerai.


"Neng Salma, istriku yang cantik. Kitab suci Al Qur'an itu pedoman untuk kita baca, maknai, dan amalkan. Ia akan menjadi penerang kelak di alam barzah. Jadi harus dibaca setiap hari ya, minimal satu ayat. Kapan aja senggangnya yang penting jangan melewatkan hari tanpa mengaji."


"Iya, Bang. Maafkan aku yang banyak kekurangan ini. Bimbing aku mengaji dan tuntun menjadi istri yang baik." Tulus Salma dengan tatapan penyesalan karena merasa kualitas diri tak sebanding dengan suaminya itu.


"Hey, Abang juga sama banyak kekurangan. Suami istri disatukan untuk saling melengkapi, saling menutup kekurangan, saling menutupi aib. Tegur Abang juga jika ada sikap yang membuatmu kecewa. Kita sama-sama belajar berumah tangga yang di ridhoi Allah." Candra menjawil dagu istrinya itu dengan gemas

__ADS_1


Malam terus beranjak naik. Kini berbalik Candra yang merebahkan diri di pangkuan Salma yang duduk bersandarkan tumpukan bantal, di atas ranjang. Pijatan lembut tangan istrinya itu membuatnya terbuai dalam lelap dengan wajah yang tenang. Dengkuran halus terdengar dalam tarikan nafas yang teratur.


Salma tidak tega membangunkan suaminya itu untuk pindah. Ia membiarkannya, dan ikut memejamkan mata masih dalam posisi duduk bersandarkan tumpukan bantal.


__ADS_2