
Cuaca pagi akhir pekan masih diselimuti mendung. Seolah sang mentari masih betah di peraduannya, enggan menampakkan sinarnya. Namun semangat pagi kentara dari dua insan yang akan melakukan liburan untuk pertama kalinya sejak menikah.
Nico dengan setelan casual, celana jeans biru selutut berpadu t shirt abu muda, menutupkan bagasi mobilnya setelah menyimpan sebuah koper berisi pakaian ganti dan perlengkapan lainnya.
Suci pun tak kalah berpenampilan santai. Ia menggunakan celana kulot krem dengan atasan tunik warna hijau melon berbahan katun silk yang adem dengan motif bunga. Ditambah pashmina krem yang dikenakannya menambah kesan modis.
"Bun, Mas Nico pelit. Gak ngasih tahu kita mau liburan ke mana." Suci mengadu kepada Bunda yang ikut mengantarnya sampai halaman. Semalam, selesai suaminya mendapatkan jatah, Suci sudah menanyakan mau liburan ke mana. Tapi berkali-kali bertanya pun jawabannya selalu sama 'Ada deh'.
Bunda terkekeh mendengar aduan menantunya itu. Nico yang ikut mendengar pun hanya tersenyum menyeringai.
"Mungkin Nico mau bikin kejutan. Pokoknya kemanapun perginya, Bunda minta oleh-oleh ya!" Bunda yang sebenarnya sudah dikasih tahu Nico kemana akan pergi, memilih pura-pura tidak tahu di depan menantunya itu.
"Bunda mau oleh-oleh apa?" Suci menatap Bunda Devi yang berdiri di sisinya. Sambil menunggu Nico selesai memanaskan mobilnya.
"Bunda mau oleh-oleh cucu." Bunda tersenyum menaikkan kedua alisnya menatap sang menantu. Yang ditatap tampak tersenyum malu dengan rona merah di kedua pipinya.
"Siap Bun. Kita akan kerja keras siang dan malam." Ujar Nico sambil menghampiri dua wanita yang disayanginya itu. Cubitan keras di pinggangnya membuat Nico mengaduh. Suci mencubitnya dengan memelototkan matanya. Ia begitu malu dengan kalimat mesum suaminya di depan Bunda.
Bunda tertawa lepas melihat tingkah anak dan menantunya itu. Kebahagian meliputi hatinya. Menyaksikan anak laki-laki satu-satunya itu tampak ceria setelah menikah dengan Suci. Sikapnya lebih hangat dan lebih taat beribadah dibanding dengan Nico yang dulu.
"Selamat bersenang-senang. Jangan lupa berdoa dulu sebelum melajukan mobil." Bunda memberikan pelukan hangat kepada keduanya yang akan pamit. Kepada Ayah, mereka sudah pamit lebih dulu saat di dalam rumah.
.
.
.
Perjalanan jam 7 pagi di hari sabtu lebih lengang daripada hari-hari biasanya. Suci mengamati setiap jalan yang dilalui untuk menebak tujuan yang akan ditempuh. Banyak mobiil berplat B yang menuju jalur yang sama. Hingga mobil SUV putih yang dikemudikan Nico tiba di gerbang tol Jagorawi.
Suci menjentikkan tangannya. Ia menggelitik pinggang Nico yang terus senyum-senyum setiap melirik istrinya sedang mengamati.jalan. "Aku tahu sekarang." Suci terus menggelitiki pinggang Nico karena gemas, suaminya itu sudah main rahasia-rahasiaan.
"Tahu apa?" Nico tak tahan untuk tidak tertawa. Karena tangan Suci terus menggelitiki, membuatnya geli.
"Kita mau ke Puncak kan? Hayu ngaku!"
Suci mengecup pipi Nico, sebagai sogokan agar suaminya luluh untuk mengaku. Tangannya bergerilya mengelus-ngelus pangkal paha suaminya itu. Dan benar saja, sogokan sang istri membuat Nico luluh.
"Aduh, kamu tahu aja kelemahanku, cantik. Iya benar, kita akan ke Puncak. Ke Villa milik Ayah." Nico menangkap tangan Suci yang berada di pahanya, menggigitnya dengan gemas.
__ADS_1
"Aihh, Mas Nico. Aku gak bawa baju hangat. Puncak kan dingin, nanti aku bersin-bersin deh." Suci merajuk manja, memiringkan tubuhnya menatap sang suami dengan bibir mengerucut.
"Jangan khawatir, sayang. Kan ada aku, selimut hidup yang siap menghangatkan."
Momen antri di gerbang tol dimanfaatkan Nico untuk memagut sebentar bibir lembut sensual istri tercinta.
Langit kelabu perlahan memudar, berganti langit cerah berwana biru menaungi perjalanan mobil yang melesat cepat di jalan tol Jagorawi.
****
Jalanan berkelok dengan panorama hijaunya hamparan kebun teh begitu memanjakan mata ketika memasuki kawasan Puncak. Tak heran jika setiap akhir pekan ataupun libur panjang, daerah ini menjadi pusat destinasi warga ibukota khususnya, untuk me refresh otak setelah lima hari dalam tekanan pekerjaan.
"Kamu senang, cantik?" Nico menjawil dagu lancip sang istri yang tampak semringah menatap pemandangan ke kiri dan ke kanan.
"Iya.Mas. Aku suka aku suka. Makasih, suamiku." Cup, bonus kecupan mendarat di pipi Nico. Membuat sang driver itu tersenyum lebar, senang tentunya.
Fokusnya tetap mengarah ke jalan di depannya, sekali-kali melirik spion. Sang driver dengan senang hati menerima suapan demi suapan buah potong dari penumpang disampingnya. Yang sudah dipersiapkan bekal dari rumah.
"Minum, sayang!"
Suci memberikan botol air mineral yang sudah dibuka tutupnya, diserahkan kepada Nico.
Seorang pria sekitar usia 60 tahun tergopoh-gopoh menghampiri mobil yang terparkir di depan joglo. Sebelumnya penjaga villa milik keluarga Hendro itu sudah dikabari akan kedatangan anak majikannya.
"Selamat datang, Den Nico." Pak Mamat berdiri menyambut kedatangan Nico yang baru turun dari mobil.
"Pak Mamat, apa kabarnya? Sudah lama gak ke sini jadi pangling." Nico mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Penjaga villa itu tampak sungkan menyambutnya.
"Alhamdulillah baik, Den. Ini istri Den Nico ya?" Pak Mamat menatap perempuan cantik yang berdiri di samping Nico.
"Iya, Pak Mamat. Ini Suci, istri saya." Nico merengkuh bahu istrinya itu dengan perasaan sayang yang nampak pada tatapannya.
Suci mengulas senyum ramah kepada orang kepercayaan Ayah Hendro yang setia merawat villa selama bertahun-tahun.
"Pak Mamat, sekarang boleh istrirahat pulang. Saya sampai besok akan tinggal di sini. Nanti kalau mau balik ke Jakarta, saya kabari bapak."
Pak Mamat mengangguk, menerima perintah dari Nico. Ia menyerahkan kunci villa dan pamit kembali ke rumahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari villa.
Suasana dingin dan sejuk kawasan villa terasa meresap ke kulit. Apalagi saat masuk ke dalam villa dengan bangunan nuansa kayu. View hamparan kebun teh terpampang indah dari jendela kupu-kupu ruang tengah. Nico membukanya dengan lebar. Angin yang sejuk langsung menerpa wajah keduanya yang berdiri sejajar menatap hamaparan kebun teh.
__ADS_1
"Ayo kita lihat kamarnya!"
Nico menuntun tangan Suci menuju kamar utama. Sebelum pintu kamar dibuka, sudah tercium aroma bunga yang familiar di hidung Suci.
Suci menghentikan langkahnya menatap sekeliling, mencari sumber wangi bunga yang dihirupnya.
"Cari apa, sayang?" Nico menatapnya heran.
"Aku mencium aroma bunga aster. Itu bunga favoritku, Mas. Jadi kangen tanamanku di rumah Abang deh." Pancaran mata Suci berubah sendu mengingat tanaman yang tidak disentuhnya selama pindah ke rumah Nico. Tidak tahu, apakah abangnya menyiramnya atau tidak.
"Hei kok jadi sedih. Bang Candra suka menyiramnya kok. Aku sudah pastikan itu." Nico menghibur Suci yang sedang kangen dengan koleksi bunga asternya.
Suci merasa lega dengan laporan yang diucapkan Nico. Ia lalu membuka pintu kamar, karena Nico yang menyuruhnya.
Wangi yang Suci cari ternyata ada di kamar itu. Tampak di kamar yang luas itu ranjang king size dari kayu jati dengan seprai putih. Buket bunga aster aneka warna menghiasi dua lampu meja, juga di atas meja rias. Buket yang paling besar terpajang di meja sofa, aster dan krisan dirangkai sedemikian rupa. Sangat cantik dan aromanya menyegarkan indra pembau.
Suci tampak berkaca-kaca mendapat kejutan manis dari sang suami. Ia menghirup satu persatu buket bunga segar yang terpajang dengan perasaan bahagia.
"Mas Nico kok tahu aku suka bunga ini? Ini kapan menyiapkannya" Suci bertanya dengan suara serak karena menahan tangis haru.
"Nico merengkuh pinggang Suci, hingga rapat tak berjarak. Membawa kepala sang istri bersandar di dada bidangnya. "Untuk seseorang yang aku cintai, tentu saja aku akan mencari tahu tentang kesukaannya. Bahkan hal yang tidak disukainya." Nico mengecup puncak kepala Suci dengan segenap perasaan sayangnya.
Nico mengusap sudut mata Suci yang berair. "Sudah ah, jangan nangis. Kita kan mau bersenang-senang bukan sedih-sedihan."
"Ini tuh air mata haru bukan sedih." Suci memukul pelan dada Nico karena meledeknya. Ia mengurai pelukannya. Kembali menghampiri buket bunga, menciumi bertubi-tubi dengan semangat.
"Hm, enak ya jadi bunga. Dapat ciuman banyak. Aku malah dianggurin." Nico mencebik, pura-pura marah karena diacuhkan.
Suci terkekeh. Ia menyimpan kembali buket pada tempatnya lalu menghampiri Nico yang berdiri bersidekap, cemberut menatapnya.
"Ini hadiah untuk pemberi bunga." Suci sedikit menundukkan kepala Nico. Ciuman bertubi-tubi mendarat di seluruh wajah tampan suaminya itu. Terakhir, memberikan pagutan manis di bibirnya. Salah Suci, sudah memancing singa yang lapar. Dengan sekali ayun, Nico mengangkat tubuh sang istri, tanpa melepaskan pagutannya. Merebahkannya di atas ranjang empuk.
"Mas, ini masih siang."
"Gak masalah. Nanti malam beda lagi."
"Ishh RAKUS."
...----------------------...
__ADS_1
Jangan lupa bagi poinnya, sayangnya othor. 😍😍