MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Di Tengah Keluarga Besar


__ADS_3

Pesta telah usai. Malam ini adalah milik sepasang pengantin yang tengah berbahagia. Nico merasa harus mengucapkan terima kasih kepada Bunda. Dipingit selama tiga hari lamanya ternyata manjur menabung rindu dan hasrat.


Jadilah malam minggu ini menjadi malam yang panjang dan melelahkan. Dua insan yang masih hangat sebagai pengantin baru, saling menyatu dibalik selimut lembut menutupi dua tubuh yang polos usai percintaan yang panas hingga tubuh keduanya basah berkeringat.


Nico memberi kecupan di seluruh wajah sang istri yang ia peluk tubuhnya dengan segenap perasaan.


"Mas--" Suci sedikit menggeliatkan badannya agar lebih nyaman dalam kungkungan suaminya itu.


"Apa, sayang--" Nico memerosotkan tubuhnya hingga kepalanya bersandar di dada sang istri. Ia memejamkan mata menikmati wangi lembut kulit istrinya itu. Detak jantungnya pun terdengar jelas di telinga Nico.


"Aku akan taat padamu sebagai istri, selamanya, sepanjang usia. Mas Nico harus janji untuk saling percaya dan saling setia, jangan pernah menghianatiku!" Suci mengusap-ngusap rambut Nico yang masih berada di dadanya.


Nico mendongakan wajah. Satu kecupan mendarat di bibir Suci. Ia merubah posisi menaikan punggungnya hingga bersandar di bantal yang ditumpuk. Kini, kepala Suci ia raih untuk bersandar di dadanga yang bidang.


"Trust me, baby. Kamu satu-satunya yang bertahta di hati. Aku akan setia dan kita harus saling percaya. Kamu udah memiliku tubuh dan hatiku, gak mungkin mengkhianatimu." Nico mengecup lama puncak kepala istrinya. Menyalurkan rasa sayang yang melimpah memenuhi hati.


"Aku akan--"


"Ssstt, sudah. Jangan banyak ucapan. Lebih baik dibuktikan dengan tindakan." Suci menutup mulut Nico dengan jemarinya untuk tidak melanjutkan bicaranya.


Nico tersenyum miring. Ia menggulingkan tubuh Suci hingga kini berada di bawahnya.


"Eh, mau apa?" Suci menahan dada Nico yang akan mendekatkan wajah ke lehernya.


"Mau lagi. Kan kamu butuh tindakan daripada ucapan--" Nico menatap Suci dengan menaik turunkan alisnya.


"Isshh dasar mesum! Bukan ini tapi....hmphh."


Suci tak mampu melanjutkan bicaranya karena Nico membungkam mulut dengan bibirnya. Ia memagut dengan rakus bibir sang istri yang telah bengkak karena ulahnya.


Malam terus merayap melewati tengah malam. Jarum jam tak berhenti berputar, bergerak menuju dini hari. Namun sepasang pengantin tidak mempedulikan waktu seberapa cepat bergerak. Kamar pengantin presidential suite menjadi saksi bisu bagaimana sang pria selalu bersemangat untuk terus memanaskan tubuh meski tubuh yang dikungkungnya mulai payah dan mengantuk. Tapi ia tetap on fire.


****


Minggu siang, Nico dan Suci meninggalkan hotel menuju rumah besar Ayah Hendro. Tiba di halaman rumah, sebelum turun Suci melihat kembali wajahnya dengan cermin bedak. Ia memoleskan lipstik warna peach dan menyapukan bedak tipis untuk menutupi wajah pucatnya karena kurang tidur.

__ADS_1


"Udah cantik kok." Nico menggoda Suci yang sedang menepuk-nepuk spon bedak di pipinya. Ia menunggu istrinya untuk keluar mobil bersamaan.


Suci mengerucutkan bibirnya sambil mendelik. "Ini tuh gara-gara kamu, Mas. Wajahku jadi pucat karena kurang tidur."


Nico terkekeh pelan melihat Suci yang cemberut. Kebalikan dari Suci, ia malah meras segar dan ringan usai dua ronde pertarungan sampai dini hari.


Bergandengan tangan, keduanya memasuki pintu rumah berbahan jati yang terbuka sambil berucap salam. Di dalam, keluarga besar masih berkumpul belum kembali ke kotanya masing-masing.


"Hore Tante Suci datang--" Naura bersorak girang dan berlari memeluk kaki Suci hingga langkahnya tertahan. Baru beberapa hari bertemu, tapi gadis kecil itu sudah merasa suka dan nyaman dengan tante barunya itu.


"Udah punya tante baru jadi lupa sama Om Nico!" Nico pura-pura cemberut, melipat tangannya di dada.


Naura tidak terpengaruh. Ia malah memeletkan lidahnya ke arah Om nya itu lalu menarik tangan Suci ke ruang ke ruang makan dimana kelurga masih berkumpul usai makan siang.


"Nico, Suci, ayo makan dulu!" Bunda menyambut keduanya dengan gembira.


"Kita udah makan waktu check out, Bun." Jawab Suci sambil tangannya diayun-ayun oleh Naura yang menempel padanya.


"Sayang, aku belum kenalin kamu sama Mami Dewi." Nico mengajak Suci mendekat ke kursi paling ujung. Ia menjelaskan, waktu SMA sekolah di Surabaya dan tinggal di rumah Mami Dewi yang tak lain kakaknya Bunda Devi. Suci pun menyalaminya dengan takzim yang dibalas usapan lembut di bahu Suci.


"Kalian kapan mau ke Surabaya? Mami tunggu!"


"Iya Nico, Suci. Kalian honeymoon di Bali aja ya." Jimmy, suami Anita ikut menimpali.


Nico merengkuh bahu Suci. Keduanya masih berdiri karena kursi makan terisi penuh.


"Nanti kita jadwalkan deh. Saat ini kita mau honeymoon ke Italia, minggu depan." jawab Nico mewakili Suci yang hanya tersenyum menanggapi undangan mereka.


"Kenapa gak berangkat kamis aja? Kan pas long weekend." Anita yang sedang mengupas jeruk sedikit heran dengan waktu yang dipilih Nico.


"Nico ada tugas kantor yang tidak bisa diwakilkan. Gak masalah tidak pergi saat long weekend juga." Ayah Hendro yang sedari tadi jadi pendengar, kini ikut bersuara.


"Tuh, udah dijawab Ayah," sahut Nico tanpa melepas tangannya dari memeluk bahu sang istri.


****

__ADS_1


Menjelang sore, Suci menemani Naura bermain di teras belakang yang menghadap kolam renang dan taman asri yang tertata rapih. Mereka sedang memainkan congklak yang dibeli secara online. Beberapa kali Naura berteriak karena kalah bermain, biji congklaknya jatuh di lobang yang kosong.


"Tante, aku haus. Mau ambil minum dulu ya!" Naura berlari masuk ke dalam rumah menuju dapur.


Mumpung Naura gak ada, Suci mengecek ponselnya. Ia senyum-senyum membaca komentar teman-temannya tentang foto pernikahannya yang di upload tadi pagi.


"Sejak kapan kenal dengan Nico?"


Suci terkejut dengan kedatangan Jimmy yang tiba-tiba dan duduk di kursinya Naura, hingga mereka duduk berhadapan.


"Eh, Mas Jimmy. Aku sampai kaget." Suci spontan memegang dadanya yang diikuti tatapan Jimmy yang mengarah pada tonjolan di dadanya. Buru-buru Suci menurunkan ujung kerudung yang tersampir di bahu sampai menjuntai ke bawah.


"Aku kenal Mas Nico dua bulan, saat kerja sebagai sekretarisnya." Jawab Suci seadanya. Ia menoleh ke arah pintu, berharap Naura segera datang.


"Kamu kok mau aja diajak buru-buru nikah. Kan belum mengenal sifat Nico bagaimana. Maksudku, pernikahan tak semanis masa pacaran lho. Setahun pertama usia pernikahan mungkin masih mesra dan romantis. Semakin ke sini akan terasa hambar dan membosankan." Jimmy berbicara setengah berbisik sambil mencondongkan wajahnya sampai ke tengah meja.


Apa dia sedang membicarakan kehidupan pernikahannya ...


Suci mengernyit. Ia perlahan memundurkan duduknya sampai mentok ke sandaran kursi. Gestur kakak iparnya membuatnya tak nyaman.


"Aku dan Mas Nico tidak pacaran. Kami memutuskan pacaran setelah menikah agar terhindar dari dosa. Doakan aja ya Mas Jimmy, agar rumah tangga kami sakinah dan berkah."


"Sayang--"


Suci menoleh ke asal suara. Ia tersenyum lega melihat suaminya berada di ambang pintu, berjalan mendekatinya.


"Kalian lagi main congklak?" Nico menatap Suci dan Jimmy silih berganti.


"Bukan, Mas. Aku mainnya sama Naura. Dia lagi ke dapur dulu ambil minum, lalu Papa nya datang . Belum lama kok." Suci menjelaskan apa adanya. Ia menangkap ketidaksukaan tersirat dari wajah suaminya itu. Entah kenapa.


"Aku ke dalam dulu. Silakan kalian kalau mau main congklak." Jimmy berdiri dan terkekeh. Ia menepuk bahu Nico saat melewatinya.


Nico meminta Suci menggeser duduknya agar bisa ikut duduk di sisinya.


"Sayang, jangan terlalu akrab dengan dia. Seperlunya aja ya!" Nico mengecup pipi Suci dan mengajaknya pergi dari sana.

__ADS_1


Ingin bertanya kenapa, tapi Nico keburu menarik tangannya mengajak naik ke atas menuju kamar mereka.


...------------ ...


__ADS_2