
Rumah mewah dua lantai, dengan warna cat coklat muda kombinasi putih mutiara tampak kokoh dengan dua pilar tinggi menyangga bangunan joglo di depannya. Pintu gerbang model kupu-kupu menjulang tunggi dan gagah, dengan penjagaan 2 security bergantian shift.
Rumah megah itu hanya dihuni tiga orang tuan rumah, ditambah dua asisten rumah tangga dan satu orang tukang kebun. Wajar, kalau rumah tersebut selalu bersih dan rapih, furniture nya serba mengkilap, serta tamannya asri dan terawat.
"Maaf Nyonya, Non Winda tidak mau makan. Sudah saya tawari berkali-kali juga--" Sumi, salah satu ART memberi laporan kepada Nyonya Siska yang sedang duduk santai di ruang keluarga. Majalah fashion nampak di pangkuannya, mungkin saja dia sedang melihat trend fashion terkini.
Nyonya Siska mendongakkan wajahnya, menatap kesal ke arah Sumi seolah sudah mengganggu waktu senggangnya. "Apa dia masih di kamar?"
"Iya, Nyonya."
"Ya sudah, nanti saya lihat ke atas." Dengan kode tepisan tangan dari sang nyonya, Sumi undur diri kembali ke dapur.
Dengan langkah anggun khas wanita kelas atas, nyonya Siska menapaki tangga demi tangga yang beralas karpet warna abu, menuju kamar anak semata wayangnya.
"Anak Mami kenapa lagi sih. Pengen beli apa hmm?" Nyonya Siska duduk si sisi ranjang, menatap anaknya yang mukanya kusut dengan tubuh masih berbalut selimut. Dia sudah faham, kalau Winda mogok seperti itu, ada kemauan yang belum terlaksana.
"Anak gadis gak boleh bermalas-malasan seperti ini. Ayo bangun, ini sudah siang." Nyonya Siska menarik selimut, tapi di tahan oleh Winda.
Winda bangun dari tidurnya , duduk bersila masih dengan bergelung selimut. "Mami, aku pengen nikah sama Nico." Winda merajuk dengan bibir dimanyunkan.
"Kamu sudah dekati dia kan? Gimana reaksinya?"
"Nico tidak menyukaiku, Mami. Dia kelihatannya suka sama sekretarisnya, tante Devi sepertinya ikut mendukung. Mami harus bantu aku---" Winda merajuk lagi, dan menggoyang-goyangkan lengan ibunya itu.
"Ya susah kalau dianya gak mau. Cari pria lain aja sayang, banyak yang lebih tampan dan kaya dari Nico." Nyonya Siska berusaha membujuk Winda.
"Nggak mau! Aku hanya mau Nico, TITIK! Kalau Mami gak bantuin, aku akan mogok makan!!"
Nyonya Siska menoleh ke arah pintu saat mendengar ada langkah kaki. "Papi, kebetulan. Nih anakmu mogok makan gara-gara pengen nikah sama Nico."
Pak Pras yang ikut duduk di sisi istrinya tampak mengernyit. "Siapa Nico?"
__ADS_1
"Nico anaknya Pak Hendro. Direktur Karya Utama Garmindo. Perusahaan kita kan punya kerjasama dengannya." Nyonya Siska mengingatkan suaminya dan menjelaskan keinginan Winda yang kini sedang mogok makan itu. Pak Pras manggut-manggut, dan tampak berpikir.
"Tenang aja. Papi akan lakukan apapun untuk kebahagiaan anak kesayangan Papi. Ayo sekarang kamu makan, besok Papi akan panggil Nico ke kantor." Pak Pras mengusap rambut anak manja kesayangannya itu. Membuat Winda berbinar, ia langsung melonjak memeluk kedua orangtuanya itu.
"Papi ada rencana apa?" Nyonya Siska bertanya setelah Winda keluar dari kamarnya.
"Pokoknya Mami dukung aja rencana Papi nanti---"
"Wati....aku mau makan!" Winda yang sudah duduk di kursi makan berteriak memanggil ART yang biasa melayaninya. Yang dipanggil datang dari arah dapur dengan tergopoh-gopoh.
"Nona mau makan sama apa?" Wati membuka semua tutup makanan yamg berderet di meja.
"Semua sudah ada di meja. Padahal tinggal ambil aja sendiri, itu punya tangan fungsinya buat apa. Dasar anak manja!" Wati menggerutu panjang. Tapi hanya mampu diucapkan dalam hati.
Di rumah megah ini, tak ada embel-embel mbak atau bibi atau mamang untuk memanggil para pekerjanya. Meskipun Sumi usianya di atas Nyonya Siska, ataupun Wati yang usianya di atas Winda, mereka hanya di panggil nama saja. Kentara, meski jaman modern sudah modern, perbedaan derajat atau kasta masih dijunjung tinggi di rumah ini.
"Wati, bilang sama Sumi buatin jus mangga sekarang!"
****
Minggu malam, Nico bersama Suci dan Candra sudah tiba di bandara Soetta. Sopir keluarga Nico sudah menunggu di tempat penjemputan. Dengan menggunakan Alphard hitam, ketiganya pulang meninggalkan bandara mengantar Suci san Candra terlebih dahulu.
"Mau mampir dulu, bro?" Candra menawarkan Nico saat sampai di depan rumah.
"Thanks, bro. Aku pulang saja. Sampai ketemu besok di kantor." Nico melambaikan tangan dan tersenyum lembut kepada Suci. Dia kembali naik ke mobil, tak sabar ingin segera bicara dengan orangtuanya.
"Jalan Pak!"
Sopir yang sudah bekerja selama 10 tahun itu mengangguk patuh. Ia memutar balik mobil mewah milik majikannya, pulang.
Pukul 10 malam Nico sampai di rumah. Suasana sudah sepi dengan lampu redup yang sudah dinyalakan, tv di ruang keluarga pun sudah mati.
__ADS_1
Nico menuju dapur untuk mengambil minum. "Bi, bunda sudah tidur ya?" tanya Nico. Selesai minum ia menghampiri bi Mumun yang sedang mencuci piring terakhir.
"Atos den, nembe pisan." (Sudah den, baru saja)
"Den Nico mau makan? Bibi hangatkan dulu ya sayurnya--"
"Nggak usah, bi. Aku sudah makan tadi di luar. Bibi istirahat saja sudah malam." Nico melarang Bi Mumun yang akan mengelap meja. Bibi pun menurut, pergi ke kamarnya yang letaknya dekat dengan dapur.
****
Suara telepon tepat jam 5 subuh membuat Nico menggeliat. Ia masih betah bergelung di balik selimut, mengabaikan suara dering ponsel yang pertama. Dering kedua kembali terdengar. Dengan mata yang enggan terbuka, Nico menyasar ponsel yang ia simpan di meja kecil sisi ranjangnya.
"Hallo." Dengan suara serak khas bangun tidur, tanpa melihat nama di layar, Nico menyapa dengan datar.
"Belum bangun ya?!"
Suara halus di sebrang, membuat Nico membuka mata seketika. Melihat nama pemanggil di layar ponselnya. "Sucita"
"Eh hai, aduh maaf aku nggak tau kalau kamu yang telpon. Ada apa, cantik?" Nico bangun diiringi menguap dua kali. Ia menyandarkan punggung di kepala ranjang king size nya.
"Mau ngingetin sholat subuh aja. Mas Nico sudah sholat?"
Senyum Nico mengembang lebar, merasa senang mendapat perhatian dari sang gadis pujaannya.
"Belum, cantik. Untung kamu telpon, kalau tidak, aku bisa kesiangan bangun. Jadi pengen cepet-cepet halalin kamu deh...biar selalu ada yang ngingetin." ujar Nico mulai aksi menggoda Suci.
"Ishh, modus. Ya udah cepetan sholat keburu terbit. Sudah dulu ya. Aku mau masak buat bekal makan siang. Mas Nico mau dibawain juga?" Tawar Suci di sebrang sana.
"Mau banget dong. Masakan calon istri selalu ngangenin." Nico tersenyum menaikkan kedua alisnya. Tanpa melihatpun ia bisa.membayangkan kalau Suci nya sedang tersipu.
Suci memilih mengakhiri telponnya.karena kalau terus diladenin tak akan selesai-selesai.
__ADS_1
Nico kembali membaringlan badannya, telentang dengan senyum pancaran bahagia . Pandangannya menatap plafon kamar, tapi pikirannya menembus keluar menuju langit bebas. Pikirnya, dua langkah lagi dirinya akan segera memiliki Suci seutuhnya.