
Dan.......
Hap
.
.
.
"Yeay. Mas yang dapat buket bunga, silakan naik kemari untuk memberikan prakata kepada kedua mempelai." Bung MC melambaikan tangan kepada seorang pria yang tersenyum lebar sambil mengacungkan buket bunga yang didapatnya.
Dengan langkah pasti penuh percaya diri, ia naik ke atas panggung pelaminan bergabung dengan MC dan juga sang pengantin.
Nico melakukan adu tos dengan si pemegang buket, keduanya tertawa senang.
"Mas, perkenalkan namanya siapa dan apa harapannya untuk kedua mempelai?" ujar Bung MC sambil memberikan sebuah mic.
"Saya Malik. Untuk My brother Nico dan Mbak Suci, selamat menempuh hidup baru, semoga rukun dan bahagia selalu dan semoga rumahtangganya diberkahi Allah." ucap Malik singkat dan padat. Ia memberikan mic nya kepada bung MC namun ditahan oleh Nico agar jangan dulu turun.
"Bilang dulu bunganya buat siapa?!" Nico menggoda Malik yang langsung mendelik karena karena sahabatnya itu berani menggodanya di depan banyak orang.
"Ayo Mas, dijawab dulu bunganya buat siapa, baru boleh turun." Bung MC ikut mengompori agar Malik mau bicara.
Malik mengusap dahinya yang tiba-tiba berpeluh karena grogi yang melanda. Bagaimana tidak grogi, ia masih tahap pendekatan kepada sang gadis. Ia belum membuat pernyataan cinta. Sekarang Nico malah menodongnya di depan umum.
"Bunga ini aku persembahkan untuk seseorang berinisial 'R' yang sudah berhasil membuatku insomnia disetiap malam. Karena wajahnya selalu terbayang dipelupuk mata dan mengganggu pikiran. Meski kata cinta belum terucap, tapi percayalah semua perhatianku sudah mewakili tentang perasaanku padamu." Malik menganggukan kepalanya dan bergegas turun. Tidak mempedulikan Nico yang memanggilnya lagi. Karena pasti Nico akan mengerjainya lagi.
Gadis berinisial R yang tak lain adalah Rahma, hanya tersenyum mesem saat Malik turun dan menghampirinya, menyerahkan buket bunga padanya. Rahma tak bisa menyembunyikan rona di kedua pipinya, apalagi sang pembawa acara ikut menggodanya dari atas pelaminan.
"Uucnhh so sweet....andaikan pangeranku romantis seperti itu, aku gak yakin bisa berdiri tegak deh...baper!" Salma menggigit bibir bawahnya dengann kedua tangan saling bertaut di depan dada.
Candra yang mendengar jelas ucapan Salma, tersenyum tipis. Senyum penuh arti, hanya dirinya yang tahu.
"Padahal aku pengen banget dapet buketnya biar cepet nikah, eh lemparannya malah ke pinggir." Salma mengerucutkan bibirnya karena kecewa.
"Itu kan cuma mitos, jangan dipercaya. Gak perlu nunggu dapat lemparan bunga kalau pengen cepet nikah. Nanti juga keinginanmu akan terkabul."
Salma mengerutkan kening, ingin bertanya lagi tapi ada relasi perusahaan yang datang menyalami Candra dan mereka berbincang-bincang.
.
.
__ADS_1
.
Pesta masih berlangsung. Penyanyi terkenal ibukota mulai tampil di sesi terakhir membawakan lagu-lagu cinta yang romantis.
Izinkan ku lukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
Biar kulukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
Candra mencuri-curi pandang wanita yang berdiri di sisinya sedang bernyanyi ceria mengikuti penyanyi yang membawakan alunan lagu du atas panggung musik.
Kehadiran artis ibukota tak membuatnya terpesona. Ia lebih terhipnotis menatap sosok baru seorang Salma, yang kini bersinar cantik dengan gaun ungu yang tampak fokus meresapi lirik 'Melukis Senja'.
"Bang Can, kok di sini terus? Harusnya di atas--" Salma menunjuk dengan ekor matanya ke arah pelaminan yang masih ramai dengan tamu yang bersalaman.
Apa dia tahu kalau dari tadi aku menatapnya.
Candra mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, berusaha terlihat normal.
"Tapi kalau aku tinggal, kasihan kamu gak ada temannya."
"Kata siapa? Banyak yang aku kenal di sini. Tapi karena ada Bang Can, mereka segan mendekatiku. Takut Boss Candra galak." Salma terkikik mengingat karyawan di kantor memberi julukan 'Si ganteng killer' terhadap atasannya itu karena irit bicara. Tapi Salma justru senang, karena merasa dia menang banyak bisa mengagumi Candra seorang diri.
"Kata siapa aku galak? Kamu ngarang ya?" Candra menyipitkan matanya menatap Salma yang masih senyum-senyum.
"Abang mah mana tahu. Di kantor, Bang Can itu dapat julukan 'Si ganteng Killer'. Soalnya bossku ini irit bicara, irit senyum. Tapi menurutku sih bagus, biar ga ada cewek-cewek yang tebar pesona."
"Kamu cemburu?" Candra tersenyum menaikan kedua alisnya.
"Eh. Bu-bukan cemburu. Maksudku, Bang Can itu barang langka, jadi harus dapat pasangannya yang ideal. Aku yakin calon istri Bang Can yang di Tasik itu sangat ideal." Meski ada rasa sedih di hati, tapi Salma tulus mengucapkannya. Ia pernah sekali saat di Bekasi, sepintas melihat wallpaper di ponsel Candra yang menampilkan foto wanita berhijab yang tersenyum lembut, keibuan. Ia yakin, wanita itu calon istri bossnya itu.
Candra hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Salma. Ia membiarkan Salma dengan pemikirannya sendiri.
__ADS_1
"Wah, kamu harus diberi SP! Menyamakan aku sama peninggalan zaman purba." Candra seolah ingin menjitak Salma yang terkekeh sambil meminta maaf, hanya becanda katanya.
"Aku mau ke atas lagi. Tapi kamu jangan dulu pulang. Nanti aku antar!"
"Tapi--"
"Tidak ada penolakan!" Candra memotong pembicaraan Salma. Ia pun berlalu, kembali naik ke pelaminan. Hanya aroma parfum yang tertingal dari tubuh kekar berbalut jas hitam yang kini sudah mendampingi Umi kembali.
Ah, wanginya aja membuai apalagi jika..... Astagfirullah, Salma eling!
Salma menepuk keningnya sendiri. Ia segera berbaur dengan teman-teman yang lain daripada timbul lagi pikiran yang tidak-tidak.
****
Sesuai janjinya, Candra mengantar Salma pulang 30 menit sebelum acara berakhir. Hanya memakai kemeja putih yang dilipat tangannya sampai siku, tampilan Candra makin terlihat macho dengan tonjolan otot di lengannya.
"Bang Can, makasih ya." Salma memecah kesunyian perjalanan yang sebentar lagi tiba di kosan.
"Untuk?" Candra menoleh sekejap dengan dahi mengkerut. Tangannya menggenggam erat stir kemudi dengan fokus tetap mengarah ke jalan yang dilaluinya.
Salma tak lantas melanjutkan bicaranya. Menunggu dulu mobil yang sebentar lagi akan berhenti.
"Salma, kamu mau bicara apa?" Candra memilih mematikan mesin mobil usai tiba di depan kosan. Ia memiringkan badannya menatap Salma yang pandangannya lurus ke depan.
"Aku mau ngucapin makasih banyak. Pembicaraan kita tempo hari, lebih tepatnya nasehat Bang Can soal jodoh, aku memilih menjadi Fatimah. Dan karena itu hatiku terbuka untuk hijrah, menutup aurat. Aku tahu dari dulu, sejak sekolah di madrasah banwa jika sudah baligh wajib menutup aurat. bahkan Bapak berkali-kali mengingatkanku akan hal itu. Tapi aku memilih nanti dan nanti. Eh justru hidayah datang lewat Bang Can. Aku ingin memantaskan diri sebelum menikah, dengan mulai berhijab. Terlepas siapapun nanti jodohku." Salma menolehkan wajahnya, sampai kedua mata beradu tatap karena Candra tak melepaskan pandangannya selama Salma bicara.
"Apa kamu tidak lagi mengejar si bodoh?" Candra tersenyum tipis, namun Salma memilih menundukkan wajahnya. Jantungnya tidak kuat. Serasa mau loncat mendapat tatapan lembut dari sepasang mata teduh itu.
"Aku memlilih menjadi Fatimah. Namun berpasrah pada kehendak Allah. Ah sudahlah, makasih ya Bang udah repot-repot mengantar aku." Salma segera turun dari mobil, berlama-lama mendapat tatapan pangeran impiannya itu membuat kerja jantung terus meningkat.
"Salma, tunggu!" Candra membuka kacanya usai Salma menutup pintu mobil.
"Iya, Bang?" Salma sedikit membungkukkan badannya untuk melihat ke arah dalam.
"Kamu semakin cantik dengan berhijab. Tetaplah seperti itu. Assalamualaikum--" Candra mengulas senyuman manis. Mobil melaju perlahan meninggalkan Salma yang berdiri terpaku di tempatnya. Ia merasa kakinya tak lagi berpijak di bumi. Serasa melayang di angkasa mendapat pujian dari pria pujaannya itu.
Dari mobil yang melaju pelan, senyum Candra mengembang menatap spion yang memantulkan sosok wanita anggun yang masih termangu belum beranjak.
"Waalaikumsalam--" Jawabnya lirih. Kesadaran Salma kembali ke bumi, saat mobil tak lagi terlihat.
...------...
Hanya satu orang yang tebakannya benar, kalau bukan Salma ataupun Bang Can yg dapat bunga 😁😁
__ADS_1
Maafkeun aku telat up karena sibuk ini itu. InsyaAllah sesion 1 akan segera berakhir. So, pantengin terus 😍
follw ig @me_niadar