
I'm yours ( aku milikmu)
Jakarta
Nico merebahkan diri di atas ranjang king size kamarnya. Tangannya terulur ke samping, merabanya. Ah, ternyata kosong.
Ia terbiasa tidur bersama si cantik Suci, istri yang sangat dicintainya. Kini, sudah tiga malam ia tidur sendiri. Sangat terasa ada sesuatu yang kurang.
Nico berguling meraih ponsel yang tersimpan di table lamp. Dahinya mengernyit. Tumben Suci tidak langsung membalas chatnya, hanya di read.
Nico memilih bangun dan duduk sila. Ia beralih memghubungi sang istri. Tut nada tersambung terdengar namun tidak juga diangkat. Nico mencoba mengulang sampai tiga kali, namun hasilnya sama.
Suci lagi apa ya?
Nico bergumam dalam keheranan.
Ia beralih menghubungi Bunda. Mungkin saja sang istri lagi bersama Bunda dan ponselnya disimpan di kamar. Nico mencoba positive thinking.
Nico mendesah. Menghubungi Bunda juga sama-sama susah, gak diangkat.
Solusi lain, ia menghubungi Sony.
"Hallo, Iko--"
Nico bernafas lega begitu Oniw, nama gaulnya Sony, menyahut.
"Oniw, Bunda sama bini gue lagi ngapain? Kenapa ditelepon gak diangkat?"
"Tante Devi tadi gue liat lagi ngobrol-ngobrol di dalam. Suci barusan abis ngobrol sama gue, terus ke dapur mau ambil minum katanya. Tapi gak balik lagi."
Nico mengernyit mendengar jawaban dari sebrang sana.
"Emang lo lagi di mana? Ngobrol apa aja sama Suci?" Nico bertanya penuh selidik, perasaannya mendadak tidak enak.
"Gue ngomongiin lo dulu SMA di sini--"
"Apa lo ngomongin soal hubungan gue sama vita?" Nico memotong ucapan Sony dengan cepat.
"He eh," jawab Sony sambil nyengir kuda. Namun tentu saja tak terlihat oleh Nico.
"Arrgh bang sat lo, Oniw!" Emangnya gak ada topik lain selain ngomongin masa lalu gue. Maksudnya apa coba?! Pantesan Suci gak mau angkat telpon."
Nico berbicara sambil teriak dan memaki kakak sepupunya itu.
"Sorry. Gue gak ada maksud apa-apa. Itu kan cuma cerita masa lalu."
Entah polos atau bego alasan yang diberikan Sony. Andaikan dekat, Nico ingin sekali mencekik dan memakinya sampai puas.
"Iya menurutmu hanya 'cuma'. Elo harusnya peka dengan sikap cewek. Perempuan itu lebih mengedepankan perasaan daripada logika. Lo dengan entengnya nyeritain masa lalu gue. Mungkin Suci sekarang sakit hati. Semua gara-gara lo!"
Wajah Nico tampak memerah karena menahan marah. Ia menempelkan ponselnya ke telinga sambil jalan mondar mandir di kamarnya.
"Sorry." Suara di sebrang terdengar penuh penyesalan.
Nico melempar ponselnya ke atas kasur usai mendengar permintaan maaf dari sebrang.
Ia kini berkacak pinggang dengan kening mengkerut pertanda sedang berpikir keras mencari solusi.
****
Surabaya
Tok tok tok
__ADS_1
Terdengar ketukan di pintu kamar. Suci menggeliatkan badannya dan menajamkan pendengaran. Apakah suara ketukan itu di pintu kamarnya atau bukan.
Saat terdengar pintu kembali diketuk, ia baru turun dari ranjang dengan lunglai. Badannya terasa lelah dan tidak bergairah. Ia meraih kerudung instan yang tersampir di kursi.
"Eh, Bunda--" Suci menyapa mertuanya saat membuka pintu.
"Suci, kamu sakit?" Bunda mengernyit melihat wajah menantu yang tampak pucat.
Suci menggelengkan kepala. "Aku cuma ngantuk aja, Bun."
Suci pun mempersilakan Bunda masuk ke dalam namun ditolak Bunda karena mau istirahat juga.
"Bunda cuma mau bilang, besok pagi kita akan pulang ke Jakarta. Nico udah pesankan tiket buat kita. Padahal Bunda rencananya pulang hari ke tujuh. Tapi Nico keukeuh harus pulang besok. Dia udah telepon kamu tapi gak diangkat katanya." Bunda Devi menaikan alisnya karena melihat wajah Suci seolah tidak tahu apa-apa.
"Oh hp aku silent. Nanti aku telepon balik deh Bun."
"Ya sudah, Bunda ke kamar dulu. Kamu lanjutkan istirahatnya. Jangan lupa packing baju karena besok jam 7 kita berangkat ke bandara."
"Iya, Bun."
Pintu kembali ditutup dan dikuncinya usai Bunda pergi.
Suci menarik nafas dan menghembuskan dengan keras. Moodnya masih down. Ia meraih ponsel yang terletak di atas meja rias yang dalam mode senyap. Tak ada lagi miss call dari suaminya, hanya sebuah chat yang dikirim 30 menit yang lalu.
"Sayang, aku tunggu besok di Jakarta. Kangen berat istriku. Love you mywife 😘."
"Iya"
Suci hanya membalas singkat. Entah kenapa ia merasa malas mengetik panjang, tak seperti biasanya. Tapi dari lubuk hati yang paling dalam, ia pun sama merindukan sang suami.
Pagi menjelang.
Sony dan Bella menghampiri Suci yang berada di teras usai sarapan pagi bersama.
"Suci, aku minta maaf soal obrolan semalam. Soal cerita masa lalu Nico, aku memang bodoh gak peka dengan perasannmu. Tadinya aku pikir toh itu hanya cerita masa lalu dan cewek yang dimaksud sudah meninggal."
"Suci, aku juga udah omelin dia. Aku aja yang cuma denger ikut marah dong. Kalau dibalik, Nico yang ceritain masa lalu Sony, aku juga akan marah dan sakit hati. Maafin Sony ya Suci." Bella menatap penuh penyesalan akan kesalahan suaminya terhadap Suci.
Suci tersenyum lebar disusul anggukan kepala. "Aku udah gak bete kok. Emang sih tadi malam aku bete banget. Sekarang just fine (baik-baik saja)."
Sony dan Bella tersenyum lega.
Mami Dewi kembali menangis tersedu saat berpelukan dengan Bunda Devi yang akan pamit. Baru hari ke enam, luka karena rasa kehilangan masih menganga. Tentu hal manusiawi namun tentu tak boleh larut terus dalam kesedihan. Semoga waktu segera menyembuhkan.
Suci ikut memberikan semangat dan mendoakan Mami Dewi agat sehat selalu dan tabah.
Mobil yang dibawa Sony mengantar Bunda Devi dan Suci ke bandara, mulai meninggalkan pekarangan rumah. Bella pun ikut di dalamnya, mengantar sampai bandara Juanda.
****
Jakarta
Nico ke kantor hanya setengah hari. Ia tidak bisa fokus bekerja karena gelisah menanti kepulangan Suci. Ia kini berada di teras mondar mandir menunggu kedatangan sopir yang sedang menjemput ke bandara.
Senyumnya terkembang begitu security membukakan pintu gerbang. Jelas, itu adalah mobil yang menjemput Bunda dan istrinya. Mobil melaju pelan mengarah padanya.
Sudah tak sabar, begitu Suci turun dari mobil, Nico langsung menarik tangan sang istri, meraih tubuhnya ke dalam pelukan.
"Mas, malu ih." Suci yang kaget dengan tingkah Nico menjadi bercampur rona malu karena suaminya itu memeluk dengan erat di depan Bunda dan sopir yang sedang menurunkan koper dari bagasi mobil.
"Astagfirullah, Nico. Maen nyosor aja. Jadi lupa salim sama Bunda hm?" Bunda mendelik melihat kelakuan putranya itu. Sang sopir hanya mesem dengan memalingkan muka ke arah lain, pura-pura tidak lihat.
Nico sontak melepas pelukannya. Beralih mencium tangan Bundanya.
__ADS_1
"Bunda gak mabuk udara kan?" Nico tersenyum miring menatap ibunya itu.
Sontak Bunda menjewer telinga putranya itu yang telah meledeknya. "Dasar anak nakal."
Suci terkekeh. Kelakuan suami dan mertuanya itu mengingatkannya pada Umi yang suka digodanya pula.
.
.
Nico tidak memberi kesempatan Suci untuk bersantai di bawah. Ia sudah tidak sabar ingin membahas hal yang mengganggu tidurnya. Diabaikan sang istri tadi malam, membuatnya tidur tak nyenyak, makan tak enak.
"Sayang--" Nico kembali memeluk Suci dan menutup pintu kamar dengan kakinya. Ia menciumi seluruh wajah istrinya itu dengan segenap kerinduan.
Ada rasa asin dan basah menempel di bibir, membuat Nico menghentikan aktifitasnya.
"Sayang, kenapa nangis? Maafkan aku ya. Aku gak cerita soal masa lalu karena menurutku bukan hal penting. Karena aku gak mau lagi nengok ke belakang. Masa depanku adalah kamu, cantik." Nico menyeka air mata di pipi Suci. Bukannya berhenti, malah tambah berderai dan terisak.
Nico memeluk kembali, dan mengusap kepala sang istri yang berbalut hijab.
"Sayang, kalau marah, kalau sakit hati, bicaralah. Ayo lampiaskan sama aku. Jangan menangis begini. Air matamu terlalu berharga untuk aku." Nico beralih mengusap-ngusap punggung Suci.
"Aku gak marah. Aku gak tau juga kenapa tiba-tiba pengen nangis." Suci berkata dengan terisak di balik punggung suaminya itu.
"Mas Nico--"
"Iya sayang." Nico mendorong bahu Suci untuk melihat wajahnya. Namun Suci bertahan dengan posisinya.
"Kamu milikku kan?" Suci berkata tampak malu di balik punggung Nico.
"Yes, I'm yours!"
Nico mengernyit saat Suci beralih mengendus-mgendus ketiaknya.
"Sayang, apa aku bau? Bajuku masih bersih dan belum berkeringat kok." Nico ikut mengendus kemeja yang dipakainya.
Suci menggelengkan kepalanya.
"Aku suka kok, wanginya beda. Mas Nico ganti parfum ya?" Suci masih mengenduskan hidungnya sampai tubuh Nico terdorong ke dinding.
"Parfum yang sama kok." Nico heran, merasa ada yang aneh dengan istrinya itu yang kini bergelayut manja.
"Mas, aku ngantuk. Temani tidur ya!" Kali ini Suci tampak menutup mulutnya karena menguap.
Tumben. Biasanya gak suka tidur siang.
Meski pikirannya dipenuhi rasa heran, Nico menuruti ajakan istrinya itu.
Suci berganti dengan pakaian santai tanpa lengan dengan panjang diatas lutut, memperlihatkan kulitnya yang putih mulus.
Nico menelan saliva. Celananya menjadi sesak karena ada yang menggeliat di bawah.
"Peluk--" Rengeknya manja, begitu merebahkan diri di atas ranjang.
"Sayang, aku jadi pengen--" pinta Nico yang kini memeluk istrinya yang tidur terlentang.
"Jangan sekarang. Aku ngantuk dan pusing." Suci menjawab dengan mata terpejam.
Nico mengalah. Ia merasa tidak tega melihat istrinya yang menurutnya kelelahan.
Tidak lama, Suci sudah terlelap dengan nafas yang teratur.
"Kamu hari ini jadi manja dan melankolis, sayang. Tapi aku suka," ujar Nico lirih. Ia mencium keningnya perlahan, lalu beringsut turun dan membuka selimut yang terlipat untuk menutupi kaki istrinya itu sampai ke dada. Ia tak rela, walau seekor nyamuk pun menyentuh kulit mulus istri cantiknya itu.
__ADS_1
"I'm yours."
Nico menoleh menatap ke tempat tidur, saat hendak beranjak menuju pintu. Kedua alisnya terangkat dan mengulas senyum mendengar istrinya mengigau.