MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Akal (2)


__ADS_3

"Pagi semua...nih aku bawain oleh-oleh Aceh buat kalian. Bagi-bagi ya!"


Suci yang baru tiba di kantor, langsung bergabung dengan staf marketing yang semuanya baru tiba bersamaan. Ia menyerahkan paper bag berisi makanan ringan oleh-oleh pulang kampung.


"Wuih benar-benar senin semangat kalau kayak gini mah. Thanks bu secan." Rere yang menerima paper bag tampak sumringah setelah melongok isi di dalamnya.


Rere mengeluarkan snack untuk di bagi-bagi. "Nih, Bay. Ada kopi Aceh, lo mau ngopi?"


Kehebohan lima orang yang berkumpul di meja Rere mendadak senyap. Nico yang baru tiba, mengehentikan langkahnya sejenak dan berdehem. Membuat Suci menoleh, melemparkan senyum manisnya kepada sosok pria gagah memakai kemeja hitam dipadu jas abu tua.


"Ayo!" ajak Nico dengan tatapan lembut. Ia tak lagi menyembunyikan perasaan dan perhatiannya di depan umum. Tanpa mempedulikan karyawan perempuan yang terpana melihat wajah tampan yang sedang mengulas senyum manis.


Suci melambaikan tangannya, pamit kepada teman divisinya.


Dina dan Rere saling pandang dan menggigit bibir sepeninggal Nico dan Suci. "Unchh gue pengen ditatap kayak gitu dong." Rere menyilangkan tangannya di dada sambil memejamkan mata. Pemandangan tadi membuatnya ikut baper.


"Kalian udah liat sendiri kan. Fixed, gue menang." Bayu tersenyum membusungkan dada, dugaannya benar. Dia lalu menagih traktiran yang dijanjikan dari teman-temnnya.


****


"Ada apa, Yah?" Nico yang mendapat panggilan dari Yosef asisten ayahnya, kini sudah duduk di ruangan sang ayah.


"Barusan Pak Pras telpon ayah, minta kamu datang ke kantornya sekarang."


"Ayah tahu, Pak Pras mau bahas soal apa?" Nico mengkerutkan keningnya.


"Katanya ada tawaran bagus untukmu. Sebaiknya kamu temui saja dulu. Ayah tunggu kabar baiknya." Ayah Hendro menepuk bahu anak laki-laki satu-satunya itu. Lalu pergi bersama asistennya karena ada janji meeting.

__ADS_1


Nico melajukan mobilnya membelah padatnya lalu lintas ibukota. Ia akan pergi menuju PT. Prasetya Indonesia, perusahaan besar yang bergerak di bidang jasa Ekspor Impor, juga ekspedisi logistik dalam negeri. Tadinya ia ingi mengajak Suci untuk menemaninya, tapi pekerjaan di mejanya menumpuk banyak.


Untuk pertama kalinya Nico menginjakkan kaki di perusahaan besar milik orangtuanya Winda. Waktu penandatanganan MOU kontrak kerjasama, dulu dilakukan ayahnya dan Pak Pras di sebuah restoran. Dirinya hanya ikut menemani ayahnya dan sebagai saksi.


"Selamat datang Nico. Apa kabar?" Pak Pras menyambut Nico yang diantar masuk oleh sekretarisnya. Dengan senyum lebar dan uluran tangan pria setengah abad itu mempersilakan Nico duduk di sofa. Nico menanggapi basa basi Pak Pras dengan ramah dan sopan.


"Kamu mau minum apa?" tawar Pak Pras.


"Tidak usah repot-repot pak. Saya juga tidak akan lama di sini, masih banyak pekerjaan yang harus saya tuntaskan. Saya diundang ke sini ada apa ya Pak?" Nico memilih to the point pada inti permaksudan.


"Wah hebat kamu Nico. Masih muda tapi semangat bekerja, saya salut!" Pak Pras mengacungkan jempolnya, kagum.


"Hmm begini, saya berencana menambah investasi di perusahaan ayahmu. Dengar-dengar kamu mendapat kontrak dari perusahaan fashion olahraga Italia. Kalau kamu kurang dana, sebutkan saja angkanya, butuh berapa. Saya akan ikut investasi di proyek barumu."


Sambil berbicara, Psk Pras memindai dari atas sampai bawah penampilan dan gestur Nico yang tampak tenang.


"Pak Pras, untuk urusan itu lebih pasnya bicara dengan Ayah. Tugas saya hanya pelaksana kerja. Meskipun saya anaknya Pak Hendro, tapi di perusahaan tetap profesional, kerja sesuai jabatan." jelas Nico, yang membuat Pak Pras kehilangan kata untuk bicara. Padahal niatnya memberikan umpan supaya Nico tertarik dengan tawarannya jadi bisa bicara step selanjutnya.


Pak Pras melihat Nico yang tidak mau diajak bicara santai, malahan tampaknya ingin mengakhiri pembicaraan. "Oke-oke. Saya langsung pada pokok utama. Winda menyukaimu, dia menginginkanmu menjadi suaminya. Kalau kamu bersedia, saya akan angkat kamu menjadi direktur PT. Prasetya Logistik, yamg sudah memiliki 200 cabang ekspedisi seluruh Indonesia. Saya lihat kamu punya jiwa leadership yang kuat, jabatan itu cocok untukmu. Bagaimana Nico?"


Nico tersenyum miring mendapat tawaran yang tampak menggiurkan itu. Posisi direktur, yang hanya tinggal duduk manis di kursi kebesaran tanpa harus bekerja keras dulu dari bawah.


"Mohon maaf Pak Pras. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya menolak tawarannya. Saya punya perusahaan keluarga yang harus saya teruskan. Dan juga saya sudah punya calon istri!!" Dengan tegas dan percaya diri, Nico langsung memutus harapan Pak Pras. Hingga membuat darah ditubuh pria paruh baya itu mendidih karena marah.


Baru sekarang ada orang yang berani menolak keinginannya. Tangannya mengepal kuat menahan agar ia tak melampiaskan rasa marah terhadap tamunya itu.


"Baiklah Pak Pras, sepertinya saya harus pulang sekarang. Sudah selesaikan pembicaraannya?" Nico berdiri merapihkan jasnya yang sedikit kusut.

__ADS_1


Pak Pras ikut berdiri, kini dua pria beda generasi saling berhadapan dengan tatapan tajam. "Saya beri waktu kamu untuk berpikir lagi, jangan sampai menyesal nantinya."


Nico hanya menanggapi dengan uluran tangan, mengajak Pak Pras bersalaman. Selesai itu, dengan langkah lebar Nico berlalu meninggalkan ruangan direktuk Pras tanpa menoleh kembali ke belakang.


"Berani-beraninya dia menolak seorang PRASETYA. Lihat saja nanti!"


****


Di jam yang sama.


Seorang wanita berumur 48 tahun, dengan berpenampilan anggun dan fashionable, berdiri di depan meja resepsionis dengan wajah angkuh. "Antarkan saya ke ruangan Nico!" pintanya tanpa basa basi.


"Maaf ibu dengan siapa? Apakah sudah ada janji sebelumnya?" tanya salah satu petugas resepsionis dengan ramah.


"Katakan saja saya Nyonya Siska, mami nya Winda. Cepetan jangan lama, saya gerah berdiri di sini!" Masih dengan sikapnya yang ketus, ia mengipasi wajahnya yang mulai berkeringat.


Dengan sigap dan dongkol dalam hati, petugas memijit line telpon ruang marketing yang diterima Suci. Meski sudah dijelaskan jika Nico sedang ke luar kantor, Nyonya Sisca keukeuh minta diantar ke atas.


Di sinilah tamu itu sekarang. Nyonya Siska dan Suci berdiri saling berhadapan, yang satu tampak angkuh, yang muda anggun berhijab tampak tersenyum ramah.


"Silakan ibu duduk dulu, saya akan telpon Pak Nico." Dengan sopan Suci menunjuk ke arah sofa, tempat biasa menerima tamu.


"Enak saja panggil ibu, saya bukan ibumu. Panggil saya nyonya Siska!!" ralatnya, dengan mendelik dan ketus.


"Oh iya maaf, nyonya Siska silakan duduk." Dengan sabar dan senyum, kembali Suci meralat ucapannya.


"Tidak perlu telpon Nico, karena dia sedang bersama Winda, anak saya. Saya ke sini mau memperingatkan, jauhi Nico! Kamu bukan levelnya dia. Nico akan menikah dengan Winda. Mereka sangat serasi, sama-sama kelas atas. Kalau kamu mengabaikan, lihat nanti akibatnya!!"

__ADS_1


Tanpa diberi kesempatan menyanggah, wanita tua nan angkuh itu pergi meninggalkan Suci yang terpaku di tempatnya berdiri. Suara cempreng sang tamu dan hentakan sepatu brandednya telah mencuri perhatian karyawan satu ruangan.


"Suci, kamu nggak apa-apa?" Rere dan Dina yang segera menghampiri, mereka khawatir melihat Suci yang diam dan mengatupkan bibirnya. Meski berusaha ditutupi, genangan di mata indahnya tampak terlihat dan perlahan luruh tanpa mampu dicegah.


__ADS_2