
Suara kleneng tukang rujak petis yang biasa lewat depan toko, membuat Salma berbinar. Ia yang baru datang segera menuju roda yang mangkal sebentar di parkiran. Ia hanya memilih buah-buahan yang asam. Kedondong, mangga muda, jambu air.
"Teh, jam segini makan rujak. Gak salah?" Rahma mengernyit melihatnya mencowelkan mangga muda ke bumbu petis. Padahal masih jam 9 pagi.
"Lagi pengen. Ngiler banget tadi liatnya " Salma menjawab dengan mata yang berbinar saat rasa asam dan pedas menyatu di mulutnya. Membuat Rahma meringis.
"Kayak orang ngidam. Jangan-jangan hamil."
Sontak, ucapan Rahma membuatnya menyimpan lagi kedondong yang sudah ditusuknya. Berpikir sejenak. Ia lalu membuka aplikasi kalender saya di ponselnya untuk mengecek jadwal haid.
"Ehh, apa iya aku hamil?!" Ia tampak semringah menatap layar ponsel yang memperlihatkan sebaris kalimat. Telat haid 21 hari.
Rahma yang penasaran ikut melongok layar ponselnya dan tersenyum lebar. "Wah, keponakanku bakal nambah. Teh, ayo pastiin. Aku akan beli tespek."
Tanpa bisa dicegah, Rahma segera beranjak turun dari lantai 2 tempatnya mengelola administrasi. Beruntung ada apotek di samping toko sehingga tak lama Rahma sudah kembali.
"Ayo cek, teh Salma!" Rahma begitu antusias menyerahkan tiga tespek dengan merk berbeda.
Meski aturannya sebaiknya dicek pagi hari, tapi Salma pun penasaran ingin segera tahu hasilnya. Dengan rasa deg-degan ia pun masuk ke kamar mandi.
Ia dan Rahma saling berpelukan saat tiga tespek menunjukkan hasil yang sama, dua garis merah. Ucap syukur dan tawa bahagia membahana. Rahma begitu heboh mengucapkan selamat.
Bersama Rahma, ia memutuskan pergi ke rumah sakit untuk memastikan lagi. Dan tercetuslah ide nge prank suaminya begitu ia mendapatkan surat keterangan hamil.
"Neng, ka - kamu hamil?!"
Itulah kalimat pertama yang diucapkan Candra begitu membaca isi amplop berwarna putih, dengan mata membulat.
Salma mengangguk dan menahan senyum karena merasa lucu melihat ekspresi sang suami yang menganga dengan mata membulat.
Candra sontak memeluknya erat dan mencium wajahnya bertubi-tubi sambil berucap syukur.
"Ya Allah, Neng Salmaaaaaa.....jadi kamu ngeprank Abang hahh?!" Candra merangkum wajahnya dengan mimik gemas.
Salma mengangguk dan terkikik dengan mengangkat dua jarinya membentuk simbol victory. Peace.
"Kamu bikin Abang jantungan. Isshh, dasar ya...." Candra geleng-geleng kepala sambil menggerutu karena sudah dibuat kesal dan harus menahan marah telah dituduh berbuat salah.
"Aktingku hebat kan, Bang?" Salma menaik turunkan alisnya dengan senyuman yang lebar.
"Ishh, kamu tuh ya...." Candra masih tampak gregetan sambil memencet hidung istrinya itu dengan gemas.
Namun tawa cekikikannya terhenti karena Candra mema gut bibirnya, melampiaskan berbagai rasa yang membuncah di dada melalui ciuman yang menggelora.
Kedua kening beradu dengan tarikan nafas yang tak beraturan. Salma mengusap bibirnya yang basah dan sedikit bengkak karena Candra menggigit bibir bawahnya dengan gemas.
"Aku akan sering 'berbuat salah' lagi. Tapi dalam misi menengok bukan lagi menanam."
Ia yang kini bersandar dalam pelukan Candra, mencubit dada suaminya itu sampai terdengar mengaduh.
"Sayang, jalan lagi yuk. Kita cari masjid dan jangan lupa sujud syukur." Candra mengecup lama keningnya.
Salma mengangguk setuju tanpa kata. Karena ia sangat terharu dengan reaksi Candra yang tampak bahagia. Hal itu jelas terpancar lewat dekapan yang erat dan ciuman yang lama.
__ADS_1
Usai sholat magrib, Salma duduk di selasar masjid menunggu Candra yang sedang ke toilet. Bibirnya masih mengulum senyum membayangkan aktingnya tadi. Setiap ia memalingkan muka ke arah jendela samping, sebenarnya untuk menyembunyikan senyum. Melihat Candra yang melongo dan mengkerut karena dituduh selingkuh, membuat ia menahan tawa. Karena takut gagal ngeprank makanya memilih memalingkan muka.
"Hayoh ngebayangin apa?"
Suara Candra yang tiba-tiba sudah ada di sisinya, membuat Salma terjengit. Ia hanya menggeleng sambil cengengesan.
"Kita pulang, Bang?"
"Beli makanan dulu buat orang rumah. Hitung-hitung syukuran."
Ia mengacungkan dua jempolnya dengan semangat.
Candra menggenggam tangannya menuju parkiran.
"Ada request khusus nggak?"
"Kan bumil suka ngidam aneh-aneh."
Salma tersenyum lebar. Senang sekali mendapat perhatian dari sang suami idamannya itu.
"Aku mau kerak telor. Pakai telor ayam 1, telor bebek 1 ya, Bang."
"Siap, Neng. Ayo kita cari!"
"Mana mungkin aku beneran menuduhmu selingkuh. Butuh perjuangan lama untuk bisa mendapatkan hatimu." Ia senyum-senyum sendiri sambil bertopang dagu memperhatikan suaminya dari dalam mobil.
Candra sedang berjongkok membantu penjual Kerak Telor mengipasi arang agar tetap membara. Butuh waktu 20 menit berkeliling mencari penjual kerak telor itu. Hingga akhirnya ditemukan satu penjual sedang mangkal di trotoar depan sebuah masjid.
Umi tengah berada di ruang keluarga bersama Suci dan Nico, mendengarkan menantunya yang menyampaikan rencana pindah ke Bandung. Nico bilang keinginan tinggal di Bandung itu sudah lama, sejak awal menikah dan sudah punya bisnis sendiri di sana. Namun karena Ayah Hendro menginginkan meneruskan perusahaan dan harus tinggal di rumah besar, maka keinginanya itu tertahan dulu.
"Umi, sepertinya sekarang udah saatnya pindah."
"Ayah dan Bunda tidak akan kesepian. Karena ada mbak Nita dan Naura. Katanya lusa pulang ke Jakarta."
"Aku investasi properti, Umi. Ada 4 unit rumah, 2 ruko. Setiap terjual, aku belikan lagi unit baru. Cuma ngambil labanya aja. Seperti itu terus. Jadi jumlahnya tetap, hanya beda komplek. Biar nanti Suci yang milih, cocoknya rumah yang mana."
"Umi ikut tinggal bareng kita ya! Rumahnya besar."
Umi manggut-manggut mendengar penuturan menantunya itu. Ia beralih menatap Suci yang kini tampak berangsur ceria seperti semula.
"Suci, mau tinggal di Bandung?"
"Aku akan ikut kemana pun Mas Nico ajak, Umi."
"Memang seharusnya seperti itu. Kamu harus nurut sama suami...." Ia urung melanjutkan ucapannya karena Candra dan Salma datang sambil mengucap salam.
"Hmm....bawa apaan? Wanginya enak kayaknya...." usai menjawab salam, Suci memperhatikan abangnya yang membawa dua kantong plastik dan juga Salma membawa satu kantong.
"Pas banget lagi ngumpul." Candra tidak menjawab pertanyaan Suci tapi memilih duduk di sofa yang kosong bersama Salma.
"Ada kabar bahagia. Salma hamil...." ujar Candra dengan senyumnya yang lebar sambil merangkum bahu Salma dengan binar ceria.
"Alhamdulillah...." Umi mengusap wajahnya, penuh rasa syukur.
__ADS_1
"Alhamdulillah, teh. Selamat...." Suci mendekat. Keduanya saling berpelukan penuh sukacita.
"Selamat, Bang... " Nico adu tos dengan Candra.
Umi menatap anak-anak dengan senyum kedamaian. Kehidupan rumah tangga anak-anaknya yang sakinah, itu sudah menjadi harta yang tak ternilai.
"Ini Salma ngidam Kerak Telor. Aku beli sekalian banyak..." Candra membaginya satu-satu. Tidak hanya itu, Salma pun membuka bungkusan lain. Ada buah-buahan dan 5 cup Es Doger.
"Umi jadi kan nanti ikut aku?" Suci melanjutkan pembahasan yang tadi terpotong sambil menikmati kerak telornya.
"Ikut ke mana?" Candra menimpali dengan kening mengkerut.
Umi baru saja membuka mulut untuk menjawab, kini giliran Nico menyahut.
"InsyaAllah, aku sama Suci mau pindah ke Bandung. Suasana baru...."
"Cuma waktunya belum pasti. Ini baru prapare. Aku akan selesaikan dulu tanggung jawab di kantor."
"Wah-wah...kamu mau ninggalin kantor? Beneran tega?" Candra membulatkan matanya. Kaget.
"Nanti biar mbak Nita gabung. Lagian ada kamu, Bang. Aku percaya." Nico mengangkat tangan dengan jari terkepal. Memberi semangat.
"Kejauhan, Suci. Kenapa gak beli rumah di Jakarta aja sih?" Salma menggeleng tak setuju. Kerak telor kedua sudah masuk ke mulutnya.
Suci meringis. "Kan suasana baru, teh. Kalau kangen, kita bisa saling kunjung."
"Lagian Jakarta-Bandung cuma 3 jam. Nggak terlalu jauh." Nico menyahut lagi.
"Umi, gimana?" Suci berpindah duduk di sisinya.
"Umi di sini sama Abang." Candra ikut berpindah duduk di sisi kirinya.
"Nggak, Bang. Umi ikut aku. Ya kan Umi?"
"Umi tetap di sini. Ke Bandung kalau liburan aja."
"Sudah-sudah." Umi melerai kedua anaknya yang terus ngotot memperbutkannya.
"Biar adil, di Aceh aja."
"Jangan, Umi." Suci dan Candra kompak menjawab dan menatapnya sambil menggeleng tak setuju.
Umi terkekeh dan kemudian tersedak karena baru aja menelan tape singkong isian es doger.
"Umi, minum." Salma dengan sigap memberikan segelas air putih miliknya, yang tersimpan di meja.
Umi menghela nafas panjang. Kedua anaknya menunggu jawaban. Kedua menantunya pun menatapnya penasaran.
"Biar adil, gilran aja." Ia memutuskan jalan tengah.
...****...
Kerak telor adalah makanan khas Betawi. Terbuat dari beras dan telur ayam atau bebek, yang disatukan dan dimasak diatas kuali kecil dan kayu bakar serta diatasnya ditaburi serundeng.
__ADS_1