MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Kejutan Dari Ayah


__ADS_3

Pagi hari dibuka dengan sarapan berita yang menghebohkan, viral di berbagai media. Bersama Ayah dan Bunda, Nico dan Suci menonton chanel berita tentang penangkapan asisten Pras tengah malam tadi yang akhirnya menyeret sang boss Prasetya sebagai pemeran utama pelaku penyuapan.


Tampak di layar kaca yang ditayangkan secara live, proses penjemputan Prasetya di rumah mewahnya. Dengan wajah tertunduk dan tangan terborgol, Pras berjalan dikawal dua anggota Polisi menuju mobil yang sudah terparkir di halaman. Istri dan anaknya tidak tampak di layar kamera wartawan. Karena sekeluarnya sang tersangka dari dalam rumah, pintu rumah langsung tertutup rapat.


Tak hanya berita soal penangkapan. Rekaman penggerebekan dirinya sedang indehoy di kosan juga menjadi trending topik yang saling terkait dengan berita kasus suapnya. Kebusukan dan kebejatan akhlaknya terbongkar hanya dalam waktu 24 jam dan heboh menjadi santapan berita nasional.


"Kesombongannya telah mengantarkan mereka pada kehancuran." Ayah Hendro mengakhiri acara nonton TV nya. Sudah jelas sekarang, hukuman penjara siap menanti mereka yang terlibat suap menyuap.


"Kasihan juga ya, Siska dan Winda kena imbasnya. Harus menanggung aib dan hukuman sosial dari masyarakat." Bunda Devi yang duduk di sisi Ayah ikut mengomentari.


"Biar jadi pelajaran juga buat mereka, Bun. Kaya harta tak seharusnya menjadi sombong. Segala keinginannya harus dituruti. Apalagi suka merendahkan orang lain gitu. Moga aja mereka insaf." Nico tak ketinggalan ikut menyahut. Perasaannya sekarang sudah lega. Meski semalam kurang tidur, tapi terobati dengan berita pagi ini.


.


.


.


"Gimana keadaannya Winda ya sekarang? Mengetahui dua fakta bertubi-tubi soal keburukan Ayahnya." Suci menatap Nico dari pantulan cermin. Dirinya sedang merapihkan hijab voal yang dikenakannya. Namun pikirannya masih terpaut dengan berita viral saat ini.


Nico mendekat. Memeluk Suci dari belakang, dengan dagu yang bertumpu di bahu sang istri. "Itu hukuman nyata di dunia. Buah dari apa yang ditanam. Sekarang jangan lagi membahas soal mereka. Kita bahas resepsi kita. Mau kapan hm? Nico mengecup pipi halus Suci yang hanya tersapu bedak tipis.


"Ho ho ho, Mas Nico udah gak sabar ya. Aku sih terserah aja tapi jangan mendadak juga. Keluarga di Aceh butuh persiapan finansial untuk bisa datang." Suci meledek Nico dengan memencet hidung suaminya itu.


Nico balik menggigit gemas bahu Suci. "Iya dong. Aku sudah gak sabar pengen menggandeng permaesuriku yang cantik dan soleha ini menuju singgasana pelaminan. Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan semua orang. Ingin mengumumkan, kalau aku adalah pria beruntung yang mendapatkan wanita luar biasa sepertimu."


Suci melepaskan tangan Nico yang membelit perutnya. Ia meraih tas yang tersimpan di atas meja rias, menyampirkannya di bahu. "Sudah ah, ayo berangkat. Dari tadi muji terus. Bisa-bisa hidungku terbang ke angkasa menembus plafon kamar."


Nico tergelak mendengar jawaban Suci. Keduanya bergenggaman tangan menuruni tangga. Mereka mencari Bunda untuk pamit kerja, namun dicari dan dipanggil-panggil tidak ada.


"Bi, lihat Bunda nggak?" Suci menghampiri Bi Mumun yang sedang menyapu lantai ruang tamu.


"Nyonya sudah berangkat barusan sama Tuan, Non Suci." Bi Mumun menunjukkan mobil yang perlahan baru keluar dari gerbang.


Suci menghampiri kembali suaminya yang menunggu di ruang keluarga. "Bunda ikut dengan Ayah, Mas."


Nico mengerutkan keningnya. Tumben.

__ADS_1


****


Sepanjang jalan menuju kantor senyum semringah menghiasi sepasang pengantin baru. Keduanya mengisi waktu perjalanan dengan canda tawa. Seolah hari ini adalah yang sebenarnya hidup baru. Karena mereka tak perlu lagi menyembunyikan statusnya, mulai hari ini.


Mobil tiba di depan lobi. Nico dan Suci tersenyum saling menatap penuh arti.


"Tak akan turun duluan lagi kan?" Nico menaikkan alisnya.


"Iya boss Nico."


Dan keduanya pun tertawa. Kini Suci tak perlu lagi menunggu Candra yang akan menemani masuk ke dalam. Abangnya itu sudah menelpon Suci meminta konfirmasi mengenai berita yang ia baca di media sosial.


Nico menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas yang khusus melayani direktur dan keluarganya. Ia menggenggam tangan Suci yang berdiri menunggunya di samping pintu mobil.


Dua sejoli melangkah pasti memasuki lobi dengan tangan yang tak lepas dari genggaman serta senyum yang ditebarkan. Gestur mereka membuat gaduh para karyawan yang berpapasan. Puluhan pasang mata menatap dengan raut kaget. Ada juga yang memuji sebagai pasangan serasi, tak sedikit yang patah hati menimpa para pria dan wanita karena pujaannya sepertinya sudah jadian.


Tatapan melongo dan menganga juga nampak di wajah-wajah staf marketing saat Nico dan Suci melewati mereka. Kecuali Bayu yang tampak santai namun tersenyum penuh kemenangan.


"Cepet woi traktirannya cairkan! Gue udah menang." Bayu menengadahkan telapak tangan mengitari teman-temannya.


"Auhhh Babang Nico beneran jadian sama Suci. Gue patah hati. Hiks." Rere mendramatisir dengan pura-pura menangis tak menanggapi soal taruhan.


"Ah lo jangan becanda, Bay. Kalau baru jadian gue percaya." Dini mendelik ke arah Bayu. Dikiranya temannya itu hanya mengarang.


"Gua serius, brosis. Mereka udah nikah tapi baru akad. Resepsinya segera menyusul. Kita akan makan enak pokoknya."


"Lo tahu dari mana, Bay?" giliran Rinto mengeluarkan suaranya.


"Ada deh. Pokoknya hari ini elo pada, harus bayar lunas traktirannya."


"Okay." Serempak ketiganya menyanggupi.


****


Semua karyawan dipanggil ke ruang rapat. Karena kursi yang terbatas, sebagian dari mereka berdiri berjajar rapih. Pemberitahuan briefing mendadak ini membuat semuanya heran, saling bertanya, ada apa direktur mengumpulkan semua manager dan para staf.


Suasana riuh mendadak senyap saat Yosef, sang asisten direktur masuk. Ia menginstruksikan semuanya untuk tenang dan tertib. Nico dan Suci yang mendapat kursi duduk pun saling saling menatap heran. Di rumah, Ayah tidak membahas sama sekali soal pekerjaan.

__ADS_1


Direktur didampingi istrinya masuk ke dalam ruang rapat. Membuat Nico semakin heran, tumben Bundanya ikut serta dalam pertemuan membahas pekerjaan.


Setelah berucap salam dan menyapa seluruh karyawan, Ayah Hendro mulai masuk ke dalam pokok pembahasan.


Ayah meminta Nico dan Suci ikut berdiri di sampingnya.


"Sengaja saya kumpulkan seluruh karyawan di sini untuk memberitahukan tentang kabar bahagia. Anak saya yang bernama Nico Malviano telah resmi menikah dengan Sucita Yasmin. Silakan semuanya lihat ke layar."


Layar proyektor menampilkan foto-foto saat berlangsungnya akad nikah Nico dan Suci. Yang bersangkutan kembali saling tatap, terkejut dengan kejutan yang dibuat oleh Ayah Hendro. Tak menyangka sang ayah akan mengumumkan secepat ini. Suci tersenyum malu mendapat suitan dari rekan-rekannya yang heboh.


"Dan untuk resepsinya akan diadakan 2 minggu lagi. Jangan menunggu undangan dari kami. Karena saat ini juga saya mengundang seluruh karyawan pusat untuk hadir pada waktunya." Suara tegas Ayah Hendro disambut tepuk tangan suka cita dari para hadirin.


.


.


.


Di ruang rapat yang tersisa hanya empat orang. Saat di depan para karyawan, Nico hanya diam mengikuti alur cerita sang Ayah.


"Yah kenapa tidak mengajak kami berunding dulu. Dua minggu lagi kan cepat. Kita belum persiapan apa-apa." Nico menatap gusar ayahnya yang duduk tenang bersama bunda.


"Kata siapa belum persiapan. Semuanya sudah diurus sama Bunda dan kakakmu tanpa kalian tahu. Kalian tinggal fitting baju dan kasih daftar nama yang akan diundang."


"Apa?!"


Nico kembali terkejut. Dirinya menatap Bunda, meminta penjelasan.


"Iya sayang. Sepulang dari Aceh, Bunda ngasih kabar kakakmu dan dia ngomel-ngomel karena dikasih kabar belakangan soal pernikahan kalian." bunda terkekeh karena mengingat kembali anak sulungnya yang protes saat itu.


"Ayah sama Bunda yakin, masalah kalian akan cepat beres. Makanya Bunda memutuskan merencanakan resepsi kalian. Untungnya Anita mau membantu membuatkan konsepnya. Kita komunikasi video call tiap hari." Bunda lanjut menjelaskan tentang persiapan apa saja yang dilakukan.


Akhirnya Nico dan Suci bisa bernafas lega. Keduanya mengucapkan terima kasih kepada Ayah dan Bunda yang sudah memperhatikan sampai sejauh itu.


Ayah berdiri, menepuk bahu Nico yang duduk di sisinya. "Nak, telapak tangan ini pernah menamparmu sebanyak tiga kali. Dan tamparan ketiga lah yang mampu menyadarkan kamu dari kesalahan. Ayah harap, jangan ada benci dan dendam di hatimu. Karena apa yang Ayah lakukan semata-mata karena Ayah menyayangi kamu, Nico." Ayah berkata dengan suara parau, mengingat tangan kananya oernah menyakiti pipi sang anak sampai memar.


Nico ikut berdiri. Kedua pria tampan beda generasi itu saling menatap. Nico memeluk sang ayah dengan erat. "Aku gak benci Ayah. Justru berterima kasih, tamparan Ayah membuat aku menjadi Nico yang baru. Hingga bisa mendapat pasangan hidup yang baik. Itu semua jasa Ayah. Makasih, Yah."

__ADS_1


Dua wanita yang menyaksikan adegan itu pun ikut berkaca-kaca, terharu.


__ADS_2