MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Lega


__ADS_3

PoV Nico


Aku hanya menunduk, tak ada daya untuk mencegah Suci pergi. Biarlah dia menenangkan diri dari keterkejutannya menerima fakta. Begini yah, pahitnya mengutarakan kejujuran.


"Kenapa diam aja. Aku mau pulang. Kasihan Rahma menunggu di mobil."


Aku yang mematung dan kelu melihat Suci yang memundurkan tubuhnya, jadi mengkerutkan kening. Merasa ambigu dengan ucapan Suci. Dia mau pergi tapi kenapa masih berdiri terus menatapku.


"Suci, jika kamu kecewa dan marah denganku tak apa. Tapi tolong maafkan aku dulu, aku ingin lepas dari rasa bersalah yang membelenggu."


Aku sudah pasrah dengan kemungkinan kalau Suci akan marah dan kecewa padaku. Tapi kalau sampai dia memutuskan hubungan, rasanya aku nggak sanggup.


"Aku mau pulang bersamamu, Mas Nico. Kalau berani, sampaikan pada Umi, kalau kamu akan segera membawa orang tua untuk melamarku!" Suci menantangku. Dia mengatakannya dengan senyum mengembang.


Deg.


Seperti mendengar dan memandang lesakan atraksi kembang api membumbung di angkasa. Yang percikannya membentuk lengkungan indah warna warni. Menyenangkan, menakjubkan, membuatku ingin berseru girang. Aku gak salah dengar kan? Itu artinya dia memaafkanku?


"Ma-maksudnya apa? Apa kamu memaafkanku, Suci?" Aku ingin memastikan dengan jelas.


Suci tak menjawab dengan kata. Ia hanya mengangguk dengan mengulas senyum manis.


"Ya Allah. Alhamdulillah---" Aku mendongak kepala ke langit, mengusap wajah penuh syukur. Lepas sudah semua gundah di hati. Hilang sudah himpitan yang menyesakkan dada.


"Sebentar. Suci, aku sangat senang kamu bisa memaafkanku. Tapi, mengapa kamu sangat mudah memafkan?"


Dia tampak bersidekap tangan di dada. "Awalnya aku marah dan kesal. Tapi setelah mendengar penjelasanmu, aku sadar, semua yang terjadi sudah kehendak Tuhan. Cara kita bertemu, sampai berada di sini pun, bukanlah kebetulan. Mungkin, memang Mas Nico lah jodohku."


Gadis itu, saat mengucapkan kalimat terakhirnya, ia memalingkan muka. Berusaha menyembunyikan rona merah pipinya. Tentu aku masih bisa melihatnya, meski berdiri berjarak 1,5 meter. Dan tingkahnya itu membuatku gemas.

__ADS_1


"Aku jadi ingin memelukmu, boleh ya?" Aku menaikkan dua alis, menggodanya. Tentunya sudah tahu, dia tidak akan mau aku sentuh apalagi untuk memeluknya.


"Mas Nico mau ditangkap polisi syariah, ya?" Suci mencebik. Ia menunjuk dengan dagunya ke arah beberapa polisi syariah yang sedang mengawasi keramaian, menegur dan mengingatkan untuk tidak berbuat maksiat.


Aku mengejar Suci yang tiba-tiba berbalik badan, pergi dengan langkah tergesa.


"Eh, Suci tunggu. Jangan marah dong aku kan cuma becanda." Aku mensejajari langkahnya, sedikit panik kalau Suci akan ngambek.


Suci mengerling kepadaku. "Siapa yang marah. Aku pegal berdiri terus, juga kasihan Rahma nungguin di mobil."


Huft. Langkahku benar-benar ringan sekarang. Semua ketakutanku tak terbukti. Diluar ekspektasi, Suci malah meminta untuk segera dilamar. Jangankan melamar, langsung nikah saja aku siap.


Aku berjanji akan terus memantaskan diri untuk menjadi imammu, Sucita.


Mobil Avanza putih milik keluarga Suci aku bawa meninggalkan parkiran taman. Suci menjadi pemandu jalan, karena aku belum terlalu hafal arah jalan menuju rumah Umi tanpa bantuan GPS.


****


Umi terlihat senang menyambut kedatangan Nico. Sempat heran kenapa bisa bareng dengan Suci dan Rahma. Tapi Suci menjelaskan dengan singkat bahwa dirinya janjian bertemu di taman Putreo Phang, jangan sampai Umi tahu cerita panjangnya.


Candra mengajak Nico pergi ke masjid, saat kumandang adzan magrib terdengar. Sementara Suci menyumpan belanjaan di dapur, sebagian di dimasukkan ke dalam kulkas berupa snack serta minuman dan buah buahan.


"Banyak amat belanjanya. Kamu kan besok berangkat lagi ke Jakarta." Umi menatap heran, ada dua kantong besar belanjaan yang sedang dibereskan Suci.


"Bukan aku yang beli, tapi Mas Nico, Umi. Tadi saat lewat minimarket, kita turun belanja dulu. Mas Nico suruh belanja banyak buat stok Umi, katanya."


Umi hanya membulatkan bibirnya. "Hm, perhatian banget calon mantu Umi," lanjut Umi dengan mata mengerling ke arah anak gadisnya itu. Membuat Suci mesem-mesem.


Langit hitam keabuan bertabur kerlap kerlip bintang, tanda cuaca malam ini cerah. Rembulan hanya nampak separuh mengintip dari balik awan karena masa bulan purnama sudah lewat. Selepas makan malam, dua pemuda duduk santai di paviliun sederhana menikmati udara malam.

__ADS_1


Suci datang menyajikan minuman hangat untuknya bertiga. Wangi rempah-rempahnya menguar menyegarkan indera penciuman.


"Wah, rasanya enak. Minuman apa nih?" Nico langsung menyesap pelan minuman dari gelas miliknya.


"Ini namanya le Seureubet, bahan dasarnya jahe, cengkeh, lada, dan kayu manis. Ini minuman khas Aceh." Suci menerangkan sambil ikut duduk di sisi Abangnya.


"Kalau di Jakarta, mirip minuman bandrek." Candra ikut menimpali. Ia pun menyeruput minumannya sampai tersisa setengahnya.


"Jadi kapan rencanamu melamar Suci?" Candra menatap Nico yang duduk di kursi sampingnya.


"Aku akan bicarakan dengan orang tua dan Kakak yang di Bali. InsyaAllah, secepatnya." Nico membalas dengan mantap. Dirinya pun sudah gak sabar untuk sesegera mungkin meminang Suci. Tak dipungkiri, rasa takut ada. Takut ada pria lain yang mendekati Suci.


"Oh ya Bang, sudah lapor ke Pak RT kalau ada tamu yang menginap?" tanya Suci mengingatkan Candra.


"Sudah. Tadi pas ketemu di masjid langsung lapor. Iya kan, Nic?"


Nico menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan Candra.


Bincang santai ketiganya berakhir pukul 10 malam. Mereka menuju kamar masing-masing, untuk mengistirahatkan raga. Nyatanya, di dua kamar yang berbeda, tersekat ruangan tamu, dua insan masih melek, saling berkirim pesan. Siapa lagi yang memulainya chat kalau bukan Nico. Dia begitu iseng mencandai Suci lewat chat, sampai tak terasa satu jam lamanya dan chat pun berakhir dengan kiriman pantun dari Nico.


Beli batik ke Pasar Rebo


Hai cantik selamat bobo


Suci terkekeh membacanya, tak menyangka seorang Nico yang cool punya bakat berpantun juga, dan itu hanya Suci yang tahu. Tanpa membalas, Suci menarik selimut sampai ke leher, matanya sudah memberat kantuk. Udara malam yang dingin menusuk tulang, membuatnya segera terlelap diiringi doa dan harapan esok kan lebih baik dari hari ini.


Di tempat yang berbeda, berjarak 10 kilo meter, seorang pria tampan berdiri di balik jendela ruang kerja yang dibiarkannya terbuka. Memandang pekatnya malam tanpa bintang karena terhalang awan hitam seolah tak lama lagi hujan akan turun menghujam bumi.


Angin malam dibiarkan menerpa wajahnya yang datar, sorot matanya tak terbaca. Ia baru mendengar laporan dari orang kepercayaannya yang telah mencuri dengar pembicaraan ketiga orang di paviliun rumah Umi.

__ADS_1


Dipandanginya wajah cantik yang tersenyum lebar yang ia screenshot dari status pemiliknya. Dibelainya wajah putih mulus tanpa noda dengan ujung telunjuknya, hanya dari layar.


"Dia tak berhak memilikimu. Kau hanya milikku!"


__ADS_2