
Nico menyuruh sopir untuk pulang setelah mengantarnya ke tempat Malik menunggu. Kini, Nico dan Malik sudah berada di dalam club elit. Awalnya, Nico menolak masuk ke tempat mudharat itu. Tapi demi menyelesaikan cepat misinya, mau nggak mau harus masuk.
Mereka masuk dengan sistem pemeriksaan yang ketat. Disambut dentuman suara musik yang disuguhkan seorang DJ seksi yang membuat pengunjung berjoget heboh mengikuti irama. Di atas panggung, tarian striptis disuguhkan oleh dua perempuan dalam balutan kain tipis yang hanya menutupi inti atas dan bawah. Membuat mata para laki-laki menatap penuh nafsu.
"Kamu yakin si Pras datang kemari?" Nico yang memakai topi hoodie untuk menyamarkan penampilannya, berbisik di tengah suara kerasnya musik.
"Iya. Aku mengikutinya sejak dia keluar dari kantor." Malik menjawab yakin. Ia mengedarkan pandangannya menyapu ruangan yang pencahayaannya remang-remang.
Dua orang perempuan seksi datang mendekati Nico dan Malik. Dengan gestur sensual mereka mencoba menyentuh dada dua pria tampan itu untuk menggodanya, memancing hasrat kelelakiannya.
"Hai kalian duduk saja!" Nico menyuruh perempuan malam itu untuk duduk di depannya. Empat kursi dengan meja bulat yang di tempatinya itu kini penuh. Ia sengaja melakukannya agar pengawasannya tidak menimbulkan curiga orang lain.
Pandangan Nico terkunci pada sosok pria yang turun melantai dengan membawa perempuan muda memakai rok mini. Dia berjoged dengan kedua tangan sibuk menggerayangi tubuh perempuan itu.
"Kalian mau duit?" Nico mengeluarkan sejumlah uang lembaran merah dari dompetnya. Mengipas-ngipasnya di depan dua perempuan yang ikut duduk di mejanya. Keduanya berbinar dan kompak menganggukkan kepalanya.
"Kalian harus ambil foto dua orang yang sedang berjoged itu. Tanpa mereka curiga. Bisa?" Nico menunjukkan sosok orang yang menjadi targetnya.
"Gampang-gampang susah mas, Om itu selalu diawasi asistennya. Upahnya menarik nggak?" salah satu perempuan penghibur mulai bernegosiasi.
"Saya akan kasih 4 juta. Apa yang kalian ketahui tentang mereka?" Nico mulai mengorek keterangan tentang Pras dan perempuan muda yang bersamanya.
"Dia sugar baby Om itu. Datang ke club ini paling sebulan 2 kali. Mau tahu alamat kosan cewek itu?" sambil menyalakan rokoknya, sang perempuan penghibur kembali memberi penawaran.
"Ya."
Dia menyebutkan nama kosan dan jalannya yang langsung di catat di ponsel Malik.
Kini Nico dan Malik menunggu dengan harap-harap cemas aksi dua perempuan seksi itu untuk mengambil foto Pras dan sugar baby yang mulai mabuk dan hilang kendali. Nico melihat satu orang perempuan suruhannya duduk di pangkuan seorang pria dengan segelas bir ditangannya. Mungkin dia itu asisten Pras yang sedang dialihkan perhatiannya, batin Nico.
Hampir menunggu setengah jam lamanya, perempuan yang bertugas memfoto datamg menghampiri meja Nico.
__ADS_1
"Mana upahnya?" dia menahan ponsel Malik yang dipakai untuk memfoto. Menunggu Nico memberikan uangnya dulu.
Nico pun menaruhnya di atas meja. Uang 4 juta sebagai imbalan. Perempuan itu pun berlalu setelah menyambar uang itu berganti dengan meletakkan ponsel di tempat uang semula.
"Kita pulang, bro. Bukti untuk sementara cukup dulu." Nico mengajak Malik meninggalkan club itu setelah melihat hasil foto yang memuaskan.
****
Kembali menginjakkan kaki di perusahaan garment tempatnya bekerja, membuat Suci terus mengembangkan senyum sejak memasuki lobi. Cuti selama dua hari serasa libur lama sehingga merasa kangen dengan suasana kantor dan teman-temannya.
Candra berpisah dengan Suci di lift lantai 3. Satu lantai lagi, Suci tiba di divisinya. Ke empat staf marketing sedang ngumpul di kubiknya Dina, entah sedang membicarakan apa.
"Ehm." Suci berdehem di depan mereka. Kompak semuanya mengangkat wajah menatapnya.
"Welcome back Bu Secan, kemana aja sih...kita kangen tau--" Bayu yang lebih dulu berseru girang.
"Mudik melulu nih, curiga abis dikawinin ya." Rere ikut bersuara, menggoda Suci.
"Mana oleh-olehnya, Bu Secan?" Rinto menengadahkan tangannya di depan Suci.
"Nggak bawa oleh-oleh. nanti saja aku traktir makan siang di resto depan. Mau nggak?" Suci memici gkan matanya, menatap satu-satu teman-temannya itu.
"Mauuuu" semuanya menjawab dengan kompak diringi tawa girang.
"Pagi semuanya!"
Tanpa diduga, boss mereka sudah berdiri di koridor, menatap kelima orang yang suaranya menghebohkan satu ruangan.
"Pagi Pak Nico." Keempat staf membalas sambil menganggukkan kepala. Lain halnya Suci, ia hanya membalas dengan senyuman manis untuk boss yang juga suaminya.
Suci melambaikan tangan meninggalkan ruangan itu. Ia berjalan bersisian dengan Nico menuju ruangan mereka. Meski berjalan tanpa kata, tapi hati keduanya bersorak girang karena kembali bertemu.
__ADS_1
"Eh mau ke mana?" Nico menahan tangan Suci yang akan berbelok ke mejanya.
"Mau ke meja dong, Mas. Memangnya ke mana lagi?" Suci mengkerutkan keningnya.
Nico tidak menjawab. Tangannya menuntun Suci masuk ke ruangannya. Tak lupa ia menutup pintu dan menguncinya. Nico menyimpan tas kerjanya di atas sofa.
"Aku kangen istriku." Nico memeluk Suci dengan erat. Sesaat keduanya hanya diam, larut dalam perasaan rindu yang membuncah yang dirasakan Nico. Meski baru berpisah beberapa jam, tapi serasa tak jumpa berhari-hari bagi insan yang sedang dimabuk cinta.
"Sudah ya. Nanti ketahuan orang." Suci menepuk punggung Nico yang masih enggan melepas pelukannya.
Nico akhirnya mau melepas pelukannya, berganti mengecupi seluruh wajah cantik sang istri.
"Hmm, sudah dong. Aku buatkan kopi dulu ya, Mas." Suci merapihkan penampilannya kembali sebelum keluar. Lama-lama di ruangan Nico bisa-bisa membuat mereka khilaf.
.
.
Mereka menjalani jam kerja dengan profesional. Dua hari tidak masuk kantor, membuat pekerjaan menumpuk untuk diselesaikan.
Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah meja Suci. Suci yang sedang fokus mengetik, menolehkan wajahnya karena mencium aroma parfum yang menguar menusuk hidungnya.
"Aku mau ketemu Mas Nico!" Winda berdiri di depan meja Suci dengan wajah datar.
Suci tersenyum melihat rival nya yang selalu tampil fashionable itu. Dia mencoba tenang, mengikuti drama yang sedang tercipta.
"Sebentar ya mba Winda. Saya konfirmasi dulu."
"Stop panggil aku mba, aku bukan kakakmu. Panggil aku Nona Winda!"
"Baik, nona Winda. Ditunggu sebentar ya!" Suci mengulangnya. Ia tetap tersenyum, tak mau terpancing dengan keangkuhan wanita itu.
__ADS_1