
Nada dering panggilan untuk kesekian kalinya diabaikan begitu saja. Ia hanya menatap layar ponsel yang menyala menampilkan nama 'Kekasih' dengan sendu. Sejak kepulangannya dari Jakarta 3 hari yang lalu, wajah cantiknya menjadi muram.
"Teh Rachel, dipanggil sama Ayah tuh--" Cepi, adik laki-laki satu-satunya datang menghampiri Rachel yang sedang mencelupkan kedua kakinya ke kolam ikan yang berada di samping rumah.
Dengan enggan, gadis cantik berjilbab instan coklat susu itu menaikkan kakinya ke darat. Ia masih betah berpikir, bertanya-tanya, membuat praduga sendiri sesuai apa yang dilihatnya.
Aku datang ke Jakarta untuk memberi kejutan. Tapi malah aku yang terkejut. Kamu tertawa lepas bersama seorang perempuan dan nonton bersama. Sakit!!
"Teh Rachel, cepetan atuh." Cepi berteriak dari teras depan dengan wajah ketus karena ia disuruh memanggil kembali kakaknya itu.
"Iya" Rachel yang terkejut dari lamunannya hanya menjawab dengan singkat.
.
.
.
"Ada apa, Yah?" Rachel duduk di kursi ruang tamu berhadapan dengan ayah dan ibunya yang sudah duduk manis menunggunya.
"Rachel, ayah ketemu lagi dengan ustad Ali di nikahan anaknya Pak RT. Dia ingin silaturahmi ke sini dengan orangtuanya. Ayah belum bisa jawab. Keputusan ada di kamu, nak." Ayah langsung membahas pada pokok permasalahan.
Ustad Ali, seorang dai muda juga pemilik yayasan pendidikan islam tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) sampai dengan Madrasah Aliyah (MA) di Tasikmalaya. Dimana Rachel pun mengabdi sebagai guru MI (setingkat SD) di yayasan tersebut.
Namun kesehariannya ustad Ali lebih banyak berkeliling ke luar kota untuk safari dakwah. Ia hanya menitip pesan kepada ayahnya Rachel dimana ia tertarik untuk melamar Rachel menjadi istrinya.
Rachel menghembuskan nafas keras. Ustad Ali begitu tak menyerah menunggu jawaban darinya sejak dua bulan yang lalu. Ia memang tidak mengatakan kalau sudah ada pria yang bertahta di hatinya. Menunggu lamarannya.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Candra? Sampai kapan kamu akan menunggunya, nak?" Kali ini ibunya yang bersuara. Candra sudah dua kali berkunjung ke rumah putih bergaya minimalis modern itu. Menyatakan keseriusannya, menitipkan Rachel untuknya. Agar tidak ada lelaki lain yang meminangnya.
"Kenapa sepulang kamu kondangan dari Jakarta, jadi murung wae kelihatannya. Apa kamu ketemu Candra dan ada masalah?"
Cehcaran pertanyaan dari ayah dan ibunya membuat Rachel merasa terpojok. Ia bingung mau menjawab apa. Candra yang masih belum memberi kepastian kapan akan melamarnya. Kenyataan Candra yang ia lihat saat berada di mall dengan seorang wanita. Sungguh, membuat Rachel galau harus membuat keputusan apa.
"Yah, besok Rachel akan memberi jawaban pasti untuk ustad Ali. Malam ini Rachel akan berpikir dulu." Ujarnya. Karena selama ini dirinya memberi jawaban yang menggantung. Sehingga ustad Ali tak putus harapan untuk terus mengejarnya.
"Ayah sama ibu memberi kebebasan sama kamu dalam memilih jodoh. Tapi ingat kriteria utama, agamanya harus bagus. Candra orangnya baik dan santun, taat beribadah kelihatannya. Ustad Ali sudah jelas ia pendakwah. Disegani dan dihormati karena ilmu agama dan kedudukannya. Pilihan ada di tanganmu. Jangan tergesa-gesa dalam membuat keputusan, supaya kamu gak menyesal."
Rachel hanya menjawab dengan anggukan, mendengar nasehat dari sang ayah.
****
Sore hari di sela istirahat kerja. Candra dan Salma kembali ke hotel tempat mereka menginap. Mereka butuh beristirahat sejenak dan mandi sore. Karena selepas magrib akan datang lagi ke pabrik.
Ini adalah hari ketiga mereka berada di Bekasi. Sekaligus hari terakhir ikut kerja lembur bersama seluruh karyawan pabrik. Karena malam ini jadwal shipping container pengiriman ke Jepang. Tiga unit container 40 feet sudah terparkir di halaman pabrik untuk memuat barang.
Candra keluar dengan rambut setengah basah dan menakai setelan yang sama dengan Salma.
"Wah kok kita bisa seragaman gini--" Candra tertawa melihat penampilan kembar dengan sekretarisnya itu. T-shirt putih dan celana jeans biru.
"He he, iya ya. Padahal tidak janjian. Aku ganti baju aja kalau pak Candra keberatan." Salma berniat untuk kembali ke kamarnya, mengganti atasannya. Namun niatnya itu dicegah Candra.
"Kenapa harus diganti. Gak perlu. Ayok kita cari makan!" Candra mengajak Salma untuk makan sore menjelang magrib diluar hotel. Sekalian mencari kesegaran suasana, mengusir kepenatan kerja.
Rumah makan khas sunda menjadi destinasi pilihan Candra. Sekaligus untuk mengobati rasa kangennya kepada mojang sunda yang akan ditemuinya akhir pekan ini.
__ADS_1
Kesibukan kerja sampai larut malam membuat Candra baru sempat menghubungi Rachel sore ini, saat melepas lelah di kamar hotel. Namun tiga panggilan telepon dan video call tidak dijawab. Juga chat menanyakan kabar pun belum dibaca oleh sang kekasih hati. Candra berpikir positif, mungkin Rachel sedang sibuk dengan kegiatannya.
"Duh liat lalapan gini jadi kangen rumah deh." Salma berbinar sambil mencoel lalab daun pepaya ke sambal terasi yang ada di pinggir piringnya. Ditemani pepes ikan gurame juga tahu tempe hangat, menambah nikmat cita rasa.
"Sama. Aku makan di rumah makan khas sunda juga karena kangen pacar mojang sunda."
Uhuk uhuk
Salma tersedak sambal pedas yang tiba-tiba menyangkut di tenggorokannya begitu mendengar kalimat yang lolos dari bibir bossnya itu.
"Hei-- Pelan-pelan makannya." Candra terkekeh. Ia mendekatkan segelas teh hangat ke depan Salma.
Salma meneguknya dengan segera. Hatinya masih terkejut dengan kejujuran Candra yang mungkin tak sadar membocorkan privasinya. Padahal selama ini sangt tertutup dengan privasinya.
"Wah, sundanya dimana, Bang?. Kali aja aku mengenalnya." Salma mencoba mengorek lebih dalam. Meski sebelumnya sudah menyiapkan hati untuk kecewa, namun perih itu ada, terasa.
"Dia orang Tasik. InsyaAllah sabtu pagi aku akan ke sana. Kamu kalau mau mudik ikut bareng denganku ya! Biar ada teman ngobrol di jalan. Soalnya ada kamu seru. Bisa bikin aku tertawa."
"Boleh deh Bang. Jadi bisa gratisan gak ngeluarin ongkos."
Salma menyetujui ajakan Candra. Dengan pertimbangan mumpung masih bisa bersama, meski tak bisa memiliki hatinya tapi masih bisa menikmati kebersamaan.
Sudah jelas sekarang, aku harus berhenti berharap. Menutup lembaran cerita tentangnya di diaryku. Hari ini kurayakan sebagai haru patah hati.
Kekecewaan yang hanya ia rasakan sendiri, dilampiaskannya dengan makan sampai 2 porsi. Itu lebih baik, daripada harus melemparkan piring dan gelas sebagai luapan kekecewaan.
"Salma, tumben makan sebanyak itu?" Candra merasa takjub melihat makan sebanyak itu.
__ADS_1
"Kan biar kuat stamina, Bang. Ini malam terakhir kita lembur."
Lebih tepatnya biar kuat menghadapi kenyataan, Bang.