MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Perpisahan (2)


__ADS_3

Jalan raya provinsi menuju arah Tasikmalaya mulai menurun dan berkelok. Diperlukan konsentrasi penuh untuk melalui jalan yang akan melalui beberapa jurang terjal di bahu kiri jalan. Meskipun terpasang baja panjang pembatas di bahu jalan, kewaspadaan tetap diperlukan.


Apalagi sepanjang jalan akan berpapasan dengan truk-truk besar pengangkut pasir dari gunung Galunggung yang akan dikirim tujuan Bandung dan Jakarta. Alhasil, Candra tidak akan mudah menyalip mobil-mobil di depannya karena dari arah berlawanan truk- truk pasir berjalan merayap seperti siput karena beban berat dan jalan menanjak jika dari arah Tasik.


Semakin dekat ke arah tujuan, jantung Candra mulai berdetak kencang. Pria kalem itu berusaha menetralisir kegelisahan dan rasa deg degan dengan berdzikir di dalam hati.


Candra membelokkan mobilnya ke sebuah SPBU di daerah Pagerageung untuk beristirahat dan sholat Duhur.


Sedikit lagi.


Hanya tinggal 30 menit lagi, akan sampai ke tujuan.


Tapi Candra butuh membasuh muka tampannya dengan air wudhu untuk bersujud, mengadu kepada Sang Khalik. Memohon kebaikan dan perlindungan dari nafsu yang menguasai hati. Yang tidak mau menerima jawaban hasil dari istikharah.


Rohaninya sudah ternutrisi. Wajah tampannya kini tenang dan menyejukkan. Hal penting lain yang tidak boleh dilupakan agar kuat jasmani adalah dengan makan.


Hanya ada rumah makan khas Sunda yang berada dekat dengan lokasi SPBU.


Usai mengantri memilih menu makan ala prasmanan, Candra memilih meja dekat kaca jendela. View gunung Cakrabuana yang hijau karena lebatnya pepohonan membentang menaungi kawasan Pagerageung sampai Malangbong itu begitu menyejukkan mata. Ditambah hamparan sawah yang hijau dibawah kaki Cakrabuana menambah elok lukisan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.


Tiba-tiba sudut bibirnya tertarik, saat pelayan memberikan lalapan dan sambal ke mejanya. Ia menjadi teringat Salma. Saat makan di Bekasi, komentarnya yang santai terucap, lihat lalap jadi kangen pulang katanya.


Dering ponsel mengalihkan sejenak perhatiannya dari makanan yang sedang dilahapnya. Suci, sang adik menelponnya.


"Assalamualaikum, dek."


"Waalaikumsalam. Abang udah sampai mana?"


Tadi pagi Suci menelponnya. Menanyakan kapan rencana kepergiannya ke Tasik pas di saat Candra akan berangkat. Makanya saat ini sang adik memantaunya.


"Abang sudah sampai Tasik utara. Sebentar lagi sampai ke tujuan. Ini lagi makan dulu."


"Nginep gak Bang?"


"Iya. Abang sudah booking hotel buat aemalam. Kalau harus pp capek--"


"Owh, ya udah. Semoga lancar ya Bang, urusannya. Aku gak sabar pengen dengar ceritanya nanti."


Suci terlebih dulu mengakhiri teleponnya usai mengucap salam.


Candra tak menjawab. Hanya tersenyum tipis mendengar sang adik yang begitu antusias.


****


Saung Gazebo berbahan kayu kelapa yang terletak di halaman belakang, menjadi saksi dua insan yang duduk lesehan berhadapan, namun terhalang meja. Dua gelas teh berikut kudapan manis tersaji di atas meja.


Candra memohon ijin kepada orangtua Rachel untuk bicara berdua usai mereka bercengkrama di ruang tamu.


"Siapa yang mau cerita duluan?" Candra mulai membuka obrolan serius usai keduanya membicarakan topik berita yang lagi hangat di negeri ini.


"Mas Candra dulu deh--"


"Tapi janji ya, kamu harus jujur dengan jawaban istikharahmu!" pinta Candra.

__ADS_1


Rachel menganggukkan kepalanya. "Aku akan sampaikan apa adanya."


Candra memperbaiki posisi duduknya. Duduk sila dengan punggung tegak. Semilir angin siang yang dihantarkan pohon jambu merah yang sedang berbuah lebat dan pohon mangga yang rindang, memberi kesejukan dan keteduhan menaungi gazebo.


"Aku bermimpi kita sedang berada di dermaga. Kita berdiri berjarak, dan kamu membelakangiku. Aku menatapmu, memanggilmu untuk berbalik badan. Namun kamu malah berjalan menjauh ke ujung sampai terlihat ada sosok wanita berdiri di ujung dermaga." Candra menatap sendu ke arah Rachel yang sedang fokus mendengarkan ceritanya.


"Siapa wanita itu?" Rachel menatap lekat manik mata pekat yang tanpa cahaya itu.


Candra menggelengkan kepalanya lemah. "Wajahnya tak terlihat karena terhalang kabut. Namun tangannya terulur seolah memintaku mendekat. Tapi aku malah diam di tempat dalam kebingungan." Candra mengusap wajahnya. Bayangan mimpi yang sama, yang hadir malam kemarin dan tadi malam kini berkelebat di pikirannya.


"Apa kamu juga mendapat jawaban lewat mimpi?" Candra sudah tak sabar mendengar cerita Rachel. Hasil dari istikharahnya.


"Sebelumnya aku mau cerita. Aku mengabdi sebagai guru SD yang bernaung disebuah yayasan Islam. Aku berhubungan baik dengan pengurus maupun pemilik yayasannya, ustad Ali namanya. Hingga dua bulan yang lalu, ustad mendatangi ayah untuk meminta ijin mengkhitbah aku."


Ada raut keterkejutan yang ditangkap Rachel dari wajah pria di depannya.


"Tapi aku menolaknya dengan halus." Rachel segera menyambung bicaranya. Jangan sampai Candra salah faham menilainya.


"Mas Candra jangan ragukan kesetiaan aku. Setahun lebih aku selalu menjaga hati hanya untuk menunggumu."


"Aku percaya. Ya wajar jika banyak pria ingin meminangmu, Rachel. Karena kamu bukan hanya cantik, tapi juga menjungjung tinggi kehormatan diri. Kamu istimewa." Sebuah senyum tersungging di bibir Candra. Pujian yang dilontarkannya tulus, dari hati.


Rachel tersipu. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menutupi rona merahnya.


"Lalu soal mimpi?" Candra tampak tidak sabar ingin segera tahu.


"Sebentar dulu, Mas. Aku lanjutkan ceritanya dulu." Rachel mengulum senyum melihat Candra yang sudah tidak sabaran.


"Untuk yang ketiga kalinya, ustad Ali bertanya lagi kepada Ayah saat bertemu dikondangan. Meminta ijin untuk bersilaturahmi membawa orangtuanya. Melihat kegigihannya, aku menjadi heran. Kenapa dia terus menunggu jawabanku. Padahal banyak gadis anak kiyai yang bisa dipilihnya."


"Lebih tepatnya aku ingin mendapat petunjuk yang terbaik untuk masa depan kita." Rachel menghela nafas berat.


"Dan jawaban salatku--- Aku melihat dua sosok yang berbeda. Awalnya keduanya berdiri seolah bayangan hitam. Yang satu bayangannya memudar lalu hilang tertiup angin. Satunya lagi, bayangan itu makin jelas dan berwujud utuh."


"Siapa dia?" Candra menatap tajam wajah cantik dihadapannya yang memejamkan mata, dengan jantung berdebar kencang seolah menunggu penghakiman.


Rachel memejamkan matanya. Wajahnya tertunduk dengan tangan bersidekap di atas meja.


"Dia----ustad Ali." lirih Rachel dalam tunduknya.


Hening


Hening


Hening


Candra meneguk air digelasnya sampai tandas, tenggorokannya tiba-tiba kering. Meskipun jawaban dari salatnya sudah menunjukkan Rachel bukan jodohnya. Kini diperjelas dengan jawaban dari gadis yang selama ini mengisi relung hatinya.


"Aku kalah--" Candra menghembuskan nafas keras.


Rachel mendongak menatap Candra dengan mata berkaca-kaca. Bagaimanapun, sisi manusiawinya teriris. Saling mencinta, namun takdir tak berpihak.


"Tidak ada yang kalah ataupun menang. Kita sama-sama sedih dengan keputusan yang Allah beri. Namun percayalah, skenario Allah pasti yang terbaik untuk kita. Karena kita menyandarkan hidup dengan iman bukan mengedepankan nafsu."

__ADS_1


Candra mendongak, menatap langit yang tetap biru cerah, atmosfer gazebo pun tetap menyejukkan. Langit tidak mendukungnya untuk bersedih rupanya.


"Kamu akan segera menikah dengannya?" tatapan terluka nampak dari wajah Candra.


Rachel menggelengkan kepalanya dengan yakin. Bagaimanapun ia butuh waktu untuk menyembuhkan hati yang kecewa.


"Mas Candra, di tempat ini aku ingin kita saling berjanji. Aku akan menikah jika Mas Candra juga akan menikah dengan wanita dalam mimpi itu. Petunjuknya sudah jelas, wanita itu menunggu untuk kamu raih, Mas."


"Jangan menungguku, Rachel. Kamu silakan menikah duluan. Dia pria yang lebih baik dari aku, segala-galanya. Kamu pantas bersanding dengannya. Sementara aku butuh waktu untuk sendiri dulu."


"Tidak, Mas. Jangan merendahkan diri seperti itu. Mas Candra juga pria baik dan soleh. Demi Allah, aku bersumpah. Aku akan menikah jika Mas Candra juga menikah. Karena tidak boleh ada yang terluka diantara kita. Kita harus sama-sama bahagia." Rachel membuat ketegasan dan kesepakatan yang membuat Candra terpaksa menyetujuinya.


.


.


.


Rachel berdiri di teras, ikut mengantar Candra yang akan pergi meninggalkan rumahnya. Orangtua Rachel hanya mengintip dari balik kaca jendela usai Candra pamit kepadanya dan meminta maaf tidak bisa melanjutkan hubungannya.


"Aku pamit, pergi dari rumahmu dan dari kehidupanmu." Candra memaksakan untuk tersenyum menatap gadis ayu untuk terakhir kalinya dalam statusnya sebagai kekasih.


"Berjanjilah, Mas. Kamu akan segera menemukan jodohmu itu. Aku akan bantu do'a di setiap salatku."


Candra tidak menjawab. Hanya tersenyum masam.


Usai mengucap salam, Candra melajukan mobilnya ke arah kota. Menuju hotel untuk mengistirahatkan jiwa raganya yang lelah.


.


.


Mengapa cinta hadir memberikan luka?


Karena hidup tidak melulu tentang cinta


Terkadang Allah mempertemukan dua insan bukan untuk dipersatukan


Allah mempertemukan untuk satu alasan


Yakinlah, tidak ada yang sia-sia


Bukankah engkau selalu berdoa untuk dipertemukan dengan yang terbaik....


Yakinlah dengan skenario Allah


Hikmah cinta akan segera menyapa


...-------...


Jika readers membaca hanya dalam 5 menit. Aku menulis bab ini dalam 2 hari. Butuh penjiwaan yang mendalam, butuh perenungan, serta memilih kata yang menyentuh. Menulis itu mudah jika asal. Menulis berkualitas itu butuh usaha keras utk aku yg amatir. So, slalu sabar menanti up nya ya.


Happy weekend. Jangan lupa bersyukur hari ini.

__ADS_1


...LIKE-KOMEN-VOTE SEIKHLASNYA 😍...


__ADS_2