MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Memulai Hidup Baru


__ADS_3

Sudah waktunya untuk kembali ke Jakarta. Memulai hidup baru di sana. Nico sebenarnya masih enggan untuk pulang, inginnya pergi bulan madu. Menikmati masa-masa manis sebagai pengantin baru. Namun, urusan di Jakarta harus menjadi prioritas saat ini. Agar batu sandungan kebahagiaan mereka segera terangkat.


"Aku sudah cek lagi semuanya. Aman. Tak ada yang tertinggal." Suci tersenyum lega, urusan packingnya sudah beres meski alot karena Nico selalu mengganggunya dengan terus memeluknya dari belakang.


"Aku pengennya mengulang yang semalam, tapi takut kamu nggak bisa jalan." Sambil memeluk Suci dari belakang, Nico berkata lirih di telinga sang istri. Mengecupi area belakang telinganya turun ke leher. Membuat Suci merasakan merinding dan tersengat sekujur tubuhnya.


"Kan bisa nanti di Jakarta." Ujar Suci dengan sedikit malu mengutarakannya. "Aku pulangnya ke mana Mas?"


Nico mengurai pelukannya setelah mendengar pertanyaan Suci barusan. Ia membalikkan tubuh istrinya sehingga saling berhadapan, menatap mata indahnya dengan lembut. "Istriku yang cantik, terpaksa untuk sementara kita berpisah dulu. Buatku ini berat, sayang. Aku nggak bisa jauh-jauh darimu." Nico membawa Suci ke dalam pelukannya. Mendekapnya sepenuh rasa.


"Kita mainkan sandiwara dulu ya sayang. Aku janji akan membereskan secepatnya dalam waktu 2 minggu. Akan aku bongkar kecurangan bisnis Prasetya ke publik." Sorot mata Nico berubah dingin saat harus menyebut nama pria tua setengah abad itu. Gara-gara ancamannya, Nico kini harus memulai permainannya dan mengakhiri segera.


"Nggak perlu ditarget waktu, Mas.Yang penting semuanya berjalan lancar dan Mas Nico nggak kenapa-kenapa." Ujar Suci berbicara di balik dekapan sang suami.


"Tapi aku ingin segera mengumumkan ke publik kalau kita sudah menikah. Kamu sudah menjadi Nyonya Nico, tidak boleh ada yang mengganggumu!" Nico kembali mengetatkan pelukannya seolah takut kekasih halalnya itu akan ada yang mengambilnya.


"Aduh, sesak nih. Lepas, ah. Ayo kita keluar!" Suci mengurai pelukannya. Kapan selesainya kalau berada di kamar terus. Sementara di luar sudah ditungguin oleh Rahma yang akan mengantarnya ke bandara.

__ADS_1


Usai pamit dengan Umi yang dibekali dengan wejangan, keduanya berikut Rahma berangkat menuju bandara. Dengan Nico yang memegang kemudi, sepanjang perjalanan mereka lalui dengan mengobrol santai.


"Ditunggu kabar resepsinya segera!" Rahma memeluk Suci ketika sudah turun dari mobil. Ia tidak akan ikut mengantar sampai ke dalam, hanya sampai parkiran saja.


"Tentu dong. Nanti kita kabari. Do'akan semua urusannya lancar ya!" Suci balas memeluk dan mencium kedua pipi sepupunya itu. Mereka berpisah saling melambaikan tangan saat akan memasuki bandara yang tidak terlalu ramai seperti saat akhir pekan.


"Tunggu Suci!"


Nico dan Suci berhenti dan membalikkan badannya ketika akan check in. Ada seorang pria datang menghampirinya.


"Aku cuma mau mengucapkan selamat untuk pernikahan kalian. Semoga sakinah mawaddah warohmah!" Rafa mengatupkan kedua tangannya di dada, menatap Suci dengan pandangan dalam. Sorot matanya tidak bisa berbohong, cinta itu masih ada. Tapi dia sedang berusaha merelakan. Perlahan, waktu yang akan mengikisnya sampai menipis dan pudar.


Rafa lalu beralih menatap Nico dengan tajam. Ia mengulurkan tangannya ke depan Nico. "Selamat Bro. Aku ikhlaskan Suci menjadi milikmu. Jangan pernah menyakiti perasaannya atau kamu akan berhadapan denganku. Karena mulai saat ini, Suci aku anggap sebagai adikku!!" Rafa menjabat tangan Nico dengan kuat.


"Jangan khawatir. Aku akan selalu membahagiakannya!" Jawab Nico tegas.


Suci menarik nafas lega menyaksikan kedua pria tampan yang telah berdamai dengan hatinya saling berpelukan. Rafa langsung undur diri pamit. Tujuannya menyusul ke bandara cuma satu. Dia ingin menyatakan sikap legowo, menerima kekalahan.

__ADS_1


Suci tersenyum lebar menatap suaminya. "Alhamdulillah ya Mas, dia akhirnya tersadar."


"Iya, cantik." Nico membalas dengan senyum lembut. Direngkuhnya bahu sang istri untuk mengajaknya melanjutkan berjalan ke dalam.


****


Hari belumlah larut malam saat mobil yang dikendarai Mang Syarif tiba di depan rumah minimalis berlantai dua. Suci dan Nico turun dari mobil, berikut 2 buah koper yang dikeluarkan oleh sang sopir dari bagasi. Candra membukakan pintu gerbang menyambut kedatangan mereka.


"Mang Syarif tunggu sebentar ya!" Nico menyuruh Mang Syarif menunggu di kursi teras. Ia masuk ke dalam rumah tidak akan lama. Ada hal urgent yang menantinya setelah dari rumah Suci.


"Bang, aku titipkan kembali Suci kepada Bang Candra. Aku sudah terlanjur membuat permainan, dan akan mengakhirinya segera, InsyaAllah." Nico meminta pengertiannya kepada Candra. Untuk sementara dirinya tidak akan tinggal bersama Suci.


"Pernikahan kalian cepat atau lambat akan diketahui orang-orang. Jadi usahakan sebelum itu terjadi, masalahmu harus sudah beres!"


"Siap Bang." Nicome jawab penuh keyakinan.


Nico meminta Suci menunjukkan kamarnya. Ia akan membantu menyimpan koper ke dalam kamar. Disamping itu tentu ada maksud lain. Sebelum pulang, Nico ingin bermesraan dulu dengan istrinya di kamar.

__ADS_1


"Aku pergi dulu ya, cantik. Nggak usah mengantar ke depan nanti malah jadi berat buat aku." Nico memeluk Suci setelah puas mencumbu istri cantiknya itu.


"Hm. Hati-hati ya. Sampai ketemu besok di kantor." Suci mengambil tangan kanan Nico dan mencium punggung tangan suaminya itu. Ia mendorong Nico yang tampak berat untuk pergi. Saat ponselnya berdering karena panggilan dari Malik, barulah Nico keluar kamar. Malik tengah menunggunya di suatu tempat.


__ADS_2