
Recall Advertising sudah berjalan selama 6 bulan. Ical dan Revan masih disibukkan dengan banjirnya orderan. Usaha mereka berkembang dengan pesat, Bahkan sekarang mereka sudah memiliki 5 karyawan. Banyak juga pelanggan tetapnya, salah satunya toko kain Warna. Tanpa disadari Ical selalu berhubungan dengan perempuan bernama Avi melalui telepon.
Shavira
Pagi Mas.. Saya Shavira dari toko kain Warna. Mau cetak baliho sm flyer lg bisa ?
Recall Adv
Pagi Cik.. Mau bikin desain baru atau gimana ?
Shavira
Tetep aja. Cuma warna diganti yang lebih ceria..
Recall Adv
Gimana kalo desain diubah dikit biar lebih menarik ?
Shavira
Ribet gak Mas ?
Recall Adv
Gak Cik. Kan pake stok foto yg lama, cuma diubah lagi letak2 sm tambahan efeknya.
Shavira
Boleh deh. Berapa lama kira2 jadinya ya Mas?
Recall Adv
Semingguan lah Cik. Nanti aku kirim desain dl, biar revisi jg apa yg kurang.
Shavira
Oke Mas. Makasih ya.
Recall Adv
Sama2 Cik.
Avi kadang bingung dengan Ical yang selalu memanggilnya Cik. Padahal mereka belum pernah bertemu.
"Biarin ajalah. Ngapain juga hal kayak gitu dipikirkan." gumam Avi dalam hati.
__ADS_1
Yang terjadi sebenarnya adalah mereka belum pernah bertemu secara langsung tetapi Ical mengira sosok Avi adalah cik Vira yang pernah ditemuinya di toko.
Seminggu kemudian Ical menuju ke toko kain Warna untuk mengantarkan baliho dan flyer pesanannya.
"Pagi Cik." sapa Ical ketika memasuki toko kain Warna.
"Pagi Mas ganteng. Ada yang bisa dibantu." tanya Cik Vira.
"Kan aku udah janji mau ngasih baliho sama flyer yang baru. Masa lupa ?" jawab Ical.
"Kapan janjiannya ? Kita juga gak pernah berkirim pesan." kata Cik Vira santai.
"Jangan becanda Cik ? Kan biasanya kita bertukar pesan soal desain baliho dan Flyer." kata Ical.
"Salah orang kayaknya. Saya gak pernah ngurusin soal itu." Cik Vira menatap tajam pada Ical.
"Terus biasanya yang ngurus itu siapa Cik ?" tanya Ical penasaran.
"Kayaknya Avi deh." jawab Cik Vira.
"Iya namanya memang Shavira. Aku kira itu Cik Vira." kata Ical.
"Iya itu Avi, nama lengkapnya Shavira. Tapi sekarang dia udah gak kerja disini." Cik Vira menatap Ical.
"Loh.. Aku masih telponan minggu kemarin." kata Ical.
"Sekarang kerja dimana Cik ?" tanya Ical yang semakin penasaran dengan sosok Shavira yang sering ngobrol dengannya itu.
"Gak tau. Anaknya pendiam jadi gak pernah cerita - cerita. Katanya kamu pernah bertukar pesan sama dia, ya tinggal dihubungi ajalah." kata Cik Vira.
"Nomornya gak aktif Cik. Ya sudah deh. Saya pulang dulu ya Cik. Ini baliho sama flyer nya." kata Ical.
"Avi, Shavira, apa dia Avi yang aku cari itu ?" gumam Ical di dalam mobil.
"Kemana aku harus cari dia ?" Ical merasa kesal karena hampir saja dia bertemu dengan gadis yang dicarinya itu.
Sedangkan di tempat lain, Avi sedang berkumpul dengan ketiga adik angkatnya.
Avi sengaja membeli sate dan gule untuk dinikmati bersama adik - adiknya.
"Wah.. makan enak nih Teh." kata Agus sambil mengambil sate nya.
"Iya. Buat syukuran aja, Teteh sekarang kerja di kantor dan gajinya lumayan." kata Avi.
__ADS_1
"Alhamdulilah. Semoga betah ya Teh kerjanya." kata Lia yang langsung diaminkan oleh yang lain.
"Kuliah kamu gimana Lia ?" tanya Avi pada adik perempuannya itu.
"Alhamdulilah lancar Teh. Makin banyak materinya." jawab Lia.
"Ya pastilah. Kan udah semester 2. Gak usah terlalu banyak ambil jadwal kasih les." Nasihat Avi.
"Gak kok Teh. Murid Lia cuma 2." kata Lia.
"Iya. Kamu yang rajin kuliahnya biar lulus dengan baik." kata Avi.
"Insha Allah Teh." jawab Lia.
"Kalo kalian gimana kerjaan di bengkelnya ?" tanya Avi pada kedua adik lelakinya yang memilih kerja di bengkel sambil mengumpulkan modal untuk buka bengkel sendiri.
"Aman Teh. Cuma tabungannya belum banyak. Masih jauh buat modal bikin bengkel sendiri." Agus menjawab mewakili Bayu.
"Gimana mau cepet kumpul kalo dipake pacaran mulu." sindir Bayu.
"Namanya juga anak muda. Kayak kamu gak aja." protes Agus.
"Tapi kan cewek aku gak matre kayak cewek kamu yang maunya makan di kafe terus." kata Bayu.
"Udah.. Jangan berantem. Yang penting kalian tetap berusaha menggapai cita - cita kalian. Nanti pasti ada jalan." Avi coba melerai kedua adiknya. Agus dan Bayu bagai anak kembar saking kompaknya. Tapi kadang juga suka berantem gak jelas seperti itu.
"Iya Teh." jawab Agus dan Bayu kompak.
"Kalian lah penyemangat hidup Teteh." Avi memandang ketiga adiknya bergantian dan mereka langsung menghambur ke dalam pelukan Avi.
"Kami juga sayang sama Teteh." kata ketiganya kompak.
Avi merasa beruntung memiliki adik - adik yang bisa mandiri di usia mereka yang masih muda. Mereka berempat hidup bersama bagai saudara kandung. Saling menyayangi dan saling mendukung satu sama lain. Mereka juga saling bergantung satu sama lain, saat yang satu susah yang lain menghibur, begitu pun saat yang satu senang yang lain akan ikut menikmatinya.
"Ibu, Avi kangen sama Ibu. Doakan Avi bisa bahagia bersama adik - adik disini." Avi memandangi foto Bu Rini yang terpajang di dinding rumah itu. Avi tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa ketiga adiknya itu.
Bagi vote atau Bunga atau secangkir kopi 😁😁
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih 🙏🙏🙏
Bersambung