
#Hai reader kesayangan othor.. Gimana kabar kalian ? Sehat kan ? Maaf ya Othor udah lamaaaa sekali tidak menulis. Mood lagi terjun bebas nih βΉοΈβΉοΈππ
Semoga masih setia dengan ceritaku ini..
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar Othor semakin semangat buat nulis.. #
Semoga kalian semua menikmati cerita ini ya. Enjoy !!
Selamat Membaca πππ
...***...
Keesokan paginya, Ical dan Avi sudah mengarungi jalanan kota bukittinggi. Mereka sempat mencari sarapan dulu sebelum menuju rumah Maktuo.
(Soto Padang ~ google)
Pilihan mereka jatuh pada soto padang, sajian berkuah khas minang berisi dendeng yang renyah, paru, perkedel, dan suun.
"Enak gak Yang ?" tanya Ical.
"Enak Mas. Aku suka." jawab Avi.
"Alhamdulilah deh kalo kamu suka. Mau nambah ?" tanya Ical lagi.
"Gak usah Mas. Nanti malah ngantuk lagi." tolak Avi.
"Iya juga ya." kata Ical.
Mereka fokus menghabiskan makanan dengan lahap. Hanya denting sendok garpu yang beradu dengan mangkok yang terdengar. Hingga akhirnya isi dalam mangkok pun habis.
"Kita langsung berangkat ?" tanya Avi.
"Ayo. Aku bayar dulu ya." jawab Ical.
Avi menunggu di depan pintu sampai Ical selesai membayar.
Sambil menunggu Avi melihat ada penjual kue basah. Avi langsung membeli untuk sopir yang tadi menolak diajak sarapan.
"Beli apa yang?" Ical tiba - tiba muncul di belakang Avi.
"Mas bikin kaget aja. Ini buat Pak Anto. Tadi kan gak mau diajak sarapan." kata Avi.
"Ooh.. Beli minum juga yang. Siapa tau masih haus." Ical menunjuk sebotol minuman dingin.
"Minumnya 3 ya dek." kata Avi.
"Iya kak." jawab anak kecil penjual kue basah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah 30 menit, mereka sampai di sebuah rumah sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Maktuo. Ical menggandeng tangan Avi turun dari mobil. Tampak Maktuo, 2 orang perempuan muda dan seorang lelaki muda menyambut mereka di depan pintu rumah.
"Assalamualaikum." Ical memberi salam.
"Waalaikumsalam. Akhirnya kalian sampai juga." Sambut Nurul yamg langsung memeluk Avi.
"Maktuo apa kabar ?" Avi meraih tangan Nurul dan menciumnya.
"Alhamdulilah baik." jawab Nurul sambil tersenyum.
"Apa kabar Avi ?" seorang perempuan muda menghampiri Avi.
"Uni Fatimah.. Akhirnya bisa ketemu langsung sama Uni." Avi memeluk sang kakak sepupu.
"Iya ya. Apa kabar Ical ?" Fatimah tak lupa menyapa suami adik sepupunya itu.
"Oh iya.. Kenalin ini anak sulung Maktuo, Faisal dan Ini Azizah, istri Bang Faisal." Nurul mengenalkan lelaki dan perempuan satunya.
__ADS_1
"Halo kak. Salam kenal. Ini suami saya Mas Ical." Avi menyapa keduanya sekaligus memperkenalkan Ical.
"Hai adik kecil. Senang bisa ketemu sama kalian." Faisal tersenyum pada adik sepupu dan suaminya.
"Ayo masuk. Kita ngobrol di dalam." kata Fatimah.
"Iya Ni." kata Avi.
"Ical duduk di ruang tamu berdampingan dengan Nurul dan Ical di sebelahnya.
Mereka melanjutkan obrolan melepas rindu.
"Kalian tinggal disini aja." kata Nurul.
"Gak usah Maktuo, kami sudah booking hotel di tengah kota" tolak Avi.
"Kenapa gitu ? Disini masih ada kamar kosong kok." protes Fatimah.
"Gak Kak Fatim. Kami juga ingin menikmati suasana kota Bukittinggi." Ical memberikan alasan.
"Ya gak apa kalo gitu Ma. Biarkan saja. Besok kita ajak mereka jalan - jalan ke Benteng Fort de Kock." kata Faisal.
"Boleh juga tuh. Mau kan kalian ?" tanya Fatimah. Avi menatap pada Ical meminta persetujuan.
"Mau Ni, Da." Ical menjawab mewakili Avi.
"Paktuo kemana Ni ?" tanya Avi.
"Ayah sedang melihat kebun bersama Bang Andi, suamiku." jawab Fatimah.
"Kalo Uda Fadil ?" tanya Avi lagi.
"Uda Fadil kan tinggal di Padang. Belum bisa kemari." Fatimah terlihat sedikit gugup saat menjawab.
"Boleh kami minta alamat Uda Fadil ?" tanya Ical.
"Kalian mau kesana ?" tanya Nurul.
"Iya Maktuo. Kami juga ingin ke rumah keluarga Ayah Ismail." jawab Avi santai.
"Untuk apa Vi. Maaf ya saya jadi lancang bertanya." kata Fatimah.
"Kami ingin mengenal keluarga besar orangtua saya. Bukan hanya keluarga Maktuo tapi keluarga Ayah juga." Avi memberikan alasan.
"Tapi mereka dulu tidak merestui orangtua kamu Vi." Fatimah berusaha memepengaruhi Avi.
"Gak apa Ni. Maktuo juga bilang kalo keluarga Ayah sempat mencari keberadaan kami, jadi sepertinya mereka sudah menerima pernikahan Ayah dan Ibu." kata Avi tegas.
"Ya terserah kamu aja deh." kata Fatimah.
"Makan siang sudah siap. Mari makan dulu." Azizah muncul di ruang tamu.
"Ayo kita makan Vi, Ical." ajak Nurul.
"Gak tunggu Paktuo dulu ?" tanya Avi.
"Gak usah. Mereka pulang sore." jawab Nurul.
"Iya. Ayah dan Bang Andi sedang mengawasi panen kelapa sawit." kata Fatimah.
"Ooh.. Baiklah kalo gitu. Ayo kita makan." Avi menggandeng lengan Nurul.
Mereka berenam duduk di meja makan dan mulai menikmati makan siang dengan menu Itiak Lado Mudo yaitu olahan bebek dengan bumbu lado mudo alias cabai hijau keriting yang digiling. Selain itu ada juga gulai jariang yang terbuat dari bahan dasar jengkol yang sudah tua. Jengkol yang sudah tua dipilih karena teksturnya yang empuk dan rasanya tak pahit.
(Itiak Lado Mudo ~ google)
__ADS_1
(Gulai Jariang ~ google)
"Enak kan makanannya ?" tanya Nurul yang melihat Ical amkan dengan lahap.
"Enak banget Maktuo. Bisa nambah nasi terus ini sih." jawab Ical.
"Ayo ambil lagi aja. Jangan malu - malu." kata Nurul.
"Mas.. Makannya jangan kalap." Avi mengingatkan.
"Gak apa lah Vi. Mumpung ada disini." Fatimah menengahi.
"Tuh kan Uni sama Maktuo aja mempersilahkan." kata Ical.
"Iya. Nanti akhirnya kamu yang buncit, bukan aku." bisik Avi agar tak didengar yang lain.
"Iishh.. Barengan aja." balas Ical.
"Kalian kok bisik - bisik sih ?" protes Fatimah.
"Gak kok Ni. Bukan hal penting." kata Avi beralasan.
Mereka melanjutkan menikmati makan siang sambil sesekali bertukar obrolan.
Hingga tak terasa makanan sudah habis di piring masing - masing.
"Biar saya bantu cuci piringnya Ni." Avi ikut membereskan piring kotor di meja.
"Nanti biar Mbok yang cuci piringnya." kata Fatimah.
"Kalo gitu Avi bantu bawa ke dapur." Avi lamgsung membawa piring kotor ke dapur.
"Gak usah dek. Biar Uni aja." cegah Azizah.
"Gak apa Ni. Biar lebih cepat beres." kata Avi.
Mereka berdua menuju dapur, sedangkan keempat orang lainnya kembali ke ruang tamu.
"Uni tinggal disini juga ?" tanya Avi.
"Enggak. Kami tinggalnya di sebelah." jawab Azizah.
"Anak - anak kemana Ni ?" tanya Avi lagi.
"Anak - anak di pesantren semua. Kecuali si bungsu yang sedang di rumah kakeknya." jawab Azizah.
"Ooh.. Semoga lain kali bisa ketemu sama anak - anak Uni ya." kata Avi.
"Iya dek. Biasanya Sabtu Minggu mereka pulang dari pesantren." kata Azizah.
"Ooh.. Nanti kami kemari lagi hari Sabtu." kata Avi. Azizah hanya tersenyum menanggapi ucapan Avi.
...***...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Jangan lupa ada cerita baru juga, judulnya "Tiga Dara".
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
Bersambung
__ADS_1