
#Hai reader kesayangan othor.. Gimana kabar kalian ? Sehat kan ? Insha Allah cerita ini akan update 1/2hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar Othor semakin semangat buat nulis.. #
Semoga kalian semua menikmati cerita ini ya. Enjoy !!
Selamat Membaca πππ
...***...
Menjelang sore, Sissy mengajak Nurul dan Ahmad pulang ke rumahnya. Kebetulan Rio juga akan pulang nanti malam.
"Saya gak enak Bu. Kalo gak ada Suami Ibu." kata Ahmad.
"Gak apa Pak. Alhamdulilah nanti malam suami saya pulang." kata Sissy.
"Mak tuo, Pak tuo, Avi gak antar dulu ya. Triplet mau tidur soalnya. Nanti malam aja kami main kesana." Avi mengantarkan paman dan bibinya ke teras.
"Iya gak apa Nak. Mak tuo ke rumah Bunda kamu dulu ya." pamit Nurul.
"Sampaikan salam untuk suami kamu." kata Ahmad. Saat itu Ical memang sedang ke kantor.
Avi lalu masuk ke dalam kamar triplet. Dilihatnya ketiganya sedang menonton kartun dari tv. Bahkan Abi sudah terkantuk - kantuk.
"Udah pada ngantuk ya." tanya Avi.
"Nda..." pangil ketiganya kompak.
"Mbak, istirahat aja di kamar. Sebelumnya tolong cuci gelas susunya anak - anak dulu." kata Avi.
"Iya Bu." jawab Anti.
Avi lalu menempatkan diri di samping Caca. Abas tidur di tengah, Sedangkan Abi disamping Abas.
"Kita baca doa tidur dulu ya." kata Avi.
"Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut." Avi memimpin doa diikuti ketiga anaknya.
Avi memeluk ketiga anaknya bergantian.
Tak butuh lama ketiganya sudah tertidur. Avi lalu bangkit perlahan dan mematikan tv. Lalu diapun perlahan keluar dari kamar. Avi menuju kamarnya sendiri dan membereskan baju - baju yang baru selesai di setrika.
Avi membuka file pembukuan di Cake Shop lalu membawanya ke ruang tengah. Dia memeriksa laporan keuangan bulan ini.
Avi larut dalam pekerjaan hingga tidak menyadari kedatangan Ical. Ical yang mengucap salam dari pintu depan tak dihiraukan oleh Avi. Ical pun mendekati sang istri dan langsung memeluknya dari samping.
"Aw.. Astagfirullah Mas.. Aku kirain siapa ?" protes Avi.
"Lagian kamu nih. Aku kasih salam dari tadi dicuekin." Ical ikut protes juga.
"Masa sih Mas ? Maaf ya Aku gak denger." Avi meraup wajah Ical dengan kedua tangannya.
"Iya Mas maafin. Lagi ngerjain apa sih ? Serius banget." tanya Ical.
"Ini Mas. Laporan keuangan di Cake Shop." jawab Avi.
"Ada yang ganjil kah Sayang ?" tanya Ical lagi.
"Gak sih. Cuma banyak pengeluaran yang tidak efektif." jawab Avi.
"Sebaiknya kamu bahas masalah itu dengan Aca dan Cintya." usul Ical.
"Iya Sayang. Nanti aku bahas dengan mereka." kata Avi.
"Mak tuo sama Pak tuo mana ?" tanya Ical.
__ADS_1
"Mereka di rumah Bunda. Anak - anak juga lagi tidur. Tadi asik main jadi kecapekan." jawab Avi.
"Biarin ajalah. Palingan bentar lagi juga bangun." kata Ical.
"Iya. Nanti abis mahrib kita ke rumah Bunda ya Mas. Kita makan malam disana." kata Avi.
"Siap Bos. Aku ke kamar dulu ya." kata Ical.
"Iya Mas. Nanti aku bawain kopi ke kamar." kata Avi.
Avi membereskan pekerjaannya dan menuju ke dapur untuk membuat kopi.
Avi menghabiskan waktu mengobrol bersama Ical di kamar triplet.
"Gimana pendapatmu soal Mak tuo dan Pak tuo ?" tanya Ical sambil memeluk Avi.
"Mereka baik Mas. Tapi aku juga masih ragu." jawab Avi sambil menyandarkan kepalanya di dada Ical.
"Ragu kenapa ?" tanya Ical.
"Masih ganjil. Kenapa baru sekarang mereka menemui aku ?" jawab Avi lagi.
"Sejujurnay aku juga merasa gitu Yang. Entah ada apa di keluarga kamu." kata Ical.
"Iya Mas. Tapi kita tetap harus bersikap netral." kata Avi.
"Iya. Kita lihat maksud mereka apa sebenarnya." kata Ical sambil mencium kening sang istri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selepas magrib, Avi dan Ical membawa ketiga anaknta ke rumah Sissy.
"Assalamualaikum." Avi masuk ke rumah diikuti oleh Ical.
"Waalaikumsalam." jawab Sissy dan Nurul serempak.
"Masih di masjid. Sepertinya menunggu Isya sekalian." jawab Sissy.
"Emang Ayah pulang jam berapa tadi ?" tanya Avi.
"Gak lama setelah Bunda pulang dari rumah kamu." jawab Sissy.
"Mak tuo betah disini ?" tanya Avi.
"Alhamdulilah. Tapi lusa Kami mau pulang dulu." jawab Nurul.
"Kenapa buru - buru ? Minggu depan aja biar kita antar." kata Ical.
"Gak bisa Nak. Mak tuo terlalu lama disini. Nanti kalian saja yang datang ke Bukittinggi." kata Nurul.
"Mau banget Mak tuo. Nanti kami cari waktu yang luang." kata Avi.
Malam itu mereka kembali mengobrol sambil menunggu Rio dan Ahmad pulang dari masjid.
"Sebenarnya Kakak kamu ingin sekali bertemu dengan kamu Vi." kata Nurul.
"Kakak Avi ?" tanya Avi tak mengerti.
"Iya maksud maktuo kak Fatimah, anak mak tuo. Dia sangat ingin melihat adik sepupunya." kata Nurul.
"Aku juga ingin bertemu dengan Kak Fatimah dan Abang yang lain." kata Avi.
"Sabar sayang. Nanti aku cari waktu yang pas buat pergi kesana. Sekalian kita ke rumah keluarga besar Almarhum Ayah Ismail." kata Ical.
"Bener ya Mas." Avi mencoba menegaskan.
__ADS_1
"Iya. Insha Allah." kata Ical sambil mengusap kepala Avi.
"Vi, boleh Mak tuo bicara berdua sama kamu ?" tanya Nurul.
"Ada apa Mak tuo ?" Avi balik bertanya.
"Kita obrolin berdua ya Nak." jawab Nurul.
Avi menoleh pada Ical dan dibalas dengan anggukan.
"Kita ngobrol di kamar aja Mak tuo." Avi menggandeng tangan Mak tuo menuju kamar tamu.
Mereka masuk dan duduk di tepi ranjang.
"Ada apa Mak tuo ?" tanya Avi.
"Begini Vi. Mak tuo bingung mau mulai dari mana semuanya." jawab Nurul gugup.
"Bilang aja Mak tuo. Apa yang bisa Avi bantu." kata Avi sambil mengusap lengan Nurul.
"Begini. Mak tuo mau minta maaf sebelumnya. Sebenarnya ada warisan yang ditinggalkan oleh Nenek kamu untuk Ibumu. Tapi.." Nurul erlihat ragu untuk melanjutkan ceritanya.
"Tapi kenapa Mak tuo ? Cerita aja, jangan ragu. Insha Allah Avi gak akan marah." kata Avi.
"Tanah milik Ibu kamu sudah dijual oleh Faisal tanpa sepengetahuan kami. Mak tuo merasa bersalah sama kamu." kata Nurul sambil menahan airmatanya.
"Gak apa Mak tuo. Avi tak mempermasalahkan hal itu." Avi memeluk Nurul.
"Mak tuo sepakat untuk menggantinya dengan tanah yang berukuran sama disana. Itu Fatimah yang membelinya. Sekarang masih atas nama Mak tuo, makanya Fatimah ingin bertemu kamu untuk mengurus balik namanya." Tangis Nurul sudah pecah.
"Gak Mak tuo. Avi gak mau nerima itu. Biarkan saja yang sudah dipakai Bang Faisal. Gak usah diganti." kata Avi.
"Gak bisa gitu Nak. Itu sudah hak kamu." kata Nurul.
"Sampaikan hal itu pada Kak Fatimah ya Mak tuo. Avi gak mau terima itu. Kalo gak Avi gak mau datang ke Bukittinggi selamanya." kata Avi.
"Iya Nak. Nanti Mak tuo sampaikan pada Fatimah. Maafkan kami ya Nak." Nurul kembali menahan tangisnya.
"Sama - sama Mak tuo. Dengan bertemu mak tuo aja Avi sudah bersyukur." Avi kembali memeluk Nurul.
...***...
Selamat Tahun Baru buat semuanya...
Semoga tahun 2022 akan menjadi tahun yang lebih baik bagi kita semua.
Semoga apa yang diimpikan bisa tercapai di tahun 2022.
Semoga Covid 19 segera pergi dari muka bumi ini dan kita semua selalu diberikan kesehatan.
Aamiin.. Aamiin.. Aamiin..
...***...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Jangan lupa ada cerita baru juga, judulnya "Tiga Dara".
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih πππ
Bersambung