Mengejar Cinta Shavira

Mengejar Cinta Shavira
#63 Asal Usul Avi (2)


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Gimana kabar kalian ? Sehat kan ? Insha Allah cerita ini akan update 1/2hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar Othor semakin semangat buat nulis.. #


Semoga kalian semua menikmati cerita ini ya. Enjoy !!


Selamat Membaca πŸ“–πŸ“–πŸ“–


...***...


"Mak tuo, Avi ingin dengar cerita mengenai almarhum Ayah dan Ibu." kata Avi.


"Jadi dulu orangtua kamu menikah tanpa persetujuan keluarga dari Ayah kamu. Tapi Orangtua kami sangat menyukai Ismail, Ayah kamu. Karena dia lelaki yang pekerja keras dan bertanggung jawab." kata Nurul.


"Kenapa keluarga Ayah tidak setuju ?" tanya Avi.


"Mereka sudah menjodohkan Ayah kamu dengan wanita lain yang sederajat. Sedangkan keluarga kami hanyalah petani." kata Nurul lagi.


"Akhirnya setelah menikah, Ayah kamu mengajak Ibu kamu merantau ke Bandung." kata Nurul.


"Mereka masih sering berkirim kabar. Mereka mulai berdagang sayur dan buah - buahan di Bandung. Mereka juga bercerita kalo mereka mempunyai anak perempuan bernama Shavira." Lanjut Nurul.


"Kami cukup lega mendengarnya. Bahkan keluarga Ismail mulai mendatangi kami untuk mencari tahu keberadaan orangtua kamu. Kami sengaja tidak memberitahu mereka karena takut orantua Ismail memisahkan kalian. " kali ini Agmad menggantikan istrinya yang mulai menangis untuk bercerita.


"Setelah itu kami kehilangan kontak dengan Ayah dan Ibu kamu. Hingga akhirnya kami mendapat kabar dari orangtua Ismail yang sudah mulai menerima pernikahan orangtua kamu, bahwa Ismail dan Nura meninggal dalam kecelakaan dan kamu tak tahu ada dimana." kata Ahmad dengan suara terbata - bata.


"Orangtua Ismail sempat mengirim orang untuk mencari keberadaanmu. Tapi mereka mendapat info bahwa panti asuhan tempat kamu dirawat terbakar dan tak menyisakan satu orang pun." kata Nurul.


"Iya. Panti asuhan memang terbakar dan menewaskan Ibu panti dan adik - adik yang masih kecil. Sedangkan saya sudah kuliah dan beberapa adik sedang sekolah." kata Avi.


"Iya Nak. Maafkan kami tidak mengetahui hal itu." Nurul memeluk erat Avi.


"Lalu bagaimana kalian bisa menemukan saya ?" tanya Avi.


"Hhmm.. Ceritanya panjang." jawab Nurul.


"Sebaiknya kita makan siang dulu ya. Biar Mak tuo juga bisa mengumpulkan tenaga untuk bercerita." sela Ical.


"Boleh Mas. Udah jamnya makan siang kan." kata Avi.


Bertepatan dengan itu, Sissy datang denagn membawa makanan.


"Assalamualaikum. Bunda bawa makanan nih." kata Sissy.


"Waalaikumsalam." jawab Avi dan yang lainnya.


"Bun, kenalin ini Paman dan Bibinya Avi, Mak tuo dan Pak tuo." Ical memperkenalkan mereka.

__ADS_1


"Apa kabar besan ? Saya Sissy. Maaf suami saya sedang di luar kota jadi tak bisa ikut." Sissy menyalami Nurul.


"Alhamdulilah baik Bu. Saya Nurul dan ini suami saya Ahmad. Kami adalah kakak dari Ibu kandung Avi." kata Nurul.


"Mari kita makan dulu." ajak Sissy.


Mereka berlima menuju ruang makan dan menikmati Ayam bakar dan tempe tahu bacem yang dibawa Sissy.


"Bu, Pak, Sebaiknya kalian menginap di rumah saya saja." Sissy menawarkan.


"Gak usah Bu. Nanti merepotkan." Nurul menolak halus.


"Gak kok. Masih ada kamar kosong, lagian kebetulan saya sedang sendirian di rumah, suami saya baru pulang lusa." kata Sissy.


"Baiklah kalau tidak merepotkan." kata Nurul.


"Tidak sama sekali. Rumah saya juga dekat kok. Jadi kalian bisa lebih dekat dengan Avi juga. Ada anak saya satunya yang rumahnya persis di sebelah rumah saya." kata Sissy.


"Senang ya Bu bisa kumpul sama anak cucu." kata Ahmad.


"Alhamdulilah. Rumah saya juga hadiah dari anak - anak." kata Sissy.


Setelah makan siang, Mereka menuju ke halaman belakang untuk melanjutkan obrolan.


"Apa Mak tuo mau istirahat dulu ?" tanya Avi.


"Gak kok Nak. Ini kan kita ngobrol sambil santai." jawab Nurul.


"Iya Bi. Nanti tolong di cek di kamar mandi juga ya." kata Nurul.


"Iya Mi. Assalamualaikum." pamit Ahmad.


"Waalaikumsalam." jawab Nurul, Avi dan Sissy.


"Mak tuo mau lanjut cerita ya Nak, Bu." kata Nurul.


"Iya Mak tuo." kata Avi mempersilahkan.


"Setelah terus mencari, kami diberitahu kalo kamu sempat tinggal dan bekerja di rumah Bu Rumi." kata Nurul.


"Iya memang sambil kuliah, Avi kerja di rumah mereka. Tapi mereka sudah menganggap saya keluarga sendiri." kata Avi.


"Lalu Fatimah, Anak Saya pergi ke Bandung untuk menemui Bu Rumi. Waktu itu Bu Rumi kehilangan kontak dengan kamu setelah kamu lulus. Beliau hanya bilang kalau kamu pergi ke kota Malang." kata Nurul.


"Iya memang saya gak pernah lagi menghubungi Bu Rumi ataupun Teh Nita." kata Avi.


"Hingga akhirnya beberapa bulan lalu, tiba - tiba Anita menghubungi kami, memberi tahu keberadaan kamu di kota ini. Kami pun diantar Fatimah dan Suaminya Andi menemui Bu Rumi langsung. Sebenarnya rencana awal, Beliau dan anak mantu saya akan ikut kesini mempertemukan kita, tapi kondisi Bu Rumi kurang baik, beliau tidak bisa pergi jauh." kata Nurul.

__ADS_1


"Lalu kenapa Kak Fatimah gak ikut kesini Mak tuo ?" tanya Avi.


"Fatimah dan Andi harus kembali ke Bukittinggi karena Ayah Andi masuk rumah sakit." jawab Nurul.


"Innalilahi." kata Avi dan Sissy berbarengan.


"Kondisi Ayah bang Andi gimana sekarang ?" tanya Avi lagi.


"Alhamdulilah sudah membaik. Cuma masih harus opname di rumah sakit." jawab Nurul.


"Maaf Jeng, Saya mau nanya, Jeng Nurul dan Ibu nya Avi berapa bersaudara ?" tanya Sissy.


"Kami 2 bersaudara saja. Kalo Ayahnya Avi 3 bersaudara, punya kakak dan adik. Saya sendiri punya anak 3, Faisal, Fadillah dan Fatimah." Nurul bercerita.


"Wah.. Akhirnya aku punya kakak juga." kata Avi.


"Saya sendiri punya anak cuma 2, Ical dan Aca, kembar. Dulu sempat ada adiknya tapi keguguran." kata Sissy.


"Innalilahi. Yang penting 2 anak yang lain sehat kan Bu ?" kata Nurul.


"Iya. Alhamdulilah. Cucu saya sudah 7. Kembar semua. Hahaha." kata Sissy.


"Baguslah Bu. Jadi rame ya di rumah." kata Nurul.


"Iya Jeng. Cucu Jeng Nurul berapa ?" tanya Sissy.


"Cucu saya 4. Fatimah udah menikah 10 tahun tapi belum dikasih momongan." jawab Nurul.


"Semoga disegerakan ya Jeng." Sissy mengusap punggung Nurul, mencoba memberi kekuatan.


"Semoga kita semua selalu sehat ya Bu." kata Nurul.


"Iya. Biar kita bisa menikmati masa tua kita dengan cucu - cucu." Sissy menambahkan.


...***...


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.


Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..


Jangan lupa ada cerita baru juga, judulnya "Tiga Dara".


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..

__ADS_1


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung


__ADS_2