
#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan update 2/3 hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...*****...
Sudah sebulan sejak acara liburan di Batu.
Avi sedikit menghindari ajakan Ical untuk bertemu kedua orangtuanya bahkan Avi pun menghindari bertemu dengan Ical. Selama ini komunikasi tetap berjalan melalui telepon atau saling berkirim pesan. Ical pun rajin menjemput ke kantor Avi beberapa kali dalam seminggu. Seperti hari ini, Ical menemani Avi membeli makan malam.
"Kamu kenapa sih gak mau makan malam berdua sama aku ?" tanya Ical kesal.
"Maaf ya Mas. Aku gak mau terlalu lama berduaan sama kamu yang bukan mahrom aku." jawab Avi.
"Ya udah kita nikah aja yuk." kata Ical yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Avi.
"Aku serius Vi." kata Ical.
"Aku kan gak ngomong apa - apa Mas. Lagian emang nikah segampang itu apa ?" kata Avi.
"Trus kapan kamu bisa ketemu sama Bunda dan Ayah aku ?" Lagi - lagi Ical mempertanyakan hal itu.
"Aku belum tau Mas." jawab Avi.
"Kamu belum yakin sama aku ? Masih perlu waktu lagi ?" tanya Ical.
"Bukan gitu. Aku masih takut kalo orang tua kamu menanyakan soal asal usulku. Aku kan hanya anak yatim piatu." jawab Avi sambil menahan tangis.
"Kamu gak usah takut, Ayah sama Bunda aku bukan orang yang ribet dengan masalah latar belakang keluarga." Ical coba meyakinkan Avi.
"Kamu yakin Mas ?" tanya Avi.
"Selalu aja kamu meragukan soal yang satu ini. Udah berulang kali aku bilang kalo orangtua aku pasti bisa nerima kamu." jawab Ical yang membuat Avi merasa lega.
"Iya Mas. Insha allah aku mau ketemu mereka." kata Avi.
"Ya sudah. Hari minggu besok kamu main ke rumah ya." ajak Ical.
"Insha allah." jawab Avi.
"Aku jemput kamu." kata Ical.
"Iya." jawab Avi singkat.
Ical pun langsung pamit pulang setelah mengantar Avi sampai depan kosannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Shavira.." sapa Haris, bos nya.
"Iya Pak. Ada yang bisa saya bantu ?" Shavira mempersilahkan Haris untuk duduk.
"Vi, Kamu besok ikut seminar di Surabaya ya." ucapan Haris mengagetkan Avi.
"Kok mendadak sih Pak ?" tanya Avi.
"Iya Vi. Dari kantor pusat baru ngabarin lagi kemarin malam. Harusnya kan yang berangkat satu orang dari ekspedisi, ternyata akuntingnya juga disuruh ikut." jawab Haris.
"Cuma sehari kan Pak ?" tanya Avi lagi.
"Gak. Seminar nya 3 hari." jawab Haris.
"Ooh.. Lumayan juga ya. Pindah tidur deh saya." Avi menjawab sambil sedikit bercanda.
"Iya. Kamu nanti nginep di hotel. Kamu bisa kan ?" Haris balik bertanya.
"Insha Allah Pak." jawab Avi.
"Oke. Nanti saya suruh Linda email tempat sama rundown acaranya. Kamu print buat bukti peserta ya." kata Haris sebelum meninggalkan ruangan Avi.
"Iya Pak." Avi menjawab singkat.
"Oh iya. Kamu berangkat sendiri ya. Nanti uang saku nya dikasih di hotel." Haris menambahkan.
__ADS_1
"Siap Pak." jawab Avi.
Avi pun termenung sejenak di mejanya sambil menunggu email masuk.
"Aku berangkat sama siapa ya ? Aku kan gak tau daerah Surabaya." gerutu Avi.
"Masa aku harus berangkat sama Mas Anto dari ekspedisi sih. Males banget." Avi masih terus menggerutu.
"Mbak Avi...." Ayu sudah melongokkan kepalanya dari pintu ruangan yang tidak tertutup.
"Hei Yu. Ngagetin aja." kata Avi.
"Ayo kita makan Mbak ?" ajak Ayu.
"Ayo. Sekalian nyamper Linda." Avi langsung bangkit dan keluar mengikuti Ayu.
Setelah menghampiri Linda, mereka pun makan siang di warung dekat kantor.
"Mbak, emailnya tadi udah aku kirim ya." kata Linda.
"Makasih ya Lin. Aku masih bingung nih gimana berangkatnya." keluh Avi.
"Mau bareng sama Mas Anto ?" tanya Ayu.
"Gak mau ah. Gak nyaman aku berduaan sama dia, orangnya genit." jawab Avi.
"Naik travel aja Mbak." Usul Linda.
"Ada ya travel ke Surabaya. Boleh lah." kata Avi.
"Eh.. Kenapa gak minta antar Mas Ical ?" kata Ayu.
"Iya Mbak, Mending minta antar ke Mas Ical. Diakan juga biasa ke daerah Surabaya." Linda menambahkan.
"Gak enak ah." kata Avi.
"Ya gak apa - apa. Kan sama calon suami sendiri." goda Linda.
"Nanti deh aku tanya dia bisa apa gak." Avi kembali melanjutkan makannya.
*kring... kring... *
"Assalamualaikum Mas."
"Waalaikumsalam. Tumben telpon jam segini ?"
"Emang gak boleh ya Mas ?"
"Boleh. Cuma kan masih jam kerja. Biasanya gak mau diganggu."
"Ini Mas. Aku cuma mau bilang kalo haru Minggu aju gak bisa ke rumah Mas."
"Emang kenapa ?"
"Aku harus ikut seminar di Surabaya."
"Emang berapa lama ?"
"3 hari. Mulai besok."
"Iya gak apa - apa. Bisa lain waktu."
Iya Mas."
"Kamu berangkat dari kantor ?"
"Gak. Berangkatnya masing - masing. Aku naik travel aja kayaknya."
"Gak usah. Biar aku antar."
"Gak ngerepotin Mas ?"
"Gak lah. Tempatnya di daerah mana ?"
"Krembangan. Mas tau ?"
__ADS_1
"Tau. Klien ku ada yang di daerah sana."
"Syukurlah kalo Mas tau."
"Besok mau berangkat jam berapa ?"
"Terserah sih. Check ini jam 12 an."
"Oke. Besok aku jemput jam 8 ya."
"Iya Mas. Makasih sebelumnya."
"Sama - sama. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Avi merasa lega karena Ical bisa mengantarnya ke Surabaya.
Keesokan harinya tepat jam 8, Ical sudah sampai di kosan Avi.
"Assalamualaikum Mas. Udah nunggu lama ?" sapa Avi sambil masuk ke mobil Ical.
"Waalaikumsalam. Baru aja nyampe." jawab Ical sambil tersenyum pada Avi.
"Kita berangkat sekarang Mas." kata Avi.
"Iya." Ical pun melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan suasana terasa canggung, mereka lebih banyak diam, hanya sesekali ngobrol.
"Vi, Kayaknya udah lama ya kita gak ketemu." Ical memulai percakapan.
"Emang iya Mas. Kan aku sedang sibuk banget di kantor." jawab Avi.
"Kamu makin lama makin cantik aja." goda Ical.
"Mulai gombal kamu ya Mas." kata Avi sambil menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Jadi gak sabar pengen cepet halalin kamu." goda Ical lagi.
"Kamu ini Mas." Avi tertunduk malu.
"Pulangnya aku jemput lagi ya. Sekalian mampir ke rumah dulu." kata Ical.
"Masa muka kuyu ketemu sama Orangtua kamu ?" Avi berusaha menolak.
"Ya gak apa - apa. Lagian kamu tetep cantik kok." rayu Ical.
"Aku kan malu mas kalo kelihatan kucel di depan orangtua kamu." kata Avi.
"Bunda sama Ayah aku nyantei kok. Yang ada mereka malah kesel kok calon mantunya gak mau diajak ketemuan terus." kata Ical.
"Iya deh Mas. Terserah kamu aja. " Avi akhirnya setuju.
"Nah gitu dong. Kamu tuh cantik apa adanya." puji Ical sambil memandangi Avi.
"Udah ah Mas. Jangan muji terus. Ntar aku jadi geer." Avi menutup mukanya. Ical hanya tersenyum gemas melihatnya.
"Coba udah halal, Udah aku uwel - uwel kamu." gumam Ical dalam hati.
...***...
Bagi vote atau Bunga atau secangkir kopi ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
Bersambung
__ADS_1