
#Hai reader kesayangan othor.. Gimana kabar kalian ? Sehat kan ? Insha Allah cerita ini akan update 1/2hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar Othor semakin semangat buat nulis.. #
Semoga kalian semua menikmati cerita ini ya. Enjoy !!
Selamat Membaca πππ
...***...
"Mas, aku mau cerita." kata Avi saat mereka sedang berdua di kamar.
"Ada apa sayang ?" tanya Ical yang duduk bersandar di kepala ranjang sambil menarik Avi dalam pelukannya.
"Tadi Mak tuo cerita sama aku. Kalo Kak Faisal sudah menjual tanah warisan milik Ibu." kata Avi.
"Hhmm.." Ical mengusap lengan Avi.
"Lalu Kak Fatimah mau mengganti dengan tanah yang lain. Mak tuo ingin aku datang untuk menerima dan mengurus balik namanya." lanjut Avi.
"Lalu reaksi kamu gimana ?" tanya Ical.
"Jelas aku tolak Mas. Sebenarnya aku sedikit ragu dengan ucapan maktuo. Tapi Aku gak mau mempermasalahkan hal itu." jawab Avi.
"Ragu gimana ?" tanya Ical lagi.
"Aku curiga bukan Kak Faisal yang jual tanah itu. Mungkin gak sih Maktuo sendiri yang melakukannya ?" Avi balik bertanya.
"Gak boleh suudzon kayak gitu. Kita kan gak tau kebenarannya." Ical membelai kepala Avi.
"Iya juga sih. Aku juga sudah mengikhlaskan tanah itu dan memaafkan Kak Faisal atau siapapun yang menjualnya." jawab Avi.
"Pintar banget istri Aku." Ical mencubit pipi Avi.
"Kamu gak marah kan aku memutuskan seperti itu." Avi balik menatap suaminya.
"Tentu gak dong sayang. Kan kita sudah pernah sharing hal itu. Kita sepakat untuk tidak mengandalkan warisan, apapun bentuknya. Kita akan berusaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan anak - anak kita. Bahkan kalo perlu kita memberi pada orangtua kita." kata Ical panjang lebar.
"Iya Mas. Makasih ya udah memahami aku." kata Avi.
"Terus Mak tuo bilang apa lagi ?" tanya Ical.
"Mak tuo tetap ingin kita datang ke bukittinggi untuk bertemu keluarga besar Ibu dan Ayah aku." jawab Avi.
"Kamu mau ?" tanya Ical lagi.
"Aku sih terserah kamu aja Mas." jawab Avi.
"Insha Allah kita akan kesana. Kita atur waktu dulu ya." kata Ical.
__ADS_1
"Iya Mas. Makasih ya." Avi menyurukkan wajahnya ke dada Ical.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya Ical dan Avi mengantar mak tuo dan pak tuo ke Bandara. Ical sudah membelikan tiket pesawat untuk mereka.
"Kami pamit ya Nak. Kalian baik - baik disini." Nurul memeluk Avi erat.
"Iya Mak tuo. Hati - hati di jalan ya. Salam buat Kak Fatimah, Kak Faisal dan Kak Fadil beserta keluarganya." Avi balas memeluk.
"Insha Allah nanti kami sampaikan." kata Nurul.
"Hati - hati ya Mak tuo, Pak tuo. Insha Allah kami akan kesana bulan depan." Ical mencium tanagn Nurul dan Ahmad.
"Kami akan tunggu kedatangan kalian." kata Ahmad sambil menepuk bahu Ical.
"Salam buat Bunda sama Ayah kalian ya." kata Nurul sebelum masuk untuk check in.
Avi dan Ical menunggu sampai keduanya menghilang menuju ruang tunggu bandara.
"Ayo kita pulang." ajak Ical.
"Aku kok sedih ya pisah sama maktuo dan paktuo." kata Avi.
"Sabar ya. Nanti kita akan main kesana juga." Ical mengusap lengan Avi.
"Assalamualaikum." Avi dan Ical kompak memberi salam.
"Waalaikumsalam." jawab Aca yang tengah duduk di sofa bersama Cintya.
"Aku ke ruangan dulu ya Sayang." kata Ical. Avi menggangguk.
"Akhirnya masuk juga kamu Vi. Udah pulang tamunya ?" tanya Cintya.
"Udah. Ini barusan nganter ke bandara." jawab Avi.
"Aku ikut bahagia akhirnya kamu bisa bertemu keluarga kamu Vi." kata Aca.
"Iya. Aku juga gak nyangka. Setelah 20 tahun yatim piatu, bisa ketemu keluarga almarhum orangtuaku juga." kata Avi.
"Oh iya Vi. Ini ada klien minta dibuatkan kue buat acara sweet seventeen." lapor Cintya.
"Buat kapan ? Berapa banyak ?" tanya Avi.
"Buat tanggal 16. Minta dibuatkan cupcake sama kue tart nya." jawab Cintya.
"Kamu bantuin susun daftar bahan yang diperlukan lalu kurangnya apa saja. Nanti ajukan budget nya ke aku ya." kata Avi.
"Oke siap." Cintya lalu turun menuju gudang untuk mengecek bahan.
__ADS_1
"Ca, kamu yang atur penataannya ya. Kita masih punya rak susun buat cupcake kan ?" tanya Avi.
"Ada. Nanti biar aku yang atur penataannya." kata Aca.
"Anak - anak gak ikut ?" tanya Avi sambil melihat ke arah kamar.
"Gak. Anak - anak dijaga Bunda sama Mama. Kebetulan tadi ada Uwa Ochy juga." jawab Aca.
"Trus yang di kamar siapa ? Kok kayak ada suara ?" tanya Avi lagi.
"Anak Cintya sama pengasuhnya." jawab Aca.
"Ooh.." kata Avi sambil membuka laptopnya. Abi tampak terdiam sambil menatap kosong ke arah laptop nya. Tak lama lalu ditutupnya laptop itu.
"Kamu kenapa Vi ? Kok kayak orang bingung giti sih ?" tanya Aca.
"Aku bingung Ca. Kok aku ragu dengan cerita bibiku." jawab Avi.
"Maksudnya gimana ?" Aca tak paham.
Avi lalu menceritakan obrolannya dengan Nurul kemarin. Avi merasa ragu dengan cerita Nurul tentang kak Faisal yang sudah menjual tanah warisan milik orangtuanya.
"Kalo menurut aku, mending kamu datang ke bukittinggi deh. Kamu lihat dan nilai sendiri sikap keluarga Bibi kamu itu." saran Aca.
"Gitu ya ? Aku rasanya gak sabar untuk kesana Ca." kata Avi.
"Go a head. Kamu atur jadwal aja. Kita pasti siap back up disini." kata Aca.
"Makasih ya Ca. Beruntungnya aku punya saudara sekaligus sahabat seperti kamu dan Cintya." Avi menjawil dagu Aca.
"Lebay kamu." ledek Aca lalu mereka tertawa bersama.
...***...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Jangan lupa ada cerita baru juga, judulnya "Tiga Dara".
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
Bersambung
__ADS_1