
Pagi ini Avi masuk kerja lagi setelah 2 hari ijin sakit.
"Kamu udah sembuh Vi ?" tanya Dio saat Avi menyapanya.
"Udah Koh." jawab Avi singkat.
"Tapi muka kamu masih pucat." Dio mendekati Avi.
"Masih ada lemes dikit Koh. Tapi aku kuat kok." Avi menyimpan tas nya dan mengambil buku laporan keuangan.
"Ya udah kamu duduk aja kerjain laporan keuangan ya. Kalo ada pelanggan kamu gak usah turun tangan." kata Dio.
Avi hanya mengangguk menanggapi perintah bos nya. Dio hendak menuju ke gudang, tiba - tiba teringat sesuatu dan membalikkan badannya menatap Avi.
"Oh iya Vi. Gimana flyer dan banner nya ? Kok belum jadi juga ?" tanya Dio.
"Belum dikabari dari percetakannya ? Biar saya telpon lagi kesana Koh." Avi menyimpan pulpennya dan mengambil telepon.
"Cepat kamu follow up. Kalo udah tahu nominalnya kamu bilang saya, nanti saya yang transfer." Dio pergi meninggalkan Avi.
*tut.. tut... *
"Selamat pagi. Dengan Reecall Advertising." sapa suara perempuan di seberang.
"Pagi. Saya dari toko kain Warna. Mau menanyakan soal banner dan flyer yang beberapa hari lalu kami pesan. Apa sudah jadi ?" tanya Avi.
"Sebentar ya Bu. Saya akan tanyakan pada pak Ical langsung. Maaf dengan Ibu siapa ?" perempuan itu bertanya dengan ramah.
"Shavira dari toko kain Warna." jawab Avi.
Shavira harus menunggu sekitar 5 menit baru terdengar suara berat seorang lelaki.
"Halo. Selamat pagi. Maaf sudah menunggu." kata lelaki itu.
"Iya tak apa. Gimana dengan pesanan kami Pak ?" tanya Avi tanpa basa - basi.
"Banner dan fluer sudah jadi Bu. Maaf kemarin saya sudah coba telpon ke nomer yang ada di flyer tapi gak ada yang ngangkat." kata Ical.
"Oh giti ya Pak. Saya minta maaf juga karena memang beberapa hari ini saya tidak di kantor jadi tidak tahu kalo ada telepon." kata Avi.
"Iya gak apa Bu. Jadi gimana Bu ? Mau saya kirim hari ini ?" tanya Ical.
"Boleh Pak. Total tagihannya berapa ya ? Nanti saya transfer. Sekalian minta nomer rekeningnya juga." kata Avi.
"Boleh Bu." Ical pun menyebutkan nomer rekening dan total tagihannya. Tak lupa Ical juga menjanjikan akan mengirim banner dna flyer siang ini.
"Makasih ya Bu Shavira." kata Ical dengan ramah.
"Sama - sama Pak." Avi memutuskan hubungan teleponnya dan beranjak menuju kamar mandi.
"Loe mau kemana Cal ?" tanya Revan melihat Ical membawa kardus besar keluar dari ruangannya.
"Ini mau nganter banner dan flyer ke toko kain Warna." jawab Ical.
__ADS_1
"Loe anter sendiri ? Gak pake kurir ?" tanya Revan lagi.
"Gak apa - apa. Mumpung aku juga mau nyari sesuatu ke daerah sana." Ical mengambil minuman dari dalam lemari pendingin di lobby kantornya.
"Nyari apaan ?" Revan ikut mengambil minuman dari dalam lemari pendingin.
"White board sama cabinet buat file." kata Ical.
"Gue ikut dong. Siapa tau ada barang yang gue butuh juga." Revan mengambil tas nya.
"Oke. Kita berangkat." kata Ical sambil meninggalkan Revan yang masih memberikan pesan buat Intan, karyawannya.
"Tan, Tolong nanti kalo ada yang mau desain atau cetak kamu catat dulu aja orderannya. Nanti biar gue atau Ical follow up. Kalo ada yang mau ambil pesanan juga kamu cek di gudang ya." pesan Revan.
"Siap Mas." jawab Intan.
"Sama jangan lupa di cek juga keterangan pembayaran di barangnya. Yang teliti ya." kata Revan mengingatnya.
"Insha Allah aman Mas." Intan membentuk bulatan dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
Tak lama Ical dan Dio pun sampai ke toko kain Warna.
"Bentar ya aku nganter ini dulu." kata Ical.
"Oke." jawab Revan singkat. Dia sibuk dengan ponsel nya.
"Permisi. Saya mau ketemu Bu Shavira." kata Ical sopan.
"Oh Bu Vira. Silahkan Mas, beliau di sebelah sana." karyawan itu menunjuk ke sudut kiri belakang. Ical pun berjalan menghampiri sosok yang bernama Shavira itu.
"Iya saya Vira. Ada yang bisa dibantu Mas ?" tanya Vira.
"Mau ngantar pesanan banner sama flyer. Saya taruh mana ya Bu ?" kata Ical.
"Ooh.. Taruh disini aja." kata Vira sedikit ketus.
"Pembayarannya sudah lunas y Bu. Terimakasih." kata Ical.
"Iya. Makasih." Vira tak memperdulikan Ical dan sibuk menatap layar laptop di hadapannya.
"Saya permisi Bu." Ical langsung berbalik pamit. Dia sama sekali gak nyangka kalo orang yang bernama Shavira sangatlah ketus dan cuek seperti itu.
"Iya.. Iya.. Makasih Mas.. Siapa nama kamu tadi ?" tanya Vira menghentikan langkah Ical.
"Saya Ical Bu. Kan kita sudah sering bicara di telpon." Ical menjawab dengan sedikit kesal.
"Masa sih ? Saya lupa." Vira terlihat berpikir mengingat kapam pernah bicara di telepon dengan lelaki bernama Ical itu.
"Maaf Bu. Saya harus pergi, sudah ditunggu teman saya." Ical langsung berbalik menuju ke mobilnya.
"Segitu nya sampai gak inget pernah telponan sama aku." gumam Ical dalam hati.
"Loe kenapa sih kok mukanya suntuk banget ?" tanya Revan melihat Ical masuk dengan muka ditekuk.
__ADS_1
"Aku sebel sama yang namanya Shavira itu. Jutek dan sombong banget orangnya. Masa dia gak inget kalo pernah ngobrol sama aku di telpon. Lah kemarin yang diskusi soal banner itu apa ? Kan ngeselin." gerutu Ical.
"Hahaha. Sabar bro. Namanya juga klien. Beda - beda karakternya." Revan menepuk - nepuk bahu Ical untuk menenangkannya.
"Iya. Beda di telpon, beda juga pas ketemu langsung." kata Ical.
"Tapi cakep gak orangnya ?" goda Revan.
"Cakep sih tapi udah ibu - ibu." jawab Ical.
"Loe ngarepnya dia masih muda gitu ?" tanya Revan.
"Ya gak. Cuma dari suaranya sih kayak yang masih muda. Ternyata kenyataannya jauh banget." Ical masih tak percaya dengan hal itu.
"Patah hati dong Loe ?" goda Revan.
Ical hanya diam saja tak menghiraukan ucapan Revan.
Sementara itu di tempat lain..
"Ini siapa yang urus banner dan flyer ?" suara Vira menggema di seluruh toko. Untung saja toko sedang sepi pengunjung.
"Saya Ci." Avi menghampiri Vira.
"Nih bawa tuh. Biar gak penuh meja ku." kata Vira.
"Iya Ci. Orangnya mana ?" tanya Avi.
"Udah pulang. Kamu penasaran ? Cakep loh !" kata Vira.
"Palingan juga kurir yang antar. Kalo yang punya langsung pasti nyariin aku kan." kata Avi.
"Gak tau. Tadi yang antar namanya Ical. Hampir aja gue naksir ama dia kalo gak inget anak suami di rumah. Hehehe." Vira memandang Avi.
"Loh itu kan yang punya nya." batin Avi.
"Tih kayaknya mobilnya masih di depan." kata Vira. Avi pun langsung melangkah cepat keluar hendak menghampiri Ical. Setidaknyadia harus bertatap muka dan berterima kasih langsung sama Ical. Tapi sayangnya begitu Avi samapi di pintu depan, mobil Ical sudah melaju dan meninggalkan toko kain itu. Avi pun kembali masuk ke dalam toko kain.
"Saya bawa ini ke dalam dulu Ci." kata Avi disambut anggukan oleh Vira.
Ternyata yang ditemui Ical adalah Ci Vira, kakak dari Koh Dio. Pemilik toko kain itu. Hampir saja mereka bertemu.
Sabar dulu ya.. Belum waktunya Ical ketemu sama Avi.
Bagi vote atau Bunga atau secangkir kopi 😁😁
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih 🙏🙏🙏
Bersambung