
#Hai reader kesayangan othor.. Gimana kabar kalian ? Sehat kan ? Maaf ya Othor udah lamaaaa sekali tidak menulis. Mood lagi terjun bebas nih βΉοΈβΉοΈππ
Semoga masih setia dengan ceritaku ini..
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar Othor semakin semangat buat nulis.. #
Semoga kalian semua menikmati cerita ini ya. Enjoy !!
Selamat Membaca πππ
...***...
Avi merasa lega karena semua urusannya di Padang dan bukittinggi sudah selesai.
Seperti biasa, Ical memanfaatkan waktu untuk berwisata juga. Kali ini tujuannya ke Pantai Air Manis.
Pantai Air Manis terletak 15 kilometer dari pusat Kota Padang. Pantai ini adalah tempat wisata favorit bagi wisatawan lokal dan asing, karena memiliki gelombang yang rendah dan pemandangan indah Gunung Padang.
Ada juga sebuah pulau kecil bernama Pisang Kecil. Dari pagi hingga sore, para wisatawan bisa berjalan kaki ke pulau yang memiliki luas 1 hektar ini melalui air dangkal.
(source : google)
Selain bermain di air dan berenang, pengunjung bisa menyewa perahu motor untuk mengunjungi Pulau Pisang Kecil dan Pisang Besar, kepulauan yang terletak sekitar 500 meter dari pantai.
Di Pulau Pisang Kecil, pengunjung bisa duduk di bawah gazebo dan menikmati pemandangan laut dan pantai. Ada banyak hotel di dekat Pantai Air Manis.
Wisatawan juga bisa melakukan perjalanan satu hari ke Padang, atau menginap di Pisang Besar atau Pulau Sikuai.
"Alhamdulilah semua urusan sudah selesai. Aku bahagia bisa bertemu dengan keluarga Almarhum Ayah dan Ibu." Avi memeluk sang suami saat mereka duduk bersantai di depan hotel temlat menginap mereka.
"Iya Sayang. Mas juga bersyukur kita bisa menyambung lagi tali silaturahim dengan keluargamu." Ical mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Avi.
"Makasih ya Mas udah mau nemenin aku." Avi menatap suaminya.
"Sama - sama Sayang. Itu sudha jadi kewajiban Mas buat mendampingi dan mensupport kamu kapanpun dimanapun." Ical mengecup sekilas bibir Avi.
"Iih.. Mas nakal deh." Avi mencubit perut Ical yang sedikit buncit.
"Nakal sama istri sendiri pahala loh.. Kita bikinin adik buat baby triple yuk." bisik Ical di telinga Avi.
"Anda belum beruntung. Si tamu lagi datang." balas Avi sambil tersenyum jahil.
"Yasallam. Puasa lagi.." Ical menggusar rambutnya dengan kasar.
"Sabar ya Mas." Avi mengusap punggung sang suami sambil menahan tawa.
Hari ini Ical menemani Avi untuk membeli oleh - oleh sebelum pulang ke kota asalnya.
Masih ada waktu 5 jam sebelum jadwal keberangkatan pesawat mereka. Ical dan Avi bertolak ke bukittinggi untuk berpamitan pada maktuo, paktuo dan kakak sepupunya.
__ADS_1
"Maktuo pikir kamu bakal lebih lama disini." kata Nurul sambil memeluk keponakannya.
"Lain kali kami kesini lagi Maktuo. Kasihan si kembar ditinggal terlalu lama." jawab Avi sambil membalas pelukan Nurul.
"Nanti ajak si kembar kesini ya." kata Fatimah.
"Insha Allah Uni." Avi memeluk kakak sepupunya.
Setelah berpamitan pada yang lain, Avi dan Ical segera kembali ke kota Padang. Mereka juga mampir ke rumah sang nenek untuk berpamitan.
"Nenek sehat - sehat ya. Insha Allah lain kali kami ajak si kembar berkunjung kesini." kata Avi sambil menghapus airmata yang mengalir di pipi sang nenek.
"Iya Nak. Nenek tunggu kedatangan kalian." Nisa mencium pipi cucunya.
"Kami pamit dulu Nek." Ical mencium tangan sang nenek mertua.
"Jaga cucu nenek dengan baik ya. Salam buat keluargamu disana." Nisa mencium pipi cucu menantunya.
Ical segera pamit karena harus menuju bandara.
"Mas, masih ada waktu satu setengah jam. Gimana kalo kita mampir ke rumah om Fadil. Kemarin kan belum sempat bertemu." usul Avi.
"Boleh. Kita coba mampir kesana ya." Ical segera memberi alamat pada supir taksi online yang mereka tumpangi.
Mobil memasuki sebuah perumahan elit yang lokasinya dekat dengan bandara internasional Minangkabau.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah berlantai 2. Ical segera turun dari mobil sambil menggandeng tanag sang istri. Sopir taksi sengaja diminta menunggu hingga sang empunya rumah keluar.
"Waalaikumsalam." jawab suara dari dalam rumah.
Avi mengeratkan genggaman tangannya pada Ical.
Seorang pria keluar membukakan pintu. Dia menatap lekat pada Avi dan Ical bergantian.
"Kamu anaknya tante Nuraida ?" tanya pria itu.
"Iya Uda. Saya Avi, anak Ibu Nuraida dan ini suami saya." Avi memperkenalkan diri sambil menyatukan kedua tangan di depan dada.
"Apa kabar Kak. Saya Ical." Ical mengulurkan tangan pada Fadillah dan disambut dengan hangat.
"Ayo silahkan masuk." Fadil membuka pintu lebih lebar dan membanru menurunkan koper dari taksi online.
"Alhamdulilah akhirnya bisa bertemu dengan Uda." kata Ical.
"Iya. Saya juga senang bisa bertemu dengan kalian. Maaf baru bisa bertemu sekarang. Beberapa hari lalu saya sedang ada acara keluarga di Aceh." kata Fadil.
"Kami gak bisa lama - lama Da. Satu jam lagi pesawat kami berangkat." kata Ical.
Tak lama Tika, Istri Fadil keluar membawakan minuman dan makanan ringan.
Tika, istri Fadil masih muda dan terlihat seumuran dengan Avi, sedang hamil besar.
__ADS_1
"Udah berapa bulan Kak ?" tanya Avi sambil mengelus perut buncit Tika.
"Alhamdulilah sudah delapan bulan. Kamu sudah punya momongan Vi ?" Tika balik bertanya.
"Alhamdulilah anak kami kembar 3." jawab Avi.
"Dan sekarang lagi program anak keempat." Ical menambahkan.
"Apaan sih Mas." Avi mencubit perut Ical.
Ketiga orang lainnya tertawa mendengar gerutuan Avi.
"Avi, Ical, ada hal yang harus saya luruskan pada kalian." Fadil terlihat serius.
"Kalo mengenai tanah warisan dari Ibu, kami sudah menerimanya." kata Avi.
"Alhamdulilah kalo begitu. Tapi sebenarnya bukan saya yang memakainya. Tapi mereka menjadikan saya kambing hitam." Fadil menjelaskan.
"Sudah Da. Tidak apa - apa. Kami tak ingin membahasnya. Kami juga sudah tau siapa orang yang menggunakannya. Itulah salah satu alasan kenapa kami ingin sekali bertemu dengan Uda Fadil." Ical mewakili sang istri berbicara.
"Iya Da. Gak usah dibahas lagi soal itu." Avi menambahkan.
"Syukurlah kalo kalian berpikir begitu." kata Fadil dengan suara pelan.
Mereka melanjutkan obrolan ringan tentang keluarga. Hingga tak terasa sudah 30 menit berlalu.
"Da, maaf banget, kami harus pamit sekarang." kata Ical.
Saya antar ya ke Bandara." kata Fadil.
Ical dan Avi pun hanya mengangguk. Fadil dan istrinya, Tika, mengantar Avi dan Ical ke Bandara.
Ical bergegas untuk check in karena waktu sudah tinggal setengah jam lagi sebelum boarding.
Setelah itu mereka berpamitan pada Fadil dan Tika sebelum masuk ke ruang tunggu.
...***...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Jangan lupa ada cerita baru juga, judulnya "Tiga Dara".
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
__ADS_1
Bersambung