
#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan update 2/3 hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...*****...
Hari ketiga Bulan madu mereka lebih banyak dihabiskan di dalam kamar.
Setelah kepulangan Aca dan Difan, Ical terus mengurung Avi di dalam kamar.
"Mas, aku kan pengen jalan - jalan." protes Avi pada suaminya.
"Besok aja jalan - jalan sekalian cari oleh - oleh. Sekarang kita bikin cucu dulu buat Bunda." gumam Ical di telinga Avi.
Ical pun kembali menciumi Avi hingga keduanya berakhir di ranjang. Ical memperlakukan istrinya dengan lembut dan membiarkannya mencapai puncak lebih dulu. Setelah itu Ical kembali mencumbu Avi hingga keduanya sama - sama mencapai puncak dan 'kecebong' Ical berenang bebas dalam rahim Avi. Ical ambruk di atas tubuh Avi sambil menciumi kening sang istri. Tak lama Ical pun berguling ke samping Avi dan menyelimuti tubuh polos mereka berdua.
"Mas, udah jam berapa ini ? Aku lapar." tanya Avi.
"Jam 1 siang sayang. Kamu lapar ? Aku pesenin makanan dari restoran ya." kata Ical.
Avi hanya mengangguk lalu bangun menuju kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, Avi duduk di sofa sebelah Ical. Sambil menunggu makanan datang, mereka mengobrol santai.
"Vi, kamu gak pengen cari tahu soal keluarga kandung kamu ?" tanya Ical.
"Gak deh Mas. Aku juga gak tau asal orangtuaku. Mereka merantau ke Bandung katanya karena bermasalah dengan keluarganya." jawab Avi.
"Kamu tau soal itu ?" tanya Ical lagi.
"Gak. Aku masih terlalu kecil waktu orangtuaku meninggal. Nenek yang merawatku juga meninggal saat aku berumur 5 tahun. Sejak itu aku tinggal dengan Bu Rini di panti asuhan." Avi menceritakan masa kecilnya.
"Aku salut sama kamu. Bisa tegar menceritakan soal itu." kata Ical sambil mengelus kepala Avi.
"Makasih Mas. Mau mencintai aku yang anak yatim piatu ini." kata Avi.
"Hhmm.. Nanti kita punya anak yang banyak ya Vi. Bair rumah selalu ramai." kata Ical berandai - andai.
"Ya segimana dikasihnya sama Allah aja. Meski anak kita sedikit tapi kita bisa kan punya nak asuh juga." kata Avi.
"Kamu mau punya anak asuh ?" tanya Ical.
"Aku pengen punya tempat untuk menampung anak - anak yang gak punya orang. Hanya rumah kecil - kecilan pun gak apa - apa." Avi menceritakan impiannya.
"Insha Allah nanti kita bisa buat panti asuhan. Menabung dan berdoa ya sayang." kata Ical.
Tak lama makanan yang dipesan pun datang, Ical dan Avi menikmati makanan dengan lahap.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam harinya Ical mengajak Avi untuk makan malam romantis di tepi pantai.
__ADS_1
(source : google)
"Mas, kamu yang nyiapin ini ?" tanya Avi.
"Bukan aku yang nyiapin. Aku kan tinggal pesan aja." jawab Ical smabil memeluk pinggang ramping Avi.
"Makasih ya Mas. Semoga kamu gak berubah setelah lama nikah denganku." kata Avi sambil mencium pipi Ical sekilas.
"Kamu doakan aja ya aku gak berubah." Ical balas mencium sekilas bibir ranum Avi.
"Mas, banyak orang." protes Avi.
"Biarin aja. Mereka juga tau kita lagi bulan madu." Ical terkekeh mendengar kepanikan Avi.
"Aaa... sayang..." Ical menyodorkan sepotong daging tepat di depan mulut Avi.
Avi menerima suapan itu dengan malu - malu.
"Nih, gantian buat Mas." Avi juga menyuapkan sepotong daging pada Ical.
"Enak ya makanannya. Suasananya juga romantis." kata Ical sambil menggenggam tangan Avi.
"Mas, aku mau deh liburan kayak gini lagi." kata Avi.
"Ini juga belum pulang Vi. Udah mau berangkat lagi aja." ledek Ical.
"Ya bukan sekarang. Beberapa bulan lagi gitu." kata Avi.
"Ya nanti deh. Mas usahain tiap bulan kita akan liburan. Entah staycation atau ke temoat yang deket - deket aja. Kalo liburan jauh kayak gini, ya setahun sekali lah." kata Ical.
"Insha Allah. Mas cuma ingin membahagiakan kamu." gombal Ical.
"Kita Mas. Kita yang akan bahagia bukan cuma aku aja." Avi tersenyum menatap sang suami.
"Iya Bener. Kita harus selalu bahagia." kata Ical sambil mengecup punggung tangan Avi.
Malam harinya, Ical kembali menggempur Avi. Seolah tak ada capek dan bosan.
"Kenapa kamu begitu menyenangkan sih Yang." gumam Ical dengan suara paraunya.
"Hhmm.." Avi hanya bergumam sambil menikmati sentuhan tangan Ical di tubuhnya.
Ical semangat menjelajahi tubuh Avi. Tak lama melakukan pelepasan di dalam Avi. Keduanya berpelukan sambil terengah - engah.
Ical membawa tubuh polos sang istri ke dalam selimut dan merangkulnya dengan erat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tak terasa hari ini adalah hari terakhir bulan madu mereka. Avi sudah mengemasi pakaian dan oleh - oleh yang mereka beli.
Mereka langsung menuju ke bandara dengan diantar mobil dari resort.
Avi dan Ical terus bergandengan tangan memasuki area bandara. Keduanya menunggu waktu boarding di ruang tunggu bandara.
"Semoga mereka sudah tumbuh di dalam sini ya! " Ical mengusap perut Avi yang masih rata.
__ADS_1
"Aamiin." Avi tersenyum pada suaminya.
"Enaknya kita langsung pulang ke rumah kita atau ke rumah Bunda ?" tanya Ical.
"Kayaknya ke rumah Bunda dulu aja Mas." jawab Avi.
"Iya juga. Tapi sehari aja disana ya. Besok kita pulang ke rumah sendiri." kata Ical.
"Emang kenapa Mas ? Kan di rumah Bunda lebi rame." tanya Avi.
"Justru karena rame itu kita jadi gak bebas buat melakukan 'itu'. " bisik Ical.
"Iih.. Kamu nakal ya Mas." Avi mencubit lengan Ical.
"Hehehe. Kan harus sering disiram biar cepet tumbuh." kata Ical.
Avi hanya melengos mendengar ucapan sanh suami. Meski dalam hatinya ikut tersenyum juga.
Panggilan untuk masuk pesawat mereka sudah terdengar. Keduanya pun melangkah masuk menuju tempat duduk mereka.
Satu setengah jam kemudian, pesawat mereka sudah tiba di Bandara Juanda. Ical mengantri di pengambilan bagasi. Sedangkan Avi menghampiri Agus, Bayu dan Lia yang menjemput mereka.
"Teteh... Aku kangen." Lia langsung berlari memeluk Avi.
"Kalian sehat - sehat kan ?" tanya Avi.
"Alhamdulilah Teh. Ponakan aku udah ada disini belum ?" Lia mengusap perut Avi.
"Kamu nih. Baru juga beberapa hari." Avi menyentil kepala Lia.
"Hehehe. Tapi udah kan Teh ?" bisik Lia smabil. mengerlingkan matanya.
"Udah apaan sih ? Dasar anak kecil." gerutu Avi dengan muka yang mulai merah.
"Aku udah besar Teh. Bentar lagi juga mau nikah." jawab Lia sambil tertawa kecil.
Avi tak mau menjawab pertanyaan dari adik angkatnya itu. Mereka langsung menuju ke mobil setelah melihat Ical muncul dengan koper - koper mereka.
...****...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Jangan lupa ada cerita baru juga, judulnya "Tiga Dara".
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
Bersambung
__ADS_1