
#Hai reader kesayangan othor.. Gimana kabar kalian ? Sehat kan ?
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar Othor semakin semangat buat nulis.. #
Semoga kalian semua menikmati cerita ini ya. Enjoy !!
Selamat Membaca πππ
...****************...
Pagi harinya, Aca masuk ke kamar Sissy untuk membangunkannya.
"Bun, udah siang. Mau Aca bantuin bersih - bersih ?" Aca memanggil Bundanya.
Belum ada jawaban dari Sissy.
"Bun... Masih gak enak badan ya ?" tanya Aca sambil memegang lengan Bundanya.
Tak ada reaksi dari Bundanya.
"Bun.. Bunda.. Bangun Bun..." Aca mengguncang tubuh Sissy lebih keras.
Aca mulai panik melihat sang Bunda tak bereaksi bahkan matanya tetap terpejam.
"Mas.. Bunda Mas.." teriak Aca dari dalam kamar.
Difan yang mendengar teriakan istrinya segera berlari menghampiri.
"Kenapa Yang ?" tanya Difan.
"Bunda Mas.. Bunda diam aja." Aca menjawab dengan suara tercekat.
"Bunda kenapa Ca ? Mas ?" tanya Ical dan Avi yang langsung menghampiri ketika mendengar teriakan Aca. Kebetulan tadi Ical dan Avi sedang di halaman rumahnya.
"Sebentar aku periksa dulu Cal." kata Difan lalu memegang nadi tangan Sissy. Tak lama Difan lalu mengambil kaca kecil dan meletakkan tepat di bawah lubang hidungnya.
"Innalilahi wa innalilahi rojiun. Bunda sudah gak ada." kata Difan lirih.
__ADS_1
"Innalilahi Wa innalilahi rojiun. Bunda..." Ical langsung mendekat pada Sissy.
Aca dan Avi pun langsung mendekat pada sang bunda.
"Bunda..." Aca memeluk tubuh Bunda nya.
Difan segera menghubungi Ridwan agar segera datang ke rumahnya untuk memeriksa Sissy.
"Innalilahi wa innalilahi rojiun. Bunda sudah menghadap Allah Swt. Kalian yang sabar dan tabah ya." kata Ridwan.
"Mas, Bunda.." Aca langsung memeluk suaminya dengan erat.
"Iya Sayang. Kita ikhlaskan Bunda ya. Biar Bunda lebih tenang disana." kata Difan sambil mengusap punggung sang istri untuk menguatkannya. Sissy pergi di tanggal yang sama, tepat 6 tahun setelah kepergian Rio.
Avi pun ikut menangis dalam pelukan Ical.
Ridwan segera menghubungi Mertuanya untuk mengabarkan kepergian Bunda Sissy.
Dafa yang juga telah dihubungi oleh Difan pun berinisiatif menjemput keponakan - keponakannya di sekolah. Maklum saja, saat itu baru pukul 9 pagi. Kian membantu mengurus tempat pemakaman Sissy. Ical dan Difan pun berbagi tugas mengurus persiapan untuk memandikan jenazah.
"Zi, dimana Sissy ? Kenapa dia harus pergi duluan ?" Amira datang tergopoh - gopoh sambil menahan tangisnya.
"Kemarin Sissy sempat sakit. Tapi kata Ridwan hanya kecapekan aja." jawab Zizi.
"Si.. Kamu terlihat cantik dan bahagia." Amira mengusap lembut pipi sahabatnya itu.
"Iya Ra. Kita harus ikhlaskan kepergian Sissy. Lihat.. dia seperti sedang tersenyum bahagia." Zizi berpelukan dengan Amira.
"Titip salam buat Yoan ya Si. Kami juga pasti akan menyusul." ucap Amira lirih.
Setengah jam kemudian Kian dan Vanya datang membawa kain kafan dan segala perlengkapan untuk mengkafani jenazah.
Proses memandikan dan mengkafani jenazah pun berjalan dengan cepat. Kini tinggal menunggu makam siap.
"Kalian yang sabar ya. Bunda kamu sudah tenang disana." Amira menghampiri Aca dan Avi yang duduk di samping jenazah sambil mendoakan.
"Iya Ma. Makasih." jawab Aca. Avi hanya tersenyum pada sahabat mertuanya itu.
__ADS_1
"Bun.. Ma.. Oma kenapa ?" Caca berteriak masuk ke dalam rumah.
"Sayang.. Oma sudah berpulang ke Allah. Kalian harus ikhlas ya." Avi memeluk putri sulungnya itu. Nia dan Nana juga berhambur ke pelukan Aca. Ke delapan cucu Sissy berkumpul mendekat pada jenazah sang oma.
"Kalian ganti baju dulu ya. Setelah itu kita mendoakan Oma bersama - sama." kata Ical.
"Iya Yah." Jawab Abi mewakili saudaranya. Mereka menuju ke rumah masing - masing untuk berganti pakaian. Lalu setelahnya bergegas duduk mengitari jenazah sang Oma untuk membaca yasin bersama - sama.
Aca terlihat lemas dalam pelukan Difan saat jenazah sang Bunda dimasukkan ke peristirahatan terakhirnya. Sedangkan Avi terlihat tegar sambil memeluk kedua putrinya. Ical ikut masuk ke dalam liang lahat untuk menerima jasad sang Bunda. Dia juga mengumandangkan adzan yang terakhir kalinya untuk sang Bunda. Setelahnya Ical naik dan berdiri di samping Avi, istrinya. Avi memeluk sang suami untuk menguatkannya.
Satu persatu tamu yang hadir mulai meninggalkan pemakaman. Hingga menyisakan keempat anak mantu. Para cucu sudah terlebih dulu pulang bersama Dafa, Hana dan Vanya. Sedangkan Kian mengawal para tetua pulang ke rumahnya.
"Selamat jalan Bun. Ical melihat Bunda sudah bahagia bisa berkumpul lagi dengan Ayah. Terima kasih atas kasih sayang dan perhatian Bunda buat kami." ucap Ical dalam hati sambil menghapus airmatanya.
Di sisi yang lain, Aca pun menatap dalam pada tanah yang masih merah dan basah tempat peristirahatan terakhir Bundanya.
"Makasih Bunda atas segala pengorbanan dan kasih sayang Bunda untuk kami. Aca bahagia menjadi anak Bunda. Maafkan kalo Aca selalu menyusahkan Bunda. Semoga Bunda bahagia bisa berkumpul kembali dengan Ayah. Bunda dan Ayah akan selalu ada di hati kami." Aca berucap dalam hati. Difan memeluk Aca lebih erat lagi sambil mengusap lengannya untuk lebih menguatkannya.
"Mari kita pulang. Kita biarkan Bunda beristirahat." Difan membantu sang istri untuk bangkit dan berjalan meninggalkan area pemakaman. Ical pun bangkit bersama Avi mengikuti langkah saudara kembar dan iparnya.
...****************...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Jangan lupa ada lain yang judulnya "Tiga Dara".
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
Bersambung
__ADS_1