
#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan update 2/3 hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
...Selamat Membaca π...
...*****...
"Nana.. Itu Bunda kamu." kata Aca sambil mencubit pipi Nana yang berada dalam gendongannya lembut.
"Bunda.." gumam Avi dalam hati. Entah kenapa hatinya sangat gembira mendengar panggilam yang diberikan Aca padanya.
"Eh.. Gak apa - apa kan aku suruh anak - anak panggil kamu Bunda. Soalnya Ical kan Ayah mereka." Aca bertanya pada Avi.
"Iya Gak apa - apa Mbak." jawab Avi malu - malu.
"Jangan panggil aku Mbak, Panggil nama aja." kata Aca.
"Iya." kata Avi singkat.
"Kita ngobrol sambil duduk disana yuk. Sekalian aku masih nyusuin mereka." ajak Avi. Mereka pun duduk di salah satu bangku yang cukup teduh. Aca langsung mengeluarkan epron untuk menyusui.
"Kayaknya kamu sudah biasa gendong anak kecil ya ?" tanya Aca.
"Iya. Dulu kan aku pernah kerja jadi babysitter." jawab Avi.
"Oh ya ? Kamu kayaknya banyak pengalaman kerja ya." Aca kagum dengan Avi.
"Ya karena kebutuhan Ca. Aku kerja buat bantuin Ibu panti aku. Terus pas panti kebakaran dan Ibu meninggal, akhirnya aku kerja buat biayain adik - adik aku yang tersisa." Avi menceritakan kisah hidupnya.
"Innalilahi. Panti asuhannya kebakaran ?" tanya Aca.
"Iya. Saat itu aku sama empat orang lainnya sedang tidak di panti. Kami sekolah dan kuliah. Panti terbakar habis. Ibu dan adik - adik yang kecil meninggal semua." Avi menceritakan kisah pilu di masa lalunya.
"Turut prihatin ya." Aca jadi gak enak karena Avi pasti sedih teringat akan kejadian itu.
Avi hanya terdiam sambil tersenyum.
"Mereka mirip banget ya." Avi berusaha mengalihkan pembicaraan sambil mengusap lembut pipi gembul Nia.
"Iya. Mereka kembar identik. Sama seperti Papanya. Kalo aku dan Ical kembar non identik." Aca mengusap Nana yang sedang menyusu.
Tak lama Nana sudah tertidur. Aca langsung menidurkannya di trolley dan mengambil Nia dari gendongan Avi. Untungnya kedua anaknya memiliki sifat seperti Difan yang kalem. Sehingga ketika diajak ke tempat umum seperti ini pun tidak rewel.
"Vi, kita beli makan yuk. Aku lapar nih!" kata Aca.
"Pasti udah kesedot semua sama si kembar." kata Avi.
"Iya nih. Minta tolong dong beliin makanan disana." Aca menunjuk sebuah gerai ayam goreng yang terkenal itu.
"Oke. Aku beliin ya." Avi langsung beranjak meninggalkan Aca dan si kembar.
__ADS_1
Setelah Nia selesai menyusu, Aca langsung menidurkannya di trolley. Diapun mengambil ponselnya dan menghubungi Sissy.
*kring.. kring... *
"Assalamualaikum Bunda."
"Waalaikumsalam."
"Bun, aku udah ketemu nih sama calon istrinya Ical."
"Oh iya ? Anaknya gimana ?"
"Orangnya baik, cantik, santun, dan terlihat sholeha Bun."
"Alhamdulilah. Pilihan Ical emang bagus."
"Iya Bun. Dia juga suka sama anak kecil. Daritadi bantuin Aca ngurus si kembar."
"Emang kalian dimana ?"
"Kita lagi di Jatim park Bun. Yang lain pada menikmati wahana, Aca lagi duduk abis nyusuin si kembar, ditemenin sama dia."
"Brarti sekatang dia ada di dekat kamu dong."
"Gak. Dia lagi beliin makanan buat Aca."
"Kamu tuh makan mulu. Kasian anak otang disuruh - suruh."
"Dasar kamu ya. Awas jangan sampe Ical tau."
"Gaklah Bun. Lagian cuma beli makan doang."
"Iya. Kalian hati - hati ya. Have fun."
"Iya Bun. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Tak lama kemudian Avi datang membawa sekantung besar berisi berbagai makanan cepat saji.
"Kok banyak banget Vi ?" tanya Aca sambil melongok isi kantong.
"Iya nih sekalian beliin buat yang lain. Ada cream soup juga buat si kembar." Avi mengeluarkan 2 mangkuk cream soup.
"Makasih Bunda Avi." Aca menirukan suara anak kecil.
Aca mengambil sebuah burger dan cola, Lalu memakannya dengan lahap. Mereka pun melanjutkan obrolan ringan.
"Wah.. Asik bener ngobrolnya." Difan sudah muncul di belakang mereka.
"Kakak... Bikin kaget aja." gerutu Aca.
__ADS_1
"Laper nih. Kita cari makan yuk." ajak Ical yang sudah duduk di samping Avi.
"Kalian makan ini dulu aja. Tadi Avi yang beli. Aca menyodorkan beberapa kantong berisi makanan.
"Makasih banget ya Vi. Untung ada kamu, kita jadi bisa ganjel dulu." kata Difan.
"Kalian juga ambil. Nih." Avi memberikan kantong berisi burger dan cola pada ketiga adiknya.
"Makasih Teh." Lia menerima kantong itu dan membaginya pada Agus dan Bayu.
"Aku kok gak ditawari ?" Ical cemberut sambil menatap Avi.
"Iya Mas. Nih Mas." Avi memberikan sebuah burger pada Ical.
"Gitu aja pake ngambek." ledek Aca.
"Makasih calon istriku." Ical tersenyum pada Avi yang langsung tertunduk malu.
"Dunia berasa milik berdua deh. Dasar bucin." Aca menyindir pasangan itu.
"Yang, Anak - anak bangun nih." kata Difan.
"Anak Mama sudah bangun ? Kok bentar tidurnya sayang ?" Aca mengambil Nana dari trolley. Difan pun dengan sigap mengambil Nia dan menggendongnya.
"Kak, Ada cream soup nih buat mereka. Biar aku suapin ya." Aca mengambil cream soup dari meja.
"Aku bantuin suapin mereka ya." Avi menawarkan bantuan.
"Gak usah Vi. Kamu makan aja. Biar aku suapin sendiri aja." kata Aca. Aca menolak bantuan Avi karena tak ingin Ical marah padanya.
Aca lalu menyuapi si kembar bergantian.
Avi memakan burgernya sambil. tersenyum melihat kehangatan keluarga kecil Aca dan Difan.
"Tenang aja nanti kita juga bisa seperti itu." bisik Ical di telinga Avi.
"Apaan sih Mas." Avi menjauhkan kepalanya lalu menatap Ical. Ical hanya tersenyum melihat reaksi Avi.
...***...
Bagi vote atau Bunga atau secangkir kopi ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
__ADS_1
Bersambung