Mengejar Cinta Shavira

Mengejar Cinta Shavira
#24 Dunia Begitu Sempit


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan update 2/3 hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar semakin semangat buat nulis.. #


Selamat Membaca πŸ“–


...*****...


Hari Minggu Pagi Ical sudah dalam perjalanan pulang bersama Avi.


"Kamu tenang aja. Bunda dan Ayah aku gak galak kok." Ical coba menenangkan Avi.


"Iya Mas. Cuma bingung aja nanti harus gimana." kata Avi.


"Biasa aja. Jadi diri sendiri aja." kata Ical.


"Mas nanti temenin Avi terus ya." pinta Avi.


"Iya. Nanti Mas temenin." kata Ical.


Avi pun tertidur selama perjalanan, karena semalam dirinya tak bisa tidur memikirkan hari ini. Hingga tak terasa mobil sudah memasuki kota Malang dan menuju ke rumah Ical.


"Vi, udah mau sampai nih." panggil Ical.


"Eh.. Maaf Mas. Aku ketiduran." Avi merapikan hijabnya.


"Gak apa - apa." Ical tersenyum melihat Avi yang panik merapikan baju dan wajahnya.


Mobil berbelok ke sebuah rumah sederhana dengan halaman yang asri.


Ical pun mengajak Avi turun. Belum sempat Ical mengetuk pintu, ternyata Sissy sudah membukanya.


"Assalamualaikum Bun." Ical mencium tangan Bundanya.


"Waalaikumsalam." jawab Sissy.


"Bu, kenalin ini Avi." Ical menunjuk pada Avi ynang sedikit menunduk.


"Assalamualaikum." Avi mencium tangan Sissy dan mengangkat wajahnya.


"Waalaikumsalam. Kamu Avi, karyawannya Dio dulu ya ?" sapa Sissy.


"Bu Rissya ?" tanya Avi tak percaya.


"Ternyata kamu perempuan yang dicari - cari sama anak saya ?" kata Sissy tak percaya.


"Maksud Ibu ?" Avi tak mengerti.


"Iya itu.. Selama ini Ical selalu cari kamu terus. Sejak di Bandung." kata Sissy.


"Bunda..." Ical mengusap lembut tangan Bundanya.


"Eh.. Maaf. Bunda keceplosan. Kamu tanya sendiri sama Ical aja ya." kata Sissy.


"Bun, tamunya gak disuruh masuk ?" kata Rio pada istrinya.


"Eh iya. Bunda sampai lupa. Ayo masuk dulu Nak." ajak Sissy.


Avi pun masuk dan duduk di sofa ruang keluarga. Dia duduk bersebelahan dengan Sissy.


"Kamu makin cantik aja." puji Sissy.


"Makasih Bu." kata Avi malu - malu.


"Panggil Bunda aja. Biar sama kayak Ical." kata Sissy.


"Iya Bun." jawab Avi sedikit menunduk.


"Bun, Ayah mau ke kamar dulu, mau telpon Widi. Saya tinggal dulu ya Nak." pamit Rio.


"Iya Yah." jawab Sissy dan dibarengi dengan Avi yang menggangguk.


"Kamu santai aja, jangan tegang gitu ya Nak." Sissy mengusap lembut punggung Avi.


"Iya Bun. Saya masih gak nyangka kalo orangtua Mas Ical adalah bu Rissya." kata Avi sambil wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.


"Iya Bunda juga gak nyangka loh. Padahal beberapa kali kita bertemu ya. Ical pun gak pernah cerita kalo dia kenal kamu." kata Sissy.

__ADS_1


"Kan Ical juga gak tau kalo Bunda kenal sama Avi." Ical menimpali.


"Tau gitu kan dari dulu aja ya Bunda kenalin kamu sama anak Bunda." kata Sissy.


"Yang penting kan sekarang udah ketemu." Ical yang menjawab.


"Iya. Alhamdulilah." kata Sissy.


Tak lam kemudian terdengar dering ponsel milik Ical.


"Ical angkat telpon dulu ya Bun, Vi. Dari kantor." kata Ical. Sissy dan Avi kompak menggangguk.


"Kamu kerja dimana sayang ?" tanya Sissy.


"Avi kerja di Alamanda Express di Singosari." jawab Avi.


"Wah jauh juga ya. Tinggal di daerah sana ?" tanya Sissy lagi.


"Iya. Avi kost di sana, biar dekat sama kantor." jawab Avi.


"Katanya kamu sama adik - adik disini ? Mereka tinggal bareng ?" Sissy masih terus bertanya.


"Adik - adik kan udah besar, jadi kami tinggal terpisah." Avi kembali tersenyum pada Sissy.


"Ooh.. Bunda kira adik kamu masih sekolah." kata Sissy.


"1 orang sedang pkl di rumah sakit, calon perawat. Yang 2 cowok, buka bengkel sendiri di Batu." Avi menjelaskan.


"Ooh.. Udah mandiri ya." timpal Sissy.


"Iya Bun. Malah 2 orang adik Avi berpacaran dan ingin menikah." cerita Avi.


"Kok bisa ? Jodoh emang gak ada yang tau ya." kata Sissy.


"Iya Bun. Avi juga gak tau gimana mereka bisa saling suka. Tapi kami kan emang anak yatim piatu jadi saudara sesama anak asuh." jawab Avi.


Entah kenapa Avi merasa sangat nyaman bercerita pada Sissy. Mereka asik bercerita dengan seru. Avi seperti merasakan kehangatan sosok Ibu yang tak pernah dirasakannya lagi.


"Lagi ngobrolin apa sih ? Akrab bener." goda Ical yang tiba - tiba muncul di hadapan mereka.


"Iya dong. Bunda jadi berasa punya anak gadis lagi." kata Sissy sambil tersenyum bahagia.


"Syukurlah kalo mereka cocok." gumam Ical dalam hati.


"Udah mau dhuhur. Ayo kita ke masjid Cal." ajak Rio yang sudah rapi dengan baju koko dan sarungnya. Ical masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan bergegas ke masjid bersama Ayahnya.


Sissy dan Avi pun sholat bergantian. Lalu Sissy menyibukkan di dapur untuk menyiapkan makan siang.


"Saya bantu Bun." kata Avi.


"Boleh. Kamu siapin piring nya ya." kata Sissy.


Avi pun menata piring di meja makan. Seelah itu Avi juga memindahkan nasi dari magicom ke dalam mangkok besar.


"Udah selesai. Tinggal nunggu Ayah sama Ical. Tumben mereka lama sekali." kata Sissy.


"Sabar. Kita tunggu aja Bun." kata Avi.


Mereka pun duduk di ruang makan sambil mengobrol ringan.


"Assalamualaikum." Rio dan Ical memberi salam.


"Waalaikumsalam. Tumben kok lama Yah ?" tanya Sissy.


"Iya tadi diajak ngobrol sama Pak RW dulu." jawab Rio.


"Tumben pak RW ngajak ngobrol lama." kata Sissy.


"Iya Bun. Pak RW minta tolong dibuatin Spanduk untuk acara RW." Jawab Ical.


"Ooh.. Kamu bantu ya Nak." kata Sissy.


"Pasti Bun." kata Ical sambil tersenyum.


"Ayo kita makan. Ayah sudah lapar." Rio langsung duduk di kursi makan.


Sissy pun langsung menghampiri dan mengambilkan nasi lengkap dengan lauk pauknya untuk suaminya. Rio menatap istrinya dan mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Avi tersenyum melihat kemesraan suami istri itu.


"Ayo Vi. Cobain masakan Bunda." Ucapan Sissy mengagetkan Avi.


"Iya Bun." Avi pun langsung mengambil nasi dan lauk pauknya.


"Aku gak diambilin Vi ?" goda Ical.


Avi hanya menatapnya dengan tajam.


"Becanda. Aku bisa ambil sendiri kok." kata Ical sebelum melihat Avi ngomel.


"Nanti kalo udah nikah baru dilayanin sama Avi. Iya kan Nak ?" goda Sissy pada calon mantunya itu.


"Insha Allah Bun." jawab Avi sambil menunduk.


Setelah makan, Avi membantu Sissy mencuci piring dan merapikan meja makan. Setelah itu mereka bergabung dengan Rio dan Ical yang sedang duduk santai di bale - bale di halaman belakang.


"Bunda gak sabar pengen ngenalin kamu sama saudara kembarnya Ical." kata Sissy.


"Saya udah ketemu sama Aca dan si kembar kok Bun." kata Avi.


"Yang bener ? Kapan ?" Sissy kaget dengan ucapan Avi.


"Beberapa minggu yang lalu. Sebelum Aca pulang ke Bandung." jawab Ical.


"Kok Bunda agak tau ?" Sissy menatap tajam pada anak bujangnya.


"Waktu Aca ngajakin ke Batu loh Bun. Bunda sama Ayah kan gak mau ikut." jawab Ical sambil cengengesan.


"Ya kamu gak bilang kalo mau ketemuan sama Avi." kata Sissy.


"Sengaja sih. Biar Bunda gak ikut. Hehehe." kata Ical.


"Dasar anak nakal. Aca juga sama aja. Kok gak cerita - cerita sama Bunda sih." gerutu Sissy.


"Kan belum pasti Avi mau sama Ical. Tahap pertama harus ketemu sama Aca dulu, baru keemu Bunda." kata Ical sambil menjauh untuk menghindari cubitan Bundanya.


"Emang sekarang Avi udah mau sama kamu ? " sindir Sissy.


"Ya udah lah Bun. Buktinya mau diajak kesini." jawab Rio mewakili Ical dan Avi.


"Sok tau deh. Tapi bener kan Vi. Kamu mau sama anak Bunda yang nakal ini ?" tanya Sissy menggoda Avi.


"Insha Allah Bun." Avi tersipu malu.


"Tenang aja. Ayah jamin Ical tuh baik dan sabar. Kayak ayahnya." goda Rio.


"Ah masa ?" sindir Sissy pada suaminya.


"Iya. Ayah juga udah siapin rumah buat kalian." kata Rio.


"Emang gak tinggal disini bareng kita ?" tanya Sissy.


"Ya gaklah Bun. Biar mereka mandiri dan bebas ngapa - ngapain. Kalo ada kita kan jadi malu, kayak gak pernah muda aja." goda Rio sambil tersenyum pada Ical dan Avi bergantian.


"Iya ya Yah. Biar gak nunda - nunda kayak kita dulu." Sissy mencubit gemas lengan suaminya.


"Udah dong Bun. Udah merah tuh mukanya." kata Ical sambil tersenyum melihat Avi yang semakin menundukkan wajahnya.


Avi bisa merasakan kehangatan keluarga mereka.


"Bunda gak sabar melihat kalian menikah. Jangan lama - lama ya Vi." Sissy memeluk Avi dari samping.


...***...


Bagi vote atau Bunga atau secangkir kopi 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.


Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2