Mengejar Cinta Shavira

Mengejar Cinta Shavira
#73 Kehilangan


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Gimana kabar kalian ? Sehat kan ? Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar Othor semakin semangat buat nulis.. #


Semoga kalian semua menikmati cerita ini ya. Enjoy !!


Selamat Membaca πŸ“–πŸ“–πŸ“–


...****************...


Hari sudah malam tapi Rio belum juga pulang.


"Ca, tolong telpon Ayah kamu. Kok belum datang juga. Ponsel Bunda sedang di cas." pinta Sissy.


"Iya Bun." Aca menghubungi ponsel sang Ayah tapi ponselnya tidak aktif.


"Gimana Ca ?" tanya Sissy.


"Ponsel Ayah mati Bun. Gak bisa dihubungi." jawab Aca.


"Biar Difan yang telpon ke nomer Papa Bun." kata Difan. Difan menghubungi Topan tapi yang terdengar suara operator saja.


"Gak aktif juga." kata Difan membuat Sissy semakin cemas.


"Aduh.. Ayah kalian kemana sih ?" kata Sissy sambil melangkah keluar rumah.


"Bun, Aca telponin Mama Amira ya. Siapa tau Alada kabar dari Papa Alif.


Aca menghubungi Amira. Aca tampak menggelengkan kepala memberi tanda bahwa Amira juga gak tau kabar Ayah Alif dan yang lainnya.


Kali ini gantian Ical yang coba menelpon ponsel Rio.


"Nyambung Bun." Kata Ical saat terdengar nada sambung di ponselnya.


"Halo.. Assalamualaikum. Ayah... ?" sapa Ical.


"......."


"Ini dengan siapa ?" tanya Ical lagi.


"......."


"Ayah saya dimana ? Bagaimana keadaannya ?" Ical terlihat mulai panik.


"......."


"Innalillahi wa Inna lillahi rojiun." Ical nampak tertunduk sedih.


"......."

__ADS_1


"Makasih Mas. Saya segera kesana." Ical menutup panggilan telponnya dan berjalan menuju sang Bunda.


"Bunda yang sabar ya..." Ical mengusap punggung Sissy.


Sissy yang mendengar dan melihat sikap sang anak semakin panik dan perlahan pandangannya mulai gelap.


"Bunda..." terdengar teriakan anak - anak dan menantunya sebelum Sissy pingsan.


Sissy mendengar suara berbisik yang sedang mengobrol di dekatnya. Sakit di kepalanya masih terasa saat Sissy mencoba untuk bangun.


"Auw..." Sissy memegangi kepalanya yang terasa berputar.


"Bunda... Bunda udah sadar ?" Aca dan Avi menghampiri Sissy.


"Bunda tiduran aja dulu kalo masih pusing." Avi menahan Sissy agar tidak bangun.


"Ca, kenapa Ayah kamu ? Dia dimana ?" Sissy bertanya dengan panik.


"Bunda yang sabar ya.. Ical sedang jemput Ayah di rumah sakit." jawab Aca singkat.


"Ayah kamu kenapa bisa ada di rumah sakit ?" tanya Sissy lagi.


"Mobil Ayah mengalami kecelakaan Bun." jawab Aca pelan.


"Tapi Ayah kamu baik - baik saja kan ? Perasaan Bunda gak enak." Sissy menatap putrinya lekat.


"Bunda istirahat lagi aja." Avi coba membujuk mertuanya.


Sissy pun menurut ucapan anak dan menantunya. Sambil dalam hati terus berdoa untuk suami dan suami sahabatnya.


Avi dan Aca hanya saling menatap sambil terdiam. Tak tega rasanya menceritakan hal yang sebenarnya pada Bunda mereka.


Satu jam kemudian terdengar suara sirine mobil ambulance berhenti di depan rumah mereka.


Sissy terbangun dan berusaha untuk bangkit dari tempat tidur.


"Bunda ? Kita ke depan yuk." Ical datang mendekat pada Sissy.


"Ayah udah datang ?" tanya Sissy.


Ical hanya diam. Dia menoleh pada istrinya.


"Kenapa diam aja ? Ayah baik - baik aja kan ?" Sissy mulai kesal karena semuanya diam.


"Iya Bun. Ayah ada di depan sama Aca dan Difan." jawab Ical dengan muka sedih.


"Kenapa kalian terlihat sedih ?" Sissy curiga dengan raut muka sedih anaknya.


"Kita ke depan aja ya Bun. Biar Ical temani." Ical menuntun tangan Sissy menuju ruang tengah.

__ADS_1


Tampak disana Aca dan Difan sedang bersimpuh di samping jenazah Rio.


"Siapa itu Cal ? Jangan bilang kalo itu Ayah kamu." suara Sissy bergetar dan menatap tajam pada Ical.


"Bunda yang sabar ya." Ical berpindah ke belakang Sissy dan bersiap menopangnya.


"Bun... Ayah meninggal dalam kecelakaan bersama Papa Alif dan Papa Topan." Ical menjelaskan dengan suara pelan.


"Mas Rio..." Sissy berlari menghampiri jenazah sang suami yang sudah terbujur kaku.


"Bun..." Aca memeluk Sissy.


"Mas... Kenapa kamu ninggalin aku ? Kenapa Mas ?" Sissy mengguncang tubuh suaminya.


"Bun.. Yang sabar.. Ikhlas Bun.. Ayah sudah tenang disana." Ical coba menenangkan.


Sissy hanya diam sambil terisak memandangi jasad sang suami.


"Mas, kamu selalu berkata ingin meninggal lebih dulu agar tak merasakan kehilangan. Dan sekarang ucapanmu itu terjadi. Aku akan mencoba ikhlas untuk melepasmu kembali pada sang pencipta." gumam Sissy dalam hati sambil mengusap lengan Rio lembut. Segera dihapusnya air mata yang tersisa di pipinya dan dikecupnya kening sang kekasih untuk terakhir kalinya. Avi, Ical, Aca dan Difan yang menyaksikannya hanya bisa menangis haru.


"Cal, antar Bunda ke kamar. Bunda mau istirahat dulu." kata Sissy pada putranya.


Ical membantu Sissy untuk berbaring di ranjangnya.


"Cal, Apa yang terjadi sama Ayah dan yang lainnya ?" tanya Sissy.


"Jadi gini ceritanya Bun." kata Ical.


Kayak apa ya ceritanya ? tunggu di bab selanjutnya.


Menjelang tamat nih gaes.. Maaf kalo ada cerita yang mengandung bawang gini 😒😒


...****************...


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.


Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..


Jangan lupa ada cerita lain juga, judulnya "Tiga Dara".


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2