Mengejar Cinta Shavira

Mengejar Cinta Shavira
#62 Asal Usul Avi (1)


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Gimana kabar kalian ? Sehat kan ? Insha Allah cerita ini akan update 1/2hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar Othor semakin semangat buat nulis.. #


Semoga kalian semua menikmati cerita ini ya. Enjoy !!


Selamat Membaca πŸ“–πŸ“–πŸ“–


...***...


Avi dan Ical mengajak Mak tuo dan Pak tuo untuk berkunjung ke rumahnya. Tapi kedua orangtua itu menolak, karena ingin beristirahat di hotel karena kelelahan. Akhirnya Ical dan Avi mengantar mereka kembali ke hotel.


"Kalo begitu besok saja kami jemput kalian." kata Ical.


"Iya Mak tuo. Avi ingin mendengar kisah tentang Almarhum kedua orangtua Avi." kata Avi.


"Baiklah. Besok kalian jemput kamu lagi." Kata Ahmad mewakili istrinya.


Ical dan Avi mencium tangan kedua paman dan bibi Avi.


"Mas, aku gak nyangka ternyata masih ada saudara orangtuaku yang mencariku." kata Avi sambil menghapus airmatanya.


"Iya sayang. Kamu bisa cari tahu asal usul kamu." Ical mengusap kepala Avi dengan tangan kirinya, Sedangkan tangan kanannya memegang setir.


Avi dan Ical menjemput baby triplet terlebih dahulu di rumah Sissy.


"Makasih ya Bun udah mau dititipin triplet." kata Avi.


"Iya sayang. Bunda seneng kok apalagi mereka gak rewel sama sekali." kata Sissy.


"Bun, Tadi kami bertemu bibi dan paman Avi. Ternyata mereka mencari Avi selama ini." Ical menceritakan pertemuan tadi pada Sissy. Selama ini Ical selalu terbuka pada kedua orangtuanya terutama Bundanya. Dan kali ini Ical merasa orangtuanya perlu tahu menenai hal ini.


"Bunda ikut senang ya Sayang. Akhirnya kamu punya keluarga juga." Sissy memeluk Avi.


"Besok kami ingin mengajal mereka ke rumah. Mungkin Bunda bisa bergabung juga." kata Ical.


"Boleh. Tapi nanti Bunda akan datang agak siang aja ya. Biar kalian juga bisa mengobrol lebih dekat dengan mereka." kata Sissy.


"Iya Bun. Makasih ya Bun." Avi kembali memeluk Sissy.


"Udah jangan nangis. Nanti anak - anakmu lihat." kata Sissy sambil menghapus airmata Avi. Benar saja, tak lama Abas menghampiri Avi.


"Nda Angis ?" tanya Abas sambil memiringkan badannya mengintip wajah Avi.


"Nggak Sayang. Bukan gak nangis." Avi menciumi wajah Abas.


"Tu bacah." tunjuk Abas lagi.


"Ayah akal ?" Abi ikut menghampiri Avi.


"Bukan sayang. Ayah gak nakal. Bunda menangis karena bahagia." Avi ganti menciumi Abi. Tak lupa Caca juga yang duduk di pangkuan Ical.


"Kita pulang yuk. Udah malam." ajak Ical.

__ADS_1


"Yuk.." jawab Abi dan Caca kompak smabil menarik tangan Avi.


"Salim dulu sama Oma." kata Avi.


Ketiganya lalu bergantian mencium tangan Sissy.


Abi dan Abas berjalan di kiri dan kanan Avi sambil memegang tangannya. Sedangkan Caca digendong oleh Ical.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan harinya Ical menjemput Paman dan Bibi Avi. Sedangkan Avi di rumah bersama baby triplet. Avi sempat membuat kue pisang untuk menyambut Paman dan Bibinya. Sedangkan triplet dijaga oleh pengasuhnya.


"Mak tuo, Pak tuo.Assalamualaikum." sapa Ical saat melihat keduanya turun.


"Waalaikumsalam. Kok kamu sendirian Nak ?" tanya Nurul.


"Avi di rumah sama triplet." jawab Ical.


"Triplet ? Anak kalian kembar 3 ?" tanya Nurul kaget.


"Iya Mak tuo. Kembar 3. Umurnya setahun lebih sedikit." jawab Ical.


Sepanjang perjalanan itu Nurul banyak bertanya pada Ical mengenai Avi dan masa lalunya. Hingga tak terasa mereka sampai di rumah.


"Silahkan Mak tuo, Pak tuo. Ini rumah kami." Ical membukakan pintu mobil untuk mereka.


"Makasih Nak Ical. Rumah kalian bagus dan nyaman." puji Ahmad.


"Makasih Pak tuo. Kebetulan rumah orangtua dan saudara saya tak jauh. Cuma beda 5 rumah." kata Ical.


"Iya. Kami sengaja mencari yang dekat biar selalu kumpul." kata Ical.


"Adik atau kakak ?" tanya Ahmad.


"Saudara kembar. Tapi kami sepakat tidak ada kakak atau adik. Hanya saudara kembar." jawab Ical.


"Pantes anak kalian kembar, ternyata bapaknya juga kembar." kata Nurul sambil menepuk bahu Ical.


"Alhamdulilah. Saudara kembar saya juga suaminya kembar dan dua kali melahirkan kembar semua." kata Ical.


"Wow.. hebat banget ya. Kuat sekali gen kembarnya." kata Ahmad.


"Mak tuo, Pak tuo sudah datang.. Kenapa masih diluar ?" Avi berjalan menghampiri mereka.


"Assalamualaikum Avi. Kami keasikan mengobrol sambil menikmati pemandangan disini." kata Nurul lalu memeluk keponakannya.


"Waalaikumsalam. Ayo masuk Maktuo." ajak Avi.


"Sepi rumahnya ?" tanya Nurul.


"Iya. Ibu Mas Ical nanti siang baru kesini. Anak - anak masih di kamar bermain." jawab Avi.


Tak lama Ical keluar dari kamar bermain sambil menggendong Caca dengan Abas dan Abi di kanan kirinya.

__ADS_1


"Sayang, kenalin ini Nenek dan Kakek." panggil Avi.


Ketiga anaknya lalu mencium tangan Nurul dan Ahmad.


"Lucunya. Siapa namanya ?" tanya Nurul.


"Abi, Caca, Abas." Abi mengenalkan dirinya dan kedua saudaranya.


"Duduk sini sayang." Avi menyuruh Abas dan Abi duduk diantara dirinya dan Nurul. Sedangkan Caca tak mau turun dari pangkuan Ical.


"Ini anak Ayah ya." goda Nurul sambil mencubit pipi Caca.


Setelah berkenalan dengan triplet, Ical menyuruh pengasuh mengajak ketiganya ke kamar bermain. Sebelum ketiganya mulai rewel.


"Mak tuo, Avi ingin dengar cerita mengenai almarhum Ayah dan Ibu." kata Avi.


"Jadi dulu orangtua kamu menikah tanpa persetujuan keluarga dari Ayah kamu. Tapi Orangtua kami sangat menyukai Ismail, Ayah kamu. Karena dia lelaki yang pekerja keras dna bertanggung jawab." kata Nurul.


"Kenapa keluarga Ayah tidak setuju ?" tanya Avi.


"Mereka sudah menjodohkan Ayah kamu dengan wanita lain yang sederajat. Sedangkan keluarga kami hanyalah petani." kata Nurul lagi.


"Akhirnya setelah menikah, Ayah kamu mengajak Ibu kamu merantau ke Bandung." kata Nurul.


"Mereka masih sering berkirim kabar. Mereka mulai berdagang sayur dan buah - buahan di Bandung. Mereka juga bercerita kalo mereka mempunyai anak perempuan bernama Shavira." Lanjut Nurul.


"Kami cukup lega mendengarnya. Bahkan keluarga Ismail mulai mendatangi kami untuk mencari tahu keberadaan orangtua kamu. Kami sengaja tidak memberitahu mereka karena takut orantua Ismail memisahkan kalian. " kali ini Agmad menggantikan istrinya yang mulai menangis untuk bercerita.


"Setelah itu kami kehilangan kontak dengan Ayah dan Ibu kamu. Hingga akhirnya kami mendapat kabar dari orangtua Ismail yang sudah mulai menerima pernikahan orangtua kamu, bahwa Ismail dna Nura meninggal dalam kecelakaan dan kamu tak tahu ada dimana." kata Ahmad dengan suara terbata - bata.


"Orangtua Ismail sempat mengirim orang untuk mencari keberadaanmu. Tapi mereka mendapat info bahwa panti asuhan tempat kamu dirawat terbakar dan tak menyisakan satu orang pun." kata Nurul.


"Iya. Panti asuhan memang terbakar dan menewaskan Ibu panti dan adik - adik yang masih kecil. Sedangkan saya sudah kuliah dan beberapa adik sedang sekolah." kata Avi.


"Iya Nak. Maafkan kami tidak mengetahui hal itu." Nurul memeluk erat Avi.


"Lalu bagaimana kalian bisa menemukan saya ?" tanya Avi.


"Hhmm.. Ceritanya panjang." jawab Nurul.


...***...


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.


Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..


Jangan lupa ada cerita baru juga, judulnya "Tiga Dara".


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..

__ADS_1


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung


__ADS_2