
#Hai reader kesayangan othor.. Gimana kabar kalian ? Sehat kan ? Maaf ya Othor udah lamaaaa sekali tidak menulis. Mood lagi terjun bebas nih βΉοΈβΉοΈππ
Semoga masih setia dengan ceritaku ini..
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar Othor semakin semangat buat nulis.. #
Semoga kalian semua menikmati cerita ini ya. Enjoy !!
Selamat Membaca πππ
...***...
Hari ini Ical dan Avi langsung check out dari hotel di daerah Bukittinggi. Mereka akan pindah menginap ke kota Padang, tempat keluarga Ayah Ismail dan juga Fadillah tinggal.
...(Source : google)...
Mereka memilih penginapan di pusat kota Padang. Siang itu Ical mengajak Avi menikmati sate padang di pusat kota. Avi terlihat makan dengan lahap.
"Wah.. kok tumben makannya banyak.. Udah ada isinya ya ?" Bisik Ical di telinga Avi.
"Ish.. Apaan sih Mas. Gak tau. Emang lagi laper aja." jawab Avi tersipu malu.
"Semoga aja mereka ada disini ya." goda Ical sambil mengedipkan sebelah matanya.
Avi hanya tersenyum mendengar ucapan sang suami.
Setelah makan, Ical langsung mengajak Avi menuju ke alamat keluarga Ayah Ismail. Tak sulit mencarinya karena alamat yang dicari terletak di perumahan yang cukup terkenal di kota Padang.
"Ini sudah sampai di alamatnya Pak." kata Sopir taksi online yang mereka tumpangi.
"Makasih ya Pak." Ical memberikan uang untuk membayar ongkos kepada sang sopir.
Ical dan Avi memandangi sebuah rumah berlantai 2 yang tampak sunyi itu.
"Kok sepi ya Mas. Apa bener ini rumahnya ?" tanya Avi.
"Alamatnya sudah sesuai dengan yang dikasih Uni Fatimah. Kita coba masuk aja yuk." jawab Ical.
"Iya Mas." Avi mengikuti langkah suaminya.
"Assalamualaikum." Ical mengucapkan salam seelah membuka pagar rumah yang tidak terkunci.
"Waalaikumsalam." jawab sebuah suara dari balik pintu.
Avi dan Ical tersenyum pada gadis remaja yang membukakan pintu.
"Cari siapa ya Pak, Bu ?" tanya gadis itu ramah.
"Apa ini rumah Oma Nisa ?" tanya Ical.
"Iya betul." jawab gadis itu.
"Boleh kami bertemu Oma ?" tanya Ical lagi.
"Bisa. Maaf, kalian siapa ya ?" gadis itu balik bertanya.
"Kami Anak dan menantu Ayah Ismail." jawab Ical.
__ADS_1
"Ooh.. Kalian anaknya Om Ismail. Silahkan duduk. Saya panggilkan Oma." Gadis itu langsung berlari ke dalam rumah.
"Kita duduk disini aja Yang." ajak Ical sambil menunjuk kursi di teras.
Avi dan Ical menunggu beberapa saat sebelum sang tuan rumah keluar.
"Ayo kak masuk ke dalam. Nenek sudah menunggu." gadis tadi muncul lagi untuk memanggil mereka.
Ical dan Avi mengikuti sang gadis menuju bagian dalam rumah. Sampai di sebuah ruangan yang setengah terbuka, Avi dan Ical dipersilahkan duduk.
Avi langsung duduk dan terpukau memandangi taman di depannya. Ruangan itu memang menghadap ke sebuah taman yang indah lengkap dengan kolam renang nya.
"Bagus ya Mas ?" kata Avi sambil menengok ke arah suaminya.
"Iya. Asri banget tamannya. Bikin betah deh Yang." balas Ical.
Avi kembali menikmati pemandangan indah di depannya.
"Nenek kamu ternyata orang kaya Sayang." bisik Ical.
"Iya Mas. Tapi kita kan gak tau Nenek seperti apa." Avi balas berbisik.
"Maaf kalian menunggu lama. Tadi saya sholat dulu." kata sebuah suara yang lembut.
"Iya gak apa Nek. Nenek apa kabar ?" Avi menghampiri wanita tua yang berjalan tertatih dnegan tongkatnya.
"Alhamdulilah baik Nak. Akhirnya aku bisa bertemu cucuku." Nenek menarik tangan Avi untuk mendekat padanya. Lalu mereka berpelukan melepas rindu.
"Aku juga senang bisa bertemu dengan nenek kandungku." kata Avi.
"Maafkan Nenek yang tak mencarimu Nak. Bahkan Nenek memusuhi Ayah dan Ibumu." Kata Nenek.
"Ayo kita duduk disana. Nenek masih ingin memeluk kamu." Nenek berjalan ke arah gasebo sambil dibantu oleh Avi.
"Nek, kenalkan ini suami Avi." Avi memperkenalkan Ical.
"Assalamualaikum Nenek. Saya Ical." Ical mencium tangan Nenek Avi.
"Kamu masih muda sudah menikah ? Berapa umur kalian ?" tanya Nenek.
"Iya Nek. Alhamdulilah kami juga sudah punya anak 3, kembar." jawab Ical.
"Kamu sepertinya seumur sama cucu Nenek, Sandra." kata Nenek.
"Umur saya 24, Mas Ical 25." kata Avi.
"Mata kamu mirip sekali dengan Ismail." Nenek menatap lekat wajah Avi.
"Emang iya Nek. Makcik tuo bilang wajah saya mirip Ibu." kata Avi.
"Iya. Wajah kamu memang mirip Nuraida tapi mata kamu mirip Ismail." Nenek menjelaskan.
"Iya Nek. Alhamdulilah Avi memang anak Ayah Ismail dan Ibu Nuraida." Avi semakin mengeratkan pelukannya pada Nenek.
"Nenek ingin kalian menginap disini." kata Nenek.
"Maaf Nek. Kami sudah memesan kamar di hotel A di tengah kota." Avi menolak denga halus.
"Ya sudah. Tapi nanti pulangnya malam saja ya. Masih banyak yang ingin Nenek ceritakan dan tunjukkan pada kalian." kata Nenek.
__ADS_1
"Iya Nek." jawab Avi setelah mendapat anggukan dari Ical.
"Nenek tinggal dengan siapa disini ?" tanya Avi.
"Nenek tinggal dengan Om kamu Ikhsan, tadi yang bukakan pintu itu anaknya, namanya Bella." jawab Nenek.
Lalu Nenek menceritakan silsilah dalam keluarganya. Ternyata Ayah Ismail mempunyai 2 kakak dan 3 adik. Seorang Kakak Ayahnya sudah meninggal, kakak yang lain tinggal di Arab Saudi, sedangkan kedua adik yang lain tinggal di luar kota.
Mereka asyik bercerita hingga tak terasa hari sudah sore.
"Assalamualaikum." Sebuah sepasang suara lelaki dan perempuan.
"Waalaikumsalam." jawab mereka serempak.
"Lagi ada tamu rupanya." kata si lelaki.
"San, ini keponakanmu, anak Ismail." Nenek mengenalkan Avi.
"Anak Kakak ada dua ?" tanya lelaki bernama Ikhsan sambil menatap Avi dan Ical bergantian.
"Saya, Avi, Anaknya Ayah Ismail. Ini suami saya, Ical." Avi memperkenalkan diri.
"Kamu sudah menikah rupanya. Tapi terlihat masih muda ?" Ikhsan memeluk keponakannya.
"Iya Om. Kami menikah muda." Ical yang menjawab.
"Gak nyangka ternyata Kak Ismail mempunyai putri yang cantik." puji Ikhsan.
"Maaf ya Om. Kami menikah tanpa wali Om. Saat itu kami tidak tahu keluarga besar Avi dimana." kata Ical.
"Iya. Om sudah dengar cerita tentang kamu dan kedua orangtuamu dari Andi, suami Fatimah." kata Ikhsan.
"Kalian sudah punya anak ?" tanya Citra, istri Ikhsan.
"Sudah tante. Anak kami kembar 3, usia setahun." jawab Avi.
"Wah.. Lucu pastinya ya." kata Citra.
"Kalo Mama mau kita bisa bikin lagi yang kembar." goda Ikhsan.
"Iih.. Apaan sih Pa. Anak kita aja udah perawan. Yang ada nunggu cucu dari Bella." protes Citra.
Avi hanya tertawa melihat candaan suami istri itu. Ical pun ikut tersenyum melihat istrinya yang bahagia.
...***...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Jangan lupa ada cerita baru juga, judulnya "Tiga Dara".
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
__ADS_1
Bersambung