Mengejar Cinta Shavira

Mengejar Cinta Shavira
#6 Kantor baru Ical


__ADS_3

Akhirnya Ical mulai membuka kantor jasa design di bagian samping bengkel Pelangi. Pagi itu Ical masih membereskan barang - barang di kantornya sendirian. Revan, tan sekaligus partnernya sedang di Jakarta karena Omanya baru saja meninggal.


Untuk sementara Ical mengurus segalanya berdua dengan temannya yang bernama Revan.


Tak lama masuklah 4 oang wanita setengah baya. Ya, mereka wanita yang melahirkannya dan ketiga sahabatnya yang sudah Ical anggap seperti Ibu sendiri.


"Selamat ya Sayang. Akhirnya kamu punya kantor." Sissy memeluk putra kesayangannya.


"Makasih Bun." Ical membalas pelukan Sissy.


"Selamat ya Cal." Zizi ganti memeluk Ical.


"Makasih Manda." Ical membalas pelukan sahabat Bundanya itu. Disusul oleh Amira dan Yoan yang juga memeluknya. Ical merasa memiliki 4 Ibu dan 4 Ayah karena persahabatan sang Bunda yang sangat erat dengan ketiga temannya itu. Anak - anak mereka pun sudah seperti saudara kandung sendiri meski beberapa akhirnya berjodoh, termasuk Aca, saudara kembarnya.


"Kamu gak cari karyawan Nak ?" tanya Sissy.


"Udah buka lowongan kok Bun. Tapi untuk semnetara masih kita kerjain berdua dulu aja. Orderan juga masih bisa kita tangani." jawab Ical panjang lebar.


"Trus percetakannya gimana ?" tanya Sissy lagi.


"Sementara ngikut di percetakan Papanya Revan. Nanti ke depannya kita juga mau buka sendiri. Kan masih ngumpulin uang buat beli peralatannya." kata Ical.


"Iya deh. Bunda akan selalu support kamu." Sissy membelai kepala Ical.


"Bun, jangan kayak gitu ah. Malu kalo ada yang liat." Ical menepis pelan tangan Sissy.


"Kan sama Bunda sendiri. Kok malu ?" goda Sissy.


"Ical kan udah gede Bun. Nanti cewek yang naksir Ical langsung mundur deh." kata Ical sedikit bete.


"Iya deh anak ganteng Bunda." Sissy menepuk lengan Ical pelan.


"Bunda mau kemana ?" tanya Ical.


"Bunda mau lihat Ayah dulu. Lagian kantor kamu masih bau cat. Bunda pusing." Sissy pun melangkah hendak keluar meninggalkan Ical sendirian.


"Bunda bantu promoin ke teman atau relasi Bunda dong. Biar desain disini." kata Ical.


"Pasti sayang. Jangan lupa kamu taruh flyer di Cake shop juga di bengkel. Sekalian bikinin flyer buat Cake Shop Pelangi ya." Pesan Sissy sebelum benar - benar hilang dari pandangan Ical.


"Siap Bun." teriak Ical.


"Ical.." Rio masuk ke kantor bersama dengan Faisal.


"Iya Yah." jawab Ical.


"Peresmian kantor nya kapan ?" tanya Rio.


"Belum tau Yah. Nunggu Revan yang masih sibuk di Jakarta Yah." jawab Ical.

__ADS_1


"Kapan dia pulang ?" tanya Rio lagi.


"Mungkin seminggu lagi. Oma nya Revan kan baru aja meninggal Yah. Jadi mereka masih ngurus di Jakarta." kata Ical.


"Oke. Kamu kabarin aja kalo udah mau buka ya." kata Ical.


"Oke Yah." Ical tersenyum menatap Ayahnya.


"Kamu jangan lupa bikin neon sign ya buat kantor kamu. Terus kalo ada kebutuhan yang kurang kamu bilang aja sama kami ya." kata Faisal.


"Siap Panda." Ical mulai merapikan barang - barang di kantor nya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Vi, tolong kamu hubungin nomer ini untuk cetak flyer ya buat toko kain ini. Sekalian sama banner nya juga." kata Dio pada Avi.


"Iya Koh." Avi menjawab dengan sedikit malas.


"Pokoknya kamu yang urus sampai beres." kata Dio lagi.


"Iya Koh." Avi langsung menghubungi nomer telepon yang ada di flyer.


*tut.. tut.. *


"Selamat Pagi. Dengan Reecall Advertising disini. Ada yang bisa dibantu." sapa suara di seberang.


"Bisa banget Mbak. Kalo boleh tau dari mana dapat info soal advertising ini ?" Ical mengambil buku catatan.


"Dari teman bos kami. Bisa langsung kita bahas soal banner ? Saya masih ada pekerjaan yang lain." kata Avi dengan tegas. Dia malas untuk berbasa - basi seperti itu.


"Boleh Mbak. Maaf sebelumnya kalo saya jadi ngobrol." kata Ical.


Avi sengaja bersikap jutek karena dia tidak mau berakrab - akrab dengan lelaki yang tak dikenalnya. Avi pun menyampaikan inti desain dan informasi umum yang diperlukan di banner dan flyer. Setelah itu dia pun menyudahi panggilan teleponnya.


Di seberang Ical pun menutup teleponnya dan membuka notebook nya.


"Jutek banget orang itu. Kalo bukan klien udah aku nasehatin panjang lebar tadi. Apa salahnya sih baik dan akrab dengan orang lain." gerutu Ical sambil menatap layar notebooknya.


"Kamu kenapa sayang ? Kok ngomel sendiri ?" Sissy tiba - tiba sudah duduk di depan Ical.


"Bunda bikin kaget aja." kata Ical ketus.


"Kok Bunda nya di jutekin sih ? Sedih loh Bunda." Sissy memegang dadanya pura -pura sedih.


"Maaf Bunda. Tadi dapat klien yang nyebelin." Ical memegang tangan Bundanya.


"Iya Bunda maafin. Lain kali semarah atau sekesal apapun sama klien atau teman gak boleh ngomong jutek sama Bunda ya. Kualat nanti." Sissy mengusap tangan anak lelakinya itu.


"Iya Bun." Ical mencium tangan Sissy dengan lembut.

__ADS_1


"Emang siapa kliennya ?" tanya Sissy.


"Dari Toko kain Warna Bun. Perempuan gitu. Kayaknya karuawannya deh." jawab Ical.


"Itu kan toko kainnya koh Dio, temen Bunda. Siapa nama yang telepon ?" tanya Sissy lagi.


"Gak sempet nanya namanya. Keburu kesel." Ical menyeruput jus mangga yang dibawa Bundanya.


"Apa perlu Bunda bilang ke Koh Dio agar menegur karyawannya ?" Sissy mengambil ponselnya.


"Gak usah Bun. Kayak anak kecil aja. Biar ajalah. Yang penting profesional aja." kata Ical.


"Baguslah." Sissy memasukkan ponselnya ke tas dan bersiap untuk pergi.


"Bunda mau pulang sekarang ?" Ical menghentikan pekerjaannya dan menatap Sissy.


"Iya. Ayah ngajakin pulang. Mau ada Om Haris kesini." Sissy menyebut nama adik Rio.


"Bun, Ayo.. " Rio muncul di pintu memanggil istrinya.


"Bentar Yah." kata Sissy. Ical mengantar Sissy sampai ke depan.


"Om Haris nginep Yah ?" tanya Ical pada Rio.


"Om Haris mau jemput Ayah, ada urusan di Jombang. Kamu pulang sebelum magrib ya. Kasian Bunda sendirian." pesan Rio.


"Ayah nginep di Jombang ?" tanya Ical.


"Iya. Sampai urusannya beres. Paling gak nginep sehari lah." jawab Rio.


"Ooh iya Yah. Nitip salam aja buat Om Haris ya. Takutnya gak ketemu." kata Ical.


"Oke sayang. Assalamualaikum." Sissy mencium lembut pipi anaknya.


"Waalaikumsalam." Ical pun tak lupa mencium tangan Sissy dan Rio.


Bagi vote atau Bunga atau secangkir kopi 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.


Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..


Like 👍 Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..


Makasih 🙏🙏🙏


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2