
Mulai hari ini Avi mengikuti training di kantor pusat untuk mempelajari sistem pembukuan yang digunakan di perusahaan mereka.
Perwakilan dari 5 cabang anak perusahaan berkumpul disana. Avi mewakili PT. Dandelion yang bergerak di bidang penyediaan wadah penyimpanan makanan. Selain Avi, ada Nenda, yang berasal dari Sakura tour & travel. Lalu ada Ikhsan yang berasal dari Hotel Azalea, Tria dari Alamanda express dan Topan dari gazania resto. Selain kelima anak cabang, mereka juga memiliki produk kecantikan yang diberi nama Blomma kosmetik.
Pagi itu Avi sudah duduk manis di ruangan tempat training. Dia pun sudah berkenalan dengan keempat rekannya sesama akunting. Ternyata selain akunting, mereka berlima memiliki kesamaan lain yaitu sama - sama baru bekerja di perusahaan masing - masing.
Tak lama kemudian masuklah seorang pria setengah baya bersama seorang wanita muda.
"Selamat pagi. Selamat datang buat kalian semua." sapa pria itu.
"Pagi Pak." jawab mereka serempak.
"Perkenalkan nama saya Surya, manager akunting di sini." Surya menatap wanita di sampingnya dan memberi kode menyuruhnya bergabung dengan kelima orang lainnya.
"Hari ini saya akan mengajari kalian berenam sistem pembukuan yang kita terapkan di semua perusahaan yang berasa di bawah naungan Blomma Company." kata Surya yang disambut anggukan oleh sebagian orang disana.
"Silahkan kalian perkenalkan diri kalian amasing - masing terlebih dahulu." Surya duduk di kursinya.
Satu persatu berdiri memperkenalkan nama, usia dan perusahaan tempat mereka bekerja.
"Baiklah. Kita langsung mulai materi pertama ya. Apabila ada yang kurang jelas, kalian bisa langsung mengajukan pertanyaan." ucap Surya.
"Siap Pak." Topan menjawab mewakili rekan yang lain.
Tanpa terasa sudah 2 jam mereka mengikuti pelatihan di hari pertama.
"Materi dari saya untuk hari ini cukup sekian. Sekarang kalian boleh makan siang di kantin." kata Surya.
"Setelah makan masih ada materi Pak ?" tanya Tria.
"Iya. Kita akan melihat video profil company perusahaan ini." Surya menatap wajah peserta training bergantian.
"Tenang aja. Materi nya udah selesai, sisanya kita santai - santai aja. Yang penting pulang mendekati jam pulang kerja." lanjut Surya ketika melihat wajah lesu mereka.
"Alhamdulilah. Otak udah buntu nih Pak." Topan mearik nafas lega.
"Saya juga tau. Pekerjaan kita ini memang sangat menguras pikiran. Makanya sekarang kalian silajkan makan siang dulu di kantin. Ikuti Fera aja, dia kan karyawan disini juga." kata Surya lalu meninggalkan ruangan.
"Mahal - mahal gak Fer makanan di kantin ?" tanya Avi.
"Tenang aja makanan di kantin sini gratis kok." jawab Fera.
"Syukurlah. Soalnya ini kan perusahaan besar, jadipasti makanannya mahal." lanjut Avi.
"Kamu nih kok ngirit banget sih ? Emang gaji nya di kemanain ?" sindir Nenda.
"Gaji nya aku tabung buat bayar kontrakan." kata Avi santai.
"Ooh.. Kirain dikemanain. Soalnya gajji kita kan lumayan besar." kata Nenda dengan nada lebih lembut.
"Gaji emang gede tapi kan pekerjaannya memang berat, menguras pikiran." imbuh Ikhsan.
"Iya. Udah yuk, kita ke kantin, udah lapar nih." ajak Fera.
__ADS_1
Mereka berenam pun menuju kantin yang berada di basement. Dari ruang training yang terletak di lantai 5 mereka turun menuju ke lantai dasar tempat kantin berada.
Saat melewati lobby, tanpa sengaja Tria menabrak seorang pria hingga isi dari kantong yang dibawanya berhamburan di lantai.
"Maaf Pak. Gak sengaja." kata Tria sambil membantu memungut barang - barangnya.
"Iya gak apa - apa Mbak. Sudah biarkan saya bereskan sendiri." ucap pria itu sambil tersenyum.
Tria pun mengucapkan permintaan maaf sekali lagi dan berjalan menyusul rekan - rekannya yang sudah agak jauh.
"Kamu ngapain sih Ya ?" tanya Nenda sambil memandang Tria yang berlari kecil ke arahnya.
"Tadi aku nabrak cowok Nen. Cakep banget." kata Tria dengan nafas terengah - engah.
"Mana sih ?" Nenda coba mencari cowok yang dimaksud Tria.
"Itu yang berdiri di depan resepsionis." tunjuk Tria.
"Wah iya. Ganteng banget." kata Nenda yang langsung reflek berbalik ketika cowok itu menatap ke arahnya.
Cowok itu adalah Ical yang ingin menemui sang klien. Ical menoleh ke arah gadis yang menabraknya tadi dan tanpa sengaja dilihatnya sosok seperti Avi, perempuan yang dicarinya selama ini.
"Apa itu Avi ? Shavira ? Tapi kan dia kerja di Pt. Dandelion, bukan disini ?" gumam Ical dalam hati.
"Pak Ical ?" panggilan dari sang resepsionis membuyarkan lamunan Ical.
"Iya Mbak." Ical menghampiri resepsionis itu.
"Maaf Mbak, boleh saya bertanya." kata Ical.
"Silahkan Pak." kata resepsionis itu.
"Apa disini ada karyawan yang bernama Shavira ?" tanya Ical.
"Shavira.. Kayaknya gak ada Pak. Saya kenal sama semua karyawan kok. Memangnya ada apa Pak ?" resepsionis itu balik bertanya.
"Gak. Tadi saya kayak melihat teman saya yang namanya Shavira disini." jawab Ical.
"Ooh.. Mungkin salah lihat Pak. Silahkan Bapak sudah ditunggu. Bisa naik lift sebelah sana Pak." kata Resepsionis itu.
"Iya Mbak. Makasih." Ical pun langsung menuju ke arah lift.
Ical langsung mencari ruangan Pak Wawan, Manager Produksi.
"Selamat Siang Pak." sapa Ical dengan sopan.
"Selamat siang Pak Ical. Silahkan duduk." Wawan menjabat tangan Ical dan mempersilahkannya masuk.
"Maaf, jangan panggil Bapak, saya masih muda. Ini saya bawa contoh kaos yang sudah jadi." kata Ical sambil mengeluarkan isi kantong yang dibawanya.
"Wah.. Cepat sekali ya. Mau minum apa Mas ?" tanya Wawan.
"Teh hangat saja Pak. Makasih." jawab Ical.
__ADS_1
"Perpaduan warnanya bagus Mas. Saya suka." Wawan mengambil salah satu kaos dan melihatnya dengan seksama.
"Kalo bapak sudah cocok, sisanya tinggal kita selesaikan dan akan kami kirim segera." kata Ical.
"Iya Mas. Saya sudah cocok ini." kata Wawan.
"Ini buat acara gathering ya Pak ?" tanya Ical.
"Iya Mas. Ini kaos buat panitia aja. Akhir bulan ini akan ada acara gathering kantor beserta semua anak perusahaan." jawab Wawan.
"Ooh.. Anak perusahaannya ada berapa Pak ?" tanya Ical lagi.
"Ada 5. Semua di bidang yang berbeda. Ada travel, resto, hotel, espedisi, wadah penyimpanan dan kosmetik untuk yang pusat ini." Wawan menjelaskan panjang lebar.
"Kebetulan saya mau nanya Pak." Ical berkata dengan hati - hati.
"Iya boleh. Mau nanya apa ?" kata Wawan.
"Apa PT. Dandelion adalah anak perusahaan Blomma Company ?" tanya Ical.
"Iya. Itu perusahaan yang menyediakan wadah penyimpanan yang sangat digemari saat ini, Dendelion Ware." jawab Wawan.
"Apa sekarang mereka ada kegiatan disini ?" tanya Ical lagi.
"Gak ada. Cuma memang ada training untuk karyawan baru di bagian akunting dari masing - masing anak cabang disini." Wawan menjelaskan.
"Hhmm. Ternyata benar tadi yang aku lihat adalah Avi." gumam Ical dalam hati.
"Memangnya kenapa Mas ?" tanya Wawan sambil tersenyum kecil.
"Itu Pak. Tadi saya kayak melihat kenalan saya disini. Namanya Shavira. Apa Bapak kenal ?" Ical menatap Wawan.
"Ooh.. ternyata perempuan. Saya gak kenal Mas. Pacarnya ya ?" goda Wawan.
"Ah Bapak ini bisa aja ? Cuma kenalan Pak." Ical sedikit malu.
"Pacar juga gak apa - apa Mas." Wawan menertawakan Ical yang memerah mukanya.
"Insha Allah calon istri. Amiin." gumam Ical dalam hati.
Bagi vote atau Bunga atau secangkir kopi 😁😁
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih 🙏🙏🙏
Bersambung
__ADS_1