
#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan update 3 hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...*****...
Tak terasa sudah 2 hari mereka menempati rumah itu. Selama 2 hari ini Avi menjalankan kewajibannya sebagau seorang istri. Mulai dari memasak, membuatkan kopi untuk suaminya, beres - beres rumah, hingga melayani kebutuhan 'ranjang' suaminya.
Besok masa cuti Avi habis dan sudah mulai masuk kerja lagi.
"Yang, kamu gak bisa perpanjang cutinya ?" tanya Ical yang sedang tiduran dengan kepala di pangkuan istrinya.
"Ya gak bisa sayang. Nanti aku dipecat lagi." jawab Avi sambil membelai jepala suaminya.
"Resign aja sih. Biar aku yang kerja." kata Ical.
"Gak bokeh gitu dong. Aku udah cukup lama bekerja. Tapi aku janji kalo aku hamil besar aku akan berhenti kerja." kata Avi.
"Bener ya ?" tanya Ical.
"Insha Allah." Avi mencium kening suaminya.
"Kok cuma kening aja yang dicium. Sininya juga mau." Ical menunjuk bibirnya.
"Gak ah. Nanti pasti berlanjut." tolak Avi.
"Ya gak apa dong sayang. Biar kamu cepet hamil." kata Ical sambil mengusap perut datar sang istri.
"Kayaknya aku udah mau haid deh sayang." keluh Avi.
"Kok bisa ? Emang tau ?" tanya Ical.
"Pinggangku udah mulai sakit. Bawaannya juga pengen makan mulu." jawab Avi.
"Kalo gitu kamu harus layanin aku dulu sebelum aku puasa seminggu." kata Ical sambil tangan dan bibirnya mengecupi dua bukit Avi dari luar kaos.
"Eh.. Gak gitu juga dong." Avi mencekal tanga Ical yang mulai masuk ke balik kaosnya.
"Boleh dong." Ical tersenyum genit sambil tangan menerobos masuk ke balik kaos Avi.
"Mas... Jangan diterusin." Larang Avi.eskipun Avi sudah mulai menikmati setiap sentuhan dari tangan dan bibir suaminya.
"Kenapa gak boleh sayang ?" tanya Ical yang mulai membenamkan wajahnya diantar kedua bukit kembar Avi.
"Itu.. Ada yang.. ngetuk pintu." kata Avi dengan nafas yang tersengal - sengal.
"Siapa sih yang ganggu urusan kita." umpat Ical lalu bangkit menuju ke pintu. Avi segera masuk ke kamar sambil merapikan pakaiannya.
"Siapa ?" tanya Ical yang masih berjalan menuju pintu.
"Hai bro." Sapa Revan yang tersenyum jahil sambil memeluk Cintya, kekasihnya.
"Kamu Van. Tumben kesini pagi - pagi." Meski sedikit kesal Ical mempersilahkan tamunya masuk.
"Dari gereja langsung kesini lihat - lihat rumah. Tapi masih nunggu developer ambil kunci rumahnya." kata Revan.
"Jadi mau beli rumah disini ?" tanya Ical.
__ADS_1
"Jadi dong Bro. Biar kita bisa tetanggaan." jawab Revan.
"Emang di deretan ini masih ada yang kosong ?" tanya Ical lagi.
"Ada. 3 pilihan. Isinya sih sama cuma letaknya aja." jawab Revan lagi.
"Jadi kamu pilih yang mana ?" tanya Ical.
Belum sempat Revan menjawab, Avi sudah keluar membawa 4 gelas jus apel untuk mereka.
"Diminum dulu ya Mas Revan, Cintya." kata Avi.
"Siap nyonya Khalid." ledek Revan sambil menyebut nama depan Ical. Avi ikut duduk di samping suaminya.
"Bingung bro. Ada yang di ujung sana sama seberang kamu persis." kata Revan.
"Kamu niat banget ya pengen jadi tetangga aku ?" sindir Ical sambil tertawa.
"Iya dong. Biar ada sodara yang deket." jawab Revan. Keluarga Revan memang tinggal di daerah jakarta dan sekitarnya semua. Hanya dia yang tinggal di kota ini.
"Yang di depan aja Mas. Biar deket sama kita. Nanti Cintya juga bisa sering main kesini." kata Avi.
"Emang boleh Mbak ?" tanya Cintya.
"Ya bolehlah. Kecuali kalo suamimu ngelarang." jawab Avi.
Revan hanya tersenyum mendengar ucapan Avi.
"Belum suami. Tunggu 2 bulan lagi." kata Revan.
"Van, Kamu temani aku lihat rumah depan ya. Developernya udah telpon." kata Revan.
"Seneng deh lihat istriku dan calonmu akrab." kata Ical saat mereka menuju ke rumah depan.
Avi masih mengobrol dengan Cintya sambil menunggu suami dan kekasih mereka.
"Nanti klao kamu jadi beli rumah di depan, kita bisa sering ngobrol." kata Avi.
"Tapi Mbak kan masih kerja ?" tanya Cintya lagi.
"Oh iya ya. Kamu gak kerja ?" Avi balik bertanya.
"Ada bisnis sendiri Mbak. Online shop." jawab Cintya.
"Wah.. keren. Nanti aku boleh ya ikut kerja sama kamu." tanya Avi lagi.
"Kan Mbak Avi udah kerja. Ngapain mau ikut kerja sama aku ?" Cintya bingung dengan pertanyaan Avi.
"Nanti. Kalo udah hamil, aku mau resign." jawab Avi.
"Sekarang udah hamil Mbak ?" tanya Cintya lagi.
"Belumlah. Baru juga nikah 10 hari. Udah mau haid malahan." jawab Avi.
"Semoga abis ini cepat hamil ya Mbak." kata Cintya.
"Aamiin. Makasih." kata Avi.
Mereka meneruskan obrolan hingga tak terasa Ical dan Revan sudah kembali.
__ADS_1
"Gimana Yang ?" tanya Cintya pada Revan.
"Isinya sama aja. Bahkan persis rumah ini. Cuma harganya lebih mahal dikit karena sudah dipagar dan dipasang kanopi sama pemilik sebelumnya." kata Revan.
"Ya gak apa Yang. Kalo kita pasang sendiri juga akan keluar biaya lagi." jata Cintya.
"Iya yang. Abis ini kita mampir ke kantor developer buat kasih tanda jadi." kata Revan.
"Nanti sekalian aja kantor kita pindahin deket sini Van." usul Ical.
"Boleh aja bro. Biar deket ya kerjanya." Revan tergelak menanggapi usulan rekan kerjanya itu.
Tak lama kemudian Revan dan Cintya pamit pulang.
"Mas, seriusan mau pindahin kantor ke deket sini ?" tanya Avi sambil duduk di sebelah Ical yang tengah menonton tv.
"Gak tau Yang. Tadi mah cuma becanda aja. Gak enak sama Ayah dan keluarga pelangi. Kantornya kan dibangun diatas lahan Bengkel." kata Ical.
"Gratis gitu Mas ?" tanya Avi lagi.
"Iya. Kita cuma keluar biaya buat bangun kantor aja." jawab Ical.
"Baik banget ya mereka." kata Avi.
"Keluarga Pelangi itu sudah benar - benar seperti keluarga. Bundabersahabat dengan ketiga temannya sejak SMA. Berlanjut hingga masing - masing menikah bahkan slaing berbesanan." cerita Ical.
"Wah.. keren ya. Jadi Mama mertuanya Aca itu sahabat Bunda ?" tanya Avi.
"Iya. Mama Yoan, Mama Amira, Manda Zizi dan Bunda Sissy. Kami semua anak - anaknya saling memanggil Mama, Papa, Ayah, dan sebagainya." jawab Ical.
"Seneng ya punya 4 ayah dan 4 ibu." kata Avi.
"Seneng banget. Mereka benar - benar seperti orangtua sendiri. Apalagi akhirnya saling menikahkan anak masing - masing." kata Ical.
"Kenapa kamu gak menikah dengan salah satu anak mereka juga ?" tanya Avi iseng.
"Gak kebagian Vi. Udah habis stoknya. Hehehe. Bunda kan nikahnya udah umur banyak, jadi jarak umur kami cukup jauh. Lagian jodohku kan kamu." ucap Ical sambil mengerlingkan matanya.
"Dasar gombal." Avi mencubit lengan Ical lalu meninggalkannya.
"Yang.. Kamu mau kemana ?" tanya Ical.
"Mau tidur. Ngantuk." jawab Avi sambil masuk ke kamar dan membiarkan pintunya terbuka.
"Ikut.." Ical buru - buru mengikuti sang istri.
...***...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Jangan lupa ada cerita baru juga, judulnya "Tiga Dara".
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih πππ
Bersambung