Mengejar Cinta Shavira

Mengejar Cinta Shavira
#17 Menjadi Imam Mu


__ADS_3

"Vi, Aku boleh kan mengenal kamu lebih jauh ?" tanya Ical saat mereka sedang menikmati makanannya.


"Boleh Mas. Ini juga kan kita sedang mengenal." jawab Avi.


"Iya ya. Aku juga boleh kan sering main ke rumah kamu ?" tanya Ical lagi.


"Kalo itu aku kurang setuju Mas." jawab Avi sambil menunduk.


"Loh kenapa ?" Ical sedikit kecewa dengan penolakan Avi.


"Aku gak ingin pacaran Mas. Kalo kita sering bertemu, nantinya akan menimbulkan fitnah Mas." jawab Avi.


"Kita kan masih bisa berhubungan lewat telepon atau chat." lanjut Avi.


"Jadi kita gak akan bisa bertemu lagi ?" tanya Ical lagi.


"Kita bisa bertemu dengan ditemani oleh orang lain juga Mas. Jadi kita tidak berdua saja." jawab Avi.


"Makasih ya Vi." kata Ical sambil tersenyum.


Avi pun membalas senyuman itu.


Ya, Avi memang sudah memutuskan untuk membuka hatinya untuk pria ini. Avi juga ingin mengenal sosok Ical lebih jauh.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di hari minggu, pagi - pagi sekali Ical sudah siap untuk ke rumah Avi.


"Hari minggu kamu mau kemana sayang ? Iniasih pagi loh ?" tanya Sissy yang sedang memasak di dapur.


"Mau bantuin temen pindah kost Bun." jawab Ical sambil menyeduh kopi.


"Temen cewek ya ?" goda Sissy.


"Bunda kepo deh." elak Ical.


"Siapa tahu kamu udah nemu calon mantu buat Bunda." ledek Sissy.


"Bunda, jangan paksa Ical kayak gitu lah. Nanti dia malah males lagi." Rio datang dan langsung mengomeli istrinya.


"Bunda kan cuma pengen Ical segera menikah Yah. Jangan seperti kita." Sissy kesal dengan ucapan suaminya.


"Ya gak usah dipaksakan gitu. Kan jodoh tiap orang gak sama." kata Rio.


"Pokoknya Bunda pengen Ical segera menikah seperti Aca." Sissy gak mau kalah.


"Insha Allah gak Bun. Doain aja biar Ical segera ketemu dengan jodoh Ical." Ical coba melerai pertengkaran Ayah dan Bunda nya.


"Aamiin." kata Rio dan Sissy kompak.

__ADS_1


Ical pu pamit pada kedua orangtuanya dan bergegas melajukan mobilnya menuju kontrakan Avi.


Hanya butuh 20 menit untuk sampai ke kontrakan Avi.


"Assalamualaikum." Ical memberi salam di depan pintu yang terbuka.


"Waalaikumsalam." jawab beberapa orang di dalam.


"Mas Ical udah datang ?" Lia menghampiri Ical.


"Udah siap Li ? Avi mana ?" tanya Ical sambil mencari sosok Avi.


"Teteh sedang ambil barang di kamar." jawab Lia.


"Masuk dulu Mas. Tapi kita udah gak punya kursi." kata Bayu.


"Iya gak apa - apa. Emang kursinya kemana ?" tanya Ical.


"Kursinya udah dibawa ke kosan Lia. Cuma tinggal kardus - kardus ini." jawab Agus.


"Kita langsung angkutin ke mobil Mas." ujar Bayu sambil mengangkat sebuah kardus besar.


"Oh iya Boleh." Ical langsung membuka bagasi mobilnya. Akhirnya beberapa kardus sudah selesai dimasukkan oleh mereka bertiga. Tak lama kemudian Avi keluar sambil membawa tas nya.


"Bay, Bantuin bawa koper Teteh." kata Avi.


"Sini biar aku yang bawain." kata Ical langsung menghampiri Avi.


"Sekalian Tas ini juga saya bawakan." Ical mengambil tas yang dipegang Avi. Tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Avi. Reflek Avi pun segera menarik tangannya.


"Maaf Vi." kata Ical.


"Iya gak apa - apa Mas." Avi berjalan mendahului Ical keluar dari kamar itu. Ical gak tau kalo wajah Avi sudah merona merah karena kejadian tadi.


"Ini udah semua Teh ? Gak ada yang ketinggalan ?" tanya Agus.


"Coba kamu bantuin cek lagi ke kamar - kamar dan dapur." perintah Avi.


Bayu, Agus dan Lia pun menyebar menuju ke setiap ruangan di rumah itu. Kini tinggal Avi dan Ical berdua di teras rumah.


"Vi, boleh gak aku bilang sesuatu." kata Ical pelan.


"Apa itu Mas?" tanya Avi tanpa menatap Ical.


"Aku merasa kalo aku sudah jatuh cinta sama kamu." Ical menyatakan cintanya.


"So sweet banget sih." ucap Lia lirih.


"Sst.. Jangan berisik." bisik Bayu. Agus pun langsung membungkam mulut Lia agar tidak berkomentar lagi. Mereka sedang bersembunyi dibalik tembok ruang tamu.

__ADS_1


"Kenapa harus terburu - buru ?" Avi mengangkat wajahnya dan menatap Ical.


"Aku gak mau kehilangan jejak kamu lagi. Sudah bertahun - tahun aku mencari kamu." kata Ical.


"Yang bener Mas ?" Avi menatap Ical tak percaya. Mana mungkin dia mencari nya selama itu, sedangkan mereka baru kenal kurang dari setahun terakhir ini.


"Iya. Aku sudah tau kamu saat di Bandung ?" Ical lun menceritakan pertemuan pertama mereka yang tidak disengaja. Avi hanya mendengarkan dengan terdiam.


"Apakah ikatan diantara mereka begitu kuat hingga dipertemukan lagi ?" gumam Avi dalam hati.


"Vi, aku ingin menjadi Imam mu." kata Ical sambil menatap Avi. Avi hanya terdiam sambil terus menunduk. Dia merasa senang sekaligus malu. Ini kali pertamanya mendengarkan pernyataan cinta dari seorang pria.


"Teh, udah kosong semua." suara Lia membuyarkan keheningan diantara mereka.


"Kenapa kalian lama sih ?" Teteh jadi ngantuk nunggunya." tanya Avi pada ketiga adiknya.


"Tadi kita cek pelan - pelan. Takut ada yang tertinggal." Bayu menunjukkan kantung berisi barang yang tertinggal.


Sebenarnya itu hanya alasan saja. Sejak tadi ketiganya sudah berada di balik pintu mendengarkan percakapan antara Ical dan Avi. Tapi mereka tak ingin merusak suasana hingga menunggu waktu yang pas untuk keluar.


Agus pun duduk disamping Ical yang mengemudi. Sedangkan Avi memilih duduk di kursi belakang. Bayu dan Lia berboncengan menggunakan sepeda motor milik Bayu. Mereka mampir dulu ke rumah pemilik kontrakan untuk mengembalikan kunci rumah.


"Ini calon suaminya Mbak Shavira ?" tanya Ibu pemilik rumah sambil menunjuk pada Ical.


"Bukan Bu. Ini teman saya." jawab Avi.


"Kalian cocok loh padahal. Terlihat serasi." kata Ibu itu lagi.


Avi dan Ical hanya terdiam. Sedangkan Agus hanya tersenyum mendengarkan ucapan Ibu pemilik rumah itu.


'Semoga kalian berjodoh ya. Jangan lupa undang Ibu ya." kata Ibu pemilik rumah yang langsung diaminkan oleh Ical dalam hati.


Agus pun turut mengaminkan doa Ibu pemilik rumah itu.


Mereka pun berpamitan dan langsung menuju ke kosnan baru Avi.


Sepanjang perjalanan Ical terlibat obrolan seru seputar bengkel dengan Agus. Sedangkan Avi hanya mendengarkan sambil memandang keluar jendela. Sesekali Ical mencuri pandang pada Avi melalui kaca spion.


"Seandainya aku bisa menjadi Imammu. Sungguh bahagianya hatiku." gumam Ical dalam hati.


Bagi vote atau Bunga atau secangkir kopi 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.


Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..


Like 👍 Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..

__ADS_1


Makasih 🙏🙏🙏


Bersambung


__ADS_2