Mengejar Cinta Shavira

Mengejar Cinta Shavira
#23 Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan update 2/3 hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar semakin semangat buat nulis.. #


Selamat Membaca πŸ“–


...*****...


Sepanjang perjalanan suasana terasa canggung, mereka lebih banyak diam, hanya sesekali ngobrol.


"Vi, Kayaknya udah lama ya kita gak ketemu." Ical memulai percakapan.


"Emang iya Mas. Kan aku sedang sibuk banget di kantor." jawab Avi.


"Kamu makin lama makin cantik aja." goda Ical.


"Mulai gombal kamu ya Mas." kata Avi sambil menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.


"Jadi gak sabar pengen cepet halalin kamu." goda Ical lagi.


"Kamu ini Mas." Avi tertunduk malu.


"Pulangnya aku jemput lagi ya. Sekalian mampir ke rumah dulu." kata Ical.


"Masa muka kuyu ketemu sama Orangtua kamu ?" Avi berusaha menolak.


"Ya gak apa - apa. Lagian kamu tetep cantik kok." rayu Ical.


"Aku kan malu mas kalo kelihatan kucel di depan orangtua kamu." kata Avi.


"Bunda sama Ayah aku nyantei kok. Yang ada mereka malah kesel kok calon mantunya gak mau diajak ketemuan terus." kata Ical.


"Iya deh Mas. Terserah kamu aja. " Avi akhirnya setuju.


"Nah gitu dong. Kamu tuh cantik apa adanya." puji Ical sambil memandangi Avi.


"Udah ah Mas. Jangan muji terus. Ntar aku jadi geer." Avi menutup mukanya. Ical hanya tersenyum gemas melihatnya.


"Coba udah halal, Udah aku uwel - uwel kamu." gumam Ical dalam hati.


Mereka mampir untuk sarapan dulu di rest area. Avi tak lupa membeli beberapa roti dan minuman untuk bekla di hotel.


Mereka sampai di hotel Jam Setengah 11. Avi pun hendak turun dari mobil.


"Bawaan kamu cuma segini ?" tanya Ical.


"Iya Mas. Aku gak suka bawa barang terlalu banyak." jawab Avi.


"Bener - bener mirip sama Bunda. Gak suka ribet." gumam Ical dalam hati.


"Emang kenapa Mas ?" tanya Avi yang melihat Ical hanya terdi sambil menatapnya.


"Gak apa - apa. Aku temenin ke dalam ya." Ical mengambil alih tas bawaan Avi.


"Makasih ya Mas. Tau aja aku belum pernah check in di hotel." kata Avi.


"Apa perlu aku temenin nginep nya ?" goda Ical.


"Apaan sih kamu Mas." Avi memandang kesal.


Ical pun membantu Avi untuk bertanya pada resepsionis.


"Bu Shavira di kamar 305. Silahkan ini kunci kamarnya." tesepsionis menyerahkan kunci kamar pada Avi.


"Satu kamar sendiri Mbak." tanya Avi.


"Tidak Bu. Satu kamar diisi 2 orang. Kebetulan temna sekamar Ibu belum datang." jawab resepsionis itu.


"Ooh. Saya langsung ke kamar ya Mbak." kata Avi.


"Silahkan Bu." jawab resepsionis itu dengan sopan.


"Mas, aku langsung ke kamar ya. Jam 2 mulai seminarnya." kata Avi.


"Perlu aku antar ?" tanya Ical.


"Gak usah Mas. Aku bisa sendiri. Makasih ya udah anterin." jawab Avi.

__ADS_1


"Sama - sama. Nanti malam aku telpon ya." kata Ical.


"Nanti biar..." ucapan Avi terhenti saat seseorang menyapanya.


"Avi.. " sapa seseorang memotong percakapan Avi dan Ical.


"Nenda.." Avi menyapa rekannya yang memeluknya erat itu.


"Kamu ikut juga ? Kamar berapa ?" tanya Nenda setelah melepas pelukannya.


"Kamar 305." jawab Avi.


"Sekamar sama aku dong." kata Nenda.


"Alhamdulilah bisa sekamar sama kamu. Yang lain ada yang ikut gak ?" Avi bertanya balik.


"Aku juga gak tau. Semoga aja ada yang ikut juga." jawab Nenda.


"Ehem.." Ical berdehem karena merass diabaikan.


"Eh Mas. Maaf. Aku lupa kamu masih disini." kata Avi.


"Kalo udah ketemu temen aku jadi dilupain nih." protes Ical.


"Suami kamu Vi ?" tanya Nenda.


"Aku kan belum nikah Nda." jawab Avi malu - malu.


"Saya calon suami Avi." Ical memperkenalkan diri.


"Saya Nenda." Nenda menyatukan kedua tangan didepan dada. Ical merasa lega melihat teman sekamar Avi yang juga sholehah.


"Aku pamit pulang dulu ya Vi. Nanti pulangnya aku jemput lagi." kata Ical.


"Iya Mas. Makasih ya. Hati - hati di jalan." kata Avi.


"Mari Mbak. Nanti Mbak pulangnya kalo mau bareng boleh kok." kata Ical ramah.


"Makasih Mas. Insha Allah suami dan anak saya mau jemput. Sekalian staycation." Nenda menolak halus.


"Iya deh. Assalamualaikum." pamit Ical.


Setelah Ical hilang dari pandangan, mereka naik lift untuk menuju kamarnya di lantai 3.


"Calon sumai kamu ganteng juga Vi." kata Nenda.


"Ah Mbak bisa aja." jawab Avi malu - malu.


"Kamu udah lama pacaran sama dia ?" tanya Nenda.


"Aku gak pacaran. Kami hanya menjalani." jawab Avi.


"Taaruf ya. Keren deh kalian." puji Nenda.


"Biasa aja Mbak. Saya cuma menjaga diri aja." kata Avi.


"Trus kapan nikahnya ?" tanya Nenda lagi.


"Belum tau Mbak. Aku aja belum ketemu sama orangtuanya." jawab Avi.


"Kok bisa ?" Nenda bertanya dengan heran.


"Gak tau Mbak. Aku takut. Takut orangtuanya gak suka sama aku. Apalagi aku hanya anak yatim piatu." cerita Avi.


"Kamu harus yakin dong. Harus berani. Kita gak akan tau kalo belum bertemu kan ?" Nenda coba menyemangati Avi.


"Insha Allah Mbak. Doain aja ya." kata Avi.


"Insha Allah." Nenda menepuk ringan bahu Avi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bun, lagi apa ?" Ical menghampiri Sissy yang sedang sibuk di dapur.


"Bunda lagi bikin brownis Nak." jawab Sissy yang fokus dengan adonan kue nya.


"Bun, Insha Allah besok Ical mau ajak calon mantu Bunda kesini." kata Ical.

__ADS_1


"Wah yang bener Cal." Sissy langsung menatap wajah tampan putranya itu.


"Bener dong Bun. Masa Ical bohong." kata Ical.


"Perempuan yang kamu cari - cari selama ini ?" tanya Sissy.


"Iya Bun. Sebenarnya Ical sudah ketemu beberapa bulan lalu. Tapi baru sekarang mau diajak kesini." kata Ical.


"Kok kamu gak pernah cerita sama Bunda ?" Sissy menatap tajam anaknya.


"Ical nunggu Avi mau dulu, baru berani cerita ke Bunda. Takut Php aja." kata Ical.


"Namanya Avi ? Asli mana Cal ?" selidik Sissy.


"Orangtuanya asli sumatra tapi sudah lama meninggal. Dia yatim piatu. Lama tinggal di Bandung." jawab Ical.


"Udah yatim piatu ?" Sissy menegaskan.


"Iya. Udah yatim piatu dari kecil. Jadi dia juga gak tau leluhurnya dimana ?" jawab Ical.


"Tersu tinggal sama siapa di Bandung ?" Sissy masih terus bertanya.


"Tinggal di pantu asuhan sejak masih kecil. Udah ah Bun, jangan nanya - nanya terus. Apalagi pas Avi kesini." kata Ical.


"Iya deh. Bunda gak bakal nanya asal usulnya. Nanti Bunda masakin yang spesial." kata Sissy.


"Makasih ya Bun." Ical mencium pipi Sissy lembut.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari Minggu Pagi Ical sudah dalam perjalanan pulang bersama Avi.


"Kamu tenang aja. Bunda dan Ayah aku gak galak kok." Ical coba menenangkan Avi.


"Iya Mas. Cuma bingung aja nanti harus gimana." kata Avi.


"Biasa aja. Jadi diri sendiri aja." kata Ical.


"Mas nanti temenin Avi terus ya." pinta Avi.


"Iya. Nanti Mas temenin." kata Ical.


Avi pun tertidur selama perjalanan, karena semalam dirinya tak bisa tidur memikirkan hari ini. Hingga tak terasa mobil sudah memasuki kota Malang dan menuju ke rumah Ical.


"Vi, udah mau sampai nih." panggil Ical.


"Eh.. Maaf Mas. Aku ketiduran." Avi merapikan hijabnya.


"Gak apa - apa." Ical tersenyum melihat Avi yang panik merapikan baju dan wajahnya.


Mobil berbelok ke sebuah rumah sederhana dengan halaman yang asri.


Ical pun mengajak Avi turun. Belum sempat Ical mengetuk pintu, ternyata Sissy sudah membukanya.


"Assalamualaikum Bun." Ical mencium tangan Bundanya.


"Waalaikumsalam." jawab Sissy.


"Bu, kenalin ini Avi." Ical menunjuk pada Avi ynang sedikit menunduk.


"Assalamualaikum." Avi mencium tangan Sissy dan mengangkat wajahnya.


"Waalaikumsalam. Kamu Avi, karyawannya Dio dulu ya ?" sapa Sissy.


"Bu Rissya ?" tanya Avi tak percaya.


...***...


Bagi vote atau Bunga atau secangkir kopi 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.


Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..

__ADS_1


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung


__ADS_2