
#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan update 2 hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...*****...
Saat itu Ical dan Avi sedang berada di ruang praktek dokter kandungan.
"Selamat ya Bu, Pak. Usia kandungannya sudah masuk 6 minggu." kata dokter Rahayu.
"Alhamdulilah dok. Anak kami sehat kan ?" tanya Ical.
"Untuk saat ini masih normal Pak. Dan ini bisa dilihat, ada 3 kantong janin." dokter menunuuk pada layar monitor.
"Maksudnya Dok ?" tanya Avi.
"Insha Allah anak Ibu dan Bapak kembar 3" jawab dokter Rahayu.
"Masya Allah. Langsung 3 Sayang." kata Ical sambil mengecup kening Avi.
"Alhamdulilah Mas. Aku seneng banget." kata Avi dengan mata yang berkaca - kaca.
"Apa ada keluhan selama ini bu ?" tanya dokter Rahayu.
"Beberapa hari ini sering mual dan pusing. Trus kalo cium bau tertentu suka eneg. Saya juga gak nafsu makan nasi tapi pengennya minum es yang seger - seger." jawab Avi.
"Itu hal yang wajar di trisemester pertama. Ibu tetap harus paksain makan, mungkin diganti dengan kentang, roti atau buah - buahan." kata dokter.
"Iya dok. Makasih infonya." kata Ical.
"Silahkan periksa lagi bulan depan ya Bu. Ini saya kasih resep vitamin dan obat pereda mual." dokter Rahayu menyodorkan kertas resep.
"Makasih dok." kata Ical sambil menerima resep tersebut. Dia lalu membantu Avi untuk keluar ruangan.
Ical langsung mengajak Avi pulang ke rumah.
"Sayang, kita pulang sekarang ya." kata Ical.
"Iya Mas. Tapi aku pengen beli tahu petis sama es dawet." pinta Avi.
"Boleh. Tapi beli makan juga ya. Kamu mau nasi atau apa ?" tanya Ical.
"Kentang goreng aja Mas." jawab Avi.
"Oke. Sekalian beli yang frozen juga. Buat stok." kata Ical lagi.
"Terserah kamu aja Mas." kata Avi.
__ADS_1
Setelah membeli semuanya, Mereka pulang ke rumah.
"Mas, kita gak kasih tau Bunda ?" tanya Avi.
"Nanti aja Yang. Kita rahasiakan dulu. Bulan depan kan Bunda ulang tahun. Kita kasih kejutan buat Bunda ya." jawab Ical.
"Ooh.. boleh. Berarti Aca juga pulang dong ?" tanya Avi lagi.
"Aca kan memang mau pindah ke Malang lagi." jawab Ical.
"Gimana kalo kita bikin pesta kecil buat ngerayain ulang tahun Bunda ?" usul Avi.
"Boleh juga tuh. Nanti kamu diskusi sama Aca aja." Ical setuju dengan usul istrinya.
"Iya Mas." Avi berjalan menuju ke kamarnya.
"Tapi Yang. Jangan bilang dulu kalo kamu hamil. Sama temen di kantor juga jangan bilang dulu ya. Kita rahasiakan sampai ulang tahun Bunda." Ical mengingatkan Avi.
"Iya Mas. Tenang aja. Kamu juga gak boleh siapa - siapa." Kata Avi.
"Tentu dong. Sekarang kamu istirahat. Habis kamu makan aku tinggal ke kantor ya." kata Ical.
"Pergi sekarang aja gak apa Mas. Nanti aku makan sendiri." kata Avi.
"Beneran ? Gak apa aku tinggal ?" Ical cemas meninggalkan istrinya sendiri.
"Ya gak apa - apa. Aku kan hamil bukan sakit." jawab Avi sambil mengecup pipi suaminya.
"Mas, libur dulu ya seminggu. Biar triplet kuat dulu." bisik Avi.
"Oke deh Uminya triplet. Abi akan menahan diri." Ical mencium kening sang istri sebelum berangkat ke kantor.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seminggu berlalu, Avi sudah beraktivitas seperti biasa sehari setelah mengetahui kehamilannya. Sesekali dia masih suka merasa mual dan pusing. Tapi bisa diatasi dengan beristirahat sejenak. Avi pun masih menghindari nasi yang masih membuatnya mual.
"Lin, Nanti kita ngebakso lagi ya." ajak Avi.
"Emang gak bosan hampir tiap hari makan bakso ?" tanya Linda.
"Gak. Malah enak makan yanh panas pedes gitu. Seger." jawab Avi.
"Jangan - jangan Mbak lagi isi ?" tanya Linda lagi.
"Doain aja ya." jawab Avi bergegas kembali ke ruangannya sebelum Linda curiga.
Malam harinya di rumah, mereka baru saja selesai makan malam. Avi duduk bersandar di bahu tegap Ical.
"Mas, Aca pengen beli rumah disini loh." kata Avi.
__ADS_1
"Oh ya ? Kenapa gak tinggal di rumah Bunda aja ?" tanya Ical.
"Pengen runah sendiri katanya. Lagian kalo tinggal di rumah Bunda, gak enak sama mertuanya." Avi menyampaikan alasan yang didengarnya dari Aca.
"Ooh.. Iya juga ya. Tapi kasian Bunda sama Ayah. Tinggal sekota tapi jauh." kata Ical.
"Mas, Kamu ada tabungan gak ?" tanya Avi.
"Ada. Buat apa Yang ?" Ical balik bertanya.
"Gimana kalo kita beliin rumah juga buat Bunda dan Ayah. Di komplek sini juga. Biar deket." usul Avi.
"Boleh banget tuh. Kita patungan sama Aca dan Kak Difan." kata Ical.
"Ya udah besok kamu cariin rumah buat Aca dan Bunda. Nanti aku yang bilang ke Aca." kata Avi.
"Oke. Setuju." kata Ical sambil mengeratkan pelukannya pada Avi. Tangannya mulai bergerilya ke dalam baju Avi.
"Mas.. Ngapain sih ?" tanya Avi tanpa menghentikan tangan Ical.
"Kan udah seminggu. Boleh dong ?" bisik Ical dengan suara parau.
"Baru juga makan malam Mas." Avi berusaha menolak Ical.
"Udah terlanjur bangun Sayang." Ical menarik tangan Avi agar memegang juniornya.
"Hhmm.. Nakal kamu." Avi memukul pelan 'junior'.
"Disayang dong jangan dipukul." protes Ical.
"Iya." Avi berdiri lalu mengajak Ical melanjutkan di kamar.
Keduanya pun melakukamnya dengan perlahan agar tidak mengganggu keberadaan triplet di dalam perut Avi.
Malam yang dingin terasa hangat saat kedua manusia berlainan jenis itu memadu cinta.
...***...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Jangan lupa ada cerita baru juga, judulnya "Tiga Dara".
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih πππ
Bersambung