
#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan update 2/3 hari sekali ya. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca π
...*****...
"Bunda seneng banget kamu nginep disini malam ini." kata Sissy saat mereka sedang memasak untuk makan malam.
"Iya Bun. Kalo Avi harus pulang ke kost terlalu jauh. Mau ikut nginep di hotel juga udah gak ada kamar lagi." jawab Avi.
"Iya. Sering - sering aja nginep disini. Jadi Bunda ada teman ngobrol." kata Sissy lagi.
"Kalo sering nginep gak enak sama tetangga Bun." Avi menolak dengan halus.
"Tetangga sini gak rewel kok." Sissy berusaha merayu calon menantunya.
"Dek, jangan dipaksa gitu. Tunggu Ical menikahi Avi, baru bisa nginep sering nginep sini." Rio masuk ke dapur.
"Iya Mas." Sissy sedikit kesal dengan suaminya yang ikut campur dalam obrolannya dengan Avi.
"Maafin Bundanya Ical ya Nak. Dia hanya terlalu antusias akan hubungan kalian." kata Rio pada Avi.
"Gak apa - apa kok Yah. Aku juga senang punya calon mertua kayak Bunda." kata Avi sopan.
"Udah Ayah sana ke depan aja. Tungguin keluarga calon besan aja." usir Sissy.
"Iya istriku sayang." goda Rio.
Satu jam kemudian keluarga Bu Rumi sampai di rumah Rio.
"Assaalamualaikum." Bu Rumi mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam." jawab Rio.
"Yah, Kenalin ini Bu Rumi, Kang Fahmi, Teh Nita dan Fani." Ical menyebutkan nama mereka satu persatu.
"Saya Mario, Ayahnya Ical." Rio memperkenalkan diri dan menyatukan kedua tangan di depan dadanya.
"Saya Rumi, kerabat Shavira dari Bandung." kata Bu Rumi.
"Saya Fahmi dan ini istri Nita dan ini anak kami Fani." Fahmi ikut memperkenalkan diri dan menyalami Rio.
"Mari silahkan masuk. Cal, tolong panggilkan Bunda kamu." kata Rio.
"Gimana perjalanannya Bu, Kang ?" tanya Rio.
"Naik pesawatnya sih nyaman. Pas dari Surabaya kesininya agak capek." jawab Bu Rumi.
"Tapi tadi kamu sudah istirahat jadi lebih segar." Fahmi ikut menjawab.
Tak lama Sissy keluar dari dalam rumah bersama Avi.
"Salam kenal Bu, Mas, Mbak." Sissy menyalami Bu Rumi dan Nita.
"Alhamdulilah baik Bu." jawab Bu Rumi sopan.
"Silahkan duduk dulu Bu. Kita nikmati teh dan kue dulu." Sissy mempersilahkan.
Avi mengajak Nita dan Fani ke halaman belakang.
"Kamu terlihat bahagia Vi." kata Nita.
"Alhamdulilah Teh. Teteh juga makin cantik." kata Avi.
"Adik - adik kamu dimana ? Udah lama seklai Teteh gak ketemu mereka. Terakhir ketemu ya waktu kamu tinggal di tempat Teteh." tanya Nita.
"Bayu dan Agus buka bengkel di Batu. Lia masih sekolah kebidanan." jawab Avi.
"Kalian masih tinggal bersama ?" tanya Nita lagi.
__ADS_1
"Gak Teh. Kami tinggal terpisah. Soalnya lumayan jauh jaraknya." Avi menjelaskan.
"Teteh gak nyangka kamu akan segera menikah. Baru juga usia 23." kata Nita.
"Teteh tau gak. Ternyata waktu di Bandung aku sempat bertemu dengan Mas Ical." cerita Avi.
"Kapan ? Dimana ?" tanya Nita.
"Waktu kita makan di Lembang. Ada Teh Fina dan Sita juga. Waktu Avi mau minta susu buat jus strawberry punya Sita, gak sengaja Mas Ical nabrak dan numpahin jusnya." lanjut Avi.
"Yang kamu lama banget itu ya ?" Nita mengingat - ingat kejadian itu.
"Iya betul Teh. Tapi Avi gak inget sama sekali." kata Avi.
"Gimana mau inget Teh. Dia kan nunduk mulu." sindir Ical yang ikut duduk di samling Avi.
"Ya kan jaga pandangan Mas." Avi membela diri.
"Dunia begitu sempit ya." kata Nita smabil tersenyum.
"Oh iya. Aku kesini disuruh Bunda ngajakin makan." kata Ical.
"Ayo deh. Fani juga udah laper nih kayaknya." kata Nita sambil menggendong Fani.
"Fani atau Mamanya yang laper ?" sindir Avi smabil tertawa.
"Ya dua - duanya." jawab Nita malu - malu.
Mereka duduk di depan makan bergabung dengan Bu Rumi, Kang Fahmi dan orangtua Ical.
"Silahkan dinikmati makanan sederhana ini." Sissy mempersilahkan.
"Ini mah nikmat banget Bu." kata Bu Rumi.
Mereka pun menikmati makanan dengan sesekali mengobrol ringan.
Setelah makan, mereka kembali ke ruang tamu.
"Iya Pak. Kami paham. Kami merasa terhormat, Avi mau mengakui saya sebagai pengganti orangtuanya." kata Bu Rumi.
"Kami bermaksud melamar Avi untuk menjadi istri Ical, anak kami." kata Rio.
"Kami sangat setuju. Saya melihat keluarga ini keluarga yang baik. Ical juga sosok lelaki yang baik dan saya yakin akan bisa menjaga adik kami Avi." Fahmi berkata mewakili Bu Rumi dan Avi.
"Jadi untuk pernikahan mereka, apa Ibu dan Nak Fahmi ada masukan ?" tanya Rio.
"Saya menyerahkan semuanya oada keluarga disini aja. Masalah waktu, tempat dan konsep acaranya." jawab Fahmi.
"Apa perlu diadakan lamaran secara resmi ?" tanya Rio lagi.
"Kalo menurut saya sih tidak perlu ya. Cukup keluarga saja. Dan kemungkinan kami tidak bisa bolak - balik melakukan perjalanan kesini." kata Fahmi.
"Sebenarnya kemarin saya sudah melamar Avi di depan orangtua saya dan adik - adik Avi." Ical ikut bicara.
"Saya rasa itu sudah cukup. Kita langsung saja pada akad nikah." kata Fahmi.
"Baiklah. Kami akan mencari tanggal dan waktu yang tepat." kata Rio.
"Kami harap Bu Rumi sekeluarga akan datang pada saat itu." Sissy menambahkan.
"Insha Allah." jawab mereka.
"Kalian inginnya menikah kayak gimana ? Mewah atau sederhana ?" tanya Rio pada Ical dan Avi.
"Kami sih inginnya sederhana aja Yah. Yang diundang juga keluarga dekat dan kerabat aja." jawab Ical.
"Oke. Ayah sama Bunda sih setuju aja." kata Rio.
"Kamu juga setuju. Nanti kami kesini lagi sekalian ajak Teh Fina, kakak saya." kata Fahmi.
"Bagus deh." kata Rio.
__ADS_1
Mereka melanjurkan obrolan hingga tak terasa sudah pukul 9 malam. Fani pun sudah tertidur di pangkuan Nita.
"Bu, Pak, Kami pamit pulang dulu. Sudah malam." kata Fahmi.
"Ini si kecil juga udah tidur." Nita menambahkan.
"Iya Bu, Nak. Kasihan udah kecapekan dia." kata Sissy.
"Bu, Aku sama Avi nganter mereka dulu ya." Ical meminta ijin.
"Iya Nak. Oh iya. Nanti mampir di Cake shop. Belikan kue atau roti buat sarapan besok." kata Sissy.
"Siap Bun." jawab Ical.
"Kami permisi pamit dulu ya Pak, Bu." Bu Rumi bersalaman dengan Sissy.
"Besok kita masih ketemu buat makan siang sebelum kalian pulang ke Bandung ya." Rio mengingatkan.
"Iya Pak. Assalamualaikum." pamit Fahmi lalu berjalan masuk ke dalam mobil.
"Bu, Kang, Teh, sok dipilih mau kue atau roti apa." Ical mempersilahkan.
"Ini cake shop punya Bunda Sissy loh Bu." kata Avi dengan sedikit berbisik.
"Usaha bersama punya Bunda dan sahabatnya." Ical mengoreksi.
"Ternyara tempatnya pas di seberang hotel ya ?" kata Nita.
"Iya Teh. Nanti kita tinggal jalan kaki aja ke hotelnya." Avi membantu Bu Rumi memilih kue.
Setelah memilih dan menuju kasir , mereka pun berjalan menuju hotel.
"Tadi habis berapa Vi ? Biar teteh ganti." tanya Nita.
"Gak usah Teh. Gratis dari Bunda Sissy." jawab Ical.
"Sampaikan terimakasih ke Bunda kamu ya." kata Bu Rumi.
"Iya Bu." jawab Ical.
Avi dan Ical hanya mengantar sampai di lobby saja. Bu Rumi sekeluarga pun masuk ke dalam lift yang mengantarkan ke kamar mereka.
"Mas, Emang bener itu semua gratis ?" tanya Avi saat mereka berjalan kembali menuju mobil yang sengaja diparkir di depan Cake shop.
"Enggak. Abis ini aku bayar." kata Ical dengan santai.
"Biar aku aja yang bayar Mas." kata Avi.
"Gak usah. Nanti kalo kamu yang bayar gak ada diskon." cegah Ical.
"Kok gitu ?" Avi tak mengerti maksud Ical.
"Ada peraturan, kalo owner, keluarganya dan karyawan dapat diskon 50%. Aku kan anaknya owner, kalo kamu belum bisa dapat diskon, tunggu resmi jadi nyonya Khalid Putra dulu." goda Ical.
"Apaan sih kamu Mas." Avi tersipu malu.
...***...
Bagi vote atau Bunga atau secangkir kopi ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Bagi yang belum baca cerita tentang kisah orangtua Ical juga bisa baca "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" atau bisa buka di bio saya ya..
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ
Bersambung
__ADS_1