
Doorr...
Suara tembakan terdengar dari lapangan belakang taman mansion.
"Argh .. meleset!" gerutu Leoni.
Gadis itu tidak suka jika tembakannya meleset dari sasaran. Leoni sedang kesal karena tembakan meleset tiba-tiba salah satu anak buahnya datang menghampiri Leoni.
"Nona..." panggil anak buah itu.
Leoni menoleh menatap tajam anak buah itu, " Ada apa? Apa kau tidak lihat aku sedang berlatih?" bentak Leoni.
"Maafkan saya, Nona.Tapi..." Anak buah itu gemetaran. Ia melirik tangan Leoni masih memegang pistol.
"Tapi apa? Katakan!" seru Leoni lagi.
"Tuan besar dan Nyonya Valencia sudah menunggu Nona diruang tamu," sahut anak buah itu ketakutan.
"Papa?" suara Leoni berubah pelan tapi dingin. Gadis itu memang merindukan ayahnya tapi tidak bagi Valencia.
"Ya, Nona. Karena itu Nyonya Greysia menyuruh saya untuk memanggil Nona." Anak buah itu membungkuk.
"Bereskan semuanya!" perintah Leoni. Gadis itu meletakkan pistol diatas meja begitu saja lalu dia meninggalkan pistol dan peluru yang masih berserakan diatas meja membiarkan anak buahnya yang merapikan. Leoni berjalan memasuki mansion sebelum menemui ayahnya Leoni memilih masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri lebih dulu karena latihan tadi tubuhnya berkeringat. Greysia bergegas mengikuti Leoni masuk ke kamar Leoni.
"Siapa yang meminta mereka datang?" tanya Leoni. Dia menyadari bibi Greysia mengikuti dia dari belakang. Gadis itu melepas baju bekas tadi ia latihan lalu melemparnya ke dalam keranjang pakaian kotor samping lemari.
__ADS_1
"Aku tidak tau. Tapi, tidak baik kau menolak kedatangan papamu, Nak. Ayahmu pasti merindukan kau, temui dia." sahut Greysia. Wanita paruh baya itu duduk di sofa kamar Leoni.
"Hmmm..." Leoni hanya berdehem percuma dia menolak ayahnya sudah datang mau tidak mau Leoni harus bertemu dengan Wiliam meskipun dia tidak menyukai Valencia.
Usai membersihkan diri Leoni keluar dari kamar bersama Greysia. Keduanya berjalan ke ruang tamu kakinya kaku untuk meneruskan langkahnya melewati batas dinding itu. Hatinya berdebar juga sakit seperti diremat ketika matanya menatap seorang pria tua sedang duduk berdampingan dengan istri keduanya.
"Temui dia," Bibi Greysia mengusap punggung Leoni seraya mengangguk pelan kepalanya.
Leoni menarik napas panjang, matanya memandang pria tua itu. Ya, Ayahnya sekarang berada di mansion miliknya, empat belas tahun lamanya Leoni tidak pernah melihat apalagi bertemu sang ayah. padahal jarak antara mansion the mafia dan red Tiger tidaklah jauh. Leoni menatap dalam wajah tampan itu kini terjadi perubahan begitu cepat kepada Wiliam. Pria yang dulu gagah perkasa kini telah menjadi keriput dan lemah. Wajahnya terlihat sang tua karena kebanyakan stres.
"Semua karena dia," desis Leoni. Ia menatap Bibi Gresya.
Bibi Gresya tidak menjawab dia hanya mengangguk lembut. Meminta Leoni bersabar. Leoni memutar mata malas sang bibi memang begitu selalu mengajarkan dirinya bersabar entah sampai kapan sabar itu berakhir Leoni sendiri tidak tahu.
Kemudian Leoni beralih menatap wanita yang duduk di samping sang ayah. Leoni mengepalkan tangannya, tidak bisa menahan amarah di dalam dadanya. Saat matanya menatap wanita itu tertawa tanpa beban.
Namun, karena dorongan bibi Gresya, Leoni menarik napas panjang ia menguatkan dirinya lalu gadis itu melanjutkan langkahnya untuk bergabung dengan sang ayah yang sudah datang mengunjungi dirinya.
"Leoni?" Wiliam kaget melihat putrinya yang dulu jelek dan penuh bercak merah di seluruh kulitnya kini bercak itu telah hilang kulit Leoni mulus dan putih bak kulit bayi baru lahir. Gadis itu telah berubah menjadi gadis cantik. Wiliam bahkan tidak percaya gadis yang berdiri di depannya itu Leoni, putrinya___.
Valencia mencebik dia kesal melihat perubahan Leoni. Rasanya dia ingin menyayat tubuh Leoni membiarkan bekas luka memenuhi kulit gadis itu. Tapi... sekarang gadis itu tidak bisa di hukum seperti dia masih kecil lagi.
"Papa," Leoni meraih tangan keriput itu ia menciumnya begitu lama.
Wiliam menarik tubuh ramping itu kedalam pelukannya, Mafia tua itu mencium ujung kepala Leoni begitu lama. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya, "Papa sampai tidak mengenalimu, Nak." suarnya bergetar. Ada penyesalan dalam dirinya, ia kehilangan banyak sekali moment putrinya tumbuh menjadi dewasa seperti ini.
__ADS_1
"Apa yang membawa papa sampai mengunjungi aku disini?" Leoni tidak suka menanyakan ini tapi bibirnya memaksakan untuk berkata.
"Apakah kau tidak suka, sayang? Papa ikut menyaksikan hari pertunanganmu?" Sebutan sayang itu menghujam jantung Leoni tapi lebih mengagetkan lagi ," Pertunangan?" Leoni mengulang ucapan Wiliam.
" Kau jangan bercanda Leoni!" sela Valencia. Wanita itu tidak mau kebohongannya terbongkar, "Kau tahu maksud papamu, pria yang akan bertunangan denganmu hari ini," Valencia meremas ujung dresnya.
"Apa?" Leoni membulatkan bola matanya. Dia menatap Wiliam sorot matanya menuntun penjelasan dari Wiliam. Sementara Roy hanya menunduk sedih begitu juga Gresya sudah menitihkan air matanya.
"Jangan pura-pura tidak tahu, Leoni!" Valencia berusaha keras.
"Undangan sudah beredar dan papamu juga sudah meminta Aditya mengirimkan surat persetujuan tunanganmu," Valencia memasang wajah judes. Dia tidak mau sampai Wiliam mengetahui akal busuk dia dan Aditya.
Wanita ber-make up menor itu menatap Wiliam, "bukan begitu suamiku?" tanyanya.
Wiliam masih bingung karena dia sendiri tidak pernah menyetujui apapun. Valencia frustasi dia tidak bisa menerima kekalahan itu artinya hidupnya bisa berakhir di tangan Felix.
"Sayang? Jangan bilang kau lupa lagi," Valencia berdrama seolah Wiliam sendiri yang memerintahkan Aditya untuk datang ke red Tiger.
Roy merasa kasihan melihat Leoni yang terpaku seperti patung hidup. Dia bisa merasakan kekecewaan Leoni. Gadis itu pasti ingin menolak namun Valencia berusaha tidak memberi ruang untuk Leoni berbicara.
Wajah Leoni memucat, Leoni tidak berkata apa-apa. Roy tau alasannya Leoni tidak bisa menolak demi keselamatan Wiliam. Tidak peduli apa yang akan terjadi siap atau tidak Leoni harus menikah.
Leoni berlari ke arah kamarnya meninggalkan semuanya di ruang tamu itu, Leoni mengurung diri, dia bahkan melempar semua bantalnya jatuh berserakan dilantai, Leoni menangis mengapa hidupnya masih terus ditekan ibu tirinya. Seandainya dia bisa membawa Wiliam ke mansionnya dia tidak perlu menurut perkataan Valencia.
Leoni menatap kedua pelayannya yang masuk ke kamarnya penuh emosi, dia mengusap kasar air matanya.
__ADS_1
"Keluar dari kamarku! Dan siapkan makan siang untuk Papa dan wanita itu." perintahnya.