Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 25.


__ADS_3

Di mansion Black Wolf.


Tidak butuh waktu lama untuk menimbulkan debat seru. Para pria atau tepatnya anak buah Louis, mengenal tuan mereka bertahun-tahun begitu juga dengan para pelayan wanita meskipun baru dua hari bertemu Leoni. Mereka tahu seorang wanita yang baik seperti apa.


Leoni, wanita baik hati, tidak mungkin berbuat jahat seperti yang tuduhkan para pria itu. Akan tetapi para pria mengatakan Leoni penyebab dari seringnya Louis kalah mendapatkan apa yang dia mau. Karena anak buah dan pelayan yang hobi bergosip terpecah menjadi dua kubu di mansion Black wolf. Kubu pria dan kubu wanita.


Amelia marah ketika tanpa sengaja ia mendengar gosip murahan itu saat melewati koridor menuju ruang makan.


"Sia**lan kenapa mereka selalu membela Leoni? Apakah wanita itu memiliki jimat untuk memikat setiap hati orang?" gerutu Amelia.


Simpanan Louis itu kesal bukan karena kekasihnya Louis di fitnah tetapi wanita yang di kasihi, para pelayan Black Wolf adalah Leoni, ketua mafia Red Tiger. Amelia gelisah jika para pelayan dan anak buah itu terus bergosip seperti ini dia kwatir jika Louis mendengarnya, itu justru mereka membantu Louis tidak bisa melupakan Leoni.


"Tidak! Usahaku tidak boleh gagal.Para pelayan itu perlu di kasih kesibukan." Amelia bergegas ke arah kelompok wanita yang sedang duduk bersama di koridor menuju ruang bawah tanah.


"Hei....para pelayan. Apakah kalian tidak ada pekerjaan? Sehingga duduk bergerombol seperti ibu-ibu kompleks yang doyan bergosip? Ouh....kalian sekarang jadi tukang gosip di mansion ini, iya? Baik jika begitu jangan menyesal jika tuanku pulang akan aku adukan semuanya kepada tuanku, dan kalian semua bersiap-siap kalian di pecat dan di hukum gantung. Hmmm!" ancam Amelia.


Wanita itu berdiri di depan para pelayan dan anak buah Louis seperti seorang ratu kejam, kedua tangan dilipat di bagian dada lalu memasang wajah sinis dengan satu sudut bibir bagian atas terangkat dan matanya meneleng menatap tajam mereka semua.


Para pelayan membubarkan diri. Ada yang pergi membersihkan rumput liar di taman meskipun ada tukang kebun tapi mereka lebih baik mencabut rumput liar di sana daripada pergi ke dapur melihat wanita tidak tahu diri itu.


Ada yang sibuk membersihkan tangga dan kaca. Amelia merasa senang melihat mereka semua membubarkan diri.


"Rasain kalian, bukannya memuji aku biar tuanku semakin tergila-gila kepadaku. Kalian justru sibuk memuji wanita si*alan itu. Sekarang kalian rasakan akibat dari kecerobohan kalian." Amelia tertawa lalu berjalan kembali ke kamarnya bak seorang model, menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan kanan.


Wanita yang datang ke ruang makan untuk sarapan tiba-tiba menjadi kenyang setelah mendengar para pelayan memuji Leoni.


Ceklek...


Amelia membuka pintu kamarnya lalu kembali menutup dengan kasar.


Plak...


Amelia menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, dia memukul-mukul bantalnya untuk melampiaskan emosinya.

__ADS_1


"Ihh....Leoni...lihat saja pembalasanku. Aku tidak akan pernah menyerah bila perlu kau akan ku buat namamu menjadi rusak. Hingga Louis pun jijik melihat kau!" batin Amelia. Seraya menggigit bantal yang terbuat dari buku angsa itu.


"Baiklah...Mari kita lihat siapa diantara kita berdua yang mampu memikat hati tuanku," ia berkata kepada dirinya sendiri.


Kemudian Amelia berdiri dari ranjang dia berjalan ke arah lemari wanita itu membuka lemari dua pintu itu lalu mencari gaun yang cocok dengan dirinya. Ia meraih gaun berwarna merah tanpa lengan lalu mencocokkan di tubuhnya, " Terlalu merah ini model lama." kemudian ia meletakkan lagi di dalam lemari. Akhirnya setelah tiga puluh menit memilih gaun, Amelia menjatuhkan pilihan di gaun berwarna hitam selutut tanpa lengan.


"Aaa...ini baru cocok denganku, ternyata aku dan tuanku sama-sama menyukai warna hitam." Amelia menempelkan gaun itu di tubuhnya. Wanita ia memejamkan matanya membayangkan Louis pun mengenakkan setelan jas berwarna senada dengannya lalu tangannya di gandeng Louis lalu keduanya berjalan bersama menghadiri sebuah pesta mewah. Amelia tersenyum sendiri setelah ia membuka matanya.


"Romantis sekali dan tentunya sangat serasi tidak seperti wanita itu berpakaian sesuka hatinya. Hahaha..." Amelia tertawa seperti peran antagonis di film-film horor. Dia mengingat lagi Leoni yang berpakaian sesuka hatinya dan jarang ber-make up.


Amelia mulai mengenakan gaun berwarna hitam tanpa lengan itu.Ia mengangkat rambutnya keatas lalu mengingkatnya asal wanita memamerkan lehernya yang penuh tanda merah. Dia lupa akan perbuatan dia kemarin malam bersama...


Wanita itu sibuk berkaca dia berputar ke kiri lalu membalas ke arah kanan bak penari balet.


"Wow...Amelia kau sangat cantik." Ia memuji diri sendiri lalu kembali duduk di kursi meja rias wanita itu meraih botol parfum lalu bersulang dengan satu botol parfum lagi.


"Mari bersulang..."


"Cheers untuk kepergian wanita itu!" serunya seraya tertawa.


Amelia yang sejak tadi tidak menyadari kehadiran Louis, sangat kaget parfum yang ia pegang tadi jatuh begitu saja dari tangannya. Amelia menarik napas mencoba menetralkan kegugupannya.


Setelah merasa tenang, wanita itu menoleh ke arah pintu mencari suara itu datang, "Tuanku...apakah kau merindukanku? Cobalah lihat, apakah aku cantik mengenakan gaun ini?" Amelia mengabaikan tatapan membunuh Louis. Dia berjalan menghampiri Lousi lalu berputar meminta Louis menilai dirinya namun bukannya di nilai Louis.


Mafia itu kembali menutup pintu dengan kasar lalu pergi meninggalkan Amelia dikamar itu tanpa berkata apapun.


"Benarkan dugaanku. Dia sudah merindukan diriku. Oh..tuanku cara kau menunjukkan rindumu kepadaku sungguh berbeda dari pria-pria lain yang aku kenal." Amelia kembali ke meja rias dia begitu bersemangat memoleskan make up di wajahnya.


Usai berdandan Amelia melangkah keluar dari kamarnya ia berjalan melewati dapur menuju kamar Louis. Di dapur banyak pelayan yang melihatnya tertawa.


"Dia mulai stres..."


"Bukan hanya stres tapi dia sudah gila..."

__ADS_1


"Ternyata kepergian Nona Leoni bukan membuat dia menang tetapi membuat dia semakin gila..ha..ha...ha..."


Amelia memilih mengabaikan sindiran para pelayan itu. Dia terus berjalan ke kamar Louis seperti orang yang tidak memiliki telinga.


Tok...tok...tok...


"Tuanku...ini aku Amelia, kekasihmu." ucap Amelia dari depan pintu.


"Puff...dia sangat memaksa diri." Dua orang pelayan yang melewati lorong depan kamar Louis tertawa dan menyindir Amelia lagi.


Wanita itu sangat kesal, dia membalikkan tubuhnya menatap tajam ke arah kedua pelayan itu seraya mengepalkan tangannya siap untuk menjambak kedua pelayan itu, "Kenapa sejak Leoni pernah tinggal di sini, para pelayan itu tidak pernah menghargai aku lagi?" gerutu Amelia.


"Masuk!" seru Louis dari dalam kamar.


"Persetan dengan pelayan. Tuanku sudah memanggilku itu artinya aku masih berkuasa disini." Amelia cepat-cepat membuka pintu kamar Louis lalu melangkah masuk menghampiri Louis dengan bersemangat.


Namun selangkah lagi ia sampai di ranjang di mana Louis sedang berbaring di sana. Wanita itu menghentikan langkahnya, bola mata Amelia hampir saja keluar dari kelopak mata. Amelia terperangah cepat-cepat wanita itu menutup mulutnya. Dia tidak menyangka semalam Louis dan Amelia bertempur hebat. Hatinya seperti ditusuk sembilu karena Louis telah membohongi dirinya.


"Dia berbohong," batin Amelia. matanya fokus di tanda merah di samping Louis berbaring.


"Tanda merah? Itu da*"rah peraw**an Leoni? Itu artinya Louis membohongi aku. Bukannya sebelum menikah dia berjanji tidak akan menyentuh wanita itu lalu mengapa sekarang di seprei itu ada tanda merah. Ouh...ini jawaban dia memanggil aku ke sini? CK..aku tidak akan pergi dari sini hanya karena melihat da**rah itu." batin Amelia.


"Kemari...Mengapa kau berdandan seperti itu?" Louis tertawa dia tau Amelia pasti cemburu melihat tanda merah di seprei itu.


Amelia tidak menjawab, dia pikir akan mendapatkan pujian dari Louis tapi justru mafia itu meledek dirinya, " Aku ingin menyenangkan tuan," sahutnya tanpa rasa malu. Ia berjalan ke arah Louis memasang wajah genit sesekali wanita itu mengedipkan matanya ke aeah Louis.


"Stop disitu!" perintah Louis.


"Tapi tuanku..." sela Amelia.


"Aku memanggil kau ke sini bukan untuk menyenangkan aku. Sekarang kau tidak menarik lagi di depanku." sela Louis.


"Lalu...untuk apa aku berdandan seperti ini?" tanya Amelia.

__ADS_1


"Itu bukan urusanku. Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu sekarang," ujar Louis lagi.


__ADS_2