
Leoni menatap suaminya, " Aku__aku tahu aku salah karena pergi tanpa pengawal, tapi aku tidak berpikir saat itu. Saat itu yang ada di pikirinku adalah pergi dari tempat itu, aku hanya menuruti perasaanku dan mengikuti kemana kakiku membawaku pergi." Leoni menarik napas berusaha mengontrol emosinya, kemudian ia menatap suaminya itu, "Tapi aku berjanji hal ini tidak akan terjadi lagi. Lagian kenapa kau tidak percaya dengan diriku?" Leoni memalingkan wajahnya dari tatapan maut Louis. Air mata wanita itu sudah membendung, dia juga tidak suka dirinya di anggap remeh oleh suaminya sendiri, Leoni tidak pandai menyembunyikan perasaan kesalnya karena sang suami tidak pernah memahami perasaannya.
Louis menyipitkan matanya, ia menelengkan kepala menatap Leoni.
Leoni cepat-cepat berkata, " Aku butuh waktu sendiri." Ia cepat-cepat menghindari tatapan Louis.
Tangan Louis mengangkat dagu Leoni. Memaksa istrinya menatap matanya, " Aku tidak meminta darimu tapi ku mohon dengarkan aku. Jangan marah jika aku terlalu mengkwatirkan dirimu. Karena, sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga dan melindungi dirimu. Tidak peduli seberapa hebat dirimu, tapi saat ini dan untuk selamanya kau adalah istriku dan itu tanggung jawabku untuk menjaga dan melindungi dirimu. Kau tidak bisa mengelak akan fakta ini, istriku." ujar Louis sorot matanya menatap dalam Leoni. Leoni mengerjap ia menelisik bola mata coklat itu mencari kebohongan di dalam sana namun lagi dan lagi ia tidak menemukan kebohongan itu.
Leoni mengutuk dirinya ia kalah oleh perasaan aneh yang terus mendesak dirinya. Tatapan Louis, sentuhan pria itu membuat dirinya gugup, membuat ia tak bisa mengungkapkan apa yang harus ia ungkapkan, padahal tadi setelah ia berbicara dengan Amelia. Leoni ingin sekali bertanya semua itu kepada Louis namun ia akui sentuhan, dan tatap Louis mampu mematahkan semua amarahnya.
Jemari Louis bergerak dari dagu Leoni ke pipinya Leoni menahan napas, menunggu Louis menciumnya, tetapi Louis hanya menatapnya, mata Louis gelap tak terbaca kini.
"Amarah itu kadang-kadang menguntungkan," kata Louis lagi.
"Jangan sembunyikan amarahmu, Leoni. aku tidak menyukainya, tapi aku akan lebih membencinya jika kau memendamnya. Jangan pernah menangis jika sikapku dingin, istriku. Aku tidak pintar memahami perasaan wanita. Dan satu lagi aku tidak suka kau membawa amarah ini sampai di tempat tidur kita. Aku tidak menyukai itu." Ia mengecup bibir Leoni sesaat lalu melepaskan lagi. Pria itu meletakkan lagi kepala Leoni dengan perlahan di atas bantal lalu ia bergegas pergi dari kamar mereka.
Leoni mengernyit dia heran dengan sikap Louis yang gampang sekali berubah. Kadang bijak, kadang membuat ia terintimidasi.
Seperti saat ini ketika dirinya pasrah, Louis justru pergi meninggalkan dirinya begitu saja diatas ranjang. Ya, dia sudah siap dan menunggu waktu itu, tapi? Pria itu pergi tanpa berkata apapun.
Leoni menatapi punggung Louis, ia tertegun jemarinya menyentuh bagian pipi, dagu, hidung dan bibir yang tadi di sentuh Louis. Jantung Leoni berdebar kencang,"Perasaan apa ini?" gumamnya.
Lalu Leoni cepat-cepat sadar dari lamunannya.
"Dia mau ke mana? Apakah dia akan pergi sekarang atau akan menemui wanita itu?" Leoni menyeka air matanya yang jatuh tanpa ia minta.
Sementara di paviliun Amelia bingung dengan kebohongannya dia harus bagaimana jika perutnya tidak membesar, Ia berjalan ke sana kemari memikirkan caranya ia hamil. sudah lima cangkir air ia teguk namun ide itu belum juga muncul di pikiran Amelia.
__ADS_1
"Aku berharap Louis mau digoda lagi," gumam Amelia.
Ya, sebelum Leoni kembali ke Mansion Black wolf Amelia sudah membohongi Louis bahwa saat ini dia sedang hamil anak Louis karena wanita itu tidak ingin pergi dari mansion Louis. Amelia juga berpikir dua bulan kemudian dia akan berpura-pura keguguran agar Louis tidak menanyakan kehamilannya lagi. Tapi, kini rencananya sudah di hancurkan Leoni.
Wanita itu sudah kembali itu artinya dia tidak bebas berbohong soal kehamilan dan rencana kegugurannya.
"Argh..." Amelia menarik kasar rambutnya. Dia menjatuhkan diri diatas ranjang yang berukuran 90x200 itu.
Namun, tiba-tiba ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Aku sudah menemukan caranya. Bersiap-siaplah kau Leoni untuk angkat kaki dari mansion ini lagi. Kita akan lihat siapa yang akan menjadi pemenangnya. Istri sah Louis atau wanita pemuas Louis?" Ia tersenyum semirik. Amelia berdiri dari ranjang ia berjalan ke arah meja rias seraya menyeka air matanya.
"Jangan menangis kemenangan sudah berpihak kepada dirimu, Amelia." Ia berbicara dengan dirinya sendiri. Amelia melempar tisu bekas di tempat sampah.
Usai memperhatikan dirinya di kaca meja rias, Amelia berjalan ke arah mansion utama. Di sana ia melihat Louis sedang duduk bersama Andre di ruang makan sembari menikmati wine. Wanita tidak tahu malu itu berjalan mendekati Louis seraya tangannya mengusap perut datarnya.
"Aku masih ada urusan di depan bersama anak buah." pamit Andre.
"Hmmm..setelah itu bersiaplah kita harus berangkat pukul tujuh malam," sahut Louis.
"Baiklah." Andre menepuk kedua pahanya lalu berjalan ke arah depan mansion.
Louis belum menyadari kehadiran Amelia. Pria itu masih asyik menikmati wine di cangkirnya.
"Kau mau sesuatu?" tawar Amelia dia membawa daging Pagang yang diambil dari dapur.
Mendengar suara yang tidak asing baginya Louis menoleh dia tersenyum, "Kau menawarkan sesuatu yang pas dengan wineku," sahut Louis. ia menaikkan satu alis matanya.Tatapan itu yang paling disukai Amelia meskipun menakutkan namun bagi Amelia itu satu tantangan untuk dirinya menaklukkan Mafia itu.
__ADS_1
"Tentu. Aku adalah wanita yang selalu mengerti akan perasaanmu, sayangku." Amelia meletakkan piring yang berisi daging Pagang di atas meja tepat di depan Louis.
"Ehem..." Louis tersenyum sinis seraya mengambil satu potong daging dan menyuapkan di mulutnya, " Tidak buruk lumayan enak." Louis menggelengkan kepalanya.
Amelia mengabaikan senyuman sinis Louis. Wanita itu menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Louis. Ia terus menatap wajah Louis seakan ada magnet yang menarik dirinya untuk terus menatap wajah dingin itu.
Amelia mengambil satu cangkir kosong, ia menuangkan wine di cangkir kosong itu lalu meneguk hingga tandas.
Louis tidak kaget, ataupun menegur wanita itu. Mafia itu justru menuangkan wine lagi di cangkir Amelia sambil berkata, " Bagaimana rasa wine yang ini lebih enak bukan?" Alis mata bagian kirinya terangkat.
Amelia yang polos atau bodoh mengangguk dan meraih cangkir itu lalu meneguk lagi wine itu, " Sangat enak. Sudah lama kau dan aku tidak minum bersama seperti ini. Kau memilih menjaga perasaan istrimu daripada bersenang-senang dengan aku." Amelia meletakkan cangkir itu dengan kasar diatas meja. Louis tau wanita itu saat ini sedang cemburu. Namun, Pria itu tidak peduli bagi Louis selesai Amelia melayani dirinya maka dia tidak ada hubungan apalagi dengan wanita itu.
Leoni sudah menetralisirkan emosinya.Wanita itu turun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamarnya. Wilda yang hendak menyentuh pintu kamar Leoni kaget karena berpapasan dengan Leoni yang sudah menarik gagang pintu.
"Nona...aku akan membawakan makan siangmu ke kamar Nona saja," tawar Wilda.
"Apa kau pikir aku sedang sakit?" sela Leoni kesal.
"Aku hanya ingin menjadi pelayan terbaik untuk anda, Nona." sahut Wilda menunduk.
Demi Tuhan Wilda tidak rela majikannya itu melihat keadaan di ruang makan.
"Kau sudah menjadi pelayan terbaikku sejak dulu, Wilda." sahut Leoni dingin. Wanita berusia sembilan belas tahun itu berjalan melewati Wilda begitu saja.
Wilda berlari mengejar Leoni. Namun, ia kalah cepat Leoni sudah sampai di ruang makan.
"Suamiku..." suara Leoni bergetar.
__ADS_1