
Hari itu hari yang tenang, matahari menyinari bunga-bunga, burung-burung bernyanyi. Musim panas yang hangat dan harum.
Leoni berdiri di tengah-tengah bunga, ia merenggangkan kedua tangannya lalu menghirup wangi bunga matahari, mawar, dandelion, lili dan beberapa bunga lagi yang ada di taman itu.
Leoni memetik sekuntum mawar putih tanpa sengaja duri mawar itu menusuk jari telunjuknya. Ia tersenyum melihat darah menetes dari jarinya seraya berkata, "Kuntummu begitu indah namun kau memiliki duri yang kejam." Leoni berbicara pada mawar yang ia pegang itu.
Usai menikmati wangi bunga di taman itu. Leoni berjalan keliling taman bunga itu. Namun, ada yang menggangu pandangannya ia melihat suaminya berjalan memasuk mansion.
"Megan...kau kembali ke mansion aja nggak usah kawal aku. Aku ingin sendiri." suruh Leoni.
"Tapi Non..." Megan kwatir.
"Apa kau meragukan kemampuanku?" Leoni memasang wajah ketus
"Baiklah." Megan pun akhirnya mengalah ia memilih kembali ke mansion.
Leoni berjalan ke taman belakang mansion di sana ada taman dekat kolam renang. Banyak bunga juga di sana Leoni tersenyum ia membungkuk lalu duduk di tepi kolam tangannya memainkan air kolam sesekali ia percikkan air itu keluar kolam.
Di kolam itu benar-benar sunyi seperti hatinya namun Leoni berusaha keras tidak menangis hingga menimbulkan perasaan muak dengan sikapnya yang tidak tegas pada Amelia dan Louis, suaminya.
Matahari semakin tinggi, sinar matahari mulai menyengat di kulit. Namun, Leoni enggan pulang ke mansion wanita itu masih kesal dan tidak ingin bertemu suaminya.
Leoni melepas sepatu dan stokingnya dia duduk di tepi kolam lalu merendam kakinya di dalam kolam itu seraya memukul-mukul kakinya di air.
"Nona...Tadi saya mendengar tuan mencari Nona," ucap seorang anak perempuan usianya sekitar sembilan tahun. Gadis cantik itu berjalan menghampiri Leoni yang terus menikmati air di kolam renang itu.
Leoni menoleh ia tersenyum pada gadis cantik itu. Anak perempuan itu berwajah oriental, bola mata berwarna biru dan berambut pendek pirang. Gadis itu memegang beberapa helai rumput di tangannya wajahnya kotor terkena tanah mungkin dia sedang bermain-main ditaman itu pikir Leoni.
"Hallo anak manis. Kemarilah duduk bersamaku di sini." panggil Leoni ramah. Dia menepuk pinggir kolam itu meminta gadis itu duduk bersama dia.
Namun, gadis itu menolak seperti orang ketakutan.
"Saya di sini saja Nona." tolaknya sopan.
"Tidak apa-apa. Saya tidak jahat." ujar Leoni tersenyum hangat.
Anak itu melangkah ragu-ragu mendekati Leoni. Dia pun duduk di tepi kolam sesuai permintaan Leoni.
"Siapa namamu , Nak?" tanya Leoni ramah.
__ADS_1
"Bella...Namaku Bella, Nona." jawab Bella semangat.
Leoni tersenyum hangat karena melihat anak kecil itu ketakutan.
"Kenapa panas-panas kau bermain di taman. Lihat wajahmu kotor dan kau mencabut rumput?" tanya Leoni. Dia menelengkan kepalanya menatap wajah gadis kecil itu.
"Saya setiap hari disini, Nona." jawab anak itu polos seraya menggelengkan kepalanya.
"Setiap hari? Lalu kau tidak ke sekolah?" ulang Leoni heran. Dia tahu anak seusia itu sudah bersekolah.
"Saya tidak bersekolah." Anak itu menunduk sedih.
Leoni pikir anak itu salah satu anak dari anak buah Louis yang tinggal di paviliun seperti dirinya yang menampung anak-anak dari anak buahnya. Namun, jawaban anak itu membuat hatinya teriris.
"Betul Nona. Saya membantu ayah dan ibu saya bekerja di sini. Itu ayah saya sedang merapikan rumput di lapangan golf dan ibu saya sedang membantu ayah menanam ulang rumput yang mati dengan rumput baru." Jelas anak itu. Dia menunjuk ke arah kedua orang tuanya yang sedang bekerja di taman. Pandangan mata Leoni mengikuti arah jari Bella dan benar di sana ada sepasang suami-istri usianya kira-kira empat puluh tahun lebih, keduanya.sibuk bekerja tanpa menghiraukan teriknya panas matahari.
"Dia sangat kejam!" batin Leoni. Dia tidak menyangka suaminya tidak memiliki rasa kasihan sama sekali kepada pekerjanya.
Leoni mengusap-usap rambut anak itu, "Jika orang tuanya bekerja dengan dia harusnya dia menyekolahkan anak ini. Bukan membiarkan anak sekecil ini ikut berkebun juga. Argh...aku tidak sabar untuk mencuci otak kotor dia itu," Leoni meremas jemarinya karena kesal.
"Nona apakah anda marah?" tanya anak itu ketakutan.
"Saya tidak bersekolah Non. Awalnya saya mau di sekolahkan tuan tapi Nona Amelia melarang karena Nona tidak menyukai Anak kecil. Saya pun tidak di izinkan bermain di sekitar mansion ataupun paviliun. Saya di suruh ikut bersama kedua orang tuaku bekerja di taman setiap hari," jelas Bella.
"Kurang ajar..." geram Leoni.
"Nona..apakah kau marah lagi? Saya melakukan kesalahan?" tanya Bella ragu-ragu.
"Tidak. Kau sudah melakukan hal yang benar. Tapi kau sekarang mandi dan pergi ke Paviliun tempat kau tinggal. Kau tungggu d
kedua orang tuanya di paviliun saja, Jangan takut saya kan panggilkan seseorang untuk menjaga kau di paviliun. Besok pagi temui saya di mansion bersama ibumu. Ingat..jangan sampai lupa jika kau lupa maka saya akan marah besar." pesan Leoni seraya tersenyum .Dia menepuk pelan bahu anak itu.
"Tapi..." Anak itu seperti ketakutan karena di paviliun ada Amelia.
"Jangan takut saya akan menyuruh orangku menemani kau disana." ucap Leoni.
Akhirnya anak itu pun menurut. Leoni mengambil ponselnya dia menghubungi Megan untuk menjemput Bella di kolam renang. Usai menghubungi Megan, Leoni meletakkan ponselnya di tepi kolam.
Tidak menunggu lama Megan datang, " Nona..." panggil Megan.
__ADS_1
"Ya..kau bertanggung jawab mengurus anak ini. Sekarang bawa dia kembali ke Paviliun lalu temani dia. Pastikan dia mandi usai mandi beri makan, perhatikan dia tidur siang. Kau harus mengawasi anak ini jauh dari Amelia, wanita ular itu." pesan Leoni.
"Baik, Non." jawab Megan.
Pengawalnya itu tidak menolak karena perintah Leoni. Dia membawa Bella ke paviliun.
Sementara Leoni masih sibuk bermain di kolam. Tiba-tiba ponselnya berdering, Leoni mengambil ponselnya dan menggeser layar ponsel itu.
"Bibi Greysia," gumam Leoni.
Leoni bergegas menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Bibi... apakabar?" tanya Leoni.
"Bibi Baik. Bagaimana dengan dirimu, nak? Setelah kau kembali ke sana kau belum memberi kabar lagi ke bibi atau pamanmu. Suamimu benar-benar membuat kau nyaman hingga melupakan aku dan pamanmu," ujar bibi Greysia.
Leoni meringis dia menggaruk lehernya.
"Maaf saya pikir sore nanti baru menghubungi bibi dan Paman," ucap Leoni.
Leoni tidak menyadari ada seseorang yang berdiri di balik pohon besar dekat kolam sedang menguping pembicaraan Leoni dan bibi Greysia.
"Ternyata saya menemukan kau di kebun lagi." Pria itu tidak bisa menahan dirinya lagi sampai istrinya selesai bicara di telepon. Dia datang dan berdiri di belakang Leoni.
Leoni menoleh ternyata suara itu Suaminya.
"Bibi nanti kita bicara lagi." ucap Leoni.
Lalu ia pun bergegas mengakhiri panggilan telepon dari bibi Greysia. Leoni meletakan ponselnya lagi. Dia berdiri lalu menatap Louis. Ini kelemahan Leoni, wanita itu tidak bisa menatap wajah suami tampannya itu.
Leoni mengalihkan pandangannya dia menunduk lalu hendak mengenakan stokingnya. Namun, dengan cepat Lousi mencegah tangan Leoni, dia menggeleng seraya tersenyum.
Wajah Leoni bersemu, dia memberikan stoking itu kepada Lousi. Mafia itu menunduk lalu membantu mengenakan stoking di kaki putih mulus Leoni setelah stoking Louis meraih sepatu Leoni lalu memasang sepatu itu di kaki Leoni.
"Sudah..." ucap Louis seraya berdiri menatap sang isteri.
Leoni menunduk malu seraya berkata, " Terima kasih,"
"Sama-sama,"
__ADS_1