Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 6.


__ADS_3

Di ruang bawah tanah Louis dan Andre sedang menikmati wine keduanya duduk di sofa saling berhadapan. Louis meletakkan kaki kirinya diatas kaki kanannya, seraya menarik cerutu miliknya. Mafia itu sesekali menarik cerutu lalu mengepulkan asap rokok ke atas langit-langit ruangan itu.


"Aku menyetujui perjodohan konyolmu, " ucap Louis.Wajahnya datar tapi penuh penekanan.


"What? Kau serius? Bukan karena mabok,' kan?" Wine yang sudah berada di mulutnya berhasil dikeluarkan Andre. Sialnya hampir saja mengenai wajah Louis.


"Kau!" Spontan Luis langsung berdiri menghindari muntahan wine dari mulut Andre.


"Kenapa kau menanggapi gurauanku dengan serius? Bukannya aku sudah tegaskan itu hanya gurauan saja? Aku pikir kau sudah tahu aku, jika aku berada dibawah pengaruh alkohol maka bicaraku pun aku ngaur." Andre mengusap kasar wajahnya dia tidak menduga ucapan dia benar-benar ditanggapi Louis serius.


"Aku sudah memikirkan semuanya, karena itu aku setuju. Aku pikir tidak buruk menikahi gadis itu." sahut Louis dia meraih botol wine di atas meja lalu menuangkan cairan merah itu ke dalam cangkirnya. Lalu, ia menegak wine itu hanya sekali tegukan cairan merah itu pun tandas lalu ia meletakkan lagi cangkir itu ke atas meja sedikit terdengar suara ketukan cangkir dan meja yang menyatu.


"Malam ini juga kau pergi ke markas Red Tiger bertemu dengan Roy dan katakan aku melamar Leoni." perintah Louis.


Mafia itu tidak main-main, wajahnya sangat serius. Andre tidak berkata apa lagi pria tua itu hanya bisa melebarkan mulutnya, seraya tangannya mengusap kasar wajahnya. Andre benar-benar bingung.


"Louis...Aku mohon pertimbangankan lagi. Apa kau lupa dengan perkataan Murray tadi? Gadis itu jelek kulitnya merah-merah. Kau Tidak malu menikahi gadis itu, apa kau tidak tahu jika orang menikah itu artinya harus hidup bersama dibawah satu atap, tidur seranjang dan semua berdua? Kau melakukan itu untuk hidup bersama, 'Kan? Lalu mengapa kau memilih gadis jelek? Memikirkan kulitnya saja aku ngeri." ujar Andre bergidik ngeri.

__ADS_1


"Karena dia jelek dan berkulit merah aku akan menikahi dia. Kau tau mengapa? Dia akan merasa minder dengan wajah dan kulitnya saat melihat wajahku yang tampan ini," ucap Louis percaya diri. Dia tersenyum membayangkan bagaimana Leoni terkagum-kagum dengan wajah tampannya dan Louis yakin gadis itu pasti akan bertekuk lutut kepadanya.


Andre yang sedari tadi serius akhirnya tertawa, " Puft... Louis ku mohon jangan terlalu percaya diri," sela Andre.


"Jangan banyak bicara segaralah berangkat sebelum tengah malam. Aku tidak tidur, aku akan menunggu jawaban malam ini juga. Jika, lamaran ini dia terima maka besok aku dan dia akan melaksanakan pernikahan," titah Louis.


♥️♥️♥️♥️


Sementara di markas Black Wolf kedua pria itu bahas tentang akan melamar Leoni lain hal dengan markas Red Tiger. Leoni melipat kedua tangannya di dada, wanita bertubuh langsing itu mengenakan sepatu boots ala tentara tidak lupa celana panjang dan kemeja lengan panjang bak seorang koboi.


"Mulai malam ini lebih waspada lagi, bentuk kelompok setiap kelompok masing-masing berjumlah tujuh orang jaga di setiap jalan yang biasa di lewati Black wolf. Ingat aku tidak ingin tanah di sekitar sini jatuh ke tangan dia, jika dia berani merayu masyarakat disini dan berhasil mendapatkan lahan di sini maka kalian siap-siap berurusan dengan buaya di kolam belakang." ancama Leoni bukan hanya gertakan sudah berulang kali anak buahnya menjadi santa6 buaya dan harimau lapar. Leoni berjalan ke sana ke mari, matanya menatap setiap anak buahnya yang berbaris rapi, tangan mereka dilipat kebelakang dan tidak ada satu pun yang berani protes setiap perintah Leoni.


"Ma...afkan saya Putri. Perut saya sangat sakit. Sa...ya ti..dak tahan lagi." Pria itu mengangkat kepalanya menatap Leoni seraya dua tangannya memeluk perutnya.


Prut... Prut...


Tidak kuat menahan perutnya yang sakit, pria itu akhirnya kentut seraya berlari kearah toilet.

__ADS_1


Leoni akhirnya memasukan lagi pistolnya ke tas kecil yang berada di pinggangnya. Mafia cantik itu menutup hidung dan pergi meninggalkan ruangan itu, baunya sungguh tidak tertahan. Gadis mafia itu berjalan keluar tanpa sengaja ia melihat seorang pria mengenakan jaket dan menutup kepala sedang berbicara dengan bibinya, istri dari Roy.


"Siapa itu!" teriak Leoni.


Sontak jiwa membunuhnya meronta Leoni mengeluarkan pistol ia berlari ke arah taman mengejar pria itu. Namun, sayang Leoni kalah cepat. Karena, pria itu langsung menyalahkan motor dan pergi dari markas itu.


"Sialan..." umpat Leoni. Sementara bibi hanya berdiri diam dan menunduk dia merasa tidak enak karena pertemuan itu diketahui Leoni.


"Bibi...Kau tidak apa-apa?" Leoni berlari menghampiri bibi tangannya menyentuh tangan dan wajah bibi. Leoni memeriksa bibi ia kwatir pria itu menyakiti bibi


"Aku tidak apa-apa, Leoni. Bagaimana pertemuanmu dengan anak buahmu sudah selesai?" Bibi berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Itu tidak penting. Bibi ku mohon jawab dengan jujur siapa pria itu? Kenapa bibi seperti ketakutan? Apa yang dikatakan pria itu?" Leoni terus mendesak.


"Tidak penting nak, dia hanya orang nyasar. Kasihan dia menanyakan hotel terdekat sini untuk menginap semalam." Bohong bibi.


"Argh...syukurlah jika dia hanya menanyakan hotel. Tapi, ada yang janggal bibi mengapa mendengar suaraku, dia langsung kabur?" Leoni mengenyit.

__ADS_1


"Dia takut karen kau membawa pistol," Leoni tertawa dia baru sadar tangannya memegang pistol.


"Aaa..aku lupa Ayo masuk bibi diluar angin sangat kencang," Leoni pun menggandeng lengan bibi keduanya berjalan masuk ke dalam mansion untuk istirahat karena malam semakin larut.


__ADS_2