Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 44.


__ADS_3

Leoni meletakkan beberapa pakaian yang ia ambil dari lemari termasuk mantel dan celana diatas sofa samping Louis duduk.


"Apakah aku sudah mendapatkan izin darimu untuk memasukkan pakaian yang sudah aku pilih ini ke dalam koper itu?" tanya Leoni. Seraya menunjuk pakaian yang sudah ia rapikan tersusun rapi diatas meja sofa.


"Ya. Apapun yang kau pilih pasti akan aku pakai," jawab Louis. Pria itu meletakkan botol wine di atas meja sofa dengan pelan. Tatapannya enggan melepas dari wajah Leoni. Wajah bak Barbie itu kini menjadi candu bagi seorang Louis.


Leoni tidak menjawab lagi, dia mulai memasukkan celana, mantel kaos milik Louis ke dalam koper berukuran kecil.


"Jangan lupa parfum," ucap Louis.


"Ini. Lagian jika aku lupa kau bisa membelinya di sana," Leoni menunjukkan parfum yang hanya dimiliki beberapa orang saja di Spanyol itu.


"Hmmm... Aku pikir kau masih pintar, apa kau lupa memesannya saja aku harus mengantri satu bulan." sahut Louis kesal. Dia harus akui Leoni sudah mulai memahami kebiasaannya. Dimana dia pria yang menyukai aroma wangi maka itu kemana-mana Louis selalu membawa parfum dari mansion.


Bukan berarti dia tidak mampu beli di tempat yang ia datangi tetapi membeli parfum miliknya itu sedikit sulit Louis harus mengantri dan itu memakan waktu satu bulan. Leoni memutar bola mata malas ia memilih mengabaikan ocehan Louis yang tidak penting.


Usai menyiapkan pakaian dan keperluan lainnya. Leoni berdiri dari sofa ia hendak pergi ke kamar mandi namun lengannya di tahan Louis.


"Hilangkan amarahmu, dan pergilah ke ranjang aku akan segera bergabung setelah keluar dari kamar mandi nanti. Aku ingin mandi sebentar." Louis menatap Leoni penuh damba.


Hari masih siang tetapi tempat terakhir Leoni menunggu suaminya adalah di tempat tidur. Ia kembali mengingat kenangan yang muncul di tempat itu membuat Leoni berusaha melawan dengan kepahitan yang terus menyiksa batinnya. Ia sangat frustasi membuat Leoni mondar-mandir menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Tidak adil rasanya terombang-ambing begini. Ia tidak bisa mendapatkan Louis sebagai suami seutuhnya.


Namun, pria itu selalu tahu cara untuk menghancurkan rasa amarahnya. Pria itu tidak suka Leoni di dekati pria lain tapi dia sendiri masih saja menebar pesona di mana-mana membuat wanita siapa saja yang melihatnya merasa tertantang untuk mendapatkan dirinya.Walau tidak sebagai suami tetapi hanya sebagai pemua""snya mereka sudah sangat bahagia.


Karena Louis belum datang Leoni meraih ponselnya di atas nakas lalu memeriksa beberapa email yang masuk. Leoni mulai mengerjakan pekerjaannya sembari menunggu sang suami.


Wanita itu memang masing mengontrol mansion dan markasnya dari mansion Louis. Meskipun di sana ada paman Roy tapi Leoni belum sepenuhnya mempercayakan semuanya kepada paman Roy.


Tiga puluh menit berada di kamar mandi Louis pun keluar dari kamar mandi ia melangkah keluar hanya dengan handuk putih melilit di pinggangnya. Mafia itu memamerkan perut kotak-kotaknya rambutnya masih basah dan ia membiarkan butiran air itu jatuh membasahi dada dan lehernya.


Namun, yang ia harapkan Leoni bisa melihat pesonanya justru ia harus menelan kecewa. Louis mendapati Leoni sedang tertidur dengan posisi menyenderkan kepalanya di headboard ranjang, seraya tangannya masih memegang ponselnya. Benda pipih itu masih menyala membuat Louis menghela napas dan berjalan menghampiri istri kecilnya.

__ADS_1


Louis meraih benda pipih itu dari genggaman Leoni lalu ia memeriksa isi ponsel sang istri tanpa izin. Dia pikir ada nomor pria lain namun sama sekali tidak ada. Di dalam ponsel itu hanya terdapat lima nomor yang di simpan Leoni. Bahkan nomor dirinya saja tidak tersimpan di ponsel Leoni.


Louis menscrol ponsel itu lagi ia memeriksa email yang masuk di ponsel Leoni.


Louis tersenyum bangga istrinya itu sangat pintar mengatur semua pekerjaannya dan beberapa kerja sama dengan beberapa kelompok mafia yang sangat di takuti di Eropa, bangga karena email itu sangat rapi meskipun itu tersimpan di ponsel.


"Dia ternyata sangat hebat." gumamnya. Kemudian Louis sangat penasaran dengan isi galeri ponsel sang istri. Karena tidak menggunakan sandi, Louis bebas melihat isi galerinya.


Mafia itu sangat bersemangat memeriksa isi galery Leoni, di sana ia juga tidak menemukan foto se"**x*i Loeni. Tetapi ia hanya menemukan foto bunga di kebun mansion Leoni dan foto pernikahan mereka.


"Dia menyimpan foto pernikahan kami." Ia tersenyum bahagia.


Namun, karena merasa sangat di cintai sangat Istri Louis lupa ada seorang wanita yang sejak tadi memperhatikan dirinya memeriksa isi ponsel miliknya.


Louis mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun saat ia melihat kearah Leoni.


Louis kaget, ia lalu memberikan ponsel itu kepada Leoni sambil berkata, " Lain kali ponsel itu di kasih password biar nggak ada yang bebas membuka ponselmu. Sudah tau di sana banyak hal yang penting." Pria itu mengabaikan tatapan dari Leoni. Ia lalu berjalan ke arah sofa meraih boxer miliknya lalu mengenakan boxer itu dan handuk basah itu ia letakkan di dalam keranjang pakaian kotor samping lemari.


"Aku hanya melihat foto pernikahan kita. Dan aku juga memastikan apakah kau menyimpan nomorku atau tidak. Dan benar kau tidak menyimpan nomor ponselku." Louis memberikan handuk putih kecil untuk Leoni, meminta wanita itu untuk mengeringkan rambutnya tanpa merasa bersalah.


"Berbaringlah dan letakkan Kepalamu di pangkuanku," suruh Leoni.


Louis sangat senang ia cepat-cepat berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuan Leoni. Istri kecilnya itu mulai mengeringkan rambut Louis dengan handuk putih kecil.


"Bagaimana aku bisa menyimpan nomor ponselmu sementara kau sendiri tidak memberikan nomormu kepadaku? Apakah aku harus mengambil ponselmu secara diam-diam dan mencuri nomormu?" sindir Leoni.


Louis tertawa dia menyadari Leoni barusan menyindir dirinya," Kau bisa memeriksa ponselku sesuka hatimu. Karen aku menjamin di ponselku tidak ada sesuatu yang rahasia kecuali email-email penting tentang beberapa perusahaan milikku. Aku pikir kau bisa membantu menyelesaikan pekerjaanku jika ada email yang masuk lagi." sahut Louis.


"Aku tidak bisa," tolak Leoni.


"Bisa. Aku sudah melihat emailmu, kau begitu pintar mengatur semua pekerjaamu. Aku pikir kau bisa mengatur punyaku juga. Bukankah semua yang aku punya adalah punyamu juga?" sela Louis.

__ADS_1


"Tidak! Milikmu adalah milikmu dan milikku adalah milikku!" tegas Leoni.


"Tidak. Aku menikahimu untuk memiliki apa yang aku punya," jawab Louis cepat.


Leoni diam karena dia merasa semakin terjebak dalam ucapan Louis.


Wanita itu meletakkan kepala Louis diatas ranjang lalu ia beranjak dari tempat tidur membawa handuk putih kecil itu ke tempat menaruh pakaian kotor.


Setelah menaruh handuk putih kecil di keranjang pakaian kotor. Leoni melangkah ke kamar mandi.


Louis terus menatap Leoni hingga istrinya itu menutup pintu kamar mandi.


Usai melakukan ritual Leoni membuka pintu kamar mandi, Louis yang melihat Leoni sudah keluar dari kamar mandi memanggil, " Kemarilah, Leoni" titah Louis seraya menepuk ranjang. Bukan permintaan tetapi merupakan perintah yang lembut.


Leoni gugup ia melirik kearah ranjang berukuran king size itu. Walaupun ia merasa jijik karena Leoni masih berpikir Louis tadi sudah menghabiskan waktu bersama Amelia. Namun, ia tidak bisa mengungkapkan itu di depan Louis bibirnya keluh setiap ia menatap wajah Louis dan pesona pria itu selalu membius dirinya.


"Masih siang, suamiku. Dan..."Leoni menghentikan ucapannya.


"Malam nanti aku kan pergi. Aku harus memastikan stok makananku cukup untuk beberapa hari ke depan sebelum aku kembali. Itu untuk mencegah aku tidak mencari makanan basi di luar sana. Jangan mengatakan alasan apapun lagi aku tidak ingin mendengarnya," ucap Louis, ia menatap Leoni penuh damba.


Leoni sudah mendekati ranjang. Ia pun membalas tatapan Louis yang tenang, dan ini yang Leoni tidak suka. Dia benar-benar jatuh dengan tatapan Louis.


"Lebih dekat." perintah Louis tidak sabaran.


Leoni maju selangkah lagi, wanita itu seperti terhipnotis dengan ucapan Louis.


Louis mengulurkan tangannya lalu menarik Leoni ke pangkuannya. Tangan Louis melingkar di pinggang ramping Leoni. Lalu ia perlahan memutar tubuh Leoni menghadap dirinya. Saat ini keduanya saling berhadapan.


Leoni pasrah dan perasaan aneh itu semakin menggebu-gebu di dalam hatinya. Dengan ragu Leoni membalas tatapan Louis.


"Aku senang kau tidak menolak permintaanku. Karena, aku tidak menyukai meminta lebih dari satu kali." ucap Louis. Bibirnya mengulas senyum matanya mulai berkabut.

__ADS_1



__ADS_2