Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 74.


__ADS_3

Matahari semakin panas Bella pun selesai berenang.


"Jangan lupa bilas badanmu dwngan air bersih ya,"pesan Leoni pada Bella.


"Baik, Non." Bella membungkuk. Lalu Bella berjalan kearah paviliun untuk membersihkan tubuhnya.


Leoni berdiri dari bangku ia pun berjalan bersama Megan kembali ke mansion.


"Non...anda daripagi belum sarapan." ucap Megan.


"Aku sama sekali tidak merasa lapar, Megan. Setelah ini aku mau istirahat di kamar. Jika ada yang mencariku katakan saja aku tidak bisa di ganggu." ucap Leoni.


"Setidaknya minumlah susu hangat," saran Megan lagi.


"Baiklah. Tolong suruh Wilda antarakan susu dan roti gandum saja ke kamarku." sahut Leoni. Dia akhirnya mengalah karena Megan terus memintanya sarapan.


"Baik. Non." Megan senang akhirnya Leoni mau sarapan. Dia pun mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Wilda untuk menyiapkan sarapan Leoni.


Keduanya berjalan melewati koridor. Di ruang keluarga ada Amelia. Leoni yang melihat Amelia menatapnya tidak suka, terus berjalan melewati wanita itu.

__ADS_1


Amelia yang masih kesal karena diusir keluar dari kamar tadi oleh Andre, mengeluarkan kata kasar pada Leoni.


"Dasar penjahat!" gerutu Amelia.


Leoni mendengar ucapan Amelia ia melirik kearah Megan lalu keduanya tertaw bersama.


"Abaikan wanita stres." ujar Leoni.


"Anda hebat, Non." puji Megan.


"Tentu, aku tidak ingin merendahkan diriku hanya karena seorang pria," sahut Leoni.


"Wanita itu kenapa sama sekali tidak peka? Aku sudah berusaha membuat dia tidak nyaman di sini bahkan aku juga berhasil menghasut Louis hingga Louis sampai membenci dia lalu mengapa dia tidak pergi dari mansion ini? Apakah aku harus pura-pura mati agar dia bisa pergi dari sini?" gerutu Amelia seraya menjatuhkan tubuhnya di ranjang seraya memikirkan rencananya selanjutnya.


*****


Setelah tiga hari keadaan Louis semakin memburuk Andre bingung. Ia berusaha menghubungi dokter pribadi Louis yang saat ini berada di Jerman meminta dokter itu segera kembali ke Spanyol karena kondisi Louis. Namun dokter berkaca mata tebal itu tidak bisa.


Andre mengusap kasar wajahnya. Tadinya luka bekas tembakan itu terlihat mulai membaik. Andre masih ingat empat tahun lalu Louis bahkan mendapatkan tembakan jauh lebih parah dari sekarang dan itu cepat sekali sembuh karena ditangani oleh dokter pribadi Louis sendiri.

__ADS_1


Namun, luka yang sekarang sepertinya menyerap tenaga Louis karena di hari kedua Louis mulai demam dan suhu tubuhnya terus meningkat hingga mafia itu mengigau. Bahkan, Louis tanpa sadar terus memanggil-manggil nama Leoni, istrinya.


"Istirku...istriku...kau dimana?" teriak Louis.


"Kau benar-benar jahat kenapa kau melakukan ini padaku?" Louis pun mengutuk Leoni.


Andre bingung mendengar ucapan Louis. Bahkan ia juga sedih karena Louis juga tidak mengenali dirinya.


"Siapa kau pria jahat? Keluar dari kamarku!" teriak Louis ketika ia melihat Andre berusaha menenangkan dirinya.


"Louis...ini aku, Andre.Kau harus tenang ingat kata dokter ini masih dalam tahap penyembuhan kau jangan terlalu berpikir keras dan bergerak." Andre terpaksa membentak Louis karena ini demi kebaikan Louis.


Andre juga kesal karena dokter muda itu tidak bisa dihubungi dari malam tadi.


"Akan aku patahkan tangan dan kakimu. Lihat saja nanti!" ancam Andre melalui pesan singkat ia kirim ke dokter itu.


Bagaimana dia tidak marah? Setiap kali Andre menghubungi dirinya ponselnya tidak aktif tetapi jika Andre mengirimkan pesan cekliz dua itu artiny ponselnya aktif. Karena, kesal serta bingung Andre meletakkan ponselnya dengan kasar diatas nakas. Dia duduk di tepi ranjang sembari menopang kepalanya bingung harus menjatuhkan harga dirinya atau tetap menjaga gengsi?


"Baiklah ini demi kebaikan Louis. Aku harus menjatuhkan harga diriku didepan wanita keras kepala itu. Wanita itu benar-benar tidak mengkwatirkan suaminya. Lihat saja ini sudah hari ketiga dia sama sekali tidak keluar dari kamarnya." gumam Andre.

__ADS_1


__ADS_2