
"Kemana saja kau? Mengapa kau tidak ada di kamar sat aku pulang?" tanya Louis berpura-pura tidak tau.
"Oh..aku?" Leoni gugup. Dia takut Louis mengetahui dirinya sedang mengaguminya.
"Ya...siapa lagi istriku, selain kau?" sahut Louis menahan tawa. Louis juga heran dua hari setelah ia menikah dengan Leoni. Setiap ia bertemu gadis itu jantungnya berdetak tak beraturan. Mafia itu berusaha melawan perasaan aneh itu namun berapa keras ia berusaha perasaan itu semakin kuat ia rasakan.
"Aku di dapur, menyiapkan makan malam bersama para pelayan." Leoni berjalan ke arah lemari. Tangannya membuka pintu lemari, Leoni terdiam sebentar di depan lemari, bingung memilih pakaian yang biasa Louis kenakan setiap ia di mansion.
Ia lalu menoleh ke belakang menatap Louis yang menunggu pakaiannya.
"Bisakah kau beritahu aku, pakaian seperti apa yang kau gunakan saat berada di mansion?" tanya Leoni. Wanita itu sudah mulai emosi, karena Louis tidak menjawab pertanyaan dari dirinya pria itu justru menatap Leoni dengan tatapan misterius.
"Tuan..." panggil Leoni sekali lagi.
Louis masih diam, dia mengamati Leoni dari kaki hingga kepala.
Leoni menarik napas, lalu memejamkan matanya, "Louis...apakah kau mendengarku?" panggil Leoni sekali lagi. Kali ini dia tidak menggunakan kata 'Tuan' karena sudah terlalu kesal.
"Oh....aku cocok dengan semua pakaian pilihan darimu," Louis tersenyum semirik.
"Baiklah." Leoni mengambil baju kaos oblong berwarna hitam. Ya karena semua pakaian Louis tidak ada warna lain selain warna hitam. Ia juga mengambil celana pendek chinos. Lalu Leoni menutup lagi pintu lemari. Ia membawa sepasang pakaian itu ke arah Louis.
"Ini. Kenakan pakaianmu di dalam kamar mandi." perintah Leoni.
Louis tersenyum, dia pun menurut menerima pakaian dari Leoni lalu berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Leoni menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Menunggu Louis, "Hanya mengambil pakaian saja tidak bisa. Ha...apa dia pikir aku stylishnya?" gerutu Leoni seraya menaikkan satu kaki diatas paha kirinya.
"Jangan menggerutu aku mendengarnya. Aku menikahi kau untuk melayaniku bukan untuk memasak di dapur. Jika kau berada di dapur lalu apa tugas Koki dan pelayan di mansion ini?" Louis pun ikut duduk di samping Leoni.
Wanita itu menoleh, "Kau mendengarnya?" tanya Leoni kaget.
"Tentu. Pendengaran ku masih bagus." sahut Louis lagi.
"Aku sudah terbiasa setiap malam hari aku berada di dapur menyiapkan makan malam sendiri. Jika kau melarangku, aku pikir kau harus merubah lagi atauranmu itu." sahut Leoni.
"Selain pistol dan belatih untuk membunuh musuh?" timpal Louis seraya menaikkan salah satu alisnya.
"Itu kewajibanku!" Leoni berdiri dari sofa. Namun, dengan cepat Louis menahan tangan Leoni, " Tunggu. Kita harus keluar bersama," Setelah mengatakan seperti itu Louis berdiri dari sofa. Keduanya melangkah bersama keluar dari kamar.
Leoni yang merasa risih berusaha melepas tangan Louis, " Lepaskan tanganku. Malu dilihat orang," bisik Leoni. Namun, sekuat ia berusaha keras melepas tangan Louis, semakin kuat Louis menggenggam tangan Leoni.
"Sikap tuan sangat berbeda jika ia bersama Nona Amelia," bisik pelayan yang satunya.
"Aku harap Nona Amelia cepat pergi dari sini." sahut pelayan satunya lagi.
🥰🥰🥰🥰🥰
"Dimana tuan?" tanya Amelia kepada Pelayan yang berdiri di ruang makan untuk melayani majikannya.
Wanita itu sudah menunggu di ruang makan. Ia masih seperti biasa duduk di kursi tepat di samping kiri Louis.
__ADS_1
"Tuan dan Nona sudah datang," sahut pelayan itu. Ketika ia melihat Louis dan Leoni berjalan ke ruang makan.
Amelia mengangkat kepalanya dia kaget, melihat Louis menggenggam tangan Leoni.
"Asyem...apa dia lupa janjinya kepadaku? Bahwa dia tidak akan menyentuh wanita itu?" batin Amelia.
Leoni tersenyum, dia berkedip kearah Amelia.Gadis itu seperti memancing rasa cemburu Amelia.
"Tunggu pembalasanku," batin Amelia. Dia menatap sinis Leoni seraya menaikkan satu sudut bibirnya.
Louis menatap Amelia yang duduk masa bodo di kursi yang sebenarnya akan di duduki Leoni, "Mulai malam ini kau bisa makan di Paviliun, mintalah pada pelayan untuk mengantarkan makan untukmu. Atau jika kau ingin makan bersama aku dan istriku di meja makan ini maka kau harus tau dimana posisimu dudukmu." Louis menarik kursi untuk Leoni tepat di samping kanan kursi kebesarannya.
"Duduklah disini untuk malam ini saja." ucap Louis.
Leoni pun duduk sembari menahan tawa.Karena, ia merasa lucu melihat wajah Amelia yang kesal.
Setelah Leoni duduk barulah Louis duduk di kursinya.
Leoni berdiri dia ingin mengambilkan Pai buatannya untuk Louis. Namun, baru saja ia mau meletakkan satu slide Pai di piring Louis. Amelia juga sudah mengambilkan steak untuk Louis.
"Malam ini aku tidak mau makan daging. Aku ingin makan pai." ucap Louis.
Amelia menatap heran Louis, " Tuanku... bukankah anda selalu makan daging di malam hari?" Wanita itu belum menyerah daging yang ia ambil dengan penjepit daging masih mengambang di udara.
"Apakah kau tidak mendengar? Aku tidak makan daging tapi aku mau makan Pai buatan istriku?" tegas Louis.
__ADS_1
Leoni menutup mulutnya, ia menatap mengejek Amelia. Lalu meletakkan pai buatan ke piring Louis, "Cobalah ini Pai kesukaanku. Resep ini turunan dari mendiang ibuku," ucap Leoni.
"Baiklah Aku akan mencobanya." sahut Louis.